Biarkan saja orang Indonesia hancur menjadi bukti KEGAGALAN ISLAM menyusul Afghan, Somalia, Iraq, Saudi, Sudan, Libya, dll dll
setelah itu tidak ada lagi di dunia yg mencoba menerapkan Islam --- In [email protected], "muskitawati" <muskitawati@...> wrote: > > Gara2 Dukung Palestina, RI Dikucilkan Dunia !!! > > Dukung Palestina jelas politik blunder, bukan membawa rezeki kepada bangsa > kita tetapi malah membawa celaka dan bencana kepada bangsa kita. Hubungan > keluar negeri semuanya dingin, tidak ada satupun negara sahabat yang > bersimpati kepada negara kita. > > Makin lama makin pudar rasa kebangsaan, rasa nasionalisme diganti dengan > keimanan Syariah Islam yang anti-nasionalisme. Extreemitas Islam > menghancurkan budaya bangsa, kalo sebelumnya sesama Islam saling membantai, > sekarang tambah meluas--budaya bangsapun rela dikorbankan, misalnya saja > patung Gatot Kaca di Purwakarta yang merupakan simbol keperkasaan dirgantara > budaya bangsa ini telah dihancurkan ber-sama2 karena bertentangan dengan > keimanan Islam yang diimport dari Arab jingjing. > > Padahal patung Gatot Kaca itu tidak menghina Islam, tidak men-jelek2an Islam, > dan tidak menista agama Islam seperti Islam Ahmadiah. > > Jadi kalo Islam Ahmadiah dilarang, dibantai dan dianiaya karena dituduh > menista agama Islam, maka patung2 Gatot Kaca, Bima, Arjuna Yudistira dll yang > sama sekali tidak mengganggu ajaran Islam tetap saja dibantai tanpa alasan > selain alasan bertentangan dengan agama Islamnya. > > Patung2 juga dianggapnya sebagai musuh2 Islam, bukan cuma Kristen, yahudi, > Hindu-Buddha saja yang dianggap musuh Islam, tapi juga budaya dan tradisi > bangsanya sendiripun sekarang dimusuhinya sendiri karena dianggap memusuhi > Islam. > > Ke blunderan politik luar negeri kita adalah membuka hubungan diplomatik > dengan Palestina yaitu negara yang belum ada petanya, belum ada batas2nya, > belum jelas rakyatnya, tapi malah sekarang ada dubes-nya, dan dubesnya ini > digaji pemerintah RI bukan pemerintah Palestina. Lebih aneh lagi, kantor > kedubesannya juga mendapatkan rumah gratis, listrik gratis, segalanya gratis > karena dibiayai oleh pemerintah RI sendiri. > > Dubes Palestina inipun pusatnya di Westbank dibawah pemimpin Abbas, tapi yang > kita dukung dan memberi bantuan selama ini bukan si Abbas melainkan si Hamas > yang enggak punya kedubesannya disini. Pemerintah RI membangunkan RS untuk > Hamas di Gaza, padahal Hamas dan Abbas itu bermusuhan. > > Akhirnya, pemimpin RI ini bingung sendiri, keluar biaya besar untuk kampanye > ke negara2 Asteng agar dukung keanggautaan Palestina di UN, ternyata di UN > sendiri tidak ada yang mendukung Palestina karena salah prosedur dalam > lamarannya. > > Niatnya, RI membujuk Abbas agar rekonsiliasi damai dengan Hamas, tetapi > sewaktu ke Amerika sidang PBB ini, ternyata si Abbas ini malah sibuk kejar2 > Israel untuk berdamai sambil mengutuk si Hamas yang berkhianat. > > Negara2 tetangga Asean geleng2 kepala, melihat negara kacau balau begini, > investor RIM pindah ke Malaysia malah Malaysianya yang diancam produksinya > mau di boikot dengan pajak yang tinggi. > > Lalu masih ada kah para pembaca yang bisa menunjukkan adanya negara sahabat > bagi negeri ini ??? Tetangga pun muak melihatnya, merasa menjadi negara > besar, merasa jadi pemimpin Asean meskipun yang dipimpin itu tidak pernah > menganggapnya pemimpin. > > Jauh lebih menguntungkan buka hubungan dengan Israel, import barang2 Israel > tidak lagi melalui calo2 bisa langsung. Dagangan produksi dalam negeri juga > bisa dieksport langsung ke Israel dengan harga pasaran yang baik katimbang > dikirim sebagai sumbangan ke Gaza. Enggak perlu kasih gratis kepada Israel, > bahkan kedutaan besarnyapun harus beli gedung bukan gratis. > > Ny. Muslim binti Muskitawati. > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
