Telkom 'Caplok' Bakrie atau Bakrie Berlindung kepada Pemerintah?
OLEH: ARIEF TURATNO
KORAN Bisnis Indonesia Today
hari ini membuat judul lebih kurang demikian, Telkom Caplok Bakrie
Telcom. Kontan berita tersebut membuat reaksi pasar beragam, yang
sebagian besar mempertanyakan kesahihan berita tersebut. Mengapa? Sebab
semua orang tahu, Bakrie Telcom sekarang dalam keadaan yang hidup
segan, mati tak mau. Nasib Bakrie Telcom ini sejatinya tidak jauh
berbeda ketika perusahaan grup Bakrie ini mengebor gas di Sidoarjo,
Jawa Timur (Jatim) melalui PT Lapindo Brantas Tbk. Karena kabarnya
terjadi kesalahan perhitungan dan teknis, bukan gas yang keluar dari
pengeboran tersebut, namun jutaan ton lumpur yang menyembul ke
permukaan bumi.
Musibah ini banyak yang menilai adalah karena
kesalahan teknis atau kesalahan manusia, bukan karena kejengkelan alam.
Namun seperti kita ketahui, bencana karena ulah manusia ini oleh
pemerintah dianggap sebagai bencana alam. Akibatnya yang menanggung
kerugian triliunan rupiah tersebut buka perusahaan milik group Bakrie,
tetapi pemerintah. Sayangnya, karena anggaran pemerintah terbatas dan
tidak hanya dioperuntukan ganti rugi Koran lumpur Lapindo tersebut.
Sehingga sampai saat ini masih banyak warga Porong Sidoarjo yang belum
mendapatkan gantirugi. Lainnya lagi, meskipun telah mendapatkan
gantirugi, tetapi uang yang mereka terima dianggap tidak cukup.
Lebih
dari itu, banyak warga yang terkena korban lumpur itu masih menganggur.
Sebab lahan mereka bekerja telah berubah menjadi lautan lumpur.
Sementara kalau mereka harus meninggalkan Sidoarjo, pertanyaannya
adalah siapakah yang bakal mengurus ganti rugi tersebut.
Persoalan-persoalan semacam inilah yang sampai sekarang masih
bergelayut di Sidoarjo. Maka ketika saya membaca berita Bisnis
Indonesia Today dengan judul Telkom Caplok Bakrie Telkom timbul
pertanyaan nakal, apakah beritanya yang salah judul, atau saya yang
tidak bisa membaca judul dan sekaligus mengartikannya?
Asumsi
yang ada setelah membaca berita tersebut adalah Telkom merupakan
perusahaan yang sangat sehat, sehingga mampu membeli perusahaan swasta
sejenis yang dikelola Bakrie. Benarkah? Salah seorang teman yang
mengaku tahu tentang Telkom, saat saya minta tanggapan tentang berita
tersebut sempat mengernyitkan dahi. Dia geleng kepala, heran, bercampur
terkejut. Menurutnya, telkom belakangan ini tidak seperti dulu.
Karyawannya sudah mulai diciutkan karena banyak yang di PHK atau
diberhentikan. Namun dengan adanya berita tersebut, sepertinya Telkom
telah membantah apa yang disampaikan teman tadi. Dengan menunjukan
bahwa Telkom masih sehat. Kabarnya, utang Barkie Telcom ke
pemasok-pemasok kebanyakan, sekitar Rp 6 triliun.
Namun begitu, jika kita melihat track record
perusahaan kelompok Bakrie selama ini. Terus terang saya lebih
cenderung agak percaya dengan kisah teman saya, yang meragukan
kesehatan telkom. Pertanyaannya adalah kalau telkom benar tidak sehat,
atau dalam keadaan sakit, bagaimana mungkin dia mampu membeli Bakrie
Telcom? Masalah inilah yang kemudian menimbulkan spekulasi tentang
kemungkinan terjadinya bail out, seperti yang pernah dilakukan
pemerintah terhadap Bank Century yang kemudian menimbulkan persoalan.
Hanya
yang menjadi permasalahan kita bila asumsi tersebut benar, bahwa
diam-diam telah dilakukan bail out guna menyelematkan Bakrie Telcom
sepertiĀ yang dilakukan pemerintah terhadap PT Lapindo Brantas di
Sidoarjo, Jatim. Pertanyaannya adalah dapat konpensasi apa pemerintah
dari grup Bakrie? Adakah semua itu berkaitan dengan dipeti-eskannya
kasus bail out Bank Century? Atau karena ada kasus yang lebih besar
lainnya yang diketahui Aburizal Bakrie atau Partai Golkar yang sampai
saat ini masih dijadikan karyu truf? Entahlah! Yang jelas ini semua
adalah permainan busuk dari para politisi busuk di negeri ini. Selamat
menikmati! (*)