Nyolong, malak atau ngerampok kafir itu jg termasuk jihad, krn bikin lemah kafirnya.
Kan nabi jg kerjanya ngerampok dan malak kafir. Nyolong dr kafir sih ga perlu dilakukan lagi, ngapain nyolong kl ngermapok dan malak aja ngehasilin lbh banyak. >________________________________ >From: Sunny <[email protected]> >To: [email protected] >Sent: Monday, October 17, 2011 9:56 PM >Subject: [proletar] Jihad Membangun Karakter Bangsa > > > >http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=34911 >SABTU, 15 Oktober 2011 | 611 Hits >‘ > >Jihad Membangun Karakter Bangsa > >Saya memulai tulisan ini dengan sms dari seorang teman tentang sebuah survey >yang awalnya saya anggap sebagai ‘joke’ tetapi kemudian mewakili realitas yang >sesungguhnya. Survey ini tentang table manner (cara makan) beberapa bangsa >saat naik pesawat terbang. > >Yang disurvey adalah Bangsa Amerika, Rusia, Jepang, dan Indonesia. >Hasilnya adalah, Orang Amerika kalau sudah makan, sendok dan garpunya disimpan >dengan cara silang dan terbalik di atas tempat makannya. Orang Jepang >melakukan dengan cara silang juga tetapi dengan sendok dan garpu yang tetap >terbuka. Adapun orang Rusia, sendoknya dan garpunya disimpan lurus dan >terbuka. > >Yang menarik adalah cara makan orang Indonesia. Sendok dan garpunya tidak >menyilang dan terbalik, tidak menyilang dan terbuka dan tidak pula lurus dan >terbuka. Tetapi sendok dan garpu tersebut sudah tidak ada. > >Mengapa sms joke di atas saya anggap mewakili realitas prilaku bangsa >Indonesia? Saya sendiri pernah mendengar pengakuan seseorang yang memang >memiliki beberapa sendok dan garpu dari pesawat di rumahnya. Saya juga >beberapa kali menyaksikan penumpang menyelipkan sendok dan garpu setelah makan >di pesawat garuda. Penumpang yang mengambil sendok adalah prilaku yang sering >dianggap wajar saja. > >Tetapi bila ditempatkan pada konteks karakter, bisa dimaknai sebagai indikasi >prilaku negatif, yakni prilaku mengambil yang bukan haknya. Bisa saja >kebiasaan mengambil sendok dan garpu di pesawat itu berlanjut dengan mengambil >sandal, handuk, seprei, gelas, dan peralatan hotel lainnya ketika menginap di >sebuah hotel. Terbukti, seorang pegawai hotel yang saya tanya mengapa begitu >rinci memeriksa barang-barang di kamar sesaat saya check out, dia menjawab >bahwa penghuni sebelumnya membawa pergi gelas hotel. > >Bagi anda yang pernah naik pesawat di negara maju, pasti anda tidak pernah >mendengar pengumuman dari crew pesawat sesaat setelah landing tentang >peringatan bagi penumpang untuk tidak membawa pergi pelampung, karena prilaku >itu bagi bangsa-maju adalah kekonyolan. Maksud dari pengumuman seperti itu di >negeri ini, bahwa ada kebiasaan penumpang membawa pulang pelampung yang >disimpan di bawah tempat duduk pesawat. > >Mengapa dalam anekdot di atas, orang Amerika, Jepang, dan Rusia di pesawat >hanya berfikir menaruh sendok dan garpu di atas tempat makannya setelah makan? >Karena mereka tidak punya entri dalam kamus hidupnya untuk ‘mengambil bukan >haknya’. Secara tradisi, mereka tidak diajari untuk berprilaku curang dan >mencuri sejak kecil. > >Jadinya, saat berhadapan dengan aturan bernegara, mereka begitu mudahnya patuh >pada aturan itu. Kita melakukan sebaliknya. Ketika sebuah aturan diproduksi, >kita begitu mudahnya melumpuhkan aturan itu, karena kita sudah dibiasakan oleh >tradisi-tradisi curang di ruang publik, dan telah menjadi prilaku yang >‘diizinkan’ oleh tradisi. Seapik apapun aturan yang dibuat, aturan itu hanya >untuk dilanggar. > >Pembaca pasti tahu peraturan three in one pada sistem berlalu lintas di >beberapa jalan di Jakarta, di mana hanya mobil yang berpenumpang 3 ke atas >yang diizinkan lewat pada jam tertentu. Apa yang terjadi? Sehari setelah >peraturan three in one itu keluar, muncullah perusahaan ‘joki’ bagi pengendara >yang butuh penumpang ekstra di jalan dengan sistem three in one itu. > >Anekdot di atas adalah gambaran tentang karakter bangsa. Karakter adalah watak >yang terbentuk dari internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan >digunakan sebagai landasan untuk pola pikir dan prilaku. Dari prilaku korupsi >yang merajalela pada berbagai segmen kehidupan bernegara, jelas menunjukkan >bahwa bangsa ini sedang dititik nadir krisis karakter. > >Jihad untuk Hidup >Ditengah derasnya tuntutan membangun karakter bangsa seperti yang terdengar >akhir-akhir ini, kita juga sering disuguhi dengan issu keagamaan yaitu jihad. >Issu ini muncul sehubungan dengan banyaknya issu global yang diinterpretasi >sebagai perseteruan agama. Interpretasi Jihad menjadi begitu beragam, mulai >dari perang melawan musuh nyata, perang melawan iblis, sampai perang melawan >hawa nafsu. > >Tidak dipungkiri bahwa yang sering mencekoki banyak masyarakat Muslim bahwa >Jihad selalu diartikan dengan perang melawan musuh nyata. Sebuah aksi >dianggapnya Jihad bila seseorang itu betul-betul beraksi nyata berahadapan >dengan musuh yang telah didefenisikan secara fisik. Pemahaman seperti inilah >yang bisa melahirkan bom bunuh diri karena diyakininya sebagai ‘bom syahid.’ > >Namun, Jihad melawan musuh nyata adalah hanya sebagian dari interpretasi jihad >itu. Jihad tidak selamanya harus mati. Berjihad tidak harus sampai ‘mati >syahid’. Jihad bisa mengalami evolusi sesuai dengan konteksnya. > >Konteks yang perlu ditegakkan sekarang adalah jihad dari ‘berani mati’ ke >‘berani hidup demi kesejahteraan umat’. Konteks yang paling relevan dengan >jihad hidup bangsa Indonesia saat ini adalah membangun karakter. Caranya >dimulai dari paling sederhana, berhenti mengambil sendok dan garpu saat naik >pesawat, berhenti menyontek saat menjadi menjadi pelajar, atau berhenti >melakukan manipulasi saat mengerjakan data apapun. > >Jihad membangun karakter adalah jihad hidup untuk menghidupkan nurani. Karena >bila nurani mati, agamapun dijadikan sarana untuk ‘menipu’ Tuhan. Saya pun >berfikir, orang-orang yang suka mengambil sendok dan garpu di pesawat adalah >juga orang-orang beragama. Ritual agama jalan terus tetapi ritual itu belum >mampu menggugah nurani keberagamaan. Wajarlah, seorang koruptor yang >berpredikat haji ketika ditanya: “Mengapa bapak korupsi, korupsi itu mencuri, >bukankah bapak sudah haji?” Jawabnya: “Haji adalah ibadah, sementara mencuri >itu adalah pekerjaan!” Naudzubillah. > >[Non-text portions of this message have been removed] > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
