Assalamu'alaikum wr. wb.

Sanak sekalian, gimana hari2 antum semuanya...., ini
baru saja saya baca artikel, nampaknya
menarik....mudah mudahan antum semua belum
membacanya...., kalau sudah ya....mohon maaf.

wassalam
AYT 

======================================================
She is My Syster � A True Story.

Pipinya nampak cekung dan berlubang, cuma kulit yang
membungkus tulang2 pipinya.
Namun itu semua tidaklah menghentikannya, tidak akan
pernah kamu melihat dia tanpa membaca Al-Qur�an.
Terlihat selalu didalam ruang tempat dia sembahyang
yang disediakan oleh ayah, membungkuk, bersujud,
mengangkat tangannya dalam sembahyang. Itu lah yang
dia kerjakan sejak terbit fajar sampai matahari
tenggelam, membosankan bagi yang lain.

Sedang untukku, aku tidak melakukan apa apa selain
membaca majalah2 dan novel2, aku manjakan diriku
setiap waktu dengan menonton film2 di video hingga
perjalanan ke video2 rental itu sudah menjadi
trademark tersendiri bagiku.
Seperti yang mereka katakan, bila sesuatu menjadi
kebiasaan manusia cenderung mencap anda sebagaimana
yang mereka lihat.
Aku sangat cuek terhadap tanggung jawab dan mempunyai
sifat malas dalam melakukan salat.

Suatu malam, ketika ku matikan video terakhir yang ku
tonton secara marathon selama 3 jam. Suara adzan
sayup2 terdengar dimalam yang hening itu. Aku perlahan
dengan tenangnya masuk kedalam selimut.

Terdengar suara dari ruang sembahyangnya. �Ya� Adakah
yang kamu inginkan Noorah ?�

Bagai ditusuk jarum ia menyentak rencanaku untuk
tidur. �Jangan tidur sebelum kamu sembahyang Subuh�.

�Ach�masih sejam lagi sebelum Subuh, itu rupanya baru
adzan yang pertama !�.

Dengan senyumnya yang menawan itu, ia menyuruhku
mendekat. Ia selalu seperti itu, sekalipun sebelum ia
sakit parah yang mengguncang jiwanya dan memaksa ia
istirahat ditempat tidur.

�Hanan maukah kamu duduk didekatku..�

Aku tak akan pernah menolak sekalipun permintaan2nya,
kamu bisa merasakan sentuhan kemurnian dan kebaikan
dalam kata katanya.

�Ya, Noorah�.

�Duduklah disini.�

�OK, Aku akan duduk, apakah yang ada dalam fikiranmu?�

Dengan suaranya yang lembut dan merdu ia mulai membaca
ayat ayat suci Al-Qur�an : (Setiap jiwa pasti akan
merasakan mati, dan kamu akan dibalas dengan apa yang
kamu kerjakan dihari pembalasan).

Ia kemudian berhenti membacanya, kemudian ia bertanya,

�Apakah kamu percaya pada kematian?�.

�Ya, tentu saja�.

�Apakah kamu percaya bahwa kamu akan bertanggung jawab
terhadap apa yang kamu lakukan tak peduli betapapun
besar atau kecilnya.?�

� Ya tentu saja, tapi�Allah Maha Pemaaf dan Maha
Pengampun dan hidup yang panjang menantiku.�

�Hentikan Hanan�tidakkah kamu takut akan mati dan itu
sangat tiba2..? Lihatlah pada Hind. Dia masih sangat
kecil ketika meninggal dalam suatu kecelakaan. Dan
yang lain�,yang lain..,dan yang lainnya. Kematian
adalah buta terhadap umur dan umurmu tidak akan bisa
diukur kapan kamu akan mati.�

Gelapnya ruangan itu membuat kulitku dipenuhi dengan
rasa takut.

�Aku takut pada kegelapan dan sekarang kamu mumbuatku
takut pada kematian, bagaimana saya bisa tidur
sekarang ini.
Noorah, aku fakir kamu berjanji akan pergi dengan kami
piknik diliburan musim panas ini.�

Tiba tiba, suaranya bergetar dan hatinya bergemuruh.

�Aku mungkin akan pergi menuju perjalanan panjang
tahun ini Hanan, tapi mungkin pergi ketempat lain.
Hanya saja, semua kehidupan ini ada ditangan Allah dan
kepadaNya lah kita kembali.�

Mata saya berlinang dan air mata jatuh dikedua pipiku.
Aku rengkuh saudara perempuanku yang sedang sakit ini,
sebenarnya dokter sudah menginformasikan pada ayahku
secara diam diam bahwa tak lagi banyak harapan untuk
Noorah untuk bisa sembuh dari sakitnya. Sebenarnya tak
ada yang memberi tahu dia. Siapakah yang telah memberi
tahunya..? Ataukah ia bisa merasakan kenyataan
sesungguhnya..?

�Apa yang kamu fikirkan Hanan?�. Suaranya terdengar
menusuk. �Apakah kamu fikir aku mengatakan ini hanya
karena aku sakit..? Uh..uh.., nyatanya, aku mungkin
hidup lebih lama dari orang2 yang tidak sakit. Dan
kamu Hanan, berapa lamakah kamu akan hidup?, 20 tahun,
mungkin? 40 ? kemudian apa..? Dalam kegelapan itu ia
raih tanganku dan menekannya degan lembut.

�Tak ada bedanya diantara kita; kita semua akan
meninggalkan dunia ini dan hidup disurga atau
menderita didalam neraka. Dengarkanlah firman Allah
ini: Siapa saja yang disingkirkan dari api neraka dan
ditunjukkan Surga akan merasakan kemenangan."

Kutinggalkan ruang sembahyang saudariku dengan
perasaan bingung, kata katanya mengiang ditelingaku:
Semoga Allah menuntunmu Hanan, jangan lupakan
sembahyangmu.

Jam 8 dipagi hari, suara gedoran dipintu kamarku. Aku
tidak biasanya bangun sepagi itu. Terdengar suara
tangisan kebingungan. Ya Allah apakah yang terjadi.?

Kondisi Noorah menjadi semakin kritis setelah Fajar,
mereka membawanya segera kerunah sakit�.Inna Lillahi
wa inna ilayhi raji�un.

Tak akan pernah ada perjalanan di musim panas ini.
Sudah tertulis bahwa aku akan menghabiskan masa
liburku dirumah. Sesudah keabadian�

Ketika itu jam 12 siang, ibu menelpon rumah sakit.
�Ya. Kamu bisa datang dan melihatnya sekarang.� Suara
ayah terdengar berubah, ibu bisa merasakan sesuatu
yang tidak beres. Kami segera berangkat dengan tergesa
gesa.

Tempat2 yang sama yang kulalui biasanya terasa
singkat, kenapa sekarang menjadi begitu sangat lama.
Dimana kerumunan orang2 yang menyeberang disaat saat
macet lampu merah memberi kesempatan padaku melihat
kekiri dan kekanan. Semuanya terasa bergerak
menghalangi jalan kami. Ibu menggoyang kepala dengan
kedua tangannya, menangis�sambil memanjatkan do�a
untuk Noorah-nya.

Kami sampai dipintu masuk utama rumah sakit. 
Terlihat ada orang yang mengerang kesakitan, yang lain
terlibat dalam kecelakaan dan satu lagi terlihat
matanya membeku seperti es, tak bisa dibedakan apakah
ia hidup atau mati.
Kami lewati tangga2 menuju lantai dimana Noorah
berada. Ia di ICU.

Salah seorang perawat menghampiri kami.
�Mari saya bawa kalian padanya.�
Ketika kami berjalan sepanjang lorong rumah sakit itu,
sang perawat mengungkapkan betapa manisnya sigadis
Noorah. Ia meyakinkan ibu bahwa kondisi Noorah sudah
lebih baik dibandingkan ketika ia datang pagi tadi.

�Maaf, tidak boleh lebih dari satu pengunjung.� Ini
adalah ruang perawatan intensive (ICU).
Melalui jendela kaca kecil dipintu melewati tirai2
putih. Aku menangkap pandangan mata saudariku. Ibu
berdiri disampingnya.
Setelah berjalan kurang lebih 2 menit ibu keluar dan
tak bisa mengontrol tangisnya.

�Kamu boleh masuk dan mengucapkan salam padanya, dalam
kondisinya sekarang kamu jangan berbicara terlalu
lama� kata mereka padaku.

�Dua menit seharusnya sudah cukup.�
�Bagaimana kamu Noorah?� Tadi malam kamu baik2 saja
saudariku, apa yang telah terjadi?�

Tangan kami berpegangan dengan erat, ia menekan dengan
lemah. �Bahkan sekarang, Alhamdulillah, aku baik baik
saja.�
�Alhamdulillah��..tapi��tanganmu dingin sekali.�

Aku duduk disamping tempat tidurnya dan meletakkan
jari2ku pada lututnya. Ia menyingkirkannya.

�Maaf, apakah aku menyakitimu?�

�Tidak, cuma ingat ayat2 Allah: satu kaki harus
dirapatkan kekaki yang lain (ketika mati).

"Hanan berdoalah untukku. Aku mungkin akan bertemu
dengan hari pertamaku di hari akhir dengan segera.
Suatu perjalanan panjang dan aku tidak cukup siap
dengan buah yang baik didalam tasku.�

Setitik air mata keluar dari mata dan mengalir jatuh
dipipiku ketika mendengar kata katanya. Aku menangis
juga dia saudariku. Ruangan jadi senyap tinggal kami
dua bersaudara menangis bersama sama.
Butiran air mata terpercik dari kedua telapak tangan
saudariku ketika aku pegang kedua tangannya.
Ayah sekarang menjadilebih khawatir terhadapku. Aku
tak pernah menangis seperti itu sebelumnya.

Dirumah dan dikamarku yang dilantai atas. Aku
memandang matahari yang meredup dengan hati yang duka.
Keheningan mencekam dikoridor kamar. Salah satu sepupu
mendatangi kamarku, juga yang lain. Tamu berdatangan
dan suara2 yang datang dari lantai bawah bercampur
menjadi satu. Hanya satu yang pasti pada saat
ini��.Noorah sudah tiada!.

Aku berhenti membedakan siapa yang datang dan siapa
yang pergi. Aku tak bisa mengingat apa yang mereka
katakan. Ya Allah, dimanakah aku? Apakah yang
terjadi?Bahkan aku tak lagi bisa menangis.

Beberapa minggu setelah itu mereka mengatakan padaku
apa yang telah terjadi. Ayah meraih tanganku ketika
aku mengucapkan selamat tinggal pada saudariku disaat
terakhir, ku cium keningnya.

Aku teringat hanya satu hal, melihat kakinya
terbentang di-dipan itu, dipan dimana ia melepaskan
ajalnya. Aku teringat ayat yang dibacanya malam itu:
(Satu kaki akan merapat satu sama lain (disaat ajal)
dan aku juga tahu benar faktanya ayat berikut:..yang
akan membawa kita dihari itu kepadaNya.

Aku mengintip ketempat sembahyangnya malam itu.
Menatap bisunya cermin dan keheningan meja rias. Aku
menemukan siapa ia sebenarnya yang pernah berbagi
tempat didalam rahim ibuku. Noorah adalah saudara
kembarku.

Aku teringat dia adaah tempat aku berbagi kesedihan.
Ia yang menenangkan hari hariku yang kelabu. Aku
teringat ia yang selalu berdo�a mengharapkan petunjuk
untukku dan yang menghabiskan begitu banyak tangis dan
malam malam yang panjang mengatakan padaku tentang
kematian dan pertanggungjawaban. Semoga Allah
menyelamatkan kami semuanya.

Malam ini adalah malam pertama Noorah tinggal didalam
kuburnya. Ya Allah berikanlah pengampunan kepadanya
dan berilah cahaya didalam kuburnya. Ini adalah
Qur�annya, tikar sembahyangnya dan ini adalah baju
berwarna merah bunga rose yang ia katakan akan
disimpannya hingga ia menikah kelak, baju yang ingin
ia simpan cuma untuk suaminya.

Aku teringat saudariku dan menangisi hari2ku yang
hilang bersamanya. Aku berdo�a pada Allah agar memberi
pengampunan kepadaku, menerima aku dan memaafkan aku.
Aku berdoa pada Allah agar memberi ia ketenangan dalam
kuburnya sebagaimana yang selalu ia minta didalam
doa�nya.

Pada saat ini, aku berhenti sejenak. Aku bertanya pada
diriku sendiri, bagaimanakah jika aku mati?. Kemanakah
aku akan dibawa? rasa takut mencekamku seketika dan
air mata mulai lagi berjatuhan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar�

Adzan pertama terdengar sayup2 dari Mesjid dikejauhan,
betapa indahnya suara itu saat ini. aku merasa tenang
dan relax ketika aku mengulang ucapan muadzin. Aku
belitkan mukena dipundakku ketika aku berdiri untuk
sembahyang subuh. Aku sembahyang seolah itu adalah
sembahyangku yang terakhir., sembahyang perpisahan,
sebagaimana Noorah melakukannya kemarin. Itu adalah
sembahyang subuhnya yang terakhir.

Sekarang dan Insya Allah untuk sepanjang hayatku, jika
aku terbangun dipagi hari aku tak akan menganggap akan
hidup sampai malam hari, dan jika tiba malam hari aku
tak akan menganggap akan hidup sampai besok pagi.

Kita semua akan mengikuti perjalan Noorah  apakah kita
sudah siap untuk itu.


adeer.

ps. disadur dari suatu artikel (tapi lupa sumbernya)

_______________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/listinfo/rantau-net
_______________________________________________

Kirim email ke