Buat TS Dr.rer.nat.Effendy Delux Putra
Selain tulisannya, saya ingin Anda mengenal Rantau net agar Anda lebih tahu lagi 
dengan tanah leluhur kita MIangkabau yang indah ! 
--

--------- Original Message ---------

DATE: Fri, 16 Jan 2004 08:19:12
From: Mochtar Naim <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],[EMAIL PROTECTED], [EMAIL 
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL 
PROTECTED],[EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]

>PERLAWATAN RUHANI KE SELATAN
>
> 
>
>Mochtar Naim
>Fulbright Visiting Research Scholar,
>Center for Southeast Asian Studies, 
>University of Michigan, Ann Arbor, MI, USA,
>31 Desember, 2003
> 
>
>DI musim pakansi di akhir Desember 2003 ini kami
>suami-isteri memutuskan untuk melakukan wisata ruhani
>ke Selatan. Kebetulan ada dua undangan yang beriringan
>datang. Satu menghadiri Innaugural Conference dari UHF
>(Universal Heritage Foundation) di Kissimmee, Orlando,
>Florida, dan satu lagi menghadiri Muktamar Tahunan
>dari IMSA (Indonesian Muslim Students Association) dan
>MISG (Malaysian Islamic Study Group) di Peachtree
>City, Atlanta, Georgia. 
>
>   Innaugural Conference dari UHF berjalan dari tgl 19
>s/d 21 Desember, sementara Muktamar atau Konvensi
>Tahunan se Amerika Utara (termasuk Kanada) dari IMSA
>dan MISG dari tgl 24 s/d 28 Desember. Kedua-duanya
>sangat menarik dan memberikan kesan yang sangat
>mendalam.
>
>   Innaugural Conference dari UHF bertujuan untuk
>memulai sebuah langkah besar dari proses pemantapan
>keislaman dari komuniti Islam di daerah Florida. Islam
>yang telah mulai merambat dalam masyarakat Amerika di
>Florida ingin hendak memperkenalkan diri lebih jauh
>lagi ke dalam masyarakat Amerika yang berbilang suku,
>bangsa dan agama ini. Sejauh ini masyarakat Islam
>telah ada di tengah-tengah kelompok migran dari
>negeri-negeri Arab di Timur Tengah, dari negeri-negeri
>di benua kecil India, yakni Pakistan, India,
>Bangladesh dan Srilanka, dari Amerika Serikat sendiri,
>terutama dari kelompok sukubangsa African-American,
>atau Negro dahulu kita menyebutnya, di samping, masya
>Allah, menakjubkan, dari negeri-negeri yang selama ini
>tidak disangka Islam akan juga muncul, yaitu Amerika
>Latin, yang di Selatan di Amerika Serikat, mereka
>merupakan kelompok migran terbesar. 
>
>   Namun, seperti biasanya, tidak ada jalan yang mulus
>ke surga. Begitu orang mengatakan. Dekat akan
>dimulainya Innaugural Conference dari UHF itu,
>surat-surat kabar, radio dan televisi di daerah
>Florida telah heboh mengabarkan bahwa kelompok
>�terrorists� akan mengadakan perjumpaan akbar di
>kompleks yang baru mereka beli di kawasan Kissimmee,
>di daerah suburbnya pusat pariwisata Orlando. 
>
>   Kebetulan, memang, sebuah mata rantai dari jaringan
>perhotelan Ramada Inn yang dimiliki oleh kelompok
>Yahudi itu, bankrut, karena tidak mampu mengembalikan
>hutangnya ke bank pemerintah. Persil dengan segala
>macam bangunan dan isi yang ada di dalamnya dalam
>areal seluas 13 hektar yang sangat luas terpaksa
>dilelang. Allah mentakdirkan, ada saja seorang dokter
>dermawan berasal Pakistan yang membelinya, dan
>langsung menyerahkannya kepada UHF untuk dikelolakan
>menjadi sebuah pusat keislaman, lengkap dengan
>sekolah-sekolah, lapangan olah raga, komuniti senter,
>dan mesjid tentunya.
>
>   Begitu tersiar bahwa kelompok Islam di Orlando,
>Florida, ini mau mengadakan perjumpaan akbar, untuk
>memulai langkah untuk membangun kompleks bekas Ramada
>Inn ini menjadi sebuah pusat komuniti Islam, mereka
>langsung berteriak: �Kelompok terrorist Islam masuk!
>Keristen dan Yahudi terdepak keluar!� (Muslim
>terrorists in, Christians and Jews out!) 
>
>   Akibatnya, perjumpaan yang dirancang semula akan
>diadakan di kompleks UHF itu, di saat-saat terakhir
>terpaksa dialihkan ke sebuah kompleks arena olah raga
>yang dijaga ketat oleh polisi. Setiap pengunjung yang
>masuk digeledah dengan luar biasa seksama. Barakahnya,
>Allah swt memperlihatkan, justeru karena dijaga ketat
>itu pula maka perjumpaan dan persidangan berjalan
>dengan aman dan tertib, dan seluruh acara berjalan
>dengan lancar tanpa halangan apapun. 
>
>   Yang sangat mengagumkan adalah pembicara demi
>pembicara yang tampil ke depan yang sangat memukau.
>Dengan kefasihan berbicara, dengan retorika yang juga
>dibumbui dengan bahasa badan (body language) yang
>lincah dan menarik, dan sekaligus kedalaman isi dan
>pesan yang disampaikan, selama tiga hari yang padat,
>pengunjung dan peserta disuguhi dengan bermacam pesan
>dan ajakan, yang semuanya bermuara pada ajakan untuk
>bertaqwa kepada Allah dan melaksanakan ajaran Islam
>dengan bersungguh-sungguh di negeri yang baru dimasuki
>oleh Islam itu. Dalam menatap ke masa depan Islam di
>benua baru itu bagaimanapun perlu persatuan dan
>kesatuan langkah dengan bermacam program dan agenda
>untuk perkembangan dan kejayaan Islam, di Amerika. 
>Para pembicara hampir semuanya berpendidikan tinggi
>yang sebagian terbesar datang dari lingkungan kampus
>dari berbagai penjuru Amerika. Ada yang ahli biologi,
>kimia, fisika, ekonomi, hukum, politik, budaya, agama,
>dsb.
>
>   Memang, salah satu dari keistimewaan migran Muslim
>di Amerika ialah bahwa sebagai akibat dari brain drain
>atau pelarian intelektual dari berbagai negara muslim
>di dunia, para migran Muslim di Amerika  memiliki
>lapisan yang tebal dari kelompok intelektualnya.
>Banyak dari mereka yang menjadi professor dan peneliti
>di berbagai universitas, yang menjadi dokter, insinyur
>dan pekerja otak lainnya di berbagai lembaga publik
>maupun swasta, dan tentu saja, ribuan mahasiswa dari
>hampir semua negeri-negeri Islam di dunia berdatangan
>belajar di Amerika. Termasuklah hamba yang dhaif ini
>yang lagi bercerita menceritakan pengalaman perjalanan
>rohaninya ini.
>
>   Dari sekian banyak pembicara yang naik ke mimbar
>saling silih berganti, ada tiga orang yang rasanya tak
>pernah akan kami lupakan. Pertama, seorang insinyur
>ahli komputer dan perlistrikan, doktor-pensyarah dari
>sebuah universitas di upstate New York, yang kebetulan
>namanya juga sama dengan nama saya: Mukhtar al ... apa
>begitu (oh ya, Mukhtar Maghroui, setelah melihat
>namanya di buku panduan Konferensi kembali) yang
>menunjukkan bahwa ia berasal dari Algeria. Si Mukhtar
>ini � memang dia jauh lebih muda dari saya � ke
>mana-mana selalu pakai pakaian khas Aljazair yang
>berkantong kepala di belakang jubahnya, dengan jambang
>dan jenggut yang cukup manis dan rapi di mukanya yang
>putih bersih dan dengan pembawaan yang sedang. Dari
>gerak-gerik serta cara dia membawakan dirinya
>kelihatan sekali bahwa dia seorang sufi yang zuhud.
>
>   Dalam pembicaraannya dengan kami dia mengatakan
>bahwa di rumahnya dia tidak memiliki komputer � pada
>hal dia ahli komputer.  Ketika kami tanyakan kenapa
>seorang yang doktor dan profesor seperti dia tidak
>memiliki komputer di rumahnya?  Langsung dia menjawab
>bahwa dia takut akan mengurangi zikirnya kepada Allah
>bila dia mempunyai komputer.  �Itu pernah terjadi pada
>saya ketika di rumah saya ada komputer dan akhirnya
>saya terlambat shalat.� Komputer hanya ada di kantor
>tempat dia kerja, tetapi di rumah untuk zikir dan
>membaca buku-buku dan menghafal Al Qur`�n, di samping
>dengan keluarga.  Siapa yang tahu dia, ke manapun dia
>pergi, selalu orang akan tunduk dan hormat kepadanya. 
>
>   Si Mukhtar inilah yang menjelaskan dengan cara yang
>sangat gamblang sekali dan dengan bahasa dan retorika
>yang sangat fasih dan memukau, fungsi dari hati dalam
>kehidupan manusia di dunia ini. Al Qalb, atau qul�b
>jamaknya, dikupas dengan sangat mendalam bahwa qalb
>memang adalah sentrum dari seluruh pusat kegiatan
>kehidupan dari sang manusia yang bertaqwa di dunia di
>muka bumi ini. Demikian menentukannya fungsi hati ini
>sehingga otak yang begitu perkasa dan dipuja-puja di
>dunia ilmu di Barat dan di Timur pada akhirnya juga
>harus tunduk kepada qalb ini. Kalau otak dibiarkan
>jalan sendiri tanpa kendali dari hati, dunia yang
>hanya dituntun oleh otak ini akan kacau-balau, seperti
>yang kita lihat dan saksikan sekarang ini. Otak yang
>cemerlang hanya akan membawa kebaikan manakala
>dikendalikan oleh hati yang senantiasa ingat akan
>Allah: Al� bidzikrill�h tathmainnal qul�b � Hanya
>dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram --
>(Ar Ra�d 28). Otak yang jalan dan lari sendiri tanpa
>bimbingan hati maka kerusakanlah yang terjadi.
>Zhaharal fas�du fil barri wal ba&#293;ri bim� kasabat
>aidin n�s � Telah nyata nampak kerusakan di darat dan
>di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia (yang
>dikendalikan oleh akal dan hawa nafsunya semata), Ar
>R�m 30.  Itulah dia peperangan, pergaduhan, pencemaran
>lingkungan, perusakan akhlak dan tata kehidupan
>sosial-budaya, dsb, yang sekarang meruyak terjadi di
>mana-mana.
>
>   Dengan si Mukhtar ini saya sempat berdialog sambil
>makan siang mengenai pekerjaan pengklasifikasian
>ayat-ayat Al Qur`�n secara tematik yang saya lakukan
>di Univ of Michigan di Ann Arbor sekarang ini.  Dia
>juga mengakui bahwa setahu dia belum ada upaya
>pengklasifikasian seperti yang saya lakukan sekarang
>ini, yang pengklasifikasiannya dikelompokkan menurut
>jalur pembagian ilmu pengetahuan seperti yang ada
>sekarang; kendati dalam bentuk lain dalam sistematika
>yang lain memang telah ada. 
>
>   Tiap kali saya mengingatkan si Mukhtar yang
>Aljazair ini yang terbayang oleh saya adalah Aak Gim
>(Abdullah Gimnastiar) dari Darut Tauhid, Geger Kalong,
>Bandung, yang sekarang namanya telah meroket ke
>seantero Nusantara, dan sekarang bahkan santer
>dicalonkan oleh para pengagumnya menjadi calon
>Presiden RI yad. Aak Gim dalam berdakwah pendekatannya
>adalah juga pendekatan hati: Qalbun Salim � hati yang
>bersih, tenteram dan damai. Begitu juga dengan Aak
>yang lainnya yang namanya sekarang juga sedang
>melejit: Aak, atau Akang, Hari Ginanjar, yang mencari
>perpaduan dan keserasian antara otak dan hati, antara
>reason dan emotion. Kalau Aak Gim padanannya adalah
>Mukhtar yang Aljazair, Kang Hari padanannya adalah
>Harun Yahya yang Turki.
