Hehehe.... jadi si Hoegeng itu bersohib dgn Japto bajingan dr Pemuda Pancasila. 
Apa si Hoegeng ini bisa dipercaya kalo bersohib dgn si Japto?





>________________________________
>From: Sunny <[email protected]>
>To: [email protected]
>Sent: Sunday, October 16, 2011 3:52 AM
>Subject: [proletar] Legenda Hoegeng: Menolak Suap Suatu Kehormatan
>
>
>  
>http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=34910
>
>MINGGU, 15 Oktober 2011 | 26 Hits
>'
>Legenda Hoegeng: Menolak Suap Suatu Kehormatan
>
>Pertama kali saya berurusan dengan polisi dan “berkenalan” dengan Hoegeng. 
>Saat itu, saya baru berusia 17 tahun, tepatnya pada tahun 1961 di Kota Medan. 
>Sebagai remaja yang sering dijuluki “Preman”, malam itu saya terlibat dalam 
>perkelahian antargeng berdarah di sekitar Polonia, hingga merusak tempa
>
>Selesai berkelahi, kami berkumpul di Jalan Jokya, di mana ada tukang rokok 
>berjualan. Selagi asyik bercerita tentang “kejagoan” setelah perkelahian, 
>tiba-tiba ada seorang lelaki naik sepeda membeli rokok. Ia agak lama berdiri 
>di depan kios, sambil menawar rokok yang mau dibeli.
>
>Lima belas menit kemudian setelah lelaki bersepeda itu pergi, tiba-tiba satu 
>regu polisi, pakai topi waja cokelat datang. Ternyata mereka Polisi Perintis 
>Umum (P2U), satuan pemukul yang paling ditakuti preman pada waktu itu selain 
>CPM (Corps Polisi Militer) yang bertopi waja putih.
>
>Kami diangkut ke kantor polisi di jalan Bali dan dihadapkan kepada Kepala 
>Reserse AKBP Hoegeng, lelaki penunggang sepeda yang beli rokok tadi. Itulah 
>perkenalan pertama saya dengan Hoegeng. Ini juga pertamanya saya kali 
>ditangkap polisi. Sekitar sembilan tahun kemudian, sebagai wartawan junior 
>Sinar Harapan, saya kembali berurusan dengan Hoegeng.
>
>Tetapi ia sudah menjadi Kapolri (1968-1971). Rumahnya cukup sederhana di Jalan 
>Madura, Menteng. Sekembali dilantik Presiden sebagai Kapolri, di dekat pintu 
>gerbang rumahnya telah dibuat gardu ”monyet” untuk penjaga. Padahal, 
>sebelumnya itu tidak ada. Melihat itu, ia segera memerintahkan untuk 
>membongkar.
>
>Ia tidak suka ada pos jaga di rumahnya, karena itu membuat jarak dengan 
>masyarakat. Begitu memasuki rumahnya, ia diadang sebuah karton besar berukuran 
>satu kali setengah meter bertuliskan Philips . Ternyata isinya, portable musik 
>yang dapat dipakai untuk rekaman, punya sound system, dan bisa berfungsi 
>menyiarkan lagu dan radio.
>
>Hoegeng saat itu adalah pengurus Hawaian Senior, sekaligus penyanyi dan 
>pecinta musik keroncong termasuk musik Hawai. Bingkisan itu dikirim kenalannya 
>yang seorang pengusaha. Akibatnya, batin Hoegeng bergolak. Ia tulis dialog 
>imajiner di atas kertas yang dilapisi karbon.
>
>Kalimat terakhir dialog itu tertulis, “Dengan sangat menyesal saya beritahukan 
>kawan, Hoegeng pribadi kalah. Dan portable Philips ini terpaksa saya 
>kembalikan”. Sejurus kemudian, ia memanggil ajudannya dan portable Philips itu 
>dikirim kembali pada pemiliknya.
>Gratifikasi
>
>Waktu itu belum ada gratifikasi. Namun, antara hadiah dan suap beda tipis. 
>Surat yang argumentatif itu merupakan cara Hoegeng menolak gratifikasi atau 
>suap. Sebaliknya, ia memberikan pendidikan bahwa memberikan sesuatu kepada 
>pejabat tidak etis dan melanggar hukum. Peristiwa itu menjadi cerita mulut ke 
>mulut dan menjadi legenda Hoegeng.
>
>Cerita lainnya adalah ketika saya bertandang ke Mabak, Markas Besar Angkatan 
>Kepolisian (nama dari Mabes Polri masa itu). Saya berada di ruang tamu karena 
>Hoegeng masih menerima tamu. Tiba-tiba saya dikejutkan suara pintu yang 
>dibanting keras.
>
>Seorang pengusaha berjas berdasi, keluar terbirit-birit dan kelihatan 
>didampingi Deputi Operasi (jabatan setara Bareskrim saat ini) Mayjen Pol Katik 
>Saroso. Katik Saroso menasihati saya untuk tidak mewawancarai Hoegeng dulu 
>karena ia sedang marah besar.
>
>Beberapa lama kemudian Hoegeng bercerita kepada saya, pengusaha itu ingin 
>menyerahkan sejumlah uang untuk kasusnya. “Dia tidak menghormati saya,” 
>katanya. Dari kisah ini terungkap bahwa Hoegeng merasa terhina dan membuatnya 
>marah.
>
>Seharusnya Katik Saroso sudah tahu tabiat Hoegeng yang tidak bisa disogok. 
>“Itu yang membuat saya lebih marah lagi, pengusaha seperti itu bisa masuk ke 
>kamar kerja saya”, kata Hoegeng. Ia lalu memanggil Katik dan memerintahkan 
>segera mengusut kasus pengusaha itu dan segera melimpahkan ke pengadilan.
>
>Kebiasaan Hoegeng naik sepeda sudah menjadi trademark-nya. Setelah tidak 
>menjabat Kapolri lagi, Hoegeng sering muncul pada acara Hawaian Senior yang 
>secara teratur disiarkan TVRI, satu-satunya televisi pada masa itu.
>
>Saat ibu Fatmawati Soekarno, ibu negara dan ibunda Megawati Soekarnoputri, 
>meninggal dunia 14 Mei 1980, jenazahnya disemayamkan di rumah duka Jalan 
>Sriwijaya Kebayoran Baru. Posisi rumah itu agak tinggi dari jalan raya dan ada 
>belasan tangga di bibir Jalan Sriwijaya.
>
>Saat itu di bawah tangga saya lagi asyik ngobrol dengan Japto Soerjosoemarno 
>(Ketua Pemuda Pancasila). Tiba-tiba kami dikagetkan karena melihat Hoegeng 
>turun tangga dengan tergesa-gesa. Rupanya dia mengejar Menteri Penerangan Ali 
>Murtopo yang baru keluar dari rumah duka.
>
>“Li, tunggu dulu, jangan terus lari,” kata Hoegeng sambil bergegas mendapatkan 
>Ali Murtopo yang sedang menuju mobilnya di parkiran. “Kenapa kau larang TVRI 
>menyiarkan Hawaian Senior, ha?” katanya sambil menunjuk dada Murtopo.
>
>Saya dan Japto yang menyaksikan peristiwa itu segera mendekat. “Sudah Om, 
>sabar Om”, kata Japto kepada Hoegeng. Ali saat itu kehilangan wibawa, malah 
>dengan kecut masuk ke mobil dan pergi.
>
>“Hanya itu hobi saya, dibredel kunyuk itu lagi,” kata Hoegeng kesal dengan 
>gaya Banyumasannya. Serangkaian peristiwa di atas menunjukkan bagaimana 
>seorang tokoh yang berkarakter digilas oleh zaman, itulah legenda Hoegen
>
>[Non-text portions of this message have been removed]
>
>
> 
>
>

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke