Kalo lu bisa mengutuk kelakuan si westerling , coba lu kacain kelakuan nabi lu sama si westerling ini...
2011/10/6 PAREWA <[email protected]> > ** > > > Duh kejamnya si westerling belanda ini....rawagede berapa. > > Dalam > buku berjudul Westerling, 'De Eenling' (1982), buku yang ditulis oleh > Westerling sendiri bersama Dominique Venner, bab yang mengisahkan > tindakannya > di Sulawesi Selatan diberinya judul Kesengsaraan Rakyat. > > Buku itu > merupakan versi rombakan dari otobiografinya, yang semula terbit dalam > bahasa > Prancis (1952), dan buku karya Dominique Venner, ahli sejarah militer > berkebangsaan Prancis (1977). Dalam buku itu, Westerling, yang selain jago > tembak juga seorang pengisah ulung, menceritakan tahap demi tahap rencana > pembunuhannya di Sulawesi dengan penuh detail. Arsip dan dokumen memberi > gambaran lebih jelas tentang suasana sekitar peristiwa itu. Namun dalam > buku > itu Westerling tidak memberikan angka pasti berapa jumlah korban jatuh oleh > ulahnya. > > > Dalam > Challange to Terror, otobiografinya yang diterjemahkan dari bahasa Prancis > oleh > Waverley Root, Raymond 'Turk' Westerling menulis: Orang-orang Republik Jawa > itu > bilang korban yang jatuh di Sulawesi ada 15.000. Ini masih mending. > Belakangan > tambah lagi jadi 20.000 dan tambah lagi jadi 30.000 dan akhirnya jadi > 42.000. > mereka mau supaya orang mencaciku, sampai-sampai PBB diberi tahu. Yang > betulnya: kurang dari 600 'teroris' yang mati, dan dari pihakku 3 orang. > Bukankah maksudku sekedar menindas 'teror' dan menghalau Jawa-Jawa itu dari > Sulawesi?" > > Kamis, 5 > Desember 1946 (ada juga versi yang menyebut 6 Desember), Pasukan Khusus > Baret > Hijau mendarat di Makassar di bawah pimpinan Letnan Satu Westerling. > Sebelumnya, pertengahan November, Pembantu Letnan Vermeulen telah tiba di > Makassar guna mencari sasaran, agar tugas Westerling lancar. Di Sulawesi > Selatan inilah pangkat pimpinan Baret Hijau dinaikkan menjadi kapten oleh > Kolonel De Vries, Komandan Teritorial Borneo dan Timur Besar. > > Belum > lima hari di Makassar, Westerling memulai gerakannya. Dinihari 11 Desember, > Makassar timur mendapat giliran pertama. Pilihan daerah operasi ini karena > diduganya dua pimpinan gerakan perjuangan bersembunyi di kampung Batua. > Yakni > Robert Wolter Monginsidi dan Ali Malakka. > > Pasukan > Baret Hijau, jumlah sekitar 130 orang, dipecah dua. Tugasnya jelas dan > gamblang: mengumpulkan penduduk kampung, mencari senjata. Bila di sebuah > rumah > kedapatan senjata, langsung rumah itu dibakar. > > Kepada > orang-orang yang dikumpulkan, Westerling berpidato bahwa tindakannya bukan > tindakan politik, demikian kata Willem Ijzereef, sejarawan Belanda, dalam > bukunya De Zuid-Celebes Affaire, Kapitein Westerling en de standrechtelijk > executies (Peristiwa Sulawesi Selatan, Kapten Westerling dan Pembunuhan > dalam > Keadaan Hukum Perang). Dan segera saja yang disebutkannya sebagai bukan > tindakan politik itu terwujud. Seorang ditembak mati. Kelompok Baret Hijau > yang > lain melihat sekelompok lelaki bersenjata. Segera tujuh orang tergeletak > tak > bernyawa. > > Hari itu > sekitar 3.000 penduduk dikumpulkan dari Batua dan sekitarnya. Laki-laki > dipisahkan dari wanita dan anak-anak. Kemudian Westerling membacakan 74 > nama > yang dicari, yang disebutnya 'pemimpin gerakan perlawanan, pembunuh, dan > perampok.' Setelah mengintimidasi sambil memberikan contoh nasib orang yang > tak > mau menunjukkan nama-nama itu (langsung ditembak di tempat) diperolehlah 32 > nama dari 74 yang dicari. 32 orang itu begitu saja dinyatakan bersalah, > lalu > diberondong senapan. Belum cukup. Kampung Batua lalu dihujani mortir, > kemudian > dibakar. Dilaporkan operasi dari pukul setengah empat pagi sampai setengah > satu > siang itu menelan 42 korban. > > Esoknya, > 12 Desember, daerah delta Sungai Jeneberang pun dioperasi. Diduga di > situlah > perdagangan senjata 'kaum ekstremis' dilakukan. Sebuah kampung dibakar. > Sekitar > 1.500 penduduk dikumpulkan. Sebuah perahu yang kebetulan lewat, tiga > penumpangnya langsung dihabisi. > > Dengan > interogasi kilat dari 1.500 orang yang dikumpulkan diperoleh 61 nama yang > langsung dihukum mati. Jumlah korban hari itu 80-an. Setelah dua kali > operasi > Westerling mendapat pujian dari Kolonel De Vries. Penguasa teritorial itu > pun > memuji-muji cara Westerling bertindak. > > Kampung > Kalukuang, jadi sasaran hari berikutnya. Terjadi sedikit perlawanan. Tapi > kedua > belas yang melawan itu tewas seluruhnya. Penduduk kampung lalu dikumpulkan > di > suatu tempat. Delapan orang mencoba melarikan diri, semuanya ditembak mati. > Seorang perempuan meninggal. > > Pengusutan > pun segera dilakukan. Ditemukanlah Letnan Tentara Rakyat Indonesia Abdul > Latief > dan sejumlah anggota pasukannya. Abdul Latief tak ikut ditembak mati karena > bisa bahasa Belanda. Ia cuma ditawan. Hal itu diakui Westerling sendiri > kemudian. > "Ya, > nasionalis Abdul Latief dan Hamzah, mereka itu nasionalis. Saya > berkeyakinan > dia pemimpin yang baik dan muda, jujur, dan banyak menyusahkan saya, tapi > saya > tidak membunuhnya. Juga Wolter Monginsidi, dia pintar berkelahi tapi dia > bukan > penjahat. Saya pernah bertempur melawan dia," (Ekspres, 22 Agustus 1970). > Operasi > dari pukul tiga pagi sampai pukul empat seperempat sore itu menelan nyawa > 83 > orang. > > Operasi > demi operasi Westerling terus menjumpai kebandelan penduduk. Dan 'upacara' > mengambil seorang dari penduduk yang telah dikumpulkan, lalu memintanya > menunjukkan > yang mana 'kaum ektremis', selalu makan korban. Seorang atau dua orang yang > dicomot biasanya tetap membisu. Dan maut pun datang. Kalau sudah begitu, > baru > ada yang menunjuk-nunjuk, entah yang ditunjuknya benar pejuang atau bukan. > > Dalam > buku Willem Ijzereef itu pula dibandingkan jumlah korban di Sulawesi > Selatan > menurut Westerling dan menurut pihak militer Belanda sendiri, selama 11 > Desember 1946 sampai dengan 5 Maret 1947. Operasi militer sampai dengan 17 > Februari menurut Westerling ia hanya membunuh 350 orang. Sementara itu, > pihak > militer Belanda sendiri mencatat korban Westerling sampai hari itu sekitar > 1.000 orang. > > Teror > kemudian diteruskan ke Parepare, Mandar, dan Bantaeng. Di tiga daerah ini > dikabarkan hampir 700 orang kena bantai. Jumlah itu semua belum termasuk > korban > yang oleh Westerling disebut "perampok" yakni sekitar 2.660 orang. > Lalu mereka yang tak sempat menyelamatkan diri ketika kampung dibakar, > lebih > dari 550 orang. Dengan data yang dikemukakan Ijzereef, secara kasar korban > Westerling sekitar 5.000 orang. > > Berbagai > versi jumlah korban > Menurut > De Jong, jumlah korban sesungguhnya, jika ingin mencoba obyektif memandang > sejarah bukanlah 40 ribu melainkan 4 ribu orang. Adapun angka 40.000 yang > populer itu, menurut Sekretaris Corps Hasanuddin yang diwawancarai Harian > Ekspres pada tahun 1970 itu berawal pada peringatan korban teror Westerling > di > Yogyakarta, 1949, Kahar Muzakkar berpidato di Kepatihan Yogyakarta, di > hadapan > Presiden Soekarno. Di situlah angka 40.000 mulai disebut-sebut. (Tempo, > 12/12/1987) > > Tak > pernah ada angka pasti tentang jumlah korban yang jatuh. Angka-angka itu > terus > jadi misteri, sebuah sengkarut. > > Satu hal > yang pasti, di Makassar sebuah jalan diberi nama Jalan Korban 40.000 Jiwa > dan > di sana dibangun sebuah monumen 'peti mati' untuk mengenang tragedi itu. > Monumen itu memang berbentuk peti mati berukuran 6 x 6 x 12 meter dengan > bagian > ujungnya agak mengecil. Peti mati itu diusung beberapa patung lelaki di > atas > kolam yang diibaratkan rawa-rawa. Sebelum Monumen itu dibangun di sana, di > tempat pembantaian itu, memang ada rawa-rawa yang kemudian ditimbun. Tepat > 28 > tahun setelah pistol-pistol anak-buah Westerling membunuh rakyat di tempat > itu, > 11 Desember 1974, Walikota Makassar, M Patompo meresmikan monumen itu. > (Tempo, > 11/01/1975) > > Oleh > Pemerintah Kota Makassar, Monumen Korban 40.000 Jiwa (sering juga disebut > Monumen 11 Desember) kini dijadikan salah satu obyek wisata sejarah dan > budaya. > Namun meskipun telah ditetapkan sebagai obyek wisata, tempat itu tak pernah > ramai dikunjungi. Banyak orang yang tinggal di sekitar monumen itu bahkan > tak > lagi tahu mengapa ada bangunan seperti itu di sanaseperti juga mengapa > nama > jalan yang menjadi alamat rumah mereka Jalan Korban 40 Ribu Jiwa. > > Setelah > 60 bulan Desember berlalu, tampaknya orang-orang tak lagi peduli dan tak > mau > tahu tragedi pembantaian Westerling itu. > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
