Apakah tidak berikan penjelasan sebelum diberangkatkan?

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/mati-ketawa-ala-jemaah-haji-1-kencing-di-wastafel-dan-lantai-pesawat/

02.11.2011 10:22

“Mati Ketawa” ala Jemaah Haji (1), Kencing di Wastafel dan Lantai Pesawat
Penulis : Akhmad Kusaeni   

 TERMINAL PEMULANGAN HAJI-Dua pekerja merawat terminal barat Bandara King Abdul 
Aziz, Jeddah, Arab Saudi, Senin (31/10). Terminal barat akan menjadi tempat 
baru untuk pemulangan jamaah Haji Indonesia dan diharapkan mampu mengurangi 
keterlambatan penerbangan akibat menumpuknya penumpang.(foto:dok/antaranews.com)
Di balik kekhusyukan ibadah, ternyata banyak hal unik dan lucu dialami jemaah 
haji Indonesia. Berikut sejumlah cerita “mati ketawa” ala jemaah haji.
Seorang jemaah haji asal Purwokerto, sebut saja namanya Fulan, sedang menunggu 
angkutan di sebuah halte dekat maktabnya untuk ke Masjidil Haram. 

Setiap kali bus datang, dia mengurungkan niatnya untuk naik. Bus datang lagi, 
urung lagi. Datang lagi, urung lagi. Begitu seterusnya dari pagi sampai 
menjelang waktu zuhur tiba.

Usut punya usut ternyata si Fulan tidak berani naik bus karena setiap berhenti 
di halte, kernetnya teriak, "Haram! Haram!" "Seperti kondektur metromini 
Jakarta yang bilang, 'Grogol, Grogol!" kata mantan Ketua Pengurus Besar 
Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi sambil terkekeh-kekeh.

Saat diberi tahu bahwa Fulan bukan tidak boleh naik bus, melainkan bus itu 
memang jurusan Masjidil Haram, dia punya ide besar. Kelak jika kembali ke Tanah 
Air, dia akan bangun sebuah masjid yang akan dia beri nama "Masjidil Halal". 
"Supaya jangan ada orang terkecoh seperti saya. Dikira Haram, ternyata Halal," 
kata si Fulan seperti diceritakan KH Hasyim Muzadi.

Wakil Amirul Haj itu punya banyak cerita lucu lain seputar jemaah haji karena 
dulu ia sering membawa rombongan jemaah dari Jawa Timur. Mereka kebanyakan 
berasal dari kampung-kampung, lugu-lugu, dan baru ke luar negeri untuk pertama 
kalinya. Ibaratnya, mereka tembak langsung ke Mekah dari desanya di Jawa sana.

Persoalannya adalah sejak di pesawat jemaah asal ndeso itu tidak paham 
bagaimana menggunakan toilet. Toilet di pesawat menjadi bau karena jemaah ada 
yang pipis di lantai kamar mandi. Ada juga yang buang air besar tidak disiram 
karena tidak tahu cara menekan tombol flush-nya.

Begitu juga yang terjadi di pemondokan. KH Hasyim menemukan ada jemaah yang 
kencing di wastafel, sehingga tempat cuci tangan dan cuci muka itu bau pesing. 
Jemaah yang ditanya tidak ada yang mau mengaku. Ia lalu mengumpulkan jemaahnya 
untuk mencari tahu siapa yang kencing tidak pada tempatnya itu.

Kiai Hasyim melakukan semacam “brainstorming” untuk meminta pendapat jemaah 
bagaimana kamar mandi yang bersih, khususnya urinoir yang diidamkan jemaah. 
"Apakah tempat kencing di pemondokan ini sudah baik?" tanya Kiai Hasyim 
memancing.

Seorang kakek menjawab dengan lugunya, "Sebenarnya yang sekarang sudah baik Pak 
Kiai, cuma terlalu tinggi. Tadi pagi saya kencing susah, karena ketinggian, 
saya bawa kursi ke kamar mandi." Maka tahulah Kiai Hasyim siapa oknum jemaah 
yang kencing di wastafel.

Tetap Haji Saleh

Masih cerita lucu tentang jemaah Kiai Hasyim. Suatu ketika kiai yang pernah 
menjadi calon wakil presiden itu mengobrol dengan jemaah bernama Saleh yang 
akan berangkat haji untuk ketiga kalinya.

"Apakah sekarang ini Pak Saleh hajinya Haji Ifrad atau Haji Tamattu?" tanya 
Kiai Hasyim. "Bukan dua-duanya, Kiai. Saya tetap Haji Saleh. Nggak pernah ganti 
nama," jawab Saleh yang tidak mengerti apa itu Haji Ifrad atau Haji Tamattu.

Menurut Buku Pintar Calon Haji karya Fahmi Anwar, Haji Ifrad adalah mereka yang 
langsung mengambil haji termasuk wukuf dan melempar jumrah tanpa umrah terlebih 
dahulu. Sebaliknya, Haji Tamattu adalah mereka yang melakukan umrah baru 
kemudian mengambil hajinya.

Soal Haji Tamattu ada cerita lain yang membuat saya banyak ketawa ngakak. 
Beberapa hari lalu saya bersama Kepala Informasi dan Humas Kementerian Agama 
Zubaidi meninjau kelompok jemaah haji asal Grobogan yang terkena musibah akibat 
bus yang ditumpangi menabrak pembatas jalan.

Salah satu korban yang menderita luka parah adalah Sukirno, umur 84 tahun. Kaki 
kanannya patah sehingga harus dioperasi dan dipasang alat penyambung tulang.

Ketika kami menengok di kamarnya, Sukirno tergolek di tempat tidur, meski 
kondisinya sudah jauh lebih baik. Karena tidak bisa jalan, Sukirno tidak bisa 
banyak beribadah seperti salat di Masjidil Haram seperti teman-temannya. Ia 
hanya bisa beraktivitas di seputar kamar.

"Pak Kirno itu Haji Tamattu: tangi, mangan, turu! Kerjaannya cuma bangun, 
makan, dan tidur saja," kata teman sekamar Sukirno. (Ayu/Ant) 

++++

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/mati-ketawa-ala-jemaah-haji-2-tamat-hukum-karma-dikentuti-orang-afrika/

3.11.2011 11:02

Mati Ketawa ala Jemaah Haji (2 – tamat), Hukum Karma Dikentuti Orang Afrika
Penulis : Akhmad Kusaeni   

 (foto:dok/antaranews.com)
Seperti masa kampanye, kebiasaan buruk jemaah di Indonesia juga terbawa sampai 
ke Tanah Suci. Jarak antara Masjidil Haram dan pemondokan jemaah haji umumnya 
sekitar satu atau dua kilometer. 

Sebetulnya disediakan angkutan shuttle bus yang bisa antar pulang gratis. Tapi, 
karena jemaah haji Indonesia kurang paham dan tak bisa membaca rute bus yang 
pakai bahasa Arab, mereka ambil jalan pintas. Mereka sewa berombongan mobil 
pikap yang baknya terbuka.

"Mereka rame-rame berdiri di bak terbuka seperti saat pemilu atau kampanye 
pemilihan presiden. Saya lihat ada yang teriak Hidup PPP segala," kata Wakil 
Amirul Haj KH Abdul Mu'ti saat rapat evaluasi bersama Menteri Agama Suryadharma 
Ali yang juga Ketua Umum PPP. Mungkin Kiai Mu'ti sekadar bercanda.

"Pasti yang teriak itu orang Muhammadiyah simpatisan PPP," komentar Suryadharma 
kepada Kiai Mu'ti yang adalah Sekjen PP Muhammadiyah. Peserta rapat yang 
mendengar candaan itu tertawa terbahak-bahak.

Kebiasaan buruk lain yang dibawa dari Indonesia ke Tanah Suci adalah kebiasaan 
corat-coret dan vandalisme. Mereka mencorat-coret Tugu Kasih Sayang tempat 
pertemuan Adam dan Hawa di Jabal Rahmah dengan tulisan "X Loves Y" dengan 
harapan enteng jodoh atau cinta dengan pasangannya bisa kekal abadi. 

Mereka juga menulis macam-macam di batu-batu sekitar Gua Hira. Bahkan yang 
lebih parah, kata Kiai Mu'ti, jemaah haji Indonesia juga mencorat-coret 
pembatas Raudah di Masjid Nabawi dan bahkan tenda-tenda tahan api di Mina dan 
Arafah. Apa sih yang ditulis oleh mereka? Salah satunya adalah tulisan berikut 
ini: "Alhamdulillah ya... sudah sampai Raudah. Sesuatu banget deh!" Corat-coret 
gaya Syahrini banget.

Ada juga yang menulis ucapan syukur bisa ke Tanah Suci. Menurut Agus Subeno, 
pejabat dari Badan Pusat Statistik yang juga rombongan Amirul Haj, dia pernah 
melihat ada tulisan seperti itu di Raudah.

"Pokoknya dia tulis syukur bisa memenuhi panggilan Nabi Ibrahim. Dia lalu minta 
supaya sanak keluarganya bisa naik haji juga. Ditulislah nama semua anak, 
istri, keponakan, dan cucu cicitnya. Panjang bener. Habis itu dikasih tanda 
tangan," kata ahli survei itu.

Wartawan Tersesat

Pengalaman unik dan lucu tidak hanya dialami jemaah, tapi juga oleh petugas 
haji termasuk wartawan. Seorang wartawan yang bertugas di Media Center Haji 
(MCH), sebut saja namanya Haji Warta, percaya betul akan hukum karma dan 
keajaiban-keajaiban yang bisa dialami jemaah saat menjalankan ibadah haji.

Misalnya saja, kalau di Indonesia dia seorang yang murah hati suka bagi-bagi 
rezeki maka di Tanah Suci tiba-tiba banyak orang tak dikenal kasih-kasih dia 
apa saja, dari mulai sekadar makanan, cendera mata sampai uang riyal. Ada juga 
wartawan yang sombong karena sudah sering ke luar negeri lalu menganggap enteng 
bisa pulang sendiri dari Masjidil Haram ke pemondokannya.

"Eh, dia ternyata tersesat. Biasanya wartawan memberitakan jemaah yang 
tersesat, ternyata wartawannya sendiri tersesat," kata Haji Warta.

Khusus hukum karma yang dia alami sendiri, Haji Warta menceritakan 
pengalamannya. Ia mengaku doyan kentut. Kalau sudah mau buang gas, dia tidak 
bisa menahan diri. Haji Warta bisa kentut di mana saja, kapan saja, dan bagi 
siapa saja seperti iklan minuman kaleng. Di ruang kerja kentut, saat rapat 
kentut, bahkan di lift dia mengaku sering kentutin orang.

"Tahu nggak, Pak? Di Tanah Suci saya dibalas dikentutin orang melulu," cerita 
Haji Warta kepada saya.

Ia mengatakan baru saja dikentutin jemaah haji berkulit hitam berbadan tinggi 
dan besar. Saat habis tawaf dan sedang berjalan meninggalkan Masjidil Haram, 
tiba-tiba seorang jemaah haji asal Afrika bergegas melewatinya. Begitu 
terlewati dan berada persis di depan Haji Warta, si Afrika berhenti sebentar 
dan "brutttt...." buang gas persis ke muka Haji Warta.

"Celakanya, habis kentut begitu, dia menengok ke saya dan tersenyum-senyum. 
Habis itu, dia jalan begitu saja. Dargombes!" kata Haji Warta memelas. 
Dargombes adalah umpatan khas Jawa Timuran untuk mengganti kata "diancuk" yang 
sangat vulgar. (Ayu/Ant)  


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke