http://www.sinarharapan.co.id/content/read/demokrasi-di-aceh-tersandera-elite/

5.11.2011 10:18

Demokrasi di Aceh Tersandera Elite
Penulis : Azwir Nazar*   

 (foto:dok/ist)
Masa depan demokrasi di Aceh kembali diuji. Partai Aceh (PA) sebagai pemenang 
pemilhan umum mengancam memboikot Pilkada 2011. 

Sebelumnya, Komite Independen Pemilu (KIP) Aceh telah menetapkan hari 
pencoblosan, 24 Desember mendatang. Semua tahapan pilkada dilanjutkan sesuai 
jadwal setelah sempat mengalami masa peredaan ketegangan selama sebulan di awal 
Ramadan lalu.

Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) yang didominasi PA tidak mengakui semua 
tahapan yang berlangsung dan meminta pilkada ditunda, serta meminta penunjukan 
plt gubernur oleh presiden. Alasannya, terjadi konflik regulasi di Aceh. 

Rancangan qanun (peraturan daerah) terbaru belum dibahas DPRA. Gubernur Aceh 
Irwandi Yusuf menganggap ada upaya menghambat pilkada dengan cara mengulur 
waktu. 

Akhirnya, pilkada tetap dilangsungkan. Sebanyak 128 pasangan atau 256 kandidat 
mendaftarkan diri di seluruh Aceh. 

Jumlah pasangan calon yang telah mendaftar di KIP kab/kota masing-masing, yakni 
di Aceh Tengah (13 pasangan), Aceh Barat (12), Langsa (10), Lhokseumawe (10), 
Aceh Singkil (sembilan), Aceh Timur (sembilan), Bener Meriah (tujuh), Aceh 
Utara (tujuh), Abdya (enam), Simeulue (lima), Nagan Raya (lima), Gayo Lues 
(empat), Aceh Jaya (empat), Banda Aceh (lima), Aceh Besar (tujuh), Pidie 
(delapan), dan Sabang (empat). 

Sementara untuk tingkat provinsi hanya tiga pasangan. Dua melalui jalur 
independen, yaitu Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan dengan Tgk Ahmad 
Tajuddin-Suriansjah, sedangkan koalisi partai (Demokrat, PPP, dan SIRA) 
mencalonkan Muhammad Nazar-Nova Iriansyah. 

Sebagian besar kandidat yang sudah terdaftar tersebut maju melalui jalur 
perseorangan mencapai 90 pasangan. Jalur partai atau koalisi 38 pasangan. 

PA tetap bersikukuh dengan pendiriannya untuk tidak mendaftar. Mereka yakin 
benar KIP Aceh telah “mengangkangi” MoU Helsinki dan Undang-Undang Pemerintahan 
Aceh (UUPA). Ini karena menurut PA Aceh, yang memiliki kekhususan dan calon 
perseorangan hanya boleh satu di Aceh. 

Untuk itu, DPRA yang didominasi PA meminta penundaan pilkada sampai konflik 
regulasi ini selesai. Namun berdasarkan UU hanya ada tiga alasan pilkada bisa 
ditunda, yaitu terjadi bencana alam, stabilitas politik keamanan yang tidak 
stabil, dan tidak tersedianya uang atau anggaran.

Ketiga unsur tersebut tidak terpenuhi. Karena itu, Pilkada Aceh tetap lanjut 
dan KIP merujuk pada qanun lama, yaitu qanun Nomor 7 Tahun 2006, dan 
mengakomodasi calon perseorangan sesuai keputusan MK yang membatalkan Pasal 256 
UUPA. 

Kisruh ini tidak lantas berhenti. Aceh terbelah menjadi dua kubu. Satu kubu 
mendukung pilkada tetap dilanjutkan. Kubu lainnya meminta pilkada ditunda. 

Malah, sekarang sedang terjadi pengarahan massa di Aceh untuk memboikot dan 
menunda pilkada. Di lain pihak, mereka yang menginginkan pilkada tepat waktu 
juga bersiap-siap menggalang massa. Celakanya, pengerahan massa ini ditakutkan 
akan menimbulkan radikalisasi antarkubu.

Masa Depan Demokrasi

Masa depan demokrasi Aceh akan mendapat ujian serius, karena demokrasi Aceh 
tersandera elite. Kaum elite seolah menjadi penafsir tunggal dengan 
mengatasnamakan rakyat. 

Padahal, yang disuarakan adalah kepentingan politik mereka semata. Sering kali 
rakyat menjadi “tumbal” memuluskan keinginan elite. Perwakilan politik rakyat 
yang dipilih dalam pemilu pun belum bekerja maksimal. 

Kaum elite bukan saja memasung dan menyandera demokrasi, tapi juga 
“berselingkuh” dengan dunia usaha dan pemilik modal untuk menguasai ekonomi 
masyarakat. Ada semacam politik oligarki di mana kekuasaan dan kesejahteraan 
hanya berpusat dan melingkar pada penguasa dan orang-orang yang mempunyai akses 
kepada kekuasaan. 

Semua berjuang atas nama masyarakat. Sementara masyarakat Aceh terimpit dua 
kekuatan besar, yaitu antara mendukung eksekutif atau legislatif. Pilihan yang 
sangat sulit, karena bayang-bayang konflik 30 tahun masih terekam jelas di 
benak.

Melemahnya fungsi dan peran elemen sipil sebagai poros alternatif masyarakat 
juga menjadi sebab demokrasi Aceh mengkhawatirkan. Elemen sipil terjebak 
mendukung kekuasaan dan terlibat politik praktis, sehingga kekuatan politik 
nonpartai yang diharapkan dapat mempengaruhi kebijakan publik mati. 

Institusi yang ada justru menjadi perpanjangan tangan parpol dan penguasa. Ini 
terjadi karena kapitalisasi ekonomi politik oleh kaum elite. Komponen sipil 
tercerai berai dan terseret mendukung kekuatan politik tertentu.

Akibatnya, konsolidasi demokrasi yang diharapkan dapat diprakarsai civil 
society justru tidak terjadi. Ekspektasi rakyat yang besar terhadap perubahan 
fundamental Aceh dalam lima tahun ini justru mengalami kebekuan. Yang terjadi 
justru politik transaksional, bukan perubahan.

Pada bagian lain, penyelesaian masalah ala konflik dulu masih mendominasi 
pikiran dan pola pikir elite. Statement yang muncul ke publik sering kali 
menebar “ancaman” kerusuhan dan perang, sama sekali itu tidak pantas 
dimunculkan pejabat publik. 

Sungguh, yang diharapkan masyarakat Aceh setelah damai ini adalah mengisi 
damai. Jadi, isu utamanya adalah pembangunan dan kesejahteraan. Semua keputusan 
politik yang diambil sepatutnya didasarkan pada aturan yang ada dengan 
mengedepankan akal budi dan prinsip rasionalitas, bukan semata-mata demi 
kepentingan elite.

Pilkada ini sepatutnya menjadi ujian dan pendewasaan demokrasi bagi Aceh. Para 
elite harus menyadari kepentingan Aceh yang lebih besar, apalagi pascakonflik 
dan tsunami. 

Sikap mau menang sendiri, baik mempertahankan maupun merebut kekuasaan, 
haruslah sesuai role of law dan mementingkan masyarakat secara keseluruhan. 
Jangan sampai keegoisan dan kerakusan elite mengantarkan kembali Aceh ke titik 
nadir, kembali ke masa gelap dan skenario terburuk, yaitu konflik.

*Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Komunikasi Politik UI, Sekjen Ikatan 
Mahasiswa Pascasarjana (IMPAS) Aceh Jakarta.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke