Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr/

yang sampai sekarang sudah dikunjungi   756 700 kali



===              =====                ====                   ======



Bahan Renungan Sekitar G30S, Bung Karno, Suharto dan PKI



Menjelang tanggal 30 September 2011  dalam website http://umarsaid.free.fr/
akan diusahakan penyajian secara berturut-turut tulisan atau artikel
mengenai berbagai soal yang berkaitan dengan G30S, yang merupakan peristiwa
besar dan sangat bersejarah bagi negara dan bangsa Indonesia.



Penyajian berbagai bahan bacaan  tentang G30S ini dimaksudkan sebagai ajakan
kepada sebanyak mungkin orang untuk mengenang kembali atau merenungkan
macam-macam akibat dari tindakan para jenderal Angkatan Darat di bawah
pimpinan Suharto sebagai kelanjutan peristiwa G30S itu.



Sebab, seperti yang sama-sama kita ketahui,  dengan dalih untuk bertindak
terhadap pelaku-pelaku pembunuhan 6 jenderal-jenderal Angkatan Darat,
Suharto bersama pimpinan militer lainnya telah melakukan pelanggaran HAM
secara besar-besaran yang tiada taranya dalam sejarah bangsa.  Pelanggaran
HAM ini dimulai sejak Oktober 1965, berturut-turut dan terus-menerus selama
puluhan tahun, sampai jatuhnya Orde Baru dalam tahun 1998.



Mula-mula atau pada tingkat awal, para pemimpin PKI dari tingkat yang paling
atas sampai yang paling  bawah banyak yang telah dibunuhi, disiksa dengan
berbagai cara, dipenjarakan atau dihilangkan. Itu terjadi di seluruh
Indonesia. Boleh dikatakan  bahwa  seluruh pimpinan dan kader-kader PKI  di
berbagai tingkat  telah dihancur-luluhkan dengan cara-cara  yang biadab
sekali.



Kemudian,  dilakukan pembunuhan massal di banyak tempat di seluruh
Indonesia, terutama Jawa Tngah, Jawa Timur, Bali, Sumatera, Kalimantan dan
Sulawesi, serta dibarengi dengan penangkapan dan pemenjaraan ratusan ribu
orang-orang tidak bersalah apa-apa, yang menjadi anggota atau simpatisan PKI
dan organisas massa seperti SOBSI, BTI, Pemuda Rakyat, Gerwani, IPPI, CGMI,
PGRI Non-vaksentral, HSI, Lekra.



Sebagian dari mereka ada yang ditahan (tanpa pengadilan) di Pulau Buru atau
Nusa Kambangan, atau Plantungan,  sampai belasan tahun. Di antara mereka
terdapat intelektual atau sarjana (insinyur, dokter, dosen, wartawan,
penulis, seniman, sastrawan).



Nasib yang menyedihkan puluhan juta keluarga korban Orba


Sebagian terbesar sekali di antara ratusan ribu eks-tahanan politik
(eks-tapol) ini hidup sengsara sesudah keluar dari penjara atau tahanan,
karena sulit sekali mencari pekerjaan dan hidup normal, atau mendapat
berbagai macam perlakuan yang tidak layak dari masyarakat atau aparat-aparat
pemerintahan.



Banyak dari begitu banyak eks-tapol ini sudah meninggal karena usia tua, dan
karena kesulitan hidup, atau karena sakit. Mereka tidak mendapat bantuan
yang layak dari pemerintah. Juga tidak dari sanak saudara atau kerabat, yang
umumnya juga sudah sulit untuk hidup mereka sendiri, atau karena takut
memberi bantuan.



Jadi, jumlah keluarga atau sanak-saudara  (dekat maupun jauh) para korban
pembunuhan dan pemenjaraan adalah besar sekali. Mereka ini banyak yang
menjauhi atau putus hubungan dengan keluarga para korban Orde Baru ini. Dan
keadaan  demikian ini berlangsung selama 32 tahun pemerintahan Suharto.
Bahkan, walaupun rejim militer sudah tumbang dalam tahun 1998, namun nasib
sebagian terbesar para korban Orde Baru masih  belum banyak berobah. Sampai
sekarang !!!



Sampai sekarang, masih saja ada banyak orang yang menyembunyikan hubungan
kekeluargaan mereka dengan para korban Orde Baru (anggota PKI, korban
pembunuhan massal atau para eks-tapol). Padahal, mereka sama-sama tidak
bersalah apa-apa sama sekali.



Pelanggaran HAM selama puluhan tahun



Dari itu semua nyatalah dengan jelas sekali bahwa Suharto dengan Orde
Baru-nya  telah melakukan pelanggaran HAM secara besar-besaran, terhadap
puluhan juta orang, lagi pula dalam jangka lama sampai puluhan tahun.
Kejahatan terhadap kemanusiaan yang begitu besar dan begitu luas dan juga
begitu lama  (dan begitu biadab pula !)  ini tidaklah boleh dilupakan sama
sekali oleh bangsa kita , termasuk oleh generasi-generasi yang akan datang.



Melupakan kejahatan besar  Orde Baru terhadap HAM adalah sikap politik yang
salah dan sikap moral yang sesat. Dan cuwèk saja atau selalu bersikap masa
bodoh terhadap penderitaan begitu lama dari jutaan para korban rejim Suharto
mencerminkan hati nurani yang rusak atau akhlak yang tidak sehat.



Sebaliknya, mengutuk banyak dosa-dosa berat rejim militer Suharto di
berbagai bidang  adalah tindakan yang sah atau  menghujatnya sebesar mungkin
adalah  cermin hati nurani yang benar dan mulia. Orang-orang yang bernalar
sehat dan menjujung tinggi-tinggi perasaan kemanusiaan tentunya akan tidak
menyukai pelanggaran-pelanggaran HAM yang begitu banyak dan begitu serius
oleh Orde Baru.



Sebab, tidak bisa dibayangkan, sudah berapa banyak darah yang ditumpahkan
dalam pembantaian jutaan orang-orang tidak bersalah, atau berapa banyak air
mata yang sudah dicucurkan oleh jutaan keluarga para korban Orde Baru selama
puluhan tahun itu di seluruh Indonesia.



Tidak pernah ada dalam sejarah bangsa Indonesia kejadian yang begitu merusak
persatuan bangsa,  yang begitu menyayat-nyayat hati rakyat banyak, yang
begitu mengotori fikiran banyak orang, seperti yang dilakukan oleh Orde Baru
(dengan para pendukungnya terutama pimpinan Angkatan Darat dan Golkar waktu
itu )  sebagai kelanjutan G30S.





Dosa besar Orba lainnya : pengkhianatan terhadap Bung Karno


Dosa besar  rejim Suharto tidak hanya berupa  pelanggaran HAM secara
besar-besaran dan biadab terhadap seluruh golongan kiri di seluruh
Indonesia, melainkan dibarengi dengan penggulingan  secara khianat terhadap
Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno. Pengkhianatan pimpinan Angkatan Darat
(waktu itu) terhadap Bung Karno adalah dosa besar lainnya dari Orde Baru
terhadap bangsa dan negara kita.



Dosa besar pengkhianatan Suharto dkk terhadap Bung Karno adalah dosa raksasa
yang tidak bisa, dan tidak boleh, dan juga  tidak layak untuk dilupakan
(apalagi,  tidak dima’afkan) oleh bangsa kita, termasuk generasi bangsa di
kemudian hari.



Sebab, seperti dibuktikan oleh sejarah, dan juga berdasarkan kesaksian kita
masing-masing selama ini,  pengkhianatan Suharto dkk dengan menggulingkan
Bung Karno sama sekali bukanlah merupakan penyelamatan bangsa dan negara,
melainkan sebaliknya :  perusakan dan pembusukan di segala bidang, yang
dampaknya atau akibatnya kelihatan nyata sekali dalam situasi sekarang !!!



Dengan menggulingkan Bung Karno secara khianat  -- melalui « kudeta
merangkak »-nya -- Suharto dkk telah merusak jiwa asli proklamasi Republik
Indonesia, memelintir atau memalsu Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika,
membunuh elan revolusioner rakyat Indonesia, memadamkan ajar-ajaran
revolusioner Bung Karno yang sudah dikobarkannya puluhan tahun  sejak muda
di tahun 1926.



Dengan menyebarkan dalih bahwa Bung Karno tidak mau bertindak tegas terhadap
para pelaku G30S, dan bahkan menguar-uarkan isapan jempol bahwa Bung Karno
« tersangkut » peristiwa ini atau menjadi « dalang » yang sebenarnya, maka
akhirnya ia digulingkan oleh Suharto dkk melalui sidang MPRS yang sudah
dipreteli dan di-« vermaak » untuk kepentingan golongan militer waktu itu.



Latar belakang mengapa Bung Karno digulingkan Suharto



Suharto dkk menggulingkan Bung Karno karena Bung Karno merupakan
satu-satunya  (sekali lagi : satu-satunya !) tokoh besar yang bisa
mempersatukan seluruh bangsa Indonesia dengan ajaran-ajaran revolusionernya,
antara lain : Pancasila, Manifesto Politik (Manipol), NASAKOM, Berdikari,
Trisakti, yang pada pokoknya adalah berorientasi pro-wong cilik,
pro-masyarakat adil dan makmur dan anti-imperialis.



Bung Karno, pemimpin nasionalis kiri revolusioner yang merupakan tokoh
tinggi dunia ketiga (Asia-Afrika-Amerika Latin ) dan gerakan non-blok, dan
penggagas utama lahirnya « poros » Jakarta-Pnompenh-Hanoi-Peking-Pyongyang
(yang pada pokoknya adalah poros anti-AS) merupakan musuh besar imperialis
AS.



Sudah sejak permulaan tahun-tahun 50-an, imperialis AS dan sekutu-sekutunya
berusaha  melemahkan, atau melumpuhkan, bahkan menghilangkan kepemimpinan
Bung Karno, karena politiknya yang tidak menguntungkan imperialis AS (ingat,
antara lain : persahabatan dengan  RRT, peristiwa Korea Utara dan Selatan,
persoalan Taiwan, konferensi Bandung, Ganefo dll dll).



Imperialisme AS (dan sekutu-sekutunya)  sejak lama « menggarap » sebagian
pimpinan Angkatan Darat untuk dijadikan « our local friends » (teman-teman
lokal)., melalui training militer dalam institut-institut di AS dan lewat
saluran-saluran partai Masyumi dan PSI  (ingat antara lain : peristiwa 3
Selatan, dan  kemudian terbentuknya dewan-dewan militer di berbagai daerah
yang contohnya : Dewan Gajah di Sumatra Utara, Dewan Banteng di Sumatra
Barat, Dewan Garuda di Sumatera Selatan, Dewan Manguni di Sulawesi)



Pada umumnya, Dewan-dewan militer ini mempunyai sikap yang anti Bung Karno
(atau mempersoalkan kepemimpinannya) dan juga jelas-jelas anti-PKI. Puncak
dari sikap anti Bung Karno dan anti-PKI ini kemudian kelihatan lebih jelas
sekali  dengan meletusnya pembrontakan PRRI-Permesta dalam tahun 1958, yang
seperti dibuktikan oleh sejarah , mendapat bantuan besar dari imperialisme
AS.



Jadi, mengingat itu semua, maka kita bisa melihat bahwa penghancuran
kekuatan kiri di Indonesia dan sekaligus juga penggulingan secara khianat
terhadap Bung Karno akibat peristiwa G30S ada hubungannya dengan sikap
sebagian pimpinan Angkatan Darat yang sejak lama sudah anti Bung Karno dan
anti PKI, dan yang sejalan atau searah dengan kepentingan imperialisme AS.



Menghacurkan PKI lebih dulu untuk melumpuhkan Bung Karno



Peristiwa G30S merupakan  peluang besar bagi sebagian pimpinan Angkatan
Darat dan kekuatan imperialisme AS untuk mewujudkan rencana yang sudah sejak
lama  mereka impi-impikan, yaitu : mengakhiri  kepemimpinan Bung Karno
dengan menghancurkan terlebih dulu kekuatan kiri di Indonesia yang
dipelopori oleh PKI.



Dan tergulingnya Bung Karno yang disusul dengan penahanannya serta
dibiarkannya menderita sakit parah sampai wafatnya merupakan dosa besar
rejim Suharto dkk yang tidak bisa   - dan tidak boleh !!! -  dima’afkan oleh
orang-orang yang berhati nurani yang bersih  dan berfikiran waras.



Sebab, sejak hilangnya Bung Karno sebagai  pemimpin dan guru bangsa, atau
sebagai pedoman moral dan kehidupan politik  revolusioner, atau sebagai
pengayom kepentingan  seluruh rakyat, maka sekarang ini situasi negara dan
bangsa menjadi makin rusak atau membusuk di segala bidang.



Korupsi besar-besaran yang merajalela dengan ganas sekali di semua bidang
dewasa ini , kerusakan moral di kalangan elite, kebejatan akhlak yang
membikin runyamnya dunia hukum dan peradilan, kebobrokan di kalangan
partai-partai politik, kebusukan sikap para anggota DPR dan DPRD, adalah
akibat  -- langsung maupun tidak langsung  -- dari tindakan khianat Suharto
dkk  terhadap Bung Karno dan kejahatan-kejahatan besar  lainnya terhadap
golongan kiri.



Itu semua layak untuk menjadi renungan kita bersama dalam menyongsong 30
September yang akan datang.



Paris, 7 September  2011



A.      Umar Said



* * *













I














[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke