Refleksi : Korea Selatan bikin persenjataan militer berdasarkan lisensi dari 
negeri lain, misalnya Jerman yaitu kapal selam.The Type 214 is a 
diesel-electric submarine developed by Howaldtswerke-Deutsche Werft GmbH (HDW). 
It features diesel propulsion with an air-independent propulsion (AIP) system 
using Siemens polymer electrolyte membrane (PEM) hydrogen fuel cells. The Type 
214 submarine is derived from the Type 212,[2] but as an export variant it 
lacks some of the classified technologies of its smaller predecessor.
Updated June 2011


 
 
South Korean Submarines 
Source: Korean Navy, www.navy.mil.kr. 
In 2003, South Korea and Indonesia signed a Memorandum of Understanding (MoU) 
on defense sector cooperation. Aside from upgrading Indonesian military 
equipment, South Korea also agreed to replace engines on Indonesia's Type 
209/1300 submarines. [1] A refit of Indonesia's Cakra Type 209 vessel was 
subsequently carried out at the Daewoo Shipyard between 2004 and 2005, and 
Daewoo was awarded a contract to overhaul Indonesia's second Type 209 boat, the 
Nanggala, which is scheduled to be completed by July 2011. [2] Overhaul of the 
Indonesian boats included engine maintenance and repair, as well as the 
installation of new sonar, radar and navigation systems. South Korea is also 
competing with Russia for the tender to supply Indonesia with two submarines. 
If Seoul wins it will provide Indonesia with two Type 209/1200 Chang Bogo-class 
submarines. [3] However, such a sale would require the consent of the German 
government, as the submarines were built from a German design. 

The Korea Aerospace Industries KF-X is a South Korean program to develop an 
advanced multirole fighter for the Republic of Korea Air Force (ROKAF) and 
Indonesian Air Force (TNI-AU), spearheaded by South Korea with Indonesia as the 
primary partner.[1] It is South Korea's second fighter development program 
following the FA-50.

The project was first announced by South Korean President Kim Dae-Jung at the 
graduation ceremony of the Air Force Academy in March 2001. South Korea and 
Indonesia had agreed to cooperate in the production of KF-X warplanes in Seoul 
on July 15, 2010.[2] The initial operational requirements for the KF-X program 
as stated by the ADD (Agency for Defence Development) were to develop a 
single-seat, twin-engine jet with stealth capabilities beyond either the 
Dassault Rafale or Eurofighter Typhoon, but still less than the Lockheed Martin 
F-35 Lightning II. The overall focus of the program is producing a fighter with 
higher capabilities than a KF-16 class fighter by 2020.[3][4]

http://www.analisadaily.com/news/read/2011/09/10/12147/menhan_kerjasama_indonesia-korsel_tingkatkan_kemandirian/#.TmxjWNTgl5g

Headline - Hari ini Pkl. 07:01 WIB

Menhan: Kerjasama Indonesia-Korsel Tingkatkan Kemandirian


(Antara/Yudhi Mahatma) Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro (kiri) bersama 
Menhan Korea Selatan General (ret.) Kim Kwan-Jin saling bertukar replika 
pesawat terbang jenis CN 235 usai penandatanganan kerjasama pertahanan 
RI-Korsel di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Jumat (9/9). Kementerian 
Pertahanan RI dan Korsel akan mengadakan kerjasama "joint production" antar 
kedua negara untuk memproduksi pesawat tempur jenis KF-X/IF-X.
Jakarta, (Analisa). Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan kerjasama 
antara Indonesia dengan Korea Selatan dilakukan untuk membina dan meningkatkan 
industri pertahanan serta kemandirian masing-masing negara.
"Demi kemajuan di antara dua negara, dan sekaligus menjadi bukti kedekatan 
hubungan Indonesia dengan Korsel agar suatu saat nanti Indonesia dapat belajar 
dari Korsel untuk bisa mandiri," kata Menhan dalam sambutannya pada seminar 
bertajuk "Mutual Development On Defense Industry Corporation," di Jakarta, 
Jumat.

Purnomo mengatakan, Indonesia dapat mencontoh Korsel yang belajar secara 
bertahap dari industri pertahanan Amerika Serikat. "Ini semua juga terkait 
dengan persiapan anggaran yang disediakan pemerintah di dalam pembangunan 
kekuatan pertahanan kita," katanya seraya menambahkan kondisi perekonomian 
Indonesia dalam kondisi yang baik.

"Anggaran belanja meningkat dari waktu ke waktu, dan itu memberikan dampak 
kepada pembangunan kekuatan untuk mencapai satu tingkat yang dikenal sebagai 
tingkat "essential forces" dan hal tersebut akan berhasil dengan baik apabila 
kita membangun industri pertahanan kita," kata Purnomo.

Dia menilai, kerjasama dengan Korea Selatan dirasakan sangat penting untuk 
menuju kemandirian dan membangun kekuatan bangsa.

Sebelumnya, Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan sepakat mengukuhkan 
kerjasama pertahanan kedua negara yang tertuang dalam nota kesepahaman yang 
ditandatangani Dirjen Potensi Pertahanan, Pos Hutabarat dan Direktur Biro 
Kebijakan Kekuatan Korsel Lee Yong Dae di Jakarta, Jumat.

Penandatanganan nota kesepahaman itu disaksikan Menteri Pertahanan Purnomo 
Yusgiantoro dan Menteri Pertahanan Korea Selatan Kim Kwan-jin.

Dengan nota kesepahaman itu maka kedua negara dapat memperkuat kerjasama 
pertahanan yang selama ini telah berjalan, terutama industri pertahanan.

Terkait kerjasama industri pertahanan, kedua negara sepakat untuk dilakukanya 
produksi bersama disertai alih teknologi seperti dalam pembuatan kapal jenis 
"Landing Plattform Dock" (LPD) dan kapal selam antara PT PAL dan perusahaan 
kapal Daewoo Shipbuilding.

Selain industri maritim kedua negara juga telah menjajaki kerjasama industri 
dirgantara seperti pembuatan pesawat tempur KFX/IF-X.

Tak hanya itu, kedua negara juga menjajaki pembelian pesawat jet tempur latih 
T-50 oleh Indonesia yang disertai pengadaan CN-235 oleh Korsel.

Hal itu ditegaskan dengan pertukaran cenderamata dari Menhan Purnomo berupa 
miniatur pesawat CN-235 kepada Menhan Korsel. Sedangkan Menhan Korsel 
memberikan cendera mata berupa miniatur pesawat T-50 Golden Eagle. (Ant)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke