Refl: Apakah masih ada oknom-oknom profesionalis yang beretika tinggi untuk 
pemerintahan? Bila ada, dimana mereka itu?


http://www.jambiekspres.co.id/opini/20755-reshuffle-tunggu-zakenkabinet.html


      Rabu, 21 September 2011 10:00 

     
      Reshuffle, Tunggu Zakenkabinet  


      DEG-DEGAN lagi. Sas-sus reshuffle lagi. Yang deg-degan tentu nama-nama 
anggota kabinet yang berada di titik bidik. Ada yang menyebut dua nama, tiga 
nama atau, bahkan, sepuluh nama. Alasan mereka

      masuk lingkaran target reshuffle bisa macam-macam. Terserempet kasus 
korupsi, ”memanjakan” koruptor, terganggu kesehatannya, tidak berhasil dalam 
bekerja, hingga kasus rumah tangga.

      Kalau mereka merasa deg-degan, sebenarnya rakyat tidak ikut deg-degan. 
Sejauh ini tidak ada menteri yang pantas dibela untuk dipertahankan. Tidak ada 
menteri yang kebijakannya pantas mendapat tempat di hati rakyat secara luas. 
Kecuali sebagian kecil, kebanyakan mereka mendapat jabatan itu karena politik, 
bukan karena keahliannya.

      Memang, kabinet adalah jabatan politik. Yang jadi soal klasik adalah 
ketidakberhasilan si tokoh politik di kabinet untuk menonjolkan profesionalisme 
atau keahlian kerja ketika mengurusi lingkup tugas di kementeriannya. 

      Yang muncul justru aneka persoalan yang membebani presiden, orang yang 
menunjuk mereka. Mereka selalu bersandar pada ”terserah presiden” ketika 
dimintai

      tanggung jawab atas skandal di kementeriannya. Mereka seolah-olah

      juga menunjukkan diri sebagai orang yang patuh hukum dengan ”menyerahkan 
kepada penegak hukum” atas isu yang menerpanya.

      Padahal, sebagai manusia berbudi, ada yang namanya etika; selain hukum 
yang selalu terlambat itu. Etika, yang menekankan pada rasa malu, telah sirna. 
Bangsa kita lemah karena para pembesarnya meremehkan etika. Mereka merasa 
nyaman dengan berkoar ”kami serahkan ke penegak hukum” karena bisa mengolor 
waktu untuk lolos, sekalipun untuk ukuran etika dia sudah tidak pantas untuk 
duduk di kursinya.

      Kalau mereka sudah tidak malu, kita bisa berbuat apa? ”Kalau kau tidak 
malu, lakukan sesukamu.” Begitulah ungkapan kearifan tua. Akan halnya 
reshuffle, para anggota kabinet, terutama yang prestasi atau perangainya kurang 
bagus, silakan deg-degan. 

      Kami akan menunggu. Siapa tahu embusan angin reshuffle ini omong kosong 
lagi. Ingat lho, sas-sus reshuffle bukan kali ini saja. Sesaat setelah cekcok 
politik terkait pansus Century dan pansus pajak, juga muncul salvo-salvo 
politik berupa ancaman reshuffle. Eh, setelah lobi sana, lobi sini, bisik sana, 
bisik sini, hitung sana, hitung sini, eh kempes sendiri.

      Mimpi Indonesia dikelola kabinet ahli atau zakenkabinet layak 
dibangkitkan lagi. Ini mimpi yang timbul tenggelam sejak zaman perjuangan 
kemerdekaan silam.

      Publik mengapresiasi zakenkabinet ini ketika diperkenalkan Wilopo pada 
era 1950-an. Tetapi, karena suasana polarisasi ideologi politik yang tajam saat 
itu, kabinet para profesional ini layu sebelum berbunga.

      Pak Harto sebenarnya mengadopsi zakenkabinet ini semasa berkuasa. Tetapi, 
tingkat kepuasan publik (istilah survei LSI ini belum lahir saat itu), semakin 
lama Pak Harto berkuasa makin turun. Korupsi, kolusi, dan nepotisme (istilah 
ini makin klise, tetapi akurat) yang masif mengikis citra prestasi pembangunan 
itu. Kini kita mikul dhuwur (junjung tinggi) semangat korupsinya yang 
seharusnya kita pendhem jero (kubur dalam-dalam). Untung, ada KPK yang bisa 
mendhem jero banyak koruptor besar.

      Meski sulit terkabul, amat banyak yang berharap Presiden SBY bisa 
menempatkan orang-orang berkeahlian dan berkinerja tinggi di kabinet. Siapa 
mereka? Presiden pasti punya banyak sumber informasi tepercaya untuk mencari 
orang-orang yang tidak banyak celoteh, tetapi punya prestasi tinggi di bidang 
keahliannya.

      Orang-orang yang profesional biasanya beretika tinggi sehingga mereka 
bekerja berorientasi pada proses dan tujuan keberhasilan. Bukan sekadar sibuk 
mencari dan menghabiskan anggaran untuk kelompoknya sendiri dan berasyik-masyuk 
dengan para calo.
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke