Wah ada gejolak ya, di indosat, ...selain Syakieb, Guntur, dan Adita, masih ada beberapa nama lain yang juga ikut "bedol desa". Hal ini jelas menimbulkan tanda tanya bagi manajemen baru di perusahaan yang mayoritas telah dikuasai Qatar Telecom tersebut.Selain Indosat, raksasa telekomunikasi lain yang juga tengah dikabarkan sedang resah menanti kepastian tampuk pimpinan adalah Telkom. Kabar yang beredar, Jumat sore ini akan ada pergantian direksi.Telkom akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Sejumlah nama pun mengapung untuk jadi orang nomor satu di perusahaan BUMN telekomunikasi Indonesia itu. Sumber http://www.detikinet.com/read/2010/06/11/133258/1376282/328/bongkar-pasang-posisi-petinggi-operator/?i99110110 Sent from facebook®
-----Original Message----- From: ika prihadiyan <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Thu, 10 Jun 2010 18:59:04 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [pulsa] Telkom 'Caplok' Bakrie atau Bakrie Berlindung kepada Pemerintah? Telkom 'Caplok' Bakrie atau Bakrie Berlindung kepada Pemerintah? OLEH: ARIEF TURATNO KORAN Bisnis Indonesia Today hari ini membuat judul lebih kurang demikian, Telkom Caplok Bakrie Telcom. Kontan berita tersebut membuat reaksi pasar beragam, yang sebagian besar mempertanyakan kesahihan berita tersebut. Mengapa? Sebab semua orang tahu, Bakrie Telcom sekarang dalam keadaan yang hidup segan, mati tak mau. Nasib Bakrie Telcom ini sejatinya tidak jauh berbeda ketika perusahaan grup Bakrie ini mengebor gas di Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim) melalui PT Lapindo Brantas Tbk. Karena kabarnya terjadi kesalahan perhitungan dan teknis, bukan gas yang keluar dari pengeboran tersebut, namun jutaan ton lumpur yang menyembul ke permukaan bumi. Musibah ini banyak yang menilai adalah karena kesalahan teknis atau kesalahan manusia, bukan karena kejengkelan alam. Namun seperti kita ketahui, bencana karena ulah manusia ini oleh pemerintah dianggap sebagai bencana alam. Akibatnya yang menanggung kerugian triliunan rupiah tersebut buka perusahaan milik group Bakrie, tetapi pemerintah. Sayangnya, karena anggaran pemerintah terbatas dan tidak hanya dioperuntukan ganti rugi Koran lumpur Lapindo tersebut. Sehingga sampai saat ini masih banyak warga Porong Sidoarjo yang belum mendapatkan gantirugi. Lainnya lagi, meskipun telah mendapatkan gantirugi, tetapi uang yang mereka terima dianggap tidak cukup. Lebih dari itu, banyak warga yang terkena korban lumpur itu masih menganggur. Sebab lahan mereka bekerja telah berubah menjadi lautan lumpur. Sementara kalau mereka harus meninggalkan Sidoarjo, pertanyaannya adalah siapakah yang bakal mengurus ganti rugi tersebut. Persoalan-persoalan semacam inilah yang sampai sekarang masih bergelayut di Sidoarjo. Maka ketika saya membaca berita Bisnis Indonesia Today dengan judul Telkom Caplok Bakrie Telkom timbul pertanyaan nakal, apakah beritanya yang salah judul, atau saya yang tidak bisa membaca judul dan sekaligus mengartikannya? Asumsi yang ada setelah membaca berita tersebut adalah Telkom merupakan perusahaan yang sangat sehat, sehingga mampu membeli perusahaan swasta sejenis yang dikelola Bakrie. Benarkah? Salah seorang teman yang mengaku tahu tentang Telkom, saat saya minta tanggapan tentang berita tersebut sempat mengernyitkan dahi. Dia geleng kepala, heran, bercampur terkejut. Menurutnya, telkom belakangan ini tidak seperti dulu. Karyawannya sudah mulai diciutkan karena banyak yang di PHK atau diberhentikan. Namun dengan adanya berita tersebut, sepertinya Telkom telah membantah apa yang disampaikan teman tadi. Dengan menunjukan bahwa Telkom masih sehat. Kabarnya, utang Barkie Telcom ke pemasok-pemasok kebanyakan, sekitar Rp 6 triliun. Namun begitu, jika kita melihat track record perusahaan kelompok Bakrie selama ini. Terus terang saya lebih cenderung agak percaya dengan kisah teman saya, yang meragukan kesehatan telkom. Pertanyaannya adalah kalau telkom benar tidak sehat, atau dalam keadaan sakit, bagaimana mungkin dia mampu membeli Bakrie Telcom? Masalah inilah yang kemudian menimbulkan spekulasi tentang kemungkinan terjadinya bail out, seperti yang pernah dilakukan pemerintah terhadap Bank Century yang kemudian menimbulkan persoalan. Hanya yang menjadi permasalahan kita bila asumsi tersebut benar, bahwa diam-diam telah dilakukan bail out guna menyelematkan Bakrie Telcom seperti yang dilakukan pemerintah terhadap PT Lapindo Brantas di Sidoarjo, Jatim. Pertanyaannya adalah dapat konpensasi apa pemerintah dari grup Bakrie? Adakah semua itu berkaitan dengan dipeti-eskannya kasus bail out Bank Century? Atau karena ada kasus yang lebih besar lainnya yang diketahui Aburizal Bakrie atau Partai Golkar yang sampai saat ini masih dijadikan karyu truf? Entahlah! Yang jelas ini semua adalah permainan busuk dari para politisi busuk di negeri ini. Selamat menikmati! (*)
