PERLAWATAN RUHANI KE SELATAN
Mochtar Naim Fulbright Visiting Research Scholar, Center for Southeast Asian Studies, University of Michigan, Ann Arbor, MI, USA, 31 Desember, 2003 DI musim pakansi di akhir Desember 2003 ini kami suami-isteri memutuskan untuk melakukan wisata ruhani ke Selatan. Kebetulan ada dua undangan yang beriringan datang. Satu menghadiri Innaugural Conference dari UHF (Universal Heritage Foundation) di Kissimmee, Orlando, Florida, dan satu lagi menghadiri Muktamar Tahunan dari IMSA (Indonesian Muslim Students Association) dan MISG (Malaysian Islamic Study Group) di Peachtree City, Atlanta, Georgia. Innaugural Conference dari UHF berjalan dari tgl 19 s/d 21 Desember, sementara Muktamar atau Konvensi Tahunan se Amerika Utara (termasuk Kanada) dari IMSA dan MISG dari tgl 24 s/d 28 Desember. Kedua-duanya sangat menarik dan memberikan kesan yang sangat mendalam. Innaugural Conference dari UHF bertujuan untuk memulai sebuah langkah besar dari proses pemantapan keislaman dari komuniti Islam di daerah Florida. Islam yang telah mulai merambat dalam masyarakat Amerika di Florida ingin hendak memperkenalkan diri lebih jauh lagi ke dalam masyarakat Amerika yang berbilang suku, bangsa dan agama ini. Sejauh ini masyarakat Islam telah ada di tengah-tengah kelompok migran dari negeri-negeri Arab di Timur Tengah, dari negeri-negeri di benua kecil India, yakni Pakistan, India, Bangladesh dan Srilanka, dari Amerika Serikat sendiri, terutama dari kelompok sukubangsa African-American, atau Negro dahulu kita menyebutnya, di samping, masya Allah, menakjubkan, dari negeri-negeri yang selama ini tidak disangka Islam akan juga muncul, yaitu Amerika Latin, yang di Selatan di Amerika Serikat, mereka merupakan kelompok migran terbesar. Namun, seperti biasanya, tidak ada jalan yang mulus ke surga. Begitu orang mengatakan. Dekat akan dimulainya Innaugural Conference dari UHF itu, surat-surat kabar, radio dan televisi di daerah Florida telah heboh mengabarkan bahwa kelompok �terrorists� akan mengadakan perjumpaan akbar di kompleks yang baru mereka beli di kawasan Kissimmee, di daerah suburbnya pusat pariwisata Orlando. Kebetulan, memang, sebuah mata rantai dari jaringan perhotelan Ramada Inn yang dimiliki oleh kelompok Yahudi itu, bankrut, karena tidak mampu mengembalikan hutangnya ke bank pemerintah. Persil dengan segala macam bangunan dan isi yang ada di dalamnya dalam areal seluas 13 hektar yang sangat luas terpaksa dilelang. Allah mentakdirkan, ada saja seorang dokter dermawan berasal Pakistan yang membelinya, dan langsung menyerahkannya kepada UHF untuk dikelolakan menjadi sebuah pusat keislaman, lengkap dengan sekolah-sekolah, lapangan olah raga, komuniti senter, dan mesjid tentunya. Begitu tersiar bahwa kelompok Islam di Orlando, Florida, ini mau mengadakan perjumpaan akbar, untuk memulai langkah untuk membangun kompleks bekas Ramada Inn ini menjadi sebuah pusat komuniti Islam, mereka langsung berteriak: �Kelompok terrorist Islam masuk! Keristen dan Yahudi terdepak keluar!� (Muslim terrorists in, Christians and Jews out!) Akibatnya, perjumpaan yang dirancang semula akan diadakan di kompleks UHF itu, di saat-saat terakhir terpaksa dialihkan ke sebuah kompleks arena olah raga yang dijaga ketat oleh polisi. Setiap pengunjung yang masuk digeledah dengan luar biasa seksama. Barakahnya, Allah swt memperlihatkan, justeru karena dijaga ketat itu pula maka perjumpaan dan persidangan berjalan dengan aman dan tertib, dan seluruh acara berjalan dengan lancar tanpa halangan apapun. Yang sangat mengagumkan adalah pembicara demi pembicara yang tampil ke depan yang sangat memukau. Dengan kefasihan berbicara, dengan retorika yang juga dibumbui dengan bahasa badan (body language) yang lincah dan menarik, dan sekaligus kedalaman isi dan pesan yang disampaikan, selama tiga hari yang padat, pengunjung dan peserta disuguhi dengan bermacam pesan dan ajakan, yang semuanya bermuara pada ajakan untuk bertaqwa kepada Allah dan melaksanakan ajaran Islam dengan bersungguh-sungguh di negeri yang baru dimasuki oleh Islam itu. Dalam menatap ke masa depan Islam di benua baru itu bagaimanapun perlu persatuan dan kesatuan langkah dengan bermacam program dan agenda untuk perkembangan dan kejayaan Islam, di Amerika. Para pembicara hampir semuanya berpendidikan tinggi yang sebagian terbesar datang dari lingkungan kampus dari berbagai penjuru Amerika. Ada yang ahli biologi, kimia, fisika, ekonomi, hukum, politik, budaya, agama, dsb. Memang, salah satu dari keistimewaan migran Muslim di Amerika ialah bahwa sebagai akibat dari brain drain atau pelarian intelektual dari berbagai negara muslim di dunia, para migran Muslim di Amerika memiliki lapisan yang tebal dari kelompok intelektualnya. Banyak dari mereka yang menjadi professor dan peneliti di berbagai universitas, yang menjadi dokter, insinyur dan pekerja otak lainnya di berbagai lembaga publik maupun swasta, dan tentu saja, ribuan mahasiswa dari hampir semua negeri-negeri Islam di dunia berdatangan belajar di Amerika. Termasuklah hamba yang dhaif ini yang lagi bercerita menceritakan pengalaman perjalanan rohaninya ini. Dari sekian banyak pembicara yang naik ke mimbar saling silih berganti, ada tiga orang yang rasanya tak pernah akan kami lupakan. Pertama, seorang insinyur ahli komputer dan perlistrikan, doktor-pensyarah dari sebuah universitas di upstate New York, yang kebetulan namanya juga sama dengan nama saya: Mukhtar al ... apa begitu (oh ya, Mukhtar Maghroui, setelah melihat namanya di buku panduan Konferensi kembali) yang menunjukkan bahwa ia berasal dari Algeria. Si Mukhtar ini � memang dia jauh lebih muda dari saya � ke mana-mana selalu pakai pakaian khas Aljazair yang berkantong kepala di belakang jubahnya, dengan jambang dan jenggut yang cukup manis dan rapi di mukanya yang putih bersih dan dengan pembawaan yang sedang. Dari gerak-gerik serta cara dia membawakan dirinya kelihatan sekali bahwa dia seorang sufi yang zuhud. Dalam pembicaraannya dengan kami dia mengatakan bahwa di rumahnya dia tidak memiliki komputer � pada hal dia ahli komputer. Ketika kami tanyakan kenapa seorang yang doktor dan profesor seperti dia tidak memiliki komputer di rumahnya? Langsung dia menjawab bahwa dia takut akan mengurangi zikirnya kepada Allah bila dia mempunyai komputer. �Itu pernah terjadi pada saya ketika di rumah saya ada komputer dan akhirnya saya terlambat shalat.� Komputer hanya ada di kantor tempat dia kerja, tetapi di rumah untuk zikir dan membaca buku-buku dan menghafal Al Qur`�n, di samping dengan keluarga. Siapa yang tahu dia, ke manapun dia pergi, selalu orang akan tunduk dan hormat kepadanya. Si Mukhtar inilah yang menjelaskan dengan cara yang sangat gamblang sekali dan dengan bahasa dan retorika yang sangat fasih dan memukau, fungsi dari hati dalam kehidupan manusia di dunia ini. Al Qalb, atau qul�b jamaknya, dikupas dengan sangat mendalam bahwa qalb memang adalah sentrum dari seluruh pusat kegiatan kehidupan dari sang manusia yang bertaqwa di dunia di muka bumi ini. Demikian menentukannya fungsi hati ini sehingga otak yang begitu perkasa dan dipuja-puja di dunia ilmu di Barat dan di Timur pada akhirnya juga harus tunduk kepada qalb ini. Kalau otak dibiarkan jalan sendiri tanpa kendali dari hati, dunia yang hanya dituntun oleh otak ini akan kacau-balau, seperti yang kita lihat dan saksikan sekarang ini. Otak yang cemerlang hanya akan membawa kebaikan manakala dikendalikan oleh hati yang senantiasa ingat akan Allah: Al� bidzikrill�h tathmainnal qul�b � Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram -- (Ar Ra�d 28). Otak yang jalan dan lari sendiri tanpa bimbingan hati maka kerusakanlah yang terjadi. Zhaharal fas�du fil barri wal baĥri bim� kasabat aidin n�s � Telah nyata nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia (yang dikendalikan oleh akal dan hawa nafsunya semata), Ar R�m 30. Itulah dia peperangan, pergaduhan, pencemaran lingkungan, perusakan akhlak dan tata kehidupan sosial-budaya, dsb, yang sekarang meruyak terjadi di mana-mana. Dengan si Mukhtar ini saya sempat berdialog sambil makan siang mengenai pekerjaan pengklasifikasian ayat-ayat Al Qur`�n secara tematik yang saya lakukan di Univ of Michigan di Ann Arbor sekarang ini. Dia juga mengakui bahwa setahu dia belum ada upaya pengklasifikasian seperti yang saya lakukan sekarang ini, yang pengklasifikasiannya dikelompokkan menurut jalur pembagian ilmu pengetahuan seperti yang ada sekarang; kendati dalam bentuk lain dalam sistematika yang lain memang telah ada. Tiap kali saya mengingatkan si Mukhtar yang Aljazair ini yang terbayang oleh saya adalah Aak Gim (Abdullah Gimnastiar) dari Darut Tauhid, Geger Kalong, Bandung, yang sekarang namanya telah meroket ke seantero Nusantara, dan sekarang bahkan santer dicalonkan oleh para pengagumnya menjadi calon Presiden RI yad. Aak Gim dalam berdakwah pendekatannya adalah juga pendekatan hati: Qalbun Salim � hati yang bersih, tenteram dan damai. Begitu juga dengan Aak yang lainnya yang namanya sekarang juga sedang melejit: Aak, atau Akang, Hari Ginanjar, yang mencari perpaduan dan keserasian antara otak dan hati, antara reason dan emotion. Kalau Aak Gim padanannya adalah Mukhtar yang Aljazair, Kang Hari padanannya adalah Harun Yahya yang Turki. Kedua si Malik. Imam Abdul Malik adalah seorang AA (African American), muda, tampan, necis, parlente, berdasi, botak, lincah, yang sekarang menjadi penganjur Islam di tengah-tengah masyarakat AA di kota New York, dan memimpin sebuah mesjid di New York di mana dia menjadi imamnya. Makanya dia dipanggil, dan memanggilkan dirinya, Imam Abdul Malik. Kelebihan dari Imam Abdul Malik ini ialah ia fasih berbahasa Arab dan hafal Al Qur`�n. Di mana dia dapatkan ini sehingga dia ngomong seperti orang Arab saja? Dari Universitas Ummul Qur� di Makkah. Bayangkan, dia bisa berpidato berjam-jam tanpa kita mengerinyitkan mata sepejampun. Kita seperti dihela ke pelupuk matanya. Inggerisnya: mesmerized dan mesmerizing. Sungguh memukau! Memang, salah satu dari ciri khas orang Negro alias AA ini ialah mereka kuat sekali dengan bahasa badan itu. Ngomong juga kadang sambil bergoyang dan menari, dengan tangan, mata, kepala sampai ke badan, pinggul dan kakipun semua bergoyang. Bayangkan saja seorang Negro dengan seni poetik Rap-nya. Dan dia menaik-menurunkan suaranya tepat pada mat-matnya, mengalahkan Zainuddin MZ segala. Apalagi kalau orang hitam bicara cenderung seperti bersenandung dengan dialek dan intonasinya yang khas. Imam Abdul Malik inilah sekarang yang sedang jadi phenomenon, menghoyak masyarakat hitam di benua Amerika, melanjutkan pekerjaan yang ditinggalkan oleh Asy Syahid Malcolm X. Ketiga, seorang evangelik Protestan: Reverend Ronald something. Saya lupa nama familinya (Oh, ya, Rev. Ronald Young). Ini makhluk Ron atau Ronnie ini lain pula memukaunya. Dia, seperti kebanyakan orang Amerika lainnya, tinggi semampai, tua tidak muda terlampau, dan sangat elokuen sekali dalam bahasa retorik kegerejaannya. Dia sekarang memimpin organisasi interfaith, kerukunan antar-agama, yang bercorak dunia, di kota New York. Dalam pidatonya dia selalu menekankan pada perlunya ada kerukunan antar ummat beragama itu. Dia mengerti banyak dengan Islam dan ummat Islam, karena dia pernah berada di tengah-tengah masyarakat Arab di Siria, Yordania, Palestina, dsb, dalam melaksanakan tugas-tugas evangelikalnya. Reverend atau Rama Ronald ini memang sengaja diundang, bukan saja karena sikap simpatik dan kedekatannya kepada komuniti Islam tetapi juga karena misi kedamaiannya yang juga perlu disebar dan dikembang-luaskan di negara bagian Florida dan Amerika umumnya bersama-sama dengan kelompok Islam dll. Adalah sebuah sikap dengan strategi yang jelas dari kelompok Islam di Florida ini yang ingin damai dan bersahabat dengan semua kelompok agama manapun di daerah itu. Kelompok Islam melalui dakwah dan amal-nyatanya ingin memperlihatkan dan membuktikan kepada masyarakat Amerika dan Barat umumnya bahwa Islam itu adalah agama damai dan raĥmatan lil ��lam�n, rahmat bagi sekalian alam. UHF sendiri punya gagasan dan rencana besar yang akan dimulainya di bekas kompaun atau persil Ramada Inn itu. Peserta Konferensi diajak berkeliling melihat kawasan Ramada Inn yang memang luas itu, karena di sana tidak hanya ada bangunan-bangunan yang terkait erat dengan kamar-kamar tamu, front-desk, ruang resepsi, perkantoran, dapur perhotelan lengkap, dan segala macam itu, tetapi juga ada sekolah manajemen perhotelannya, dan di belakangnya di samping kolam renang juga ada hamparan-hamparan luas untuk olah raga football, basket ball, golf, dsb. Dalam ruangan-ruangan itu juga bertumpuk alat-alat komputer dan elektronik canggih lain-lainnya. Pengurus UHF merencanakan akan membangun Islamic Center yang lengkap dengan mesjid dan persekolahannya, dari TK sampai ke PT. Karena itulah mereka mengundang pemuka-pemuka Islam dari berbagai penjuru Amerika untuk memulai langkah besar itu dengan sebuah Innaugural Conference. Kegiatan fundraising tentu saja adalah bagian tak terpisahkan dari Innaugural Conference itu, yang dengan cara menarik mereka berhasil mengumpul dana dalam jumlah ratusan ribu dollar dari pengunjung dan peserta. Waktu acara pengumpulan dana diadakan, Brother Malik yang orator itu sempat juga nyeletuk sambil berkelakar dari mimbar, yang dia mengambil alih dalam kampanye fundraising itu, yang memperbandingkan gaya orang Arab dengan orang Yahudi. Orang Arab dalam beramal cenderung memberikan wang recehan dari kelipit-kelipit saku atau dompetnya, sementara orang Yahudi Amerika dalam membantu perjuangan orang Yahudi di Israel dan di mana-mana, dalam jumlah miliunan dollar setiap kali kucur. Demikianlah hotel Howard Johnson di Kissimmee dekat kompaun UHF kami tinggalkan dengan penuh kesan spiritual. Dengan taksi 25 dollar, siang sehabis penutupan Konferensi, Minggu tgl 21/12, kami pindah ke Magic Castle, masih di jalur jalan panjang yang sama, tetapi lebih dekat ke Disney World dan Universal Studios. Selang beberapa jam kemudian, Eka, Lisa dan kedua anak lelaki mereka: Faiz dan Angga, sesuai dengan jadwal dan rencana semula, dengan nyetir sendiri jalan darat dari Detroit ke Orlando, sampai di hotel yang sama. Eka (Dr Bhinneka Muharram Kristanto) dan Lisa (Dr Lisa Kristanto), yang setelah menamatkan studi doktornya di U of Michigan di Ann Arbor, sekarang bekerja di GM di Detroit. Mereka sekeluarga sangat ramah dan suka membantu, dan yang dalam pemilihan pengurus pengajian Michigan kemarin ini terpilih jadi Ketua Pengajian menggantikan Rifki Ismal, kiriman Bank Indonesia untuk mengambil master dalam bidang ekonomi yang baru tamat, dan harus segera pulang ke tanah air bersama isteri yang sedang hamil enam bulan dan yang sama-sama dari Padang. Rifki inilah yang banyak membantu kami sejak dari mula kedatangan sampai saat mereka bilang sayonara kepada kami semua. Kami antarkan mereka berdua ke airport Detroit untuk terbang kembali ke Indonesia. Bersama dengan Eka sekeluarga kami dibawa keesokan harinya ke Universal Studios, dan keesokannya lagi ke Kennedy Space Center. Kami tak ikut ke Disney World dll karena cukup mahal juga (50 sekian dollar per orang) di samping kami sudah pernah melihat yang di Los Angeles dan Tokyo. Bagi orang tua yang sudah dekat ke pintu kubur seperti kami sekarang ini hiburan rohani kayaknya seperti lebih menarik dari hiburan duniawi. * Ke Atlanta, Georgia. Dengan diantar oleh Eka sekeluarga ke airport, dalam satu setengah jam naik pesawat Delta Air kami sudah sampai di Atlanta. Di International Airport Atlanta kami sudah ditunggu oleh Panitia Muktamar. Ada tiga orang dari Panitia yang menjemput, yang kebetulan semuanya dari Malaysia. Mereka memang kebagian di bagian penjemputan dan transportasi, kendati mereka sendiri masing-masingnya datang dari berbagai universitas yang berbeda dan saling berjauhan. Dan merekapun bahkan baru datang ke Atlanta di pagi yang sama. Kecanggihan IT telah membikin semua jaringan komunikasi dan koordinasi menjadi mudah dan efisien, karena yang namanya Panitia Muktamar itupun berserakan di hampir semua penjuru Amerika bagian Utara, termasuk Kanada. Melalui hubungan maya berimel-imelan mereka siapkan semua yang diperlukan. Memang, termasuk kamipun dibantu oleh Eka membelikan tiket pesawat dan memesan hotel dengan email; dan itupun dengan bidding, artinya dengan tawar-menawar untuk mendapatkan harga yang terendah. Harga tiket pesawat untuk tujuan yang sama bisa berbeda-beda menurut waktu dan jam yang berbeda. Biasanya makin dekat jarak pemesanan makin mahal harganya, dan begitu sebaliknya. Juga berbeda harga yang untuk pagi dengan siang dan malamnya, sebagaimana berbeda yang untuk wik-en dengan yang hari kerja biasa. Ternyata di Atlanta inipun juga terjadi pergeseran tempat yang mendadak secara tiba-tiba seperti yang kami alami di Orlando. Semula direncanakan di Holiday Inn, di suburb Decatur, Atlanta. Waktu dikonfirmasikan, ternyata mereka mengatakan bahwa pemakaian ruang resepsi bayarannya tersendiri; sementara panitia semula beranggapan bahwa itu sudah termasuk. Karena bedanya banyak sekali, mereka mendadak harus cari tempat lain, yang kebetulan mendapatkan Peachtree City Resort Hotel yang fasilitasnya lebih lengkap dan kualitasnya lebih bagus, di samping harganyapun lebih murah, dengan fasilitas ruangan resepsi dan sidang-sidang semua gratis jika mencharter kamar di atas sejumlah sekian. Untung saja Holiday Inn sendiri yang bilang, kalau tidak setuju tidak apa tidak jadi dan kamu silahkan mencari yang lain. Di Peachtree Resort Hotel ini kamar-kamarnya semua kamar berbintang empat dan fasilitasnya sangat lengkap. Semua merasa berterima kasih kepada Allah karena di saat-saat terakhir pindah ke hotel yang lebih baik, lebih nyaman dan lebih bagus, di samping juga lebih murah. Empat hari Muktamar berlangsung, yakni dari tgl 24 Desember, Rabu, sampai tgl 28-nya, Minggu, pada waktu semua sekolah dari TK sampai universitas di seluruh negeri libur. Muktamar atau Konvensi ini sendiri telah berumur panjang ke belakang. Dalam catatan Panitia, Muktamar ini adalah yang ke 27 kalinya yang dilakukan setiap tahun sejak tahun 1976 oleh MISG dan yang kelima kalinya bergabung dengan IMSA. Sebelumnyapun, Konvensi tahunan yang diadakan oleh MISG sejak 1988 dan 1989 juga telah ikut dihadiri oleh sejumlah ikhwan dan akhwat dari Indonesia. Dengan jumlah pengikut dari Indonesia yang makin banyak setiap tahunnya maka sejak lima tahun yang lalu itu diputuskanlah untuk melakukan konvensi gabungan secara bersama. Konvensi tahunan ini mengambil tema yang berbeda dari konvensi ke konvensi, dengan tempat lokasi yang juga berbeda. Tahun 2002 yl diadakan di Holiday Inn Select di Columbia, Missouri. Di Muktamar atau Konvensi pertama tahun 1976 di Peoria, Illinois, itulah MISG didirikan, sementara IMSA berdiri tgl 29 Des 1998 di Jefferson City, Missouri, di tengah-tengah konvensi tahunan MISG di sana. Sejak itu sampai saat ini, dan mudah-mudahan berlanjut seterusnya, konvensi tahunan selalu bersifat gabungan antara dua suku Melayu serumpun itu. Bisa dibayangkan, walau sikit-sikit dialek dan aksennya berbeda [Malaysia: berbeza], dan lagu-lagaknya, karena latar belakang perkembangan sejarahnya, kadang-kadang juga berbeza, namun di konvensi seperti itu terasa sekali bahwa [Mal: bahawa] kedua suku bangsa itu sebenarnya adalah satu. Tali yang mengikatnya bukan hanya suku dan budaya, tapi terutama adalah juga agama. Kelompok Indonesia sendiri di Amerika Utara (termasuk Kanada), sejak berdirinya IMSA th 1998 itu, cenderung bersibak dua: yang Islam ke IMSA dan yang non-Islam tetap di Permias. Yang Islam sebagian besar kiriman pemerintah yang mengambil program studi graduate, S2 dan S3, sementara yang non-Islam sebagian terbesar kiriman orang tua, dan mengambil program studi sejak undergrad, S1. Sebagai gambaran, di University of Michigan tempat saya bergabung sekarang ini, konon ada ratusan mahasiswa Indonesia, di mana semua, kecuali yang tingkat graduate yang jumlahnya hanya lima orang, adalah non-muslim warga keturunan Cina. Gambaran yang sama boleh dikata sifatnya menyeluruh untuk seluruh Amerika dan Kanada. Ada ribuan mahasiswa Indonesia tetapi hanya ada sejumlah yang sangat kecil saja yang pribumi dan Islam, sementara yang selebihnya keturunan Cina dan non-Islam. Dari pengamatan saya, antara kedua kelompok ini hamir tidak ada komunikasi dan jarang bersua. Tiap kali Permias mengadakan kegiatan apa-apa, yang menonjol adalah warga keturunan itu, yang di antara sesama mereka tetap masih mempergunakan Bahasa Indonesia dengan dialek Jakarta sebagai bahasa komunikasi hari-hari mereka ke dalam. Di luar Permias, siapapun akan sukar membedakan mana mereka yang Chinese yang dari Indonesia, mana yang dari Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, dan dari tanah leluhur Cina, Taiwan dan Hong Kong sendiri. Orang tentu saja bisa menerka, semua ini berpangkal dari ketimpangan ekonomi dan sosial-budaya yang telah berakar dalam masyarakat Indonesia dan Asia Tenggara lainnya selama ini, selain juga proses migrasi Nan Yang yang sudah panjang ke belakang. Tetapi hal yang sedikit berbeda kita temukan dengan kawan-kawan Melayu dari Malaysia. Mereka dikirim oleh pemerintah dalam jumlah ratusan, kalau tidak ribuan, setiap tahunnya ke berbagai negara maju, termasuk Inggeris, Australia, Jerman, Perancis, di samping AS sendiri dan Kanada, dan memulainya dari tingkat undergrad. Dan ribuan sudah yang pulang dan mengambil tempat-tempat penting di pemerintahan dan swasta. Mereka itulah yang turut membangun Malaysia Baru dan mengangkatkannya ke taraf seperti yang kita lihat sekarang ini. Pemerintah Malaysia sendiri tidak segan-segan mengeluarkan biaya pendidikan sampai lebih dari seperempat dari seluruh biaya pembangunan negara. Untuk dibandingkan, Indonesia sampai saat ini masih menganggarkan biaya pendidikan jauh di bawah 10 %, walau secara tertulis melalui DPR telah komit untuk mengeluarkannya sebanyak 20 %. Dalam bidang pendidikan saja Indonesia kelihatan sudah sangat kedodoran dibanding dengan negara-negara tetangga lainnya. Muktamar sendiri selama lima hari itu berjalan siang malam, yang setelah upacara pembukaan di malam hari pertama, dimulai dengan shalat qiyamul lail sebelum masuk waktu subuh keesokan harinya. Subuhnya di musim dingin di bulan Desember ini dimulai jam 06.00 pagi dan terbit matahari jam 07.00 lebih. Selesai shalat shubuh berjamaah, langsung tadzkirah; kemudian breakfast, eh makan pagi, dan mulai jam delapan setengah sampai bersambung terus sampai pukul 10.00 malam. Berhentinya cuma untuk shalat dan makan bersama. Makanannya dimasakkan oleh seorang ibu keturunan campuran Cina dan Melayu dari Malaysia. Ibu yang berbadan subur ini buka restoran di luar di Atlanta dengan masakan Tiong Hoa muslim. Dan masakannya enaak tenan. Demikianlah secara silih berganti acara demi acara digelar yang tema pokoknya adalah: �Sebuah Langkah Kecil dalam Perjalanan Panjang.� (Bandingkan: di Orlando di UHF dibilang: Sebuah Langkah Besar). Ada belasan pembicara dengan belasan topik yang semua terkait kepada tema pokok itu. Ada pembicaraan yang sifatnya ceramah, ada yang panel diskusi, ada yang khas untuk wanita, untuk anak-anak, dari Kinder Garten ke High School, dan ada yang sifatnya akademik di samping yang populer. Malam terakhir ditutup dengan pertunjukan kesenian secara spontan dan dadakan, dengan peersiapan hanya sekedar satu-dua jam sebelumnya. Tapi, mind you, justeru karena dadakan itu pula semua berjalan lucu dan berkesan. Sendirinya ada pembicara tamu dari luar anggota yang sengaja didatangkan, di samping yang dari anggota sendiri. Ada yang dari pihak Malaysia dan ada yang dari pihak Indonesia. Semula tokoh PKS Nur Mahmudi yang bekas Menteri Kehutanan di zaman Habibie akan datang. Tetapi rencananya berubah di saat-saat terakhir entah karena apa sehingga rencana lawatannya ke DC (Washington, DC) mendahului Muktamar ini untuk sebuah seminar yang diadakan oleh cabang PKS di Amerika Serikat, dengan dia sebagai keynote speaker, batal. Masa untuk berkampanye untuk Pemilu 2004 mungkin masih terlalu dini, dan PKS tentu tidak mau disorakin untuk mendahului kampanye pemilu itu. Semua pembicara tanpa kecuali mengesankan, dengan gaya yang berbeda dari yang satu ke yang lainnya. Tampak sekali penguasaan bahan di samping cara yang menarik dalam penyampaiannya. Bahasa yang dipakai cenderung gado-gado, Inggeris dan Indonesia atau Inggeris dan Malaysia. Tapi juga ada yang Inggeris semata, atau Indonesia semata dan Malaysia semata. Tergantung orangnya. Kecenderungannya, seperti diperkirakan, kawan Malaysia lebih merasa at home dengan berbahasa Inggeris daripada dengan Bahasa Melayu sendiri. Kita yang Indonesia sebaliknya. Orang Indonesia yang dari sononya sudah kedodoran bahasa Inggerisnya, manakala cakap Inggeris kualitas penyampaian cenderung menurun dan tergagap-gagap. Saya sendiri yang turut juga sebagai salah seorang pembicara menyampaikannya dalam Bahasa Indonesia. Topik yang saya ikut membawakannya yang berupa diskusi panel adalah: �Krikil-krikil dalam Perjalanan.� Yang dimaksudkan adalah faktor SWOT yang menghalangi orang melaksanakan tugas dakwah dan tugas mengamalkan ajaran agamanya. Saya bersebelahan dalam panel dengan Ustadz Syamsi Ali, Imam Mesjid Indonesia �Al Hikmah� di Queens, New York, dan Dr Osman Bakar dari Malaysia yang sekarang sebagai Malaysia Chair of Islam in Southeast Asia di Georgetown University di Washington, DC. Kedua tokoh tamu ini adalah bintang lapangan di samping seorang ustaz dari Malaysia: Ustaz Abdul Haris bin Bain lulusan Azhar dan isterinya Ustazah Rosmawati Abdul Wahab yang guru dan ahli podium dari Kelantan. Ustadz Imam Syamsi Ali yang masih muda (36 th) adalah ulama intelek yang berasal dari Makasar dan pernah kuliah di International Islamic University di Islamabad, Pakistan. Dengan bahasa dan cara membawakan masalahnya yang jernih dan sistematis tak ada orang yang akan tersinggung karenanya; sebaliknya malah sangat mengesankan. Apalagi kalau dia kebetulan yang jadi imam, bacaan ayat dalam shalatnya begitu bagus dan merdu; membikin orang menjadi khusyuk semuanya. Dari pihak anggota sendiri yang tampil sebagai pembicara tidak sedikit yang kajiannya mendalam yang juga memukau; apalagi kalau itu memang sudah bidangnya. Ada Cik Adnan Omar dari Malaysia yang ahli tentang masalah bunuh diri dan kajiannya memang tentang itu. Dengan bahasa Inggerisnya yang kuat dan retorikanya yang mengesankan orang-orang pada terpana mendengarkan dia berceramah. Dia juga suka mengisi tadzkirah sesudah subuh. Ada lagi Cik Dr Zaini yang ahli kuman (mikrobilogi) dari Malaysia yang membahas secara mendalam masalah tasawuf yang dikaitkan dengan sains seperti kecenderungan si Mukhtar yang di Orlando itu. Penampilan dari Anis Baswedan yang sarjana ilmu politik yang cucunya Pak AR Baswedan yang saya kenal baik sewaktu masih di Yogya di tahun 1950-an dulu, adalah bintang muda punya harapan cerah ke masa depan di samping sederet bintang-bintang muda lainnya, termasuk Dr Arief Budiman yang ahli genetika tanaman dari LIPI, Ahmiyul Rauf, Yassierli Icel (Presiden IMSA), Dodi Heryadi, Elan Satriawan yang calon doktor dalam ilmu ekonomi pembangunan dari Michigan State, dosen ekonomi UGM Yogya, dan sejumlah nama lain-lainnya yang tidak mungkin saya menyebutkan satu per satu. Karena Muktamar sekaligus adalah juga memilih Presiden IMSA yang baru, maka terpilihlah secara aklamasi kawan akrab kami dekatan rumah di Family Housing di Ann Arbor, yang oleh isteri saya selalu memanggilnya dengan panggilan kesayangan: Nak Endro. Nak Endro yang calon doktor di bidang teknik sivil ini disenangi oleh semua orang dan tergolong yang shaleh dan zuhud walau berangkat dari latarbelakang keluarga abangan, katanya. Anaknya Salma yang cantik yang belum satu tahun, perempuan, dan isteri: Cahya yang muslimah berjilbab, ahli farmasi, telah menjadi bahagian dari kehidupan kami hari-hari selama di Ann Arbor ini. Seperti di Orlando juga, kamipun menyempatkan diri melihat-lihat kota Atlanta yang dikatakan sebagai pusat kegiatan dari The New South. Di Atlanta inilah pusatnya Coca Cola dan pusat jaringan CNN. Kamipun sempat melihat Stone Mountain Park di luar kota; sebuah bukit batu granit yang massif yang menjadi obyek turisme. Dengan kereta kabel orang naik ke atasnya. Sambil naik kita lalu bisa menyaksikan pahatan raksasa dari tiga jenderal konfederat Selatan sedang menunggang kuda. Pahatannya diselesaikan dalam waktu sepuluh tahun. Di atas bukit batu raksasa itulah kami � saya, Anis Baswedan dan Elan � shalat zuhur dan ashar jama� qashar berjamaah; sebuah peristiwa yang rasanya akan sukar dilupakan. Di Atlanta itupun kami sempat bershalat Jum�at beramai-ramai di sebuah mesjid yang tadinya adalah sebuah klub pemuda minum-minum dan berdansa. Seorang dokter wanita asal Pakistan lalu membeli bangunan itu dan menjadikannya jadi mesjid. Khalil Abdur Rashid, anak muda African American, 28 tahun, fasih berbahasa Arab, dan mendalami ilmu agama Islam di Yaman, yakni di sekolah yang banyak didatangi oleh anak-anak keturunan Arab dari Indonesia, adalah khatib waktu itu. Dengan pakaian jubah ala Arab dan badan yang tinggi semampai serta terlihat berwibawa, Khalil mengucapkan khutbahnya dengan lancar tanpa teks. Allah mentakdirkan, kami bersalaman dan bercakap-cakap sesudah Jum�at dengan Khalil, dan Khalil pula dengan isterinya yang datang ke hotel membawa kami berkunjung ke rumahnya; ngobrol panjang lebar, untuk kemudian mengantarkan kami sorenya ke airport. Khalil dengan isteri dan suami kakaknya yang juga taat dan fasih berbahasa Arab insya Allah akan membaktikan dirinya musim panas yad mengajar Bahasa Inggeris dan Bahasa Arab di Madrasah Sumatera Thawalib Parabek. Insya Allah. Di Parabek sekarang sedang terjadi perubahan besar-besaran di mana Bahasa Arab dan Inggeris diajarkan secara aktif. Setelah tiga sampai enam bulan, apalagi setahun, anak-anak Parabek sekarang sudah bisa berbahasa Arab dan Inggeris secara aktif. Mencengangkan! Satu hal yang menarik sebelum kami mengakhiri cerita oleh-oleh perlawatan ruhani ke Selatan ini ialah: karena kami ini orang Padang, kami menemukan begitu banyak orang asal Padang dalam Muktamar, termasuk bahkan ada yang dari Malaysia sendiri. Katanya dari Pekanbaru, dari Palembang, dari Jakarta, dari KL, dari sana, dari sini, tetapi selalu diujungnya dikatakan: tetapi saya ini orang Padang, atau orang tua kami berasal dari Padang. Maksudnya tentu saja: Sumatera Barat. Memang sebuah fenomena menarik: asal sudah ada kaitannya dengan agama, entah itu di Muhammadiyah, di HMI, Wanita Islam, di manapun, berkerumunlah orang asal Padang di dalamnya. Satu fenomena yang menunjukkan bahwa agama bagi orang Padang atau Minang adalah bagaikan lampu yang menerangi di tengah malam buta dari perjalanan kehidupan ini. Hal yang sama secara spiral bahkan terjadi pada kawasan wahana yang makin luas dan makin luas. Yang mempertemukan orang Indonesia yang satu dengan yang lainnya, bahkan dengan orang Malaysia sekalipun, tak perduli dari manapun asal dan sukubangsa serta bahasa dan budayanya, mereka semua bisa bersatu dalam Islam. Islam menjadi daya pikat dan faktor pemersatu yang kuat yang tidak hanya bersifat lokal dan regional tapi juga internasional dan global. Ummat Islam dipersatukan oleh ajaran persaudaraan yang hakiki. Innamal mukmin�na ikhwah. Fa ashliĥ� baina akhawaikum. Bahwa orang-orang Mukmin itu bersaudara; maka berbaik-baikanlah kamu di antara sesama saudaramu. Persaudaraan dalam Islam bersifat inklusif: tanpa pandang bulu, rona, suku, bangsa, bahasa, budaya, apapun. Itulah suasana yang kami baca dan rasakan di Muktamar. Dan itu pula yang kami baca secara lebih luas lagi, dan sekarang mendunia, dari yang kami saksikan dan alami sendiri di Innaugural Conference UHF di Orlando itu, yaitu: Persahabatan sedunia yang dipersatukan oleh Islam. Persaudaraan itu bukan hanya antara sesama Islam tetapi dengan sesama ummat manusia dan makhluk lainnya sekalipun. Tepat sekalilah tema yang mereka pampangkan di Konferensi Orlando itu: Islam for Humanity � Islam bagi Kemanusiaan � dan Islam yang raĥmatan lil ��lam�n. Sebuah perlawatan ruhani yang sangat mengesankan kami. All�hu Akbar! * __________________________________ Do you Yahoo!? Yahoo! Hotjobs: Enter the "Signing Bonus" Sweepstakes http://hotjobs.sweepstakes.yahoo.com/signingbonus ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net ____________________________________________________
