http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=34910

MINGGU, 15 Oktober 2011 | 26 Hits
'
Legenda Hoegeng: Menolak Suap Suatu Kehormatan


Pertama kali saya berurusan dengan polisi dan “berkenalan” dengan Hoegeng. Saat 
itu, saya baru berusia 17 tahun, tepatnya pada tahun 1961 di Kota Medan. 
Sebagai remaja yang sering dijuluki “Preman”, malam itu saya terlibat dalam 
perkelahian antargeng berdarah di sekitar Polonia, hingga merusak tempa


Selesai berkelahi, kami berkumpul di Jalan Jokya, di mana ada tukang rokok 
berjualan. Selagi asyik bercerita tentang “kejagoan” setelah perkelahian, 
tiba-tiba ada seorang lelaki naik sepeda membeli rokok. Ia agak lama berdiri di 
depan kios, sambil menawar rokok yang mau dibeli.

Lima belas menit kemudian setelah lelaki bersepeda itu pergi, tiba-tiba satu 
regu polisi, pakai topi waja cokelat datang. Ternyata mereka Polisi Perintis 
Umum (P2U), satuan pemukul yang paling ditakuti preman pada waktu itu selain 
CPM (Corps Polisi Militer) yang bertopi waja putih.

Kami diangkut ke kantor polisi di jalan Bali dan dihadapkan kepada Kepala 
Reserse AKBP Hoegeng, lelaki penunggang sepeda yang beli rokok tadi. Itulah 
perkenalan pertama saya dengan Hoegeng. Ini juga pertamanya saya kali ditangkap 
polisi. Sekitar sembilan tahun kemudian, sebagai wartawan junior Sinar Harapan, 
saya kembali berurusan dengan Hoegeng.

Tetapi ia sudah menjadi Kapolri (1968-1971). Rumahnya cukup sederhana di Jalan 
Madura, Menteng. Sekembali dilantik Presiden sebagai Kapolri, di dekat pintu 
gerbang rumahnya telah dibuat gardu ”monyet” untuk penjaga. Padahal, sebelumnya 
itu tidak ada. Melihat itu, ia segera memerintahkan untuk membongkar.

Ia tidak suka ada pos jaga di rumahnya, karena itu membuat jarak dengan 
masyarakat. Begitu memasuki rumahnya, ia diadang sebuah karton besar berukuran 
satu kali setengah meter bertuliskan Philips . Ternyata isinya, portable musik 
yang dapat dipakai untuk rekaman, punya sound system, dan bisa berfungsi 
menyiarkan lagu dan radio.

Hoegeng saat itu adalah pengurus Hawaian Senior, sekaligus penyanyi dan pecinta 
musik keroncong termasuk musik Hawai. Bingkisan itu dikirim kenalannya yang 
seorang pengusaha. Akibatnya, batin Hoegeng bergolak. Ia tulis dialog imajiner 
di atas kertas yang dilapisi karbon.

Kalimat terakhir dialog itu tertulis, “Dengan sangat menyesal saya beritahukan 
kawan, Hoegeng pribadi kalah. Dan portable Philips ini terpaksa saya 
kembalikan”. Sejurus kemudian, ia memanggil ajudannya dan portable Philips itu 
dikirim kembali pada pemiliknya.
Gratifikasi

Waktu itu belum ada gratifikasi. Namun, antara hadiah dan suap beda tipis. 
Surat yang argumentatif itu merupakan cara Hoegeng menolak gratifikasi atau 
suap. Sebaliknya, ia memberikan pendidikan bahwa memberikan sesuatu kepada 
pejabat tidak etis dan melanggar hukum. Peristiwa itu menjadi cerita mulut ke 
mulut dan menjadi legenda Hoegeng.

Cerita lainnya adalah ketika saya bertandang ke Mabak, Markas Besar Angkatan 
Kepolisian (nama dari Mabes Polri masa itu). Saya berada di ruang tamu karena 
Hoegeng masih menerima tamu. Tiba-tiba saya dikejutkan suara pintu yang 
dibanting keras.

Seorang pengusaha berjas berdasi, keluar terbirit-birit dan kelihatan 
didampingi Deputi Operasi (jabatan setara Bareskrim saat ini) Mayjen Pol Katik 
Saroso. Katik Saroso menasihati saya untuk tidak mewawancarai Hoegeng dulu 
karena ia sedang marah besar.

Beberapa lama kemudian Hoegeng bercerita kepada saya, pengusaha itu ingin 
menyerahkan sejumlah uang untuk kasusnya. “Dia tidak menghormati saya,” 
katanya. Dari kisah ini terungkap bahwa Hoegeng merasa terhina dan membuatnya 
marah.

Seharusnya Katik Saroso sudah tahu tabiat Hoegeng yang tidak bisa disogok. “Itu 
yang membuat saya lebih marah lagi, pengusaha seperti itu bisa masuk ke kamar 
kerja saya”, kata Hoegeng. Ia lalu memanggil Katik dan memerintahkan segera 
mengusut kasus pengusaha itu dan segera melimpahkan ke pengadilan.

Kebiasaan Hoegeng naik sepeda sudah menjadi trademark-nya. Setelah tidak 
menjabat Kapolri lagi, Hoegeng sering muncul pada acara Hawaian Senior yang 
secara teratur disiarkan TVRI, satu-satunya televisi pada masa itu.

Saat ibu Fatmawati Soekarno, ibu negara dan ibunda Megawati Soekarnoputri, 
meninggal dunia 14 Mei 1980, jenazahnya disemayamkan di rumah duka Jalan 
Sriwijaya Kebayoran Baru. Posisi rumah itu agak tinggi dari jalan raya dan ada 
belasan tangga di bibir Jalan Sriwijaya.

Saat itu di bawah tangga saya lagi asyik ngobrol dengan Japto Soerjosoemarno 
(Ketua Pemuda Pancasila). Tiba-tiba kami dikagetkan karena melihat Hoegeng 
turun tangga dengan tergesa-gesa. Rupanya dia mengejar Menteri Penerangan Ali 
Murtopo yang baru keluar dari rumah duka.

“Li, tunggu dulu, jangan terus lari,” kata Hoegeng sambil bergegas mendapatkan 
Ali Murtopo yang sedang menuju mobilnya di parkiran. “Kenapa kau larang TVRI 
menyiarkan Hawaian Senior, ha?” katanya sambil menunjuk dada Murtopo.

Saya dan Japto yang menyaksikan peristiwa itu segera mendekat. “Sudah Om, sabar 
Om”, kata Japto kepada Hoegeng. Ali saat itu kehilangan wibawa, malah dengan 
kecut masuk ke mobil dan pergi.

“Hanya itu hobi saya, dibredel kunyuk itu lagi,” kata Hoegeng kesal dengan gaya 
Banyumasannya. Serangkaian peristiwa di atas menunjukkan bagaimana seorang 
tokoh yang berkarakter digilas oleh zaman, itulah legenda Hoegen

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke