http://www.harianterbit.com/artikel/fokus/artikel.php?aid=138879
Ketua KPK Abraham terancam dibunuh
Tanggal: 03 Dec 2011
Sumber: Harian Terbit
JAKARTA - Abraham Samad dipercaya partai politik untuk memimpin KPK empat tahun
ke depan. Teror dan ancaman akan dibunuh pasti akan datang bertubi-tubi. "Bapak
sudah sering mendapat tekanan, teror, dan ancaman ketika berkarier di Sulsel,"
ungkap istri Abraham, Indriana Kartika.
Karena itu, Indriana mengaku tetap merasa takut terhadap jabatan baru yang
diemban suaminya. Dia takut nasib suaminya akan berakhir sama dengan pimpinan
KPK sebelumnya, Antasari Azhar, bahkan bisa kehilangan nyawa.
"Namanya waswas pasti ada,tapi saya selalu berpesan kepada Bapak untuk hanya
berpegang teguh pada ajaran agama dan takut kepada Tuhan. Intinya keep on your
trade," pesannya pada Abraham. Wanita dua anak ini pun meyakini amanah yang
diberikan rakyat kepada suaminya mampu dijalankan dengan baik sesuai koridor
yang ada.
Pilihan untuk harus pindah ke Jakarta pun bukan menjadi masalah berarti buat
Indriana. "Kami memang belum membicarakan lebih jauh masalah pindah tempat
tinggal, tapi sebagai ketua KPK yang baru,itu pasti akan terjadi. Bagi
saya,bukan berpindah, melainkan pulang kampung halaman, yang masalah hanyalah
anak-anak," ungkapnya. Dua anak Abraham Samad, Nasya Thahira dan Syed Yasin
Rantisi,saat ini masih duduk di bangku sekolah.Anak tertuanya, Nasya, sekolah
di MTS Model Makassar dan adiknya, SyedYasin,masih duduk di bangku sekolah
dasar.
Mengenai teror yang sering diterima Abraham juga diakui rekannya di Koalisi
Masyarakat Anti Korupsi (KMAK), Djusman AR. "Pernah, kaca mobil dipecahkan. Ada
juga pengalaman, ban mobil yang kita tumpangi dikempesi," ungkap Djusman
mengenang masa perjuangannya bersama Abraham.
Masa muda
Abraham Samad, akrab disapa Openg, adalah anak lelaki yang keras kepala dan
bersikukuh jika punya keinginan. Saat kuliah, dia berambut gondrong dan suka
berkelahi. "Pokoknya, ngotot deh," ungkap Imran Samad, kakak Abraham.
Abraham adalah anak kelima dari enam bersaudara. Seorang saudarinya telah
meninggal. Tiga yang lain bekerja di TVRI. "Dulu, ibu pegawai Departemen
Penerangan," kata Imran, yang sekarang menjadi Camat Rappocini, Makassar.
Ayah Abraham awalnya tentara pejuang di korps CPM, yang berpangkat terakhir
kapten. "Kami selalu diceritakan, almarhum bapak itu dulu mengawal Bung Karno
saat di Makassar, tapi bapak lalu jadi pedagang," ujar Imran.
Nama Abraham, kata Imran, merupakan pemberian dari ayah mereka yang pada tahun
1960-an sering membaca buku kepahlawanan Abraham Lincoln, Presiden Amerika
Serikat. "Waktu Abraham lahir, menurut ibu, bapak lagi membaca buku karya
Abraham Lincoln."
Menurut Imran, saat proses pemilihan pimpinan KPK di DPR, ibu mereka terus
memegang tasbih. "Semenjak proses seleksi, setahu saya, ibu di rumah terus
shalat tahajud, berpuasa, dan mendoakan anaknya itu. Openg memang paling dekat
dengan ibu," kata Imran.
Hukum mati
Di Makassar, Abraham dikenal sebagai aktivis antikorupsi. Dia penggagas
sekaligus Koordinator Anti Corruption Committee di Sulsel. Salah satu kasus
korupsi yang pernah dia bongkar yakni kasus yang melibatkan wali kota Makassar.
Akibat langkahnya itu, rumah serta usaha milik istrinya pernah dirusak
sekelompok orang.
Abraham Samad menyatakan akan memprioritaskan penanganan kasus-kasus korupsi
berskala besar, yakni lebih dari Rp1 miliar, termasuk kasus Bank Century, yang
hingga saat ini tidak ada perkembangannya di KPK, menurut Abraham.
Bahkan, Abraham Samad menegaskan, jika ada keluarganya yang melakukan praktik
korupsi tetap akan ditindak tegas, bahkan hingga hukuman mati. (junaedi/aw)
[ Indeks | Versi Cetak | Kirim ke Teman | Tanggapan ]
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/