Oligarki, Korupsi dan KPK 

Wednesday, 07 December 2011 

Secara mengejutkan DPR memilih Abraham Samad sebagai Ketua KPK yang baru 
menggantikan Busyro Muqoddas. Pilihan ini tidak diperkirakan sebelumnya karena 
Abraham Samad sebelumnya hanya seorang pengacara dan aktivis antikorupsi di 
Makassar.


Belum banyak kiprahnya terdengar di tingkat nasional.Apalagi, ada nama-nama 
besar seperti Bambang Widjojanto atau Yunus Husein yang kemudian justru 
terpental. Sejauh ini tidak ada persoalan mengenai latar belakang Ketua KPK 
baru ini. Tidak (belum) ada komplain soal keterlibatannya dengan praktik 
korupsi atau pelanggaran etika lainnya di masa lalu. Dengan demikian,kita bisa 
berharap ia tidak memiliki beban untuk memimpin pemberantasan korupsi. 

Namun,KPK sesungguhnya berhadapan dengan kepentingan ekonomi politik elite yang 
selama ini bergantung dari praktik-praktik korupsi. Dalam konteks ini, sehebat 
apa pun pimpinan KPK, mereka belum tentu mampu menahan gempuran dan perlawanan 
dari koruptor yang mewakili kepentingan ekonomi politik elite. 

Korupsi dan Oligarki Predator 

Di balik tekanan publik untuk menyelesaikan kasus-kasus korupsi besar seperti 
kasus cek pelawat, kasus-kasus yang melibatkan Nazaruddin hingga kasus Century, 
KPK telah sampai pada kasus-kasus korupsi yang melibatkan secara langsung 
kepentingan elite. Kasus-kasus besar itu terkait dengan pusat kekuasaan dan 
melibatkan jaringan kepentingan elite politik dan ekonomi negeri ini. 

KPK telah berhadapan dengan kepentingan oligarki predator pada kasuskasus besar 
itu. Oligarki tidak merujuk pada satu keluarga atau kekuatan politik tunggal 
melainkan aliansi cair antara kepentingan birokrasi, politisi, pengusaha dan 
kekuatan bersenjata yang dulu direpresentasikan oleh militer tetapi saat ini 
oleh polisi.

Oligarki ini telah terbentuk dan dibesarkan oleh Orde Baru yang merentang dari 
istana hingga ke tingkat daerah (Hadiz&Robison, 2004). Selama ini oligarki 
predator hidup dari praktik mencari rente, mendapatkan fasilitas dan proteksi 
negara serta berbagai macam korupsi. Ketika Soeharto tumbang,sesungguhnya yang 
pergi hanya Soeharto sementara oligarki masih tetap utuh. 

Oligarki predator juga mampu mempertahankan jaringan dan dominasi hingga ke 
tingkat lokal di dalam kerangka politik yang baru,terutama setelah kebijakan 
otonomi daerah. Eliteelite politik lokal kini juga mulai mampu beradaptasi 
dengan pemilihan kepala daerah secara langsung. Di beberapa daerah elite 
politik lokal menjalin relasi yang erat dengan oligarki di tingkat nasional. 

Pertemuan kepentingan itu merupakan simbiosis yang saling menguntungkan. 
Oligarki membutuhkan dukungan di tingkat lokal karena dukungan ini sangat 
penting untuk memenangi politik elektoral. Desentralisasi yang mendelegasikan 
sebagian kewenangan kepada pemerintah daerah menempatkan posisi elite lokal 
menjadi sangat penting bagi kepentingan oligarki. Misalnya, konsesi untuk 
mendapatkan kuasa pertambangan atau pembukaan lahan bagi perkebunan sawit.

Di sisi lain,elite politik lokal membutuhkan dukungan dari oligarki untuk 
memastikan kepentingan mereka tidak terganggu. Elite politik lokal di Indonesia 
sangat tergantung pada anggaran publik yang diatur dengan sangat ketat 
pascaReformasi. Penguasaan elite lokal atas politik tidak akan ada artinya bila 
mereka dibatasi oleh aturan-aturan yang ketat untuk mengalokasikan dan 
mendistribusikan sumber daya publik di tingkat lokal yang sangat penting untuk 
mempertahankan basis dukungan politik.

Keberadaan KPK sesungguhnya adalah ancaman bagi konsolidasi oligarki dan 
keberlanjutan koalisi dengan elite lokal.KPK yang didesain sebagai lembaga 
independen dengan kekuasaan yang besar dalam penindakan terbukti mampu 
mengacakacak kerja sama ini. Eksistensi oligarki predator 
jugabisadilihatpadaparapengusaha terkaya di Indonesia. Praktis tidak ada wajah 
yang benar-benar baru dari para pengusaha terkaya di Indonesia. 

Reformasi ekonomi dan structural adjusment program (SAP) yang didorong oleh IMF 
pascakrisis ekonomi 1997 tidak berhasil mengubah struktur ekonomi Indonesia. 
Yang terjadi adalah bangkitnya kembali konglomerasi lama yang sempat terpuruk 
pada krisis finansial tahun 1997 lalu. Bahkan, seperti ditulis oleh Christian 
Chua dalam studinya tentang pengusaha China di Indonesia pascaReformasi (Chua, 
2008), sistem demokrasi dan otonomi daerah justru memberikan jalan bagi 
konglomerasi lama untuk langsung mengakses sumber daya publik. 

Bila dulu mereka harus mendapatkannya melalui dan di bawah koordinasi Soeharto, 
kini mereka mampu melakukannya secara langsung. Sistem demokrasi justru 
melapangkan jalan bagi konglomerat untuk mengakumulasi modal. Demikian juga 
pengusaha pribumi yang dulu pada masa Orde Baru berada di bawah kendali 
Soeharto, kini justru malah dengan leluasa bisa mendominasi politik. 

Dalam konteks ini, keberadaan KPK jelas menjadi hambatan yang sangat nyata.KPK 
menjadi faktor yang berada di luar kontrol dan mampu mengancam kepentingan 
bisnis mereka. Kasus cek pelawat menjadi contoh riil bagaimana KPK telah 
mengganggu kepentingan bisnis oligarki. Karena dilindungi oleh kepentingan 
langsung oligarki, terutama kekuatan modal nasional dan regional, maka Nunun 
sangat sulit untuk ditangkap KPK. 

Mencegah kompromi 

Berangkat dari kerangka pemikiran oligarki, maka korupsi bukanlah tindakan 
individual. Korupsi tidak didorong semata-mata untuk memperkaya diri sendiri 
atau hidup hedonis dan bergelimang harta. Korupsi adalah strategi untuk 
mempertahankan dominasi atas negara untuk mengontrol alokasi dan distribusi 
sumber daya publik. 

Oleh karena itu, korupsi tidak cukup diperangi melalui penegakan hukum, apalagi 
oleh KPK sendirian. Korupsi hanya bisa diberantas melalui gerakan sosial yang 
terus dilakukan tanpa kenal lelah. Mesin korupsi adalah kepentingan oligarki 
predator yang hanya bisa dimatikan melalui perlawanan terhadap praktik korupsi 
di semua lini. 

Abraham Samad yang dipilih sebagai Ketua KPK oleh DPR bisa dibaca bahwa ia 
dianggap mampu menjamin kepentingan oligarki predator. Abraham yang belum 
banyak dikenal oleh publik dianggap mampu mengamankan kepentingan politisi dan 
kepentingan predator dalam skala yang lebih luas.Tetapi, KPK bukan hanya 
dipimpin oleh satu orang melainkan oleh lima orang secara kolektif.

Karena posisinya independen, KPK juga relatif otonom ketika melakukan penegakan 
hukum. Dan, tentu saja tekanan dan kritik dari publik harus terus dilakukan 
agar KPK tidak berkompromi dan menyerah ketika berhadapan dengan kepentingan 
predator.● J DANANG WIDOYOKO Koordinator Badan Pekerja Indonesia Corruption 
Watch (ICW) 

http://superkoran.info/forums/viewtopic.php?f=2&t=55150

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke