Salam

Menurut saya yang tahu pas tentang "riba" ini adalah ekonom yang ulama. Jadi ekonom saja tidak akan bisa menerangkan definisi riba dalam kaitan dengan bunga bank dengan pas. Apalagi yang pertama memicu "interest" itu adalah pemerintah sendiri via instrument Sertifikat Bank Indonesia (SBI), kontrol kuartal dan giral (cetak uang) dll.

Ulama thok tidak akan bisa menjelaskan bunga bank riba atau tidak. Yang telah dilakukan MUI selama ini tak lebih dari sekadar mereka-reka, meniru Malaysia --yg sebetulnya juga menghadapi dilema yang sama.

Seorang ekonom (Bapak Koperasi) seperti Hatta mengatakan bunga bank halal karena memberi manfaat pada pertumbuhan ekonomi nasional (industrial added value, pen.). Apakah Hatta juga seorang ulama? Seorang buya Hamka mengharamkan riba karena yang disodok adalah kaum rentenir. Hamka jelas bukan seorang ekonom. Namun untuk kasus rentenir (sektor riil), Hamka benar 100%, tapi untuk bunga bank (perspektif ekonomi makro)? Not yet.

1. "Zakat akan dimakmurkan."
2. "Tinggalkan sisa riba yang kamu pungut."
3. "Apa2 yang menambah pada sisi manusia, tapi tidak menambah di sisi Tuhanmu."
4. "Kebanyakan manusia mencari nafkah dengan cara bathil."
5. "Mereka menganggap dirinya berbuat kebaikan, padahal mereka berbuat kerusakan."
6. "Kami halalkan jual beli, Kami haramkan riba."
7. "Hendaklah tiap kesepakatan (bisnis) ditulis dan dgn saksi2."
8. "Janganlah melanggar perjanjian (bisnis) yg telah disepakati."


Ekonom saja tidak akan paham maksud ke-8 konteks di atas. Ulama thok juga tidak akan pernah paham maksudnya. Adakah ekonom yang benar-benar ulama?

Apakah betul bank syariah tidak menggunakan instrumen fund management? Apakah betul likuiditas bank syariah itu tidak dikelola dan dialokasikan ke instrumen fund management yang ada (SBI, money market, saham, obligasi, dll)?

Ilustrasi: Jika PT Indofood Sukses Makmur go public dan berhasil mengantongi dana umum sebesar Rp760 miliar lewat penjualan sahamnya pada saat IPO, tentu saja ini jual beli yang murni dan dihalalkan.

Tapi ketika saham Indofood yang sudah beredar di masyarakat itu dijadikan alat taruhan di bursa dan diperdagangkan 2x sehari dengan kapitalisasi modal miliaran per hari, maka tentu saja yield yang diperoleh oleh broker saham (sekuritas) lewat margin fluktuasi harga jual dan harga beli adalah RIBA.

Alasan utama adalah: Yield yang diperoleh di bursa harian itu tidak mencerminkan "industrial added value" yang sesungguhnya (CASINOMICS).

Ilustrasi2: Indofood meperoleh pinjaman dari Bank Rantaunet sebesar Rp1 triliun untuk perluasan usaha. Dengan pinjaman tsb, Indofood mengongkrak produksi dari 3juta bungkus mie menjadi 10 juta bungkus mie per hari. Hasilnya, 7 juta bungkus mie adalah industrial added value yang riil (growth)--dalam bahasa sederhana, ke-7 juta bungkus mie itu bisa dikonversi ke dalam nominal rupiah baru. Kalau 1 bungkus harganya Rp1000 maka BI bisa meng-issue cetakan uang baru sebesar 7.000.000 x 1.000 = 7 miliar per hari atau Rp210 miliar per bulan atau hampir Rp3 triliun per tahun (2003).

Angka Rp3 triliun pada tahun ini bukanlah RIBA karena dia mencerminkan secara riil pertambahan produksi nasional. Apabila pertambahan produksi tiap sektor industri dikumpulkan maka akan diperoleh pertumbuhan ekonomi nasional. Bandingkan dengan produksi Indofood pada 2002 yang hanya 3 juta bungkus atau setara dengan Rp1 triliun lebih industrial added value.

Apabila dari omset Rp7 triliun itu Indofood mengantongi keuntungan Rp2 triliun, dengan bagi hasil 50:50 maka Bank RantauNet berhak mendapat hasil sebesar Rp 1 triliun pada tutup buku 2003. Bandingkan kalau Bank Rantaunet mematok bunga kredit 10%, misalnya, maka keuntungan yang diperoleh hanya 10% x 1 triliun = Rp10 miliar. Dengan sistem bagi hasil, laba kredit Rantaunet jelas 10x lipat lebih besar ketimbang menerapkan suku bunga bank konvensional.

Benarkah hal seperti itu yang diterapkan bank syariah, apalagi di tengah kelesuan sektor rill saat ini? Kalau tidak, berarti tiap laba yang diperoleh bank-bank syariah masih sangat bergantung pada instrumen fund management. Artinya, bank syariah juta tak luput menikmati bunga-bunga tralala-trilili yang katanya "konvensional" itu.

Love
Elfanzo Remis St Baribeh

_________________________________________________________________
The new MSN 8: advanced junk mail protection and 2 months FREE* http://join.msn.com/?page=features/junkmail


____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke