http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=34911
SABTU, 15 Oktober 2011 | 611 Hits
‘

Jihad Membangun Karakter Bangsa


Saya memulai tulisan ini dengan sms dari seorang teman tentang sebuah survey 
yang awalnya saya anggap sebagai ‘joke’ tetapi kemudian mewakili realitas yang 
sesungguhnya. Survey ini tentang table manner (cara makan) beberapa bangsa saat 
naik pesawat terbang.

Yang disurvey adalah Bangsa Amerika, Rusia, Jepang, dan Indonesia. 
Hasilnya adalah, Orang Amerika kalau sudah makan, sendok dan garpunya disimpan 
dengan cara silang dan terbalik di atas tempat makannya. Orang Jepang melakukan 
dengan cara silang juga tetapi dengan sendok dan garpu yang tetap terbuka. 
Adapun orang Rusia, sendoknya dan garpunya disimpan lurus dan terbuka. 

Yang menarik adalah cara makan orang Indonesia. Sendok dan garpunya tidak 
menyilang dan terbalik, tidak menyilang dan terbuka dan tidak pula lurus dan 
terbuka. Tetapi sendok dan garpu tersebut sudah tidak ada.

Mengapa sms joke di atas saya anggap mewakili realitas prilaku bangsa 
Indonesia? Saya sendiri pernah mendengar pengakuan seseorang yang memang 
memiliki beberapa sendok dan garpu dari pesawat di rumahnya. Saya juga beberapa 
kali menyaksikan penumpang menyelipkan sendok dan garpu setelah makan di 
pesawat garuda. Penumpang yang mengambil sendok adalah prilaku yang sering 
dianggap wajar saja. 

Tetapi bila ditempatkan pada konteks karakter, bisa dimaknai sebagai indikasi 
prilaku negatif, yakni prilaku mengambil yang bukan haknya. Bisa saja kebiasaan 
mengambil sendok dan garpu di pesawat itu berlanjut dengan mengambil sandal, 
handuk, seprei, gelas, dan peralatan hotel lainnya ketika menginap di sebuah 
hotel. Terbukti, seorang pegawai hotel yang saya tanya mengapa begitu rinci 
memeriksa barang-barang di kamar sesaat saya check out, dia menjawab bahwa 
penghuni sebelumnya membawa pergi gelas hotel.

Bagi anda yang pernah naik pesawat di negara maju, pasti anda tidak pernah 
mendengar pengumuman dari crew pesawat sesaat setelah landing tentang 
peringatan bagi penumpang untuk tidak membawa pergi pelampung, karena prilaku 
itu bagi bangsa-maju adalah kekonyolan. Maksud dari pengumuman seperti itu di 
negeri ini, bahwa ada kebiasaan penumpang membawa pulang pelampung yang 
disimpan di bawah tempat duduk pesawat.

Mengapa dalam anekdot di atas, orang Amerika, Jepang, dan Rusia di pesawat 
hanya berfikir menaruh sendok dan garpu di atas tempat makannya setelah makan? 
Karena mereka tidak punya entri dalam kamus hidupnya untuk ‘mengambil bukan 
haknya’. Secara tradisi, mereka tidak diajari untuk berprilaku curang dan 
mencuri sejak kecil. 

Jadinya, saat berhadapan dengan aturan bernegara, mereka begitu mudahnya patuh 
pada aturan itu. Kita melakukan sebaliknya. Ketika sebuah aturan diproduksi, 
kita begitu mudahnya melumpuhkan aturan itu, karena kita sudah dibiasakan oleh 
tradisi-tradisi curang di ruang publik, dan telah menjadi prilaku yang 
‘diizinkan’ oleh tradisi. Seapik apapun aturan yang dibuat, aturan itu hanya 
untuk dilanggar. 

Pembaca pasti tahu peraturan three in one pada sistem berlalu lintas di 
beberapa jalan di Jakarta, di mana hanya mobil yang berpenumpang 3 ke atas yang 
diizinkan lewat pada jam tertentu. Apa yang terjadi? Sehari setelah peraturan 
three in one itu keluar, muncullah perusahaan ‘joki’ bagi pengendara yang butuh 
penumpang ekstra di jalan dengan sistem three in one itu.

Anekdot di atas adalah gambaran tentang karakter bangsa. Karakter adalah watak 
yang terbentuk dari internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan 
digunakan sebagai landasan untuk pola pikir dan prilaku. Dari prilaku korupsi 
yang merajalela pada berbagai segmen kehidupan bernegara, jelas menunjukkan 
bahwa bangsa ini sedang dititik nadir krisis karakter.

Jihad untuk Hidup
Ditengah derasnya tuntutan membangun karakter bangsa seperti yang terdengar 
akhir-akhir ini, kita juga sering disuguhi dengan issu keagamaan yaitu jihad. 
Issu ini muncul sehubungan dengan banyaknya issu global yang diinterpretasi 
sebagai perseteruan agama. Interpretasi Jihad menjadi begitu beragam, mulai 
dari perang melawan musuh nyata, perang melawan iblis, sampai perang melawan 
hawa nafsu. 

Tidak dipungkiri bahwa yang sering mencekoki banyak masyarakat Muslim bahwa 
Jihad selalu diartikan dengan perang melawan musuh nyata. Sebuah aksi 
dianggapnya Jihad bila seseorang itu betul-betul beraksi nyata berahadapan 
dengan musuh yang telah didefenisikan secara fisik. Pemahaman seperti inilah 
yang bisa melahirkan bom bunuh diri karena diyakininya sebagai ‘bom syahid.’

Namun, Jihad melawan musuh nyata adalah hanya sebagian dari interpretasi jihad 
itu. Jihad tidak selamanya harus mati. Berjihad tidak harus sampai ‘mati 
syahid’. Jihad bisa mengalami evolusi sesuai dengan konteksnya. 

Konteks yang perlu ditegakkan sekarang adalah jihad dari ‘berani mati’ ke 
‘berani hidup demi kesejahteraan umat’. Konteks yang paling relevan dengan 
jihad hidup bangsa Indonesia saat ini adalah membangun karakter. Caranya 
dimulai dari paling sederhana, berhenti mengambil sendok dan garpu saat naik 
pesawat, berhenti menyontek saat menjadi menjadi pelajar, atau berhenti 
melakukan manipulasi saat mengerjakan data apapun.

Jihad membangun karakter adalah jihad hidup untuk menghidupkan nurani. Karena 
bila nurani mati, agamapun dijadikan sarana untuk ‘menipu’ Tuhan. Saya pun 
berfikir, orang-orang yang suka mengambil sendok dan garpu di pesawat adalah 
juga orang-orang beragama. Ritual agama jalan terus tetapi ritual itu belum 
mampu menggugah nurani keberagamaan. Wajarlah, seorang koruptor yang 
berpredikat haji ketika ditanya: “Mengapa bapak korupsi, korupsi itu mencuri, 
bukankah bapak sudah haji?” Jawabnya: “Haji adalah ibadah, sementara mencuri 
itu adalah pekerjaan!” Naudzubillah.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke