http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/09/07/158309/14/Mengembalikan-Roh-Jilbab
  
Perempuan
07 September 2011Share : 
Mengembalikan ’’Roh’’ Jilbab
  a.. Oleh Saeful Achyar 
  b.. 
Dari hamparan jilbab/ Sebagian menutupi muka/ Kenapa? kenapa?/ Sedang dengan 
jiwa kumuh/ Wajah sejati tertutup sendiri/ Tanpa ditutupi/.., (Emha Ainun 
Najib, ’’Lautan Jilbab’’, 1989).PUISI,  begitulah orang menyebut deretan kata 
penuh makna. Orang acapkali susah mendapati makna yang termaktub. Orang 
acapkali senang dengan kepingan kata-kata yang tercecer, lalu disatukan dalam 
sepenggal puisi. Orang acapkali pula mengacuhkan deru kebermaknaan puisi, tapi 
merasai dalam kebermaknaan batin dan kepekaan intuisi. 
Emha Ainun Najib, penyair kondang dan religius ini tampaknya tak sedang 
melantur. Sajian puisinya adalah bentuk kontemplasi yang hendak disampaikan 
pada perempuan di negeri ini, perempuan yang berjilbab.

Negeri ini sedang dilanda ’’demam jilbab’’. Para kaum hawa, terutama yang 
muslim sedang menikmati pakaian jilbab dengan beragam desain yang modis. Jilbab 
tak lagi sekadar penutup tubuh atau kepala yang berorientasi pada dogma agama, 
tapi lebih sebagai bagian dari budaya modern. Ingar bingar dunia fashion dan 
berputarnya roda kapitalisme ikut dan turut serta memengaruhi perkembangan 
jilbab itu sendiri. Apalagi saat bulan Ramadan yang baru lalu, kita bisa dengan 
mudah mendapati para perempuan mengenakan jilbab di segala ruang. 

Teologi Jilbab

Jika menengok pada sejarah, jilbab sudah hadir saat pra-Islam. Syariat Islam 
menyebut: ’’Hai Nabi, katakan pada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan 
wanita-wanita yang beriman untuk mengenakan jilbab mereka sehingga mereka dapat 
dikenali dan tidak diganggu.’’ (Alquran, Surat Al-Ahzab [33], ayat 59). 

Seruan ayat ini bukan tanpa alasan. Tuhan hendak melindungi kaum hawa dari 
segala perbuatan nista yang kerap dialami, entah dari dirinya sendiri atau dari 
kaum adam. 
Dalam teologi Kristen dan Katolik, jilbab dijelaskan dalam relasi sakral 
manusia dan Tuhan. Para suster gereja kerap mengenakan jilbab sebagai pelindung 
tubuh dan bermakna sakral. Al Kitab (11:13) menyebut: Pertimbangkanlah sendiri: 
patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala tidak bertudung? Bunda 
Theresa (Agnes Gonxha), salah satu tokoh umat Kristen selalu mengenakan jilbab. 
Kerap ia mengenakan jilbab bernuansa putih dan sentuhan garis biru. Warna yang 
dipilih menandai keramahan dan kepeduliannya terhadap sesama.

Agama lain, seperti Buddha dan Hindu juga tak luput dari tradisi berjilbab. 
Dewi Kwan Im (Avalokitesvara Bodhisattva) digambarkan memakai pakaian suci yang 
panjang menutup seluruh tubuh dengan kerudung berwarna putih menutup kepala. 
Atau di India, orang Hindu banyak mengenakan jilbab sebagai pakaian keseharian. 
Bisa diambil konklusi secara teologis, jilbab merupakan identitas berbagai 
budaya dan agama. 

Orientasi Berjilbab

Akar kultural-spiritual menandai jilbab bukan identitas dari agama tertentu. 
Persoalannya, kebermaknaan jilbab kini terasing dari entitas aslinya. Jilbab 
sendiri telah menjadi komoditas pasar. Ditambah maraknya iklan dan para artis 
yang mengenakan jilbab tentu membuat jilbab semakin populer. 
Dari konvensi kultural-spiritual, jilbab memiliki ruang yang lebih simplistis. 
Ia tak lagi dikekang pada aturan agama, tapi lebih elastis dalam bergerak 
menemukan dirinya. Terbukti dengan tampilan jilbab yang sekarang berkembang 
dengan segala tampilannya. Kendati demikian, mungkin naif jika hanya 
mempermasalahkan pasar dalam tataran tertentu. 
Pada tataran dimensi fungsional, Fadwa El Guindi dalam Jilbab: Antara 
Kesalehan, Kesopanan, dan Perlawanan (2003) menulis, jilbab memiliki dimensi 
material, dimensi ruang, dimensi komunikatif, dan dimensi religius.

Pertama, dimensi material berisi pakaian dan ornamen-ornamen seperti jilbab, 
dalam arti bagian dari pakaian yang menutupi kepala, bahu, dan wajah. Kedua, 
dimensi ruang, mengartikan jilbab sebagai layar yang membagi ruang secara 
fisik. Ketiga, dimensi komunikatif, menekankan makna penyembunyian dan 
ketidaktampakan. 
Keempat, dimensi religius bermakna pengasingan diri dari kehidupan dunia dan 
kebutuhan seksual (tidak kawin) (El Guindi, 2003). 

Perempuan berjilbab kerap diidentikan dengan kesalehan dan kesantunan. Saya 
berpikir, bukan jilbab yang menentukan kesalehan (spiritualitas) pemakainya. 
Dengan kata lain, niat dalam pengenaan jilbab itu yang lebih berlaku secara 
fundamental. Hingga akhirnya, di kala terjadi ’’penyelewengan perilaku’’ pada 
perempuan berjilbab, orang tidak lekas menyalahkan agamanya. Ada relasi lain 
yang perlu dibuktikan hingga orang tidak lekas menyalahkan. Relasi keimanan 
seseorang lebih menentukan kebermaknaan jilbab itu sendiri bagi si pemakai. 
Niscaya jilbab dapat menemukan rohnya kembali dalam tataran fungsional. (24)

—Saeful Achyar, peneliti muda di Universitas Muhammadiyah Surakarta, Pemimpin 
Redaksi Majalah Papirus. 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke