http://www.sinarharapan.co.id/content/read/mengenang-libia-dari-serambi-mekah/ 04.11.2011 13:23
Mengenang Libia dari Serambi Mekah Penulis : Junaidi Hanafiah (foto:dok/ist) Libia adalah negeri yang makmur dan Khadafi adalah pemimpin yang baik. Setidaknya penilaian itu datang dari Lingadinsyah (48) dan Anwar (46), dua mantan aktivis GAM yang pernah menghabiskan waktu di Libia selama dua tahun, menuntut ilmu sebagai mahasiswa sekaligus mengikuti pelatihan kemiliteran di kamp Tajura. Bagi Linga, tanpa Khadafi, tak pernah ada angkatan perang GAM. Bahkan, sebagian anggota GAM pernah menjadi pengawal Khadafi. Sementara bagi Anwar, Libia di bawah Khadafi adalah satu-satunya negara yang berkomitmen serius dalam membantu perjuangan melawan penindasan yang dilakukan para aktivis dari negeri yang jauh. “Kalau negeri lain hanya memberi suaka, Libia memberi pelatihan militer dengan menanggung seluruh logistik,” ungkapnya. Selain para aktivis GAM, kamp pelatihan militer di Libia juga dibuka untuk para pejuang gerakan Mujahidin Islam Pattani (Thailand), Front Pembebasan Moro (Filipina), dan juga para aktivis pembebasan dari Afrika dan Amerika Latin. Linga mengenang bahwa ia terbang ke Libia saat masih berusia 24 tahun. Ia terpilih sebagai salah satu dari lima pemuda Aceh yang mendapat beasiswa kuliah di Al Fatah University, Tripoli, tahun 1986. Dia mengambil jurusan bahasa Arab. "Kami kuliah di sana atas rekomendasi almarhum Teungku Hasan Tiro," ungkapnya. Hasan Tiro adalah pendiri GAM, cucu pejuang nasional Indonesia Teungku Cik Di Tiro. Hasan memproklamasikan kemerdekaan Aceh pada Desember 1976 kemudian terbang ke Swedia pada 1979 dan terus memperjuangkan cita-cita Aceh Merdeka dari sana. Ia kemudian memutuskan kembali ke Aceh setelah penandatanganan deklarasi damai RI-GAM di Helsinki, Finlandia, pada Agustus 2005, dan mengembuskan napas terakhir di bumi lahirnya pada 3 Juni 2010 dalam usia 84 tahun. Anwar mengatakan, pengiriman pemuda-pemuda Aceh untuk pelatihan militer di Libia juga atas lobi Hasan, karena pemahamannya atas komitmen Khadafi membantu perjuangan kelompok-kelompok pembebasan di negara-negara berkembang. Linga mengingat, tak lama setelah dia ke Libia, gelombang pemuda Aceh lainnya dikirim ke sana untuk ikut pelatihan militer. "Tahun 1987, saya dipercaya sebagai penerjemah untuk kawan-kawan dalam latihan militer. Saat libur kuliah, saya juga ikut bergabung dalam pelatihan militer," kenangnya. Meski pemberontakan GAM dimulai 1977, pendidikan militer secara besar-besaran memang baru dimulai pada 1986-1990. Kemudian tumpah ruahlah sekitar 1.000-an pemuda Aceh ke Libia. Mereka dikirim dalam tiga gelombang. Alumni Libia inilah yang kemudian menjadi tulang punggung GAM. Bahkan, Muzakir Manaf, mantan Panglima GAM yang kini menjadi ketua Partai Aceh adalah alumni Libia. Terletak sekitar 14 kilometer dari pusat kota Tripoli dan berada di pinggir laut, kamp Tajura adalah salah satu kamp pelatihan yang diperuntukkan bagi kelompok “bermasalah” dengan negaranya. "Setahu saya, dananya dari anggaran belanja resmi Libia. Khadafi bilang itu bantuan resmi untuk orang-orang yang terzalimi di negaranya," terang Linga. Lalu sejauh mana kedekatan Hasan dengan Khadafi? Menurut Linga, hubungan keduanya cukup dekat. Bahkan, Hasan dipercaya sebagai ketua Makbatabah Al Alami, lembaga nonstruktural yang menjadi penasihat politik Khadafi. Selain itu, Hasan juga didaulat menjadi President Committee peserta pelatihan militer, membawahi peserta dari negara-negara lain. "Tingkat kepercayaannya kepada Teungku Hasan sangat tinggi. Teungku Hasan juga cukup populer di kalangan tangan kanan Khadafi," jelasnya. Linga masih ingat benar, sejumlah lulusan terbaik GAM di Tanjura pernah menjadi pengawal pribadi di ring satu Khadafi. Baginya, Libia dan Khadafi adalah cikal bakal angkatan perang GAM. "Kalau Indonesia standar militernya Amerika, angkatan perang GAM dulu kiblatnya ke Libia,” ujar Linga. Anwar mengenang, latihan militer yang ia dapatkan di sana meliputi latihan dasar kemiliteran, termasuk latihan fisik dan memegang senjata, serta strategi perang gerilya. “Selama pelatihan berlangsung, kami diperlakukan dengan sangat baik. Semua urusan logistik mereka yang tanggung,” ungkapnya. Sederet kenangan dan hubungan itulah yang membuat Anwar dan Linga merasa terenyuh ketika mereka menyaksikan di TV bagaimana Khadafi tewas secara mengenaskan dan diperlakukan dengan tidak manusiawi. "Secara pribadi saya sedih juga dan tidak simpati kepada tindakan-tindakan kekerasan seperti itu. Apa pun ceritanya, dia pemimpin yang pernah membebaskan Libia dari tirani Raja Idris dan pemimpin yang disegani di negara-negara Arab. Harusnya dia diperlakukan lebih manusiawi," ungkap Linga. Baik Linga maupun Anwar juga berpendapat bahwa apa yang terjadi pada Libia saat ini adalah karena Khadafi selalu berkomentar keras terhadap kebijakan politik yang dibuat Amerika Serikat di negara-negara berkembang. Aceh kini memang batal merdeka. Tapi setidaknya keberadaan GAM telah memaksa pemerintah untuk melihat dan mendengar apa yang terjadi di Aceh, dan berhati-hati dalam membuat kebijakan. Orang yang berjasa untuk itu, selain Hasan, adalah Khadafi. Setidaknya itu dari kacamata Linga dan Anwar. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
