Barangkali tidak ada yang tidak sepakat dengan teolog Katolik Hans Kung
ketika mengatakan: “Tidak ada kedamaian dunia tanpa kedamaian agama”.
Tetapi pada kenyataannya yang lebih mencuat bukan kedamaian tetapi
tetapi kecurigaan dan pertentangan antarpenganut agama, utamanya tiga
agama semitik: Yahudi, Kristen dan Islam yang berumpun kepada agama
Hanif Bapak Moneteisme Ibrahim. Adalah sangat jelas bahwa timbulnya
saling curiga dan pertentangan bukannya tanpa alasan. Sejuta daftar bisa
disusun untuk ini. Tetapi terlepas dari beralasan atau tidak, kecurigaan
dan pertentangan tersebut tidak jarang berujung menjadi konflik
berdarah-darah. Hasilnya, agama sering dituding sebagai biang kerok
bencana ketimbang membawa kemaslahatan bagi ummat manusia.
Dialog, kedamaian dan kemudian kerjasama agama mungkinkah?
Bagi mereka yang selalu sibuk menabuh genderang perang jawabannya tentu
saja tidak.
Tetapi juga tidak sedikit yang percaya bahwa dialog, kedamaian dan
kerjasama antarpenganut agama bukan saja mungkin tetapi juga niscaya.
Mungkin dan niscaya, tanpa meninggalkan prinsip-prinsip keimanan atau
aqidah agama masing-masing.
Saya dan Robert Adolf, termasuk kelompok yang terakhir ini.
(Dan saya selalu ingat hadis yang meriwayatkan bahwa tatkala orang-orang
Kristen Najran yang menemui Nabi di Masjid beliau di Medinah pamit untuk
melakukan kebaktian, Nabi yang mulia itu mempersilakan mereka untuk
melakukannya di Masjid beliau saja)
Robert Adolf, lengkapnya Robert Adolf Tumilisar adalah sahabat maya saya
di Milis Kota Bogor yang sudah cukup lama. Tidak sukar untuk menduga
bahwa Kang Adolf, begitu saya biasanya menyapa ”nyong” Kawanua yang
lebih muda dari pada saya dan staf sebuah Bank papan atas seorang
penganut Kristiani yang taat. Apalagi lulusan S-2 Manajemen ini, S-1 nya
diperolehnya di Sekolah Tinggi Teologia. Dengan kata lain qua pendidikan
formalnya beliau adalah seorang pendeta.
Sewaktu saya menulis pengalaman saya ketika menunaikan ibadah haji pada
musim haji 1423 H yang lalu dan mengirimkannya ke sejumlah milis,
termasuk Milis Kota Bogor, Kang Adolf tidak hanya membaca, tetapi juga
mengoleksinya dan kemudian, setelah minta izin kepada saya (yang
sebenarnya tidak perlu) menforwardkannya kesejumlah milis. Dan pada
pengantarnya Kang Adolf antara lain menulis:
”Sejak tulisan pertama saya menyimak dengan penuh perhatian dan minat
tinggi. Menyimak seri per seri...selalu ada harapan semoga di akhir
tulisan ada kata ’bersambung’....Menyimak tulisan Pak Darwin sedikit
banyak menggugah keharuan saya. Tidak hanya semata menambah wawasan iman
pribadi, tetapi saya pun dapat belajar bagaimana saudara-saudara saya
umat Muslim meningkatkan kualitas imannya melalui ibadah haji”
Forwarding yang dilakukan Kang Adolf menyebabkan Catatan PerjalananHaji
saya tersebut sampai ke mana-mana dan menyebabkan saya berkenalan dengan
Mas Samudra Wibawa, yang ketika itu sedang mnyelesaikan studi Doktornya
di sebuah Universitas di Jerman. Dan dalam salah satu email saya kepada
Mas Sam yang juga menforwardkan catatan perjalanan haji saya tersebut ke
sebuah milis komunitas muslim di Jerman, saya menulis:
”Kang Adolf mengatakan banyak belajar dari Catatan Perjalanan Haji
saya.....Sebaliknya saya banyak belajar dari Kang Adolf tentang
ketulusan dan hati yang bersih dari prasangka”.
Ketulusan dan hati yang bersih dari prasangka adalah kata kunci bagi
terselenggaranya dialog, kedamaian kerjasama antarpenganut agama yang
tidak saja mungkin tetapi juga niscaya.
Dan saya sadar sesadar-sadarnya bahwa ketulusan dan hati yang bersih
dari prasangka jauh lebih mudah mengatakan dari pada melaksanakannya.
Tertapi alangkah besarnya dosa parapenganut agama kalau agama lebih
banyak biang kerok bencana dan gagal membawa kemaslahatan bagi ummat
manusia.
Namun saya tetap percaya bahwa sebenarnya sangat banyak Kang Adolf di
kalangan penganut seluruh penganut agama.
Hanya saja mereka lebih banyak diam.
Namun saya tetap optimis bahwa jumlah mereka akan tambah banyak dan
mereka tidak akan selalu diam, karena sikap optimis, sikap pantang
kehilangan harapan adalah hal yang sangat berharga yang diajarkan Islam
kepada saya.
Wassalam, Darwin
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________
- Re: [R@ntau-Net] Robert Adolf Darwin Bahar
- Re: [R@ntau-Net] Robert Adolf Zulharbi S
- [R@ntau-Net] Perempuan Impian... Rahima
- Re: [R@ntau-Net] Robert Adolf Darwin Bahar
- [R@ntau-Net] Alhamdulillah - telah kemba... Hayatun Nismah Rumzy
