Indeks Suap Indonesia Peringkat Empat             
Thursday, 03 November 2011 
  
LONDON – Praktik suap agaknya tak hanya dilakukan pejabat. Hasil survei  
terbaru Transparency International (TI) menunjukkan  perusahaan-perusahaan 
Indonesia cenderung memberi suap saat menjalankan  bisnis di luar negeri. 


Dari daftar Indeks Pembayar Suap (Bribery Payers Index/BPI) yang terdiri atas 
28 negara, Indonesia menempati peringkat keempat daftar pengusaha yang gemar 
memberi suap untuk memuluskan urusan bisnisnya.Namun, survei ini tidak 
menjelaskan di negara mana saja pengusaha Indonesia ditengarai kerap memberi 
suap. 

Menurut Manajer Tata Kelola Ekonomi Transparansi Internasional Indonesia Franky 
Simanjutak, kecenderungan membayar suap ini merupakan gabungan antara kebiasaan 
yang dilakukan di Indonesia dan lemahnya hukum di negara tempat mereka 
berbisnis.”Jika pengusaha Indonesia berbisnis di negara yang hukumnya longgar, 
kecenderungan memberi suap ini semakin tinggi.

Tetapi jika mereka berbisnis di negara yang aturannya ketat, kecenderungan itu 
menurun,” ungkap Franky,kemarin. Survei yang melibatkan 3.000-an eksekutif 
perusahaan ini menunjukkan indeks penyuapan Indonesia mencapai 7,1. Sebagai 
perbandingan,Rusia, China, dan Meksiko (tiga negara terbawah) masingmasing 
memiliki Indeks Pembayar Suap 6,1; 6,5; dan 7.Dalam survei tersebut,TI 
menetapkan poin indeks paling tinggi yakni angka 10 yang berarti tidak pernah 
melakukan suap. 

Sedangkan indeks paling buruk ditandai dengan angka 0 yang berarti sering 
menyuap. Negara dengan tingkat paling sedikit melakukan praktik suap yaitu 
Belanda dan Swiss dengan poin masing-masing 8,8. Sementara Inggris berada di 
peringkat kedelapan dengan indeks 8,3,tepat berada di atas Amerika Serikat (AS) 
dan Prancis masing-masing di angka 8,1 dan 8,0. Lewat hasil survei ini,TI 
menyerukan kepada komunitas internasional untuk melakukan langkah tegas bagi 
perusahaan yang membayar suap. 

”Para pemimpin G-20 harus segera mencegah praktik suap di luar negeri. 
Investigasi dan hukuman harus ditingkatkan,” kata Ketua TI Huguette Labelle. 
Anggota Komisi III DPR Martin Hutabarat mengatakan, apa yang dilansir TI adalah 
cerminan apa yang ada diIndonesia. Ketika pengusaha terbiasa menyuap di dalam 
negeri, hal itu terbawa ketika pengusaha tersebut ke luar negeri. 

”Karena dipikir dengan uang semuanya lancar. Ketika aksi suap biasa dilakukan 
di luar negeri,mereka akhirnya cenderung menyuap,” kata politikus Partai 
Gerakan Indonesia Raya ini kemarin. Martin mengungkapkan, apa yang dilakukan 
pengusaha Indonesia tersebut jelas memperburuk citra Indonesia di luar 
negeri,sehingga keburukan tersebut harus dihilangkan. Indonesia harus membuat 
sistem yang memungkinkan seorang pengusaha tidak menyuap untuk melancarkan 
bisnisnya. 

Peneliti hukum Indonesia Corruption Watch (ICW) Donal Fariz mengatakan, 
pengusaha melakukan penyuapan adalah fenomena lazim yang terjadi di Indonesia. 
Kendati demikian dia mengakui bahwa tidak semua pengusaha melakukan praktik 
suap untuk memperlancar bisnisnya.”Dalam beberapa kasus korupsi,ada beberapa 
pengusaha yang memangmenggunakan kemampuan finansialnya memengaruhi kebijakan,” 
katanya. BBC/Rtr/ 

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/441091/38/ 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke