PERLAWATAN RUHANI KE SELATAN

 

Mochtar Naim
Fulbright Visiting Research Scholar,
Center for Southeast Asian Studies, 
University of Michigan, Ann Arbor, MI, USA,
31 Desember, 2003
 

DI musim pakansi di akhir Desember 2003 ini kami
suami-isteri memutuskan untuk melakukan wisata ruhani
ke Selatan. Kebetulan ada dua undangan yang beriringan
datang. Satu menghadiri Innaugural Conference dari UHF
(Universal Heritage Foundation) di Kissimmee, Orlando,
Florida, dan satu lagi menghadiri Muktamar Tahunan
dari IMSA (Indonesian Muslim Students Association) dan
MISG (Malaysian Islamic Study Group) di Peachtree
City, Atlanta, Georgia. 

   Innaugural Conference dari UHF berjalan dari tgl 19
s/d 21 Desember, sementara Muktamar atau Konvensi
Tahunan se Amerika Utara (termasuk Kanada) dari IMSA
dan MISG dari tgl 24 s/d 28 Desember. Kedua-duanya
sangat menarik dan memberikan kesan yang sangat
mendalam.

   Innaugural Conference dari UHF bertujuan untuk
memulai sebuah langkah besar dari proses pemantapan
keislaman dari komuniti Islam di daerah Florida. Islam
yang telah mulai merambat dalam masyarakat Amerika di
Florida ingin hendak memperkenalkan diri lebih jauh
lagi ke dalam masyarakat Amerika yang berbilang suku,
bangsa dan agama ini. Sejauh ini masyarakat Islam
telah ada di tengah-tengah kelompok migran dari
negeri-negeri Arab di Timur Tengah, dari negeri-negeri
di benua kecil India, yakni Pakistan, India,
Bangladesh dan Srilanka, dari Amerika Serikat sendiri,
terutama dari kelompok sukubangsa African-American,
atau Negro dahulu kita menyebutnya, di samping, masya
Allah, menakjubkan, dari negeri-negeri yang selama ini
tidak disangka Islam akan juga muncul, yaitu Amerika
Latin, yang di Selatan di Amerika Serikat, mereka
merupakan kelompok migran terbesar. 

   Namun, seperti biasanya, tidak ada jalan yang mulus
ke surga. Begitu orang mengatakan. Dekat akan
dimulainya Innaugural Conference dari UHF itu,
surat-surat kabar, radio dan televisi di daerah
Florida telah heboh mengabarkan bahwa kelompok
�terrorists� akan mengadakan perjumpaan akbar di
kompleks yang baru mereka beli di kawasan Kissimmee,
di daerah suburbnya pusat pariwisata Orlando. 

   Kebetulan, memang, sebuah mata rantai dari jaringan
perhotelan Ramada Inn yang dimiliki oleh kelompok
Yahudi itu, bankrut, karena tidak mampu mengembalikan
hutangnya ke bank pemerintah. Persil dengan segala
macam bangunan dan isi yang ada di dalamnya dalam
areal seluas 13 hektar yang sangat luas terpaksa
dilelang. Allah mentakdirkan, ada saja seorang dokter
dermawan berasal Pakistan yang membelinya, dan
langsung menyerahkannya kepada UHF untuk dikelolakan
menjadi sebuah pusat keislaman, lengkap dengan
sekolah-sekolah, lapangan olah raga, komuniti senter,
dan mesjid tentunya.

   Begitu tersiar bahwa kelompok Islam di Orlando,
Florida, ini mau mengadakan perjumpaan akbar, untuk
memulai langkah untuk membangun kompleks bekas Ramada
Inn ini menjadi sebuah pusat komuniti Islam, mereka
langsung berteriak: �Kelompok terrorist Islam masuk!
Keristen dan Yahudi terdepak keluar!� (Muslim
terrorists in, Christians and Jews out!) 

   Akibatnya, perjumpaan yang dirancang semula akan
diadakan di kompleks UHF itu, di saat-saat terakhir
terpaksa dialihkan ke sebuah kompleks arena olah raga
yang dijaga ketat oleh polisi. Setiap pengunjung yang
masuk digeledah dengan luar biasa seksama. Barakahnya,
Allah swt memperlihatkan, justeru karena dijaga ketat
itu pula maka perjumpaan dan persidangan berjalan
dengan aman dan tertib, dan seluruh acara berjalan
dengan lancar tanpa halangan apapun. 

   Yang sangat mengagumkan adalah pembicara demi
pembicara yang tampil ke depan yang sangat memukau.
Dengan kefasihan berbicara, dengan retorika yang juga
dibumbui dengan bahasa badan (body language) yang
lincah dan menarik, dan sekaligus kedalaman isi dan
pesan yang disampaikan, selama tiga hari yang padat,
pengunjung dan peserta disuguhi dengan bermacam pesan
dan ajakan, yang semuanya bermuara pada ajakan untuk
bertaqwa kepada Allah dan melaksanakan ajaran Islam
dengan bersungguh-sungguh di negeri yang baru dimasuki
oleh Islam itu. Dalam menatap ke masa depan Islam di
benua baru itu bagaimanapun perlu persatuan dan
kesatuan langkah dengan bermacam program dan agenda
untuk perkembangan dan kejayaan Islam, di Amerika. 
Para pembicara hampir semuanya berpendidikan tinggi
yang sebagian terbesar datang dari lingkungan kampus
dari berbagai penjuru Amerika. Ada yang ahli biologi,
kimia, fisika, ekonomi, hukum, politik, budaya, agama,
dsb.

   Memang, salah satu dari keistimewaan migran Muslim
di Amerika ialah bahwa sebagai akibat dari brain drain
atau pelarian intelektual dari berbagai negara muslim
di dunia, para migran Muslim di Amerika  memiliki
lapisan yang tebal dari kelompok intelektualnya.
Banyak dari mereka yang menjadi professor dan peneliti
di berbagai universitas, yang menjadi dokter, insinyur
dan pekerja otak lainnya di berbagai lembaga publik
maupun swasta, dan tentu saja, ribuan mahasiswa dari
hampir semua negeri-negeri Islam di dunia berdatangan
belajar di Amerika. Termasuklah hamba yang dhaif ini
yang lagi bercerita menceritakan pengalaman perjalanan
rohaninya ini.

   Dari sekian banyak pembicara yang naik ke mimbar
saling silih berganti, ada tiga orang yang rasanya tak
pernah akan kami lupakan. Pertama, seorang insinyur
ahli komputer dan perlistrikan, doktor-pensyarah dari
sebuah universitas di upstate New York, yang kebetulan
namanya juga sama dengan nama saya: Mukhtar al ... apa
begitu (oh ya, Mukhtar Maghroui, setelah melihat
namanya di buku panduan Konferensi kembali) yang
menunjukkan bahwa ia berasal dari Algeria. Si Mukhtar
ini � memang dia jauh lebih muda dari saya � ke
mana-mana selalu pakai pakaian khas Aljazair yang
berkantong kepala di belakang jubahnya, dengan jambang
dan jenggut yang cukup manis dan rapi di mukanya yang
putih bersih dan dengan pembawaan yang sedang. Dari
gerak-gerik serta cara dia membawakan dirinya
kelihatan sekali bahwa dia seorang sufi yang zuhud.

   Dalam pembicaraannya dengan kami dia mengatakan
bahwa di rumahnya dia tidak memiliki komputer � pada
hal dia ahli komputer.  Ketika kami tanyakan kenapa
seorang yang doktor dan profesor seperti dia tidak
memiliki komputer di rumahnya?  Langsung dia menjawab
bahwa dia takut akan mengurangi zikirnya kepada Allah
bila dia mempunyai komputer.  �Itu pernah terjadi pada
saya ketika di rumah saya ada komputer dan akhirnya
saya terlambat shalat.� Komputer hanya ada di kantor
tempat dia kerja, tetapi di rumah untuk zikir dan
membaca buku-buku dan menghafal Al Qur`�n, di samping
dengan keluarga.  Siapa yang tahu dia, ke manapun dia
pergi, selalu orang akan tunduk dan hormat kepadanya. 

   Si Mukhtar inilah yang menjelaskan dengan cara yang
sangat gamblang sekali dan dengan bahasa dan retorika
yang sangat fasih dan memukau, fungsi dari hati dalam
kehidupan manusia di dunia ini. Al Qalb, atau qul�b
jamaknya, dikupas dengan sangat mendalam bahwa qalb
memang adalah sentrum dari seluruh pusat kegiatan
kehidupan dari sang manusia yang bertaqwa di dunia di
muka bumi ini. Demikian menentukannya fungsi hati ini
sehingga otak yang begitu perkasa dan dipuja-puja di
dunia ilmu di Barat dan di Timur pada akhirnya juga
harus tunduk kepada qalb ini. Kalau otak dibiarkan
jalan sendiri tanpa kendali dari hati, dunia yang
hanya dituntun oleh otak ini akan kacau-balau, seperti
yang kita lihat dan saksikan sekarang ini. Otak yang
cemerlang hanya akan membawa kebaikan manakala
dikendalikan oleh hati yang senantiasa ingat akan
Allah: Al� bidzikrill�h tathmainnal qul�b � Hanya
dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram --
(Ar Ra�d 28). Otak yang jalan dan lari sendiri tanpa
bimbingan hati maka kerusakanlah yang terjadi.
Zhaharal fas�du fil barri wal baĥri bim� kasabat
aidin n�s � Telah nyata nampak kerusakan di darat dan
di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia (yang
dikendalikan oleh akal dan hawa nafsunya semata), Ar
R�m 30.  Itulah dia peperangan, pergaduhan, pencemaran
lingkungan, perusakan akhlak dan tata kehidupan
sosial-budaya, dsb, yang sekarang meruyak terjadi di
mana-mana.

   Dengan si Mukhtar ini saya sempat berdialog sambil
makan siang mengenai pekerjaan pengklasifikasian
ayat-ayat Al Qur`�n secara tematik yang saya lakukan
di Univ of Michigan di Ann Arbor sekarang ini.  Dia
juga mengakui bahwa setahu dia belum ada upaya
pengklasifikasian seperti yang saya lakukan sekarang
ini, yang pengklasifikasiannya dikelompokkan menurut
jalur pembagian ilmu pengetahuan seperti yang ada
sekarang; kendati dalam bentuk lain dalam sistematika
yang lain memang telah ada. 

   Tiap kali saya mengingatkan si Mukhtar yang
Aljazair ini yang terbayang oleh saya adalah Aak Gim
(Abdullah Gimnastiar) dari Darut Tauhid, Geger Kalong,
Bandung, yang sekarang namanya telah meroket ke
seantero Nusantara, dan sekarang bahkan santer
dicalonkan oleh para pengagumnya menjadi calon
Presiden RI yad. Aak Gim dalam berdakwah pendekatannya
adalah juga pendekatan hati: Qalbun Salim � hati yang
bersih, tenteram dan damai. Begitu juga dengan Aak
yang lainnya yang namanya sekarang juga sedang
melejit: Aak, atau Akang, Hari Ginanjar, yang mencari
perpaduan dan keserasian antara otak dan hati, antara
reason dan emotion. Kalau Aak Gim padanannya adalah
Mukhtar yang Aljazair, Kang Hari padanannya adalah
Harun Yahya yang Turki.

   Kedua si Malik. Imam Abdul Malik adalah seorang AA
(African American), muda, tampan, necis, parlente,
berdasi, botak, lincah, yang sekarang menjadi
penganjur Islam di tengah-tengah masyarakat AA di kota
New York, dan memimpin sebuah mesjid di New York di
mana dia menjadi imamnya. Makanya dia dipanggil, dan
memanggilkan dirinya, Imam Abdul Malik. Kelebihan dari
Imam Abdul Malik ini ialah ia fasih berbahasa Arab dan
hafal Al Qur`�n. Di mana dia dapatkan ini sehingga dia
ngomong seperti orang Arab saja? Dari Universitas
Ummul Qur� di Makkah. Bayangkan, dia bisa berpidato
berjam-jam tanpa kita mengerinyitkan mata sepejampun.
Kita seperti dihela ke pelupuk matanya. Inggerisnya:
mesmerized dan mesmerizing. Sungguh memukau!

   Memang, salah satu dari ciri khas orang Negro alias
AA ini ialah mereka kuat sekali dengan bahasa badan
itu. Ngomong juga kadang sambil bergoyang dan menari,
dengan tangan, mata, kepala sampai ke badan, pinggul
dan kakipun semua bergoyang. Bayangkan saja seorang
Negro dengan seni poetik Rap-nya. Dan dia
menaik-menurunkan suaranya tepat pada mat-matnya,
mengalahkan Zainuddin MZ segala. Apalagi kalau orang
hitam bicara cenderung seperti bersenandung dengan
dialek dan intonasinya yang khas.

   Imam Abdul Malik inilah sekarang yang sedang jadi
phenomenon, menghoyak masyarakat hitam di benua
Amerika, melanjutkan pekerjaan yang ditinggalkan oleh
Asy Syahid Malcolm X.

   Ketiga, seorang evangelik Protestan: Reverend
Ronald something.  Saya lupa nama familinya (Oh, ya,
Rev. Ronald Young). Ini makhluk Ron atau Ronnie ini
lain pula memukaunya. Dia, seperti kebanyakan orang
Amerika lainnya, tinggi semampai, tua tidak muda
terlampau, dan sangat elokuen sekali dalam bahasa
retorik kegerejaannya. Dia sekarang memimpin
organisasi interfaith, kerukunan antar-agama, yang
bercorak dunia, di kota New York. Dalam pidatonya dia
selalu menekankan pada perlunya ada kerukunan antar
ummat beragama itu. Dia mengerti banyak dengan Islam
dan ummat Islam, karena dia pernah berada di
tengah-tengah masyarakat Arab di Siria, Yordania,
Palestina, dsb, dalam melaksanakan tugas-tugas
evangelikalnya.

   Reverend atau Rama Ronald ini memang sengaja
diundang, bukan saja karena sikap simpatik dan
kedekatannya kepada komuniti Islam tetapi juga karena
misi kedamaiannya yang juga perlu disebar dan
dikembang-luaskan di negara bagian Florida dan Amerika
umumnya bersama-sama dengan kelompok Islam dll. Adalah
sebuah sikap dengan strategi yang jelas dari kelompok
Islam di Florida ini yang ingin damai dan bersahabat
dengan semua kelompok agama manapun di daerah itu.
Kelompok Islam melalui dakwah dan amal-nyatanya ingin
memperlihatkan dan membuktikan kepada masyarakat
Amerika dan Barat umumnya bahwa Islam itu adalah agama
damai dan raĥmatan lil ��lam�n, rahmat bagi
sekalian alam. 

   UHF sendiri punya gagasan dan rencana besar yang
akan dimulainya di bekas kompaun atau persil Ramada
Inn itu. Peserta Konferensi diajak berkeliling melihat
kawasan Ramada Inn yang memang luas itu, karena di
sana tidak hanya ada bangunan-bangunan yang terkait
erat dengan kamar-kamar tamu, front-desk, ruang
resepsi, perkantoran, dapur perhotelan lengkap, dan
segala macam itu, tetapi juga ada sekolah manajemen
perhotelannya, dan di belakangnya di samping kolam
renang juga ada hamparan-hamparan luas untuk olah raga
football, basket ball, golf, dsb. Dalam
ruangan-ruangan itu juga bertumpuk alat-alat komputer
dan elektronik canggih lain-lainnya.

   Pengurus UHF merencanakan akan membangun Islamic
Center yang lengkap dengan mesjid dan persekolahannya,
dari TK sampai ke PT. Karena itulah mereka mengundang
pemuka-pemuka Islam dari berbagai penjuru Amerika
untuk memulai langkah besar itu dengan sebuah
Innaugural Conference. Kegiatan fundraising tentu saja
adalah bagian tak terpisahkan dari Innaugural
Conference itu, yang dengan cara menarik mereka
berhasil mengumpul dana dalam jumlah ratusan ribu
dollar dari pengunjung dan peserta. Waktu acara
pengumpulan dana diadakan, Brother Malik yang orator
itu sempat juga nyeletuk sambil berkelakar dari
mimbar, yang dia mengambil alih dalam kampanye
fundraising itu, yang memperbandingkan gaya orang Arab
dengan orang Yahudi. Orang Arab dalam beramal
cenderung memberikan wang recehan dari kelipit-kelipit
saku atau dompetnya, sementara orang Yahudi Amerika
dalam membantu perjuangan orang Yahudi di Israel dan
di mana-mana, dalam jumlah miliunan dollar setiap kali
kucur.

   Demikianlah hotel Howard Johnson di Kissimmee dekat
kompaun UHF kami tinggalkan dengan penuh kesan
spiritual. Dengan taksi 25 dollar, siang sehabis
penutupan Konferensi, Minggu tgl 21/12, kami pindah ke
Magic Castle, masih di  jalur jalan panjang yang sama,
tetapi lebih dekat ke Disney World dan Universal
Studios. Selang beberapa jam kemudian, Eka, Lisa dan
kedua anak lelaki mereka: Faiz dan Angga, sesuai
dengan jadwal dan rencana semula, dengan nyetir
sendiri jalan darat dari Detroit ke Orlando, sampai di
hotel yang sama. Eka (Dr Bhinneka Muharram Kristanto)
dan Lisa (Dr Lisa Kristanto), yang setelah menamatkan
studi doktornya di U of Michigan di Ann Arbor,
sekarang bekerja di GM di Detroit.  Mereka sekeluarga
sangat ramah dan suka membantu, dan yang dalam
pemilihan pengurus pengajian Michigan kemarin ini
terpilih jadi Ketua Pengajian menggantikan Rifki
Ismal, kiriman Bank Indonesia untuk mengambil master
dalam bidang ekonomi yang baru tamat, dan harus segera
pulang ke tanah air bersama isteri yang sedang hamil
enam bulan dan yang sama-sama dari Padang. Rifki
inilah yang banyak membantu kami sejak dari mula
kedatangan sampai saat mereka bilang sayonara kepada
kami semua. Kami antarkan mereka berdua ke airport
Detroit untuk terbang kembali ke Indonesia.   Bersama
dengan Eka sekeluarga kami dibawa keesokan harinya ke
Universal Studios, dan keesokannya lagi ke Kennedy
Space Center. Kami tak ikut ke Disney World dll karena
cukup mahal juga (50 sekian dollar per orang) di
samping kami sudah pernah melihat yang di Los Angeles
dan Tokyo. Bagi orang tua yang sudah dekat ke pintu
kubur seperti kami sekarang ini hiburan rohani
kayaknya seperti lebih menarik dari hiburan duniawi.

 
*

   Ke Atlanta, Georgia.

   Dengan diantar oleh Eka sekeluarga ke airport,
dalam satu setengah jam naik pesawat Delta Air kami
sudah sampai di Atlanta. Di International Airport
Atlanta kami sudah ditunggu oleh Panitia Muktamar. Ada
tiga orang dari Panitia yang menjemput, yang kebetulan
semuanya dari Malaysia. Mereka memang kebagian di
bagian penjemputan dan transportasi, kendati mereka
sendiri masing-masingnya datang dari berbagai
universitas yang berbeda dan saling berjauhan. Dan
merekapun bahkan baru datang ke Atlanta di pagi yang
sama. Kecanggihan IT telah membikin semua jaringan
komunikasi dan koordinasi menjadi mudah dan efisien,
karena yang namanya Panitia Muktamar itupun berserakan
di hampir semua penjuru Amerika bagian Utara, termasuk
Kanada. Melalui hubungan maya berimel-imelan mereka
siapkan semua yang diperlukan. Memang, termasuk
kamipun dibantu oleh Eka membelikan tiket pesawat dan
memesan hotel dengan email; dan itupun dengan bidding,
artinya dengan tawar-menawar untuk mendapatkan harga
yang terendah. Harga tiket pesawat untuk tujuan yang
sama bisa berbeda-beda menurut waktu dan jam yang
berbeda. Biasanya makin dekat jarak pemesanan makin
mahal harganya, dan begitu sebaliknya. Juga berbeda
harga yang untuk pagi dengan siang dan malamnya,
sebagaimana berbeda yang untuk wik-en dengan yang hari
kerja biasa.  

   Ternyata di Atlanta inipun juga terjadi pergeseran
tempat yang mendadak secara tiba-tiba seperti yang
kami alami di Orlando. Semula direncanakan di Holiday
Inn, di suburb Decatur, Atlanta. Waktu
dikonfirmasikan, ternyata mereka mengatakan bahwa
pemakaian ruang resepsi bayarannya tersendiri;
sementara panitia semula beranggapan  bahwa itu sudah
termasuk. Karena bedanya banyak sekali, mereka
mendadak harus cari tempat lain, yang kebetulan
mendapatkan Peachtree City Resort Hotel yang
fasilitasnya lebih lengkap dan kualitasnya lebih
bagus, di samping harganyapun lebih murah, dengan
fasilitas ruangan resepsi dan sidang-sidang semua
gratis jika mencharter kamar di atas sejumlah sekian.
Untung saja Holiday Inn sendiri yang bilang, kalau
tidak setuju tidak apa tidak jadi dan kamu silahkan
mencari yang lain. Di Peachtree Resort Hotel ini
kamar-kamarnya semua kamar berbintang empat dan
fasilitasnya sangat lengkap.  Semua merasa berterima
kasih kepada Allah karena di saat-saat terakhir pindah
ke hotel yang lebih baik, lebih nyaman dan lebih
bagus, di samping juga lebih murah.

   Empat hari Muktamar berlangsung, yakni dari tgl 24
Desember, Rabu, sampai tgl 28-nya, Minggu, pada waktu
semua sekolah dari TK sampai universitas di seluruh
negeri libur. Muktamar atau Konvensi ini sendiri telah
berumur panjang ke belakang. Dalam catatan Panitia,
Muktamar ini adalah yang ke 27 kalinya yang dilakukan
setiap tahun sejak tahun 1976 oleh MISG dan yang
kelima kalinya bergabung dengan IMSA. Sebelumnyapun,
Konvensi tahunan yang diadakan oleh MISG sejak 1988
dan 1989 juga telah ikut dihadiri oleh sejumlah ikhwan
dan akhwat dari Indonesia. Dengan jumlah pengikut dari
Indonesia yang makin banyak setiap tahunnya maka sejak
lima tahun yang lalu itu diputuskanlah untuk melakukan
konvensi gabungan secara bersama. Konvensi tahunan ini
mengambil tema yang berbeda dari konvensi ke konvensi,
dengan tempat lokasi yang juga berbeda. Tahun 2002 yl
diadakan di Holiday Inn Select di Columbia, Missouri. 

   Di Muktamar atau Konvensi pertama tahun 1976 di
Peoria, Illinois, itulah MISG didirikan, sementara
IMSA berdiri tgl 29 Des 1998 di Jefferson City,
Missouri, di tengah-tengah konvensi tahunan MISG di
sana. Sejak itu sampai saat ini, dan mudah-mudahan
berlanjut seterusnya, konvensi tahunan selalu bersifat
gabungan antara dua suku Melayu serumpun itu. Bisa
dibayangkan, walau sikit-sikit dialek dan aksennya
berbeda [Malaysia: berbeza], dan lagu-lagaknya, karena
latar belakang perkembangan sejarahnya, kadang-kadang
juga berbeza, namun di konvensi seperti itu terasa
sekali bahwa [Mal: bahawa] kedua suku bangsa itu
sebenarnya adalah satu. Tali yang mengikatnya bukan
hanya suku dan budaya, tapi terutama adalah juga
agama. 

   Kelompok Indonesia sendiri di Amerika Utara
(termasuk Kanada), sejak berdirinya IMSA th 1998 itu,
cenderung bersibak dua: yang Islam ke IMSA dan yang
non-Islam tetap di Permias. Yang Islam sebagian besar
kiriman pemerintah yang mengambil program studi
graduate, S2 dan S3, sementara yang non-Islam sebagian
terbesar kiriman orang tua, dan mengambil program
studi sejak undergrad, S1. Sebagai gambaran, di
University of Michigan tempat saya bergabung sekarang
ini, konon ada ratusan mahasiswa Indonesia, di mana
semua, kecuali yang tingkat graduate yang jumlahnya
hanya lima orang, adalah non-muslim warga keturunan
Cina. Gambaran yang sama boleh dikata sifatnya
menyeluruh untuk seluruh Amerika dan Kanada.  Ada
ribuan mahasiswa Indonesia tetapi hanya ada sejumlah
yang sangat kecil saja yang pribumi dan Islam,
sementara yang selebihnya keturunan Cina dan
non-Islam. Dari pengamatan saya, antara kedua kelompok
ini hamir tidak ada komunikasi dan jarang bersua. Tiap
kali Permias mengadakan kegiatan apa-apa, yang
menonjol adalah warga keturunan itu, yang di antara
sesama mereka tetap masih mempergunakan Bahasa
Indonesia dengan dialek Jakarta sebagai bahasa
komunikasi hari-hari mereka ke dalam. Di luar Permias,
siapapun akan sukar membedakan mana mereka yang
Chinese yang dari Indonesia, mana yang dari Malaysia,
Singapura, Thailand, Filipina, dan dari tanah leluhur
Cina, Taiwan dan Hong Kong sendiri. Orang tentu saja
bisa menerka, semua ini berpangkal dari ketimpangan
ekonomi dan sosial-budaya yang telah berakar dalam
masyarakat Indonesia dan Asia Tenggara lainnya selama
ini, selain juga proses migrasi Nan Yang yang sudah
panjang ke belakang. 

   Tetapi hal yang sedikit berbeda kita temukan dengan
kawan-kawan Melayu dari Malaysia. Mereka dikirim oleh
pemerintah dalam jumlah ratusan, kalau tidak ribuan,
setiap tahunnya ke berbagai negara maju, termasuk
Inggeris, Australia, Jerman, Perancis, di samping AS
sendiri dan Kanada, dan memulainya dari tingkat
undergrad. Dan ribuan sudah yang pulang dan mengambil
tempat-tempat penting di pemerintahan dan swasta. 
Mereka itulah yang turut membangun Malaysia Baru dan
mengangkatkannya ke taraf seperti yang kita lihat
sekarang ini. Pemerintah Malaysia sendiri tidak
segan-segan mengeluarkan biaya pendidikan sampai lebih
dari seperempat dari seluruh biaya pembangunan negara.
Untuk dibandingkan, Indonesia sampai saat ini masih
menganggarkan biaya pendidikan jauh di bawah 10 %,
walau secara tertulis melalui DPR telah komit untuk
mengeluarkannya sebanyak 20 %. Dalam bidang pendidikan
saja Indonesia kelihatan sudah sangat kedodoran
dibanding dengan negara-negara tetangga lainnya.

   Muktamar sendiri selama lima hari itu berjalan
siang malam, yang setelah upacara pembukaan di malam
hari pertama, dimulai dengan shalat qiyamul lail
sebelum masuk waktu subuh keesokan harinya. Subuhnya
di musim dingin di bulan Desember ini dimulai jam
06.00 pagi dan terbit matahari jam 07.00 lebih.
Selesai shalat shubuh berjamaah, langsung tadzkirah;
kemudian breakfast, eh makan pagi, dan mulai jam
delapan setengah sampai bersambung terus sampai pukul
10.00 malam. Berhentinya cuma untuk shalat dan makan
bersama. Makanannya dimasakkan oleh seorang ibu
keturunan campuran Cina dan Melayu dari Malaysia. Ibu
yang berbadan subur ini buka restoran di luar di
Atlanta dengan masakan Tiong Hoa muslim. Dan
masakannya enaak tenan.

   Demikianlah secara silih berganti acara demi acara
digelar yang tema pokoknya adalah: �Sebuah Langkah
Kecil dalam Perjalanan Panjang.� (Bandingkan: di
Orlando di UHF dibilang: Sebuah Langkah Besar). Ada
belasan pembicara dengan belasan topik yang semua
terkait kepada tema pokok itu. Ada pembicaraan yang
sifatnya ceramah, ada yang panel diskusi, ada yang
khas untuk wanita, untuk anak-anak, dari Kinder Garten
ke High School, dan ada yang sifatnya akademik di
samping yang populer. Malam terakhir ditutup dengan
pertunjukan kesenian secara spontan dan dadakan,
dengan peersiapan hanya sekedar satu-dua jam
sebelumnya. Tapi, mind you, justeru karena dadakan itu
pula semua berjalan lucu dan berkesan. 

   Sendirinya ada pembicara tamu dari luar anggota
yang sengaja didatangkan, di samping yang dari anggota
sendiri. Ada yang dari pihak Malaysia dan ada yang
dari pihak Indonesia. Semula tokoh PKS Nur Mahmudi
yang bekas Menteri Kehutanan di zaman Habibie akan
datang. Tetapi rencananya berubah di saat-saat
terakhir entah karena apa sehingga rencana lawatannya
ke DC (Washington, DC) mendahului Muktamar ini untuk
sebuah seminar yang diadakan oleh cabang PKS di
Amerika Serikat, dengan dia sebagai keynote speaker,
batal. Masa untuk berkampanye untuk Pemilu 2004
mungkin masih terlalu dini, dan PKS tentu tidak mau
disorakin untuk mendahului kampanye pemilu itu.

   Semua pembicara tanpa kecuali mengesankan, dengan
gaya yang berbeda dari yang satu ke yang lainnya.
Tampak sekali penguasaan bahan di samping cara yang
menarik dalam penyampaiannya. Bahasa yang dipakai
cenderung gado-gado, Inggeris dan Indonesia atau
Inggeris dan Malaysia. Tapi juga ada yang Inggeris
semata, atau Indonesia semata dan Malaysia semata.
Tergantung orangnya. Kecenderungannya, seperti
diperkirakan, kawan Malaysia lebih merasa at home
dengan berbahasa Inggeris daripada dengan Bahasa
Melayu sendiri. Kita yang Indonesia sebaliknya. Orang
Indonesia yang dari sononya sudah kedodoran bahasa
Inggerisnya, manakala cakap Inggeris kualitas
penyampaian cenderung menurun dan tergagap-gagap. 

   Saya sendiri yang turut juga sebagai salah seorang
pembicara menyampaikannya dalam Bahasa Indonesia.
Topik yang saya ikut membawakannya yang berupa diskusi
panel adalah: �Krikil-krikil dalam Perjalanan.� Yang
dimaksudkan adalah faktor SWOT yang menghalangi orang
melaksanakan tugas dakwah dan tugas mengamalkan ajaran
agamanya. Saya bersebelahan dalam panel dengan Ustadz
Syamsi Ali, Imam Mesjid Indonesia �Al Hikmah� di
Queens, New York, dan Dr Osman Bakar dari Malaysia
yang sekarang sebagai Malaysia Chair of Islam in
Southeast Asia di Georgetown University di Washington,
DC.

   Kedua tokoh tamu ini adalah bintang lapangan di
samping seorang ustaz dari Malaysia: Ustaz Abdul Haris
bin Bain lulusan Azhar dan isterinya Ustazah Rosmawati
Abdul Wahab yang guru dan ahli podium dari Kelantan.
Ustadz Imam Syamsi Ali yang masih muda (36 th) adalah
ulama intelek yang berasal dari Makasar dan pernah
kuliah di International Islamic University di
Islamabad, Pakistan.  Dengan bahasa dan cara
membawakan masalahnya yang jernih dan sistematis tak
ada orang yang akan tersinggung karenanya; sebaliknya
malah sangat mengesankan. Apalagi kalau dia kebetulan
yang jadi imam, bacaan ayat dalam shalatnya begitu
bagus dan merdu; membikin orang menjadi khusyuk
semuanya.  

   Dari pihak anggota sendiri yang tampil sebagai
pembicara tidak sedikit yang kajiannya mendalam yang
juga memukau; apalagi kalau itu memang sudah
bidangnya. Ada Cik Adnan Omar dari Malaysia yang ahli
tentang masalah bunuh diri dan kajiannya memang
tentang itu. Dengan bahasa Inggerisnya yang kuat dan
retorikanya yang mengesankan orang-orang pada terpana
mendengarkan dia berceramah. Dia juga suka mengisi
tadzkirah sesudah subuh. Ada lagi Cik Dr Zaini  yang
ahli kuman (mikrobilogi) dari Malaysia yang membahas
secara mendalam masalah tasawuf yang dikaitkan dengan
sains seperti kecenderungan si Mukhtar yang di Orlando
itu. Penampilan dari Anis Baswedan yang sarjana ilmu
politik yang cucunya Pak AR Baswedan yang saya kenal
baik sewaktu masih di Yogya di tahun 1950-an dulu,
adalah bintang muda punya harapan cerah ke masa depan
di samping sederet bintang-bintang muda lainnya,
termasuk Dr Arief Budiman yang ahli genetika tanaman
dari LIPI, Ahmiyul Rauf,  Yassierli Icel (Presiden
IMSA), Dodi Heryadi, Elan Satriawan yang calon doktor
dalam ilmu ekonomi pembangunan dari Michigan State,
dosen ekonomi UGM Yogya, dan sejumlah nama
lain-lainnya yang tidak mungkin saya menyebutkan satu
per satu.  

   Karena Muktamar sekaligus adalah juga memilih
Presiden IMSA yang baru, maka terpilihlah secara
aklamasi kawan akrab kami dekatan rumah di Family
Housing di Ann Arbor, yang oleh isteri saya selalu
memanggilnya dengan panggilan kesayangan: Nak Endro.
Nak Endro yang calon doktor di bidang teknik sivil ini
disenangi oleh semua orang dan tergolong yang shaleh
dan zuhud walau berangkat dari latarbelakang keluarga
abangan, katanya. Anaknya Salma yang cantik yang belum
satu tahun, perempuan, dan isteri: Cahya yang muslimah
berjilbab, ahli farmasi, telah menjadi bahagian dari
kehidupan kami hari-hari selama di Ann Arbor ini.

   Seperti di Orlando juga, kamipun menyempatkan diri
melihat-lihat kota Atlanta yang dikatakan sebagai
pusat kegiatan dari The New South. Di Atlanta inilah
pusatnya Coca Cola dan pusat jaringan CNN.  Kamipun
sempat melihat Stone Mountain Park di luar kota;
sebuah bukit batu granit yang massif yang menjadi
obyek turisme. Dengan kereta kabel orang naik ke
atasnya. Sambil naik kita lalu bisa menyaksikan
pahatan raksasa dari tiga jenderal konfederat Selatan
sedang menunggang kuda. Pahatannya diselesaikan dalam
waktu sepuluh tahun. Di atas bukit batu raksasa itulah
kami � saya, Anis Baswedan dan Elan � shalat zuhur dan
ashar jama� qashar berjamaah; sebuah peristiwa yang
rasanya akan sukar dilupakan. 

   Di Atlanta itupun kami sempat bershalat Jum�at
beramai-ramai di sebuah mesjid yang tadinya adalah
sebuah klub pemuda minum-minum dan berdansa. Seorang
dokter wanita asal Pakistan lalu membeli bangunan itu
dan menjadikannya jadi mesjid. Khalil Abdur Rashid,
anak muda African American, 28 tahun, fasih berbahasa
Arab, dan mendalami ilmu agama Islam di Yaman, yakni
di sekolah yang banyak didatangi oleh anak-anak
keturunan Arab dari Indonesia, adalah khatib waktu
itu. Dengan pakaian jubah ala Arab dan badan yang
tinggi semampai serta terlihat berwibawa, Khalil
mengucapkan khutbahnya dengan lancar tanpa teks. Allah
mentakdirkan, kami bersalaman dan bercakap-cakap
sesudah Jum�at dengan Khalil, dan Khalil pula dengan
isterinya yang datang ke hotel membawa kami berkunjung
ke rumahnya; ngobrol panjang lebar, untuk kemudian
mengantarkan kami sorenya ke airport. Khalil dengan
isteri dan suami kakaknya yang juga taat dan fasih
berbahasa Arab insya Allah akan membaktikan dirinya
musim panas yad mengajar Bahasa Inggeris dan Bahasa
Arab di Madrasah Sumatera Thawalib Parabek. Insya
Allah. Di Parabek sekarang sedang terjadi perubahan
besar-besaran di mana Bahasa Arab dan Inggeris
diajarkan secara aktif. Setelah tiga sampai enam
bulan, apalagi setahun, anak-anak Parabek sekarang
sudah bisa berbahasa Arab dan Inggeris secara aktif.
Mencengangkan!

   Satu hal yang menarik sebelum kami mengakhiri
cerita oleh-oleh perlawatan ruhani ke Selatan ini
ialah: karena kami ini orang Padang, kami menemukan
begitu banyak orang asal Padang dalam Muktamar,
termasuk bahkan ada yang dari Malaysia sendiri.
Katanya dari Pekanbaru, dari Palembang, dari Jakarta,
dari KL, dari sana, dari sini, tetapi selalu
diujungnya dikatakan: tetapi saya ini orang Padang,
atau orang tua kami berasal dari Padang. Maksudnya
tentu saja: Sumatera Barat. Memang sebuah fenomena
menarik: asal sudah ada kaitannya dengan agama, entah
itu di Muhammadiyah, di HMI, Wanita Islam, di manapun,
berkerumunlah orang asal Padang di dalamnya. Satu
fenomena yang menunjukkan bahwa agama bagi orang
Padang atau Minang adalah bagaikan lampu yang
menerangi di tengah malam buta dari perjalanan
kehidupan  ini.  

   Hal yang sama secara spiral bahkan terjadi pada
kawasan wahana yang makin luas dan makin luas. Yang
mempertemukan orang Indonesia yang satu dengan yang
lainnya, bahkan dengan orang Malaysia sekalipun, tak
perduli dari manapun asal dan sukubangsa serta bahasa
dan budayanya, mereka semua bisa bersatu dalam Islam.
Islam menjadi daya pikat dan faktor pemersatu yang
kuat yang tidak hanya bersifat lokal dan regional tapi
juga internasional dan global. Ummat Islam
dipersatukan oleh ajaran persaudaraan yang hakiki.
Innamal mukmin�na ikhwah. Fa ashliĥ� baina
akhawaikum. Bahwa orang-orang Mukmin itu bersaudara;
maka berbaik-baikanlah kamu di antara sesama
saudaramu. Persaudaraan dalam Islam bersifat inklusif:
tanpa pandang bulu, rona, suku, bangsa, bahasa,
budaya, apapun. 

   Itulah suasana yang kami baca dan rasakan di
Muktamar. Dan itu pula yang kami baca secara lebih
luas lagi, dan sekarang mendunia, dari yang kami
saksikan dan alami sendiri di Innaugural Conference
UHF di Orlando itu, yaitu: Persahabatan sedunia yang
dipersatukan oleh Islam. Persaudaraan itu bukan hanya
antara sesama Islam tetapi dengan sesama ummat manusia
dan makhluk lainnya sekalipun. 

   Tepat sekalilah tema yang mereka pampangkan di
Konferensi Orlando itu: Islam for Humanity � Islam
bagi Kemanusiaan � dan Islam yang raĥmatan lil
��lam�n. 

   Sebuah perlawatan ruhani yang sangat mengesankan
kami. 

   All�hu Akbar! 

   *
   
 
  


__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Hotjobs: Enter the "Signing Bonus" Sweepstakes
http://hotjobs.sweepstakes.yahoo.com/signingbonus
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke