http://www.cenderawasihpos.com/index.php?mib=berita.detail&id=3222
Rabu, 07 September 2011 , 17:36:00


Mengunjungi Kampung Ahmadiyah di Cisalada, Bogor

Punya Stasiun Televisi, Kampus, hingga KTP Internasional


 
MEGAH: Masjid An Nashr yang berdiri di tengah kampus Jamiah Ahmadiyah Indonesia 
di Parung, Bogor, Jawa Barat. Lantai satu untuk perkantoran lantai dua untuk 
beribadah. Foto: Agung Putu Iskandar/Jawa Pos
Jumlah jamaah Ahmadiyah di Indonesia diklaim mencapai 500 ribu orang. Mereka 
tersebar di 330 cabang di seluruh wilayah Nusantara. Para penganut Ahmadiyah 
terkonsentrasi di Jawa Barat. Salah satunya di Desa Cisalada di Bogor.

AGUNG P. ISKANDAR, Jakarta 

Cisalada sejatinya adalah kampung historis bagi masyarakat Ahmadiyah di 
Indonesia. Kampung tersebut merupakan salah satu kampung yang menjadi daerah 
pertama masuknya dakwah Ahmadiyah ke Indonesia.
Para pendakwah Ahmadiyah masuk dari Padang, Jakarta, kemudian ke Bogor. Salah 
satu monumen masuknya Ahmadiyah ke kampung tersebut adalah Masjid At Taufik 
yang didirikan pada 1935.
Masjid itu cukup sederhana. Luasnya tak lebih dari 150 meter persegi dan 
terletak tepat di tikungan jalan desa. Masjid tersebut memiliki parabola untuk 
menangkap siaran khusus jamaah Ahmadiyah melalui Muslim Television Ahmadiyah 
(MTA). 

"Kadang-kadang, kami nonton bareng di masjid untuk menyimak pidato tahunan 
khalifah," kata Ahmad Hidayat, mubalig yang bertugas di Cisalada.
Ahmad Zaini, salah seorang warga, menuturkan, masuknya masyarakat Cisalada ke 
Ahmadiyah bukan tanpa alasan. Jauh sebelum para pendakwah Ahmadiyah datang, 
salah seorang sesepuh kampung meramalkan akan datangnya pemuka agama di 
tengah-tengah kampung. "Ikutilah apa yang dia katakan meskipun dia pandai 
memainkan ular," ungkapnya.
Makna pandai memainkan ular itu, kata Zaini, merujuk pada asal para pendakwah. 
Mereka yang membawa Ahmadiyah tersebut berasal dari India. Di sana, permainan 
ular dengan seruling memang cukup populer. Karena itu, begitu mubalig Ahmadiyah 
tersebut datang, mereka langsung berbaiat dan mengimani Mirza Ghulam Ahmad 
sebagai Imam Mahdi yang diramalkan datang.
Suasana kampung tersebut cukup tenang. Jalan desa hanya berupa jalan kerikil 
selebar dua meter. Selain pegawai negeri dan guru, kebanyakan penduduk bekerja 
sebagai petani serta buruh tani. Di sejumlah jalan menuju desa tersebut, 
terdapat beberapa rumah dengan kaca jendela pecah dan tembok-tembok rumah yang 
hancur. Umpatan dan makian tertulis di dinding-dinding rumah. 
"Itu rumah jamaah. Mereka dilempari batu dan terusir dari kampungnya," kata 
Firdaus, salah seorang jamaah yang tinggal di Cisalada.

Desa Cisalada dihuni 350 jiwa. Seluruh warga kampung adalah penganut Ahmadiyah. 
Sekitar 25 orang merupakan para pengungsi yang tinggal di desa tersebut untuk 
berlindung karena terusir dari kampung sendiri. Kendati sudah menjadi kampung 
Ahmadiyah, tidak berarti desa tersebut aman dari para perusak.
Beberapa insiden sempat terjadi. Sekelompok warga menyerbu kampung tersebut 
dengan menyerang gedung TK-SD, rumah dinas mubalig, serta Masjid At Taufik. 
"Saat itu terjadi, kami semua berlindung di belakang rumah atau ke sawah," 
jelas Zaini.

Firdaus menuturkan, massa tak hanya merusak tempat-tempat strategis untuk 
beribadah. Mereka juga menjarah rumah warga. Bahkan, salah seorang anak jamaah 
Ahmadiyah pernah mendapati tasnya yang hilang setelah penyerbuan dipakai anak 
tetangga kampung. "Mau diminta kembali juga bagaimana," ujar lelaki yang akrab 
dipanggil Daus itu lantas terkekeh.
Intimidasi terhadap Ahmadiyah tak hanya diterima orang-orang dewasa. Anak-anak 
jamaah juga sering diintimidasi guru-guru serta teman sebaya di sekolah. Mereka 
dicemooh dan bahkan dilempari batu. Salah seorang anak perempuan sempat 
diteriaki hendak diperkosa.

Beberapa pengurus desa memang sempat menawarkan keamanan bagi mereka. Tapi, 
syaratnya, mereka harus meneken surat pernyataan keluar dari Ahmadiyah dan 
menyatakan diri masuk Islam. Padahal, itu tidak mungkin bagi mereka. Akhirnya, 
beberapa jamaah terpaksa bertanda tangan meski tetap meyakini kepercayaannya. 
"Karena itu, kami selalu mewanti-wanti kalau ada jamaah hendak keluar desa. 
Kalau orang biasa umumnya bilang, hati-hati di jalan. Kami bilang, hati-hati 
tanda tangan," kata Hidayat lantas tersenyum. Sementara itu, jamaah Ahmadiyah 
juga bukan sekadar perkumpulan penganut agama. Mereka juga merupakan organisasi 
yang rapi. Bahkan, mereka memiliki struktur hingga ke daerah-daerah. Struktur 
itu terbagi dalam dua divisi besar. Yakni, bidang rohani dan organisasi.

Bidang rohani diisi para mubalig dan bidang-bidang pendidikan. Sementara itu, 
bidang organisasi adalah struktur mulai tingkat pusat, provinsi, kabupaten, 
kecamatan, hingga tingkat kampung-kampung. Bahkan, kendati hanya beranggota 
tiga jamaah, mereka bisa mengangkat kepala cabang. "Seperti kata Rasulullah, 
bila ada tiga orang di antara kamu, maka harus mengangkat salah satunya sebagai 
pemimpin," ungkap principal atau Direktur Jamiah Ahmadiyah Indonesia Munirul 
Islam.

Kepala cabang di setiap kampung dipilih oleh majelis pembayar candah. Mereka 
dipilih setiap tiga tahun sekali dan boleh dipilih kembali untuk periode 
selanjutnya. Candah merupakan kontribusi yang dibayarkan jamaah. Besarnya 
adalah 1/16 dari penghasilan mereka. Candah dikumpulkan dan digunakan untuk 
kepentingan umat. Munirul menuturkan, struktur yang rapi itu bertujuan untuk 
memudahkan pergerakan Ahmadiyah. Mereka yang mengurusi agama dan struktur harus 
dibedakan. Pemuka agama dan pemimpin jamaah adalah dua tugas yang berbeda. 

"Rasulullah pernah mengatakan, salah satu tanda-tanda kehancuran adalah ketika 
ulama (pemuka agama) berusaha jadi umara (pemerintah). Karena itu, di 
Ahmadiyah, itu dibedakan," tegas Munirul yang menjadi principal Jamaah 
Ahmadiyah Indonesia sejak 2009 tersebut.

Dia menyatakan, jamaah Ahmadiyah bukan sekadar jamaah. Mereka juga memiliki 
nizam atau struktur organisasi yang rapi. Tatanan tersebut tidak hanya untuk 
Indonesia, tapi juga seluruh dunia. Di dunia, mereka dipimpin khalifah. Yakni, 
Khalifah Masroor Ahmad. Masroor merupakan khalifah kelima yang berkedudukan di 
markas Ahmadiyah sedunia di Fazl Mosque, London, Inggris. Untuk meng-up date 
ajarannya, jamaah Ahmadiyah di seluruh dunia disatukan oleh siaran televisi MTA 
alias Muslim Television Ahmadiyah yang disiarkan dari Inggris. Siaran itu 
disampaikan dalam tiga bahasa. Yakni, Urdu, Inggris, dan Arab. Muatan lokal 
siaran juga muncul dalam bahasa Indonesia yang disiarkan pukul 05.00 setiap 
hari.

Siaran televisi tersebut sangat penting bagi jamaah Ahmadiyah. Melalui siaran 
itulah ajaran-ajaran atau update tafsir Alquran disampaikan. Bahkan, televisi 
tersebut selalu menyiarkan secara langsung setiap Jalsah Salanah alias pidato 
tahunan khalifah Ahmadiyah dari Inggris. "Rasulullah dulu berkata bahwa 
siarkanlah agama melalui berbagai penjuru hingga melalui udara. Ini merupakan 
bentuk berdakwah lewat udara," kata Munirul.
Yang terbaru, jamaah tersebut kini sedang mengembangkan kartu elektronik 
bernama Aims. Kartu itu seperti KTP elektronik. Setiap dipindai, data-data 
pemegang KTP langsung muncul. KTP tersebut berlaku secara internasional dan 
bisa dibawa ke mana saja. "Misalnya, saya ke Jerman atau ke Inggris, saya 
tunjukkan saja kartu itu, langsung muncul data-data saya," jelasnya. Semua 
"infrastruktur" Ahmadiyah itu diciptakan agar mereka bisa secara detail 
mengetahui kondisi jamaah. Mulai potensi ekonomi, jumlah, dan persebaran 
jamaah. Dengan semua sistem itu, kesadaran berjamaah mereka semakin erat. "Kami 
juga bisa langsung mengetahui jumlah jamaah Ahmadiyah," katanya.

Jamaah Ahmadiyah Indonesia juga memiliki pusat pendidikan. Namanya Jamiah 
Ahmadiyah Indonesia. Kampusnya terletak di Parung, Bogor, Jawa Barat. Mereka 
menyiapkan calon-calon pendakwah Ahmadiyah untuk dididik dan disalurkan ke 
berbagai daerah yang membutuhkan. Kampus tersebut pernah diserbu masyarakat 
pada 15 Juli 2005. Jawa Pos (Cenderawasih Pos Group) berkunjung ke kampus 
tersebut pada Minggu lalu (28/8). Kondisi kompleks itu sudah lebih baik 
daripada saat baru diserang. Beberapa bangunan tampak megah berdiri di atas 
lahan seluas sekitar 5 hektare. Bangunan utama adalah Masjid An Nashr yang 
berdiri di tengah-tengah lahan. Masjid dua lantai itu juga merangkap 
perkantoran. Lantai satu digunakan untuk administrasi, lantai dua untuk tempat 
beribadah jamaah.

Di sisi timur kompleks, terletak laboratorium komputer dan bahasa, asrama 
mahasiswa, serta perpustakaan. Di pinggir sisi utara, dibangun deretan rumah 
dinas para mubalig. "Sebenarnya, di sini hendak kami bangun SMA, SMP, dan 
puskesmas. Tapi, mengingat kondisinya begini, kami belum berani," tuturnya. 
Munirul menuturkan, para mubalig menjalani pendidikan selama lima tahun setara 
S-1. Kurikulumnya, antara lain, perbandingan agama, fikih kontemporer, fikih 
Ahmadiyah, dan bahasa. Khusus untuk bahasa, mereka mewajibkan tiga bahasa 
sebagai mata kuliah yang wajib dikuasai. Yakni, bahasa Urdu, Inggris, dan 
bahasa Arab. 

Mubalig jamaah Ahmadiyah sangat berperan dalam penyebaran Ahmadiyah di 
Indonesia. Karena itu, Jamaah Ahmadiyah Indonesia mendidik dengan serius para 
penyebar keyakinan mereka tersebut.
Mubalig Ahmadiyah direkrut dari anak-anak jamaah Ahmadiyah. Mereka diambil dari 
kantong-kantong kampung Ahmadiyah yang tersebar di berbagai provinsi di 
Indonesia. "Prinsipnya kan dari Ahmadiyah untuk Ahmadiyah," tegas Direktur 
Jamiah Ahmadiyah Indonesia Munirul Islam. Dia menjelaskan, para mubalig 
Ahmadiyah tak hanya disiapkan untuk berdakwah di Indonesia, tapi juga di 
negara-negara di Asia Tenggara. Karena itu, mereka minimal bisa berbahasa 
Inggris, Urdu, dan Arab. Setiap ditugaskan ke luar negeri, bisa dipastikan 
mereka mampu berbahasa daerah setempat. "Sebab, mereka pasti akan bertemu 
mubalig yang sudah sembilan tahun menetap di sana. Mereka akan belajar 
berbahasa kepada mubalig senior untuk kemudian berdakwah ke wilayah lain," 
ungkap Munirul. Salah seorang mubalig yang pernah bertugas ke luar negeri 
adalah Ahmad Hidayat. Lelaki 47 tahun itu sudah berkeliling untuk berdakwah 
mulai Thailand, Kamboja, Sulawesi, dan beberapa daerah di Jawa. Dia menguasai 
bahasa Inggris, Khmer, dan Urdu. "Sekarang, saya di sini sudah dua tahun," 
jelas Hidayat saat ditemui di kediamannya di kampung Ahmadiyah di Desa Cisalada 
pekan lalu.

Dia lantas mengambil buku besar berwarna pink. Buku tersebut terlihat aus 
dengan cover plastik yang sedikit robek dan kertas yang menguning. "Ini kamus 
bahasa Khmer dalam bahasa Inggris. Ini pegangan saya waktu berdakwah di 
Kamboja," ungkap bapak tiga anak tersebut.

Hidayat menuturkan, sebagai mubalig, dirinya harus siap ditugaskan ke mana pun. 
Ada satu bidang dalam struktur Ahmadiyah yang bertugas memutasi para mubalig. 
Setiap diperintah untuk bertugas ke daerah-daerah, mereka tidak boleh menolak. 
Sebab, penugasan tersebut sudah pasti dipertimbangkan. "Kami harus sami’na wa 
ato’na (kami dengar, kami taat, Red)," tegasnya.
Mubalig Ahmadiyah bertugas menyampaikan ajaran Ahmadiyah. Yakni, tentang 
kehadiran Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi yang tanpa membawa syariat baru. 
Mereka biasanya mengajak masyarakat berdiskusi. Kalau tidak tertarik, mereka 
tidak akan memaksa. "Kami membawa Islam dengan kedamaian," katanya. Di 
Cisalada, Hidayat tinggal bersama istrinya. Dia menempati rumah seluas 120 
meter persegi dengan dua kamar tidur, satu ruang tamu, satu dapur, dan satu 
ruang tengah. Rumah bercat kuning kalem tersebut merupakan rumah dinas. Seluruh 
mubalig yang ditugaskan di daerah-daerah pasti mendapat fasilitas tersebut.

Rumah Hidayat didirikan di atas lahan seluas sekitar 400 meter persegi. Selain 
rumah Hidayat, di atas lahan itu dibangun gedung mungil untuk playgroup, taman 
kanak-kanak (TK), serta tempat pendidikan untuk anak SD kelas 1-3 setara 
madrasah ibtidaiyah. Di antara rumah dan gedung TK-SD itu terdapat lapangan 
badminton. "Buat olahraga sama teman-teman sekampung," ujarnya.
Selain rumah dinas, mubalig mendapat gaji. Sayangnya, Hidayat enggan 
membeberkan jumlah gajinya. Tapi, kisarannya Rp 2 juta. "Sekitar segitu lah. 
Pokoknya cukup untuk kebutuhan sehari-hari," ungkap lelaki asli Cisalada 
tersebut.
Hidayat menjadi jamaah Ahmadiyah karena faktor keturunan. Ayah dan ibunya 
merupakan penganut aliran dari Qadiyan, India, itu saat pertama muncul di 
daerah Bogor. Dia kemudian memutuskan untuk menjadi mubalig saat berusia 23 
tahun. 
"Yang kami lakukan hanya menyeru kepada umat untuk percaya terhadap kehadiran 
Imam Mahdi yang sudah datang. Yakni, Mirza Ghulam Ahmad. Disebutkan bahwa kita 
harus berbaiat meski harus mendaki gunung bersalju," ujarnya. (*/c5/i

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke