http://www.analisadaily.com/news/read/2011/09/06/11369/divergenitas_pilihan_politik_di_indonesia/#.TmYcY44g15g
Divergenitas Pilihan Politik di Indonesia Oleh : Hari Murti, S.Sos. Sikap politik masyarakat Indonesia selalu bersifat divergen. Divergen adalah sebuah jalan pemikiran, sikap, dan tindakan politik yang bercabang-cabang, yang kadang kontradiktif antara satu cabang pemikiran dengan cabang pemikiran lainnya. Bahasa gampangnya, pilihan politik tidak konsisten. Jatuhnya pilihan mayoritas pada Pemilu tahun 2004, hasil survai Indobarometer yang baru-baru ini dirilis dan berbagai survai lainnya menunjukkan popularitas Presiden SBY turun sampai di bawah 50 persen. Banyak lagi fenomena politik lain menunjukkan adanya divergenitas itu. Yang lebih unik, tetapi juga sekaligus tidak impresif, ialah adanya hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kelompok berpendidikan tinggi kurang berpartisipasi memberikan suara dalam pemilu untuk memilih calon yang dinilai kompeten, tetapi ikut mengkritisi kinerja pemerintah yang terbentuk setelah pemilu. Kelompok Menengah ke Atas Kualitas partisipasi politik kelompok menengah ke atas ini cukup besar dalam menjalankan politik yang produktif bagi kehidupan bangsa. Sayangnya, partisipasi politik itu dilakukan dengan jalur yang skunder, seperti mengritik pemerintah, bersimpati kepada demonstran, berbicara di media massa, atau mendiamkan berbagai ketidakberesan dengan alasannya sebagian besar adalah karena kesibukan. Di sini, terlihat lagi jalan pemikiran yang divergen, yaitu untuk datang ke TPS memberi suara kepada calon yang kompeten atau membentuk partai politik idealis, mereka tidak sempat. Tetapi bersitegang di forum-forum ilmiah atau seminar-seminar, mereka begitu partisipatif seolah partisipasi politik jalur sekunder itu bisa begitu efektif memengaruhi pemerintah. Orang boleh menyebut divergenitas ini sebagai dinamika politik kelas atas. Yang jelas, mereka yang divergen ini kehilangan kemampuan berpikir sederhana dalam politik, yaitu bukankah seharusnya mereka mendiseminasikan informasi tentang track record jagoannya sejak lama kepada orang-orangnya dan lalu pergi ke TPS untuk memberi suara - Ironis sekali kalau tidak berpartisipasi memberi suara dalam pemilu hanya karena berpikir bahwa suara mereka hanya satu, yang berarti tidak akan berpengaruh besar terhadap suara kelompok menengah ke bawah. Soal fenomena sikap politik yang divergen di kelompok menengah ke atas ini hanya satu dari sekian banyak kasus divergenitas sikap politik dalam kaitannya dengan struktur sosial. Mereka menjadi pihak pertama yang dibahas dalam tulisan ini karena status mereka yang lebih tinggi seharusnya diiringi juga dengan tanggung jawab yang lebih besar dalam memberikan pendidikan dan memengaruhi pilihan politik kelompok menengah ke bawah secara legal. Kelinci dan Kura-Kura Mengapa kura-kura bisa menang melawan kelinci dalam lomba lari itu - Karena kelinci ingin menunjukkan kehebatan larinya dengan cara sebaliknya, yaitu tidur di pertengahan rute lomba. Si kura-kura memang berlari lamban, tetapi ia melakukannya dengan cara yang seharusnya dan sederhana, yaitu benar-benar berlari. Kalau pun akhirnya si kelinci terbangun, toh si kura-kura mencapai garis finis beberapa detik sebelum si kelinci. Ini adalah analogi tentang antara kelompok berpendidikan tinggi dengan kelompok berpendidikan sedang dan rendah dalam berpartisipasi dalam politik. Berdasarkan hasil-hasil survai tentang partisipasi kelompok berpendidikan tinggi yang minim dalam pemilu itu, saya yakin jika pun mereka semua ikut memilih dalam pemilu, mereka juga akan kalah jumlah dibanding kelompok sedang dan menengah ke bawah. Tetapi, setidaknya mereka bisa punya dasar atas kritik mereka pada kelompok lain yang menurut mereka tidak bisa membedakan mana pemilu dan mana pula memilih orang dalam acara adu bakat artis di televisi. Manfaat lainnya adalah mereka bisa menunjukkan bahwa ada titik lemah dari demokrasi yang harus diperbaiki, yaitu bahwa suara mayoritas belum tentu sebagai suara kebenaran. Saya mengerti bahwa dari hasil survai-survai itu Presiden SBY tahu bahwa sebagian besar masyarakat yang berpendidikan tinggi tidak mengapresiasi kinerja pemerintahannya. Yang saya tidak mengerti adalah mengapa Presiden SBY tidak menjadikan hasil-hasil survai itu untuk mengritik mereka dengan mempertanyakan mengapa mereka tidak memilih satu pun dari sekian banyak calon yang ada - Saya yakin bahwa pertanyaan seperti itu akan langsung menyentuh substansinya, mulai dari persoalan rendahnya partisipasi politik kelompok ini dalam pemilu sampai menunjukkan bahwa pendidikan tinggi seringkali membuat orang lupa pada hal-hal yang sederhana karena kebanyakan teori. Dengan kata lain, semua pihak akan terkoreksi. Seperti kelinci itu, tidur di tengah perlombaan hanya akan membuatnya menang dalam mimpi. Ada satu hal lagi yang bisa sangat mengoreksi kelompok berpendidikan tinggi ini, yaitu adanya fakta bahwa rendahnya partisipasi pemilu mereka adalah gejala sejak lama. Begitu juga dengan kritik mereka pada pemerintah-pemerintah yang pernah ada, juga gejala yang sudah lama. Anehnya, sebagian dari mereka menganggap rendahnya partisipasi pemilu di tengah intensifnya kritik mereka sebagai wujud kapasitas intelektual mereka yang menganggap pemerintah hanyalah orang-orang yang punya nasib baik dalam politik tanpa ditunjang kompetensi memadai untuk mengelola negara dengan benar. Seperti yang selalu diceritakan dalam buku-buku cerita rakyat, sang empu yang sakti memilih mengasingkan diri di atas gunung karena melihat jurus-jurus silat tidak dilakukan dengan benar oleh pendekar-pendekar muda. Yang menjadi persoalan adalah gejala partisipasi yang rendah oleh kelompok berpendidikan tinggi dalam pemilu ini terlihat permanen. Di sisi lain, keseganan pemerintah-pemerintah untuk menunjukkan pokok persoalan kepada kelompok ini juga terlihat permanen. Akibatnya, komunikasi politik antara keduanya tidak akan connect dan terkadang high context. Di sisi lain, rakyat semakin bosan dengan begitu banyak pembicaraan yang tak membuahkan jalan keluar. Inilah persoalan klasik bangsa kita di segala level sosial, yaitu berputar-putar dan bercabang-cabang entah kemana-mana. Selalu saja menganggap cara yang efektif dan efisien dalam memperbaiki nasib bangsa ini tak mungkin sesederhana pergi memberikan suatu ke TPS. Memanglah benar bahwa negara-negara kompleks masalahnya, tetapi jangan lupa juga bahwa pemilu juga bukan sekedar mencoblos di TPS melainkan sebuah proses yang sangat panjang dengan biaya ekonomi dan sosial yang sangat besar. Artinya, antara cara (pemilu) dengan tujuan (kemajuan bangsa) sebenarnya seimbang tingkat kompleksitasnya. Ingatlah bahwa negeri ini tidak memiliki dana yang cukup untuk membuat semua warga negaranya mengeyam pendidikan formal yang tinggi. Di sinilah negara ini membutuhkan mereka yang berpendidikan tinggi mau memberi contoh secara jelas kemana pilihan politik harus dijatuhkan untuk membentuk pemerintahan yang memang produktif bagi kehidupan bangsa dan negara. Kalau kelompok ini sedikit saja yang mau ikut pemilu, wajar jika mereka tidak punya acuan. Kelompok Menengah ke Bawah Di media massa, suara mereka relatif sama dengan kelompok menengah ke atas ketika menilai pemerintah, yaitu sebagian besar menilai kondisi ekonomi atau penegakan hukum buruk. Hanya pilihan kata dalam menilai itu saja yang berbeda. Tetapi, hasil pemilu atau hasil penelitian lembaga survai juga menunjukkan adanya divergenitas pilihan politik itu kembali. Kalau menurut mereka sebuah pemerintahan telah gagal, mengapa dipilih lagi atau diapresiasi dalam survai. Di sisi lain, kalau mereka memberi apresiasi dalam survai atau memilih kembali, mengapa dalam waktu relatif singkat dikatakan pemerintah telah gagal - Bagaimana sebenarnya pola kita dalam menjatuhkan pilihan politik itu ?. *** Penulis adalah pemerhati komunikasi politik. Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi "Pembangunan" Medan [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