>
>   Kedua si Malik. Imam Abdul Malik adalah seorang AA
>(African American), muda, tampan, necis, parlente,
>berdasi, botak, lincah, yang sekarang menjadi
>penganjur Islam di tengah-tengah masyarakat AA di kota
>New York, dan memimpin sebuah mesjid di New York di
>mana dia menjadi imamnya. Makanya dia dipanggil, dan
>memanggilkan dirinya, Imam Abdul Malik. Kelebihan dari
>Imam Abdul Malik ini ialah ia fasih berbahasa Arab dan
>hafal Al Qur`�n. Di mana dia dapatkan ini sehingga dia
>ngomong seperti orang Arab saja? Dari Universitas
>Ummul Qur� di Makkah. Bayangkan, dia bisa berpidato
>berjam-jam tanpa kita mengerinyitkan mata sepejampun.
>Kita seperti dihela ke pelupuk matanya. Inggerisnya:
>mesmerized dan mesmerizing. Sungguh memukau!
>
>   Memang, salah satu dari ciri khas orang Negro alias
>AA ini ialah mereka kuat sekali dengan bahasa badan
>itu. Ngomong juga kadang sambil bergoyang dan menari,
>dengan tangan, mata, kepala sampai ke badan, pinggul
>dan kakipun semua bergoyang. Bayangkan saja seorang
>Negro dengan seni poetik Rap-nya. Dan dia
>menaik-menurunkan suaranya tepat pada mat-matnya,
>mengalahkan Zainuddin MZ segala. Apalagi kalau orang
>hitam bicara cenderung seperti bersenandung dengan
>dialek dan intonasinya yang khas.
>
>   Imam Abdul Malik inilah sekarang yang sedang jadi
>phenomenon, menghoyak masyarakat hitam di benua
>Amerika, melanjutkan pekerjaan yang ditinggalkan oleh
>Asy Syahid Malcolm X.
>
>   Ketiga, seorang evangelik Protestan: Reverend
>Ronald something.  Saya lupa nama familinya (Oh, ya,
>Rev. Ronald Young). Ini makhluk Ron atau Ronnie ini
>lain pula memukaunya. Dia, seperti kebanyakan orang
>Amerika lainnya, tinggi semampai, tua tidak muda
>terlampau, dan sangat elokuen sekali dalam bahasa
>retorik kegerejaannya. Dia sekarang memimpin
>organisasi interfaith, kerukunan antar-agama, yang
>bercorak dunia, di kota New York. Dalam pidatonya dia
>selalu menekankan pada perlunya ada kerukunan antar
>ummat beragama itu. Dia mengerti banyak dengan Islam
>dan ummat Islam, karena dia pernah berada di
>tengah-tengah masyarakat Arab di Siria, Yordania,
>Palestina, dsb, dalam melaksanakan tugas-tugas
>evangelikalnya.
>
>   Reverend atau Rama Ronald ini memang sengaja
>diundang, bukan saja karena sikap simpatik dan
>kedekatannya kepada komuniti Islam tetapi juga karena
>misi kedamaiannya yang juga perlu disebar dan
>dikembang-luaskan di negara bagian Florida dan Amerika
>umumnya bersama-sama dengan kelompok Islam dll. Adalah
>sebuah sikap dengan strategi yang jelas dari kelompok
>Islam di Florida ini yang ingin damai dan bersahabat
>dengan semua kelompok agama manapun di daerah itu.
>Kelompok Islam melalui dakwah dan amal-nyatanya ingin
>memperlihatkan dan membuktikan kepada masyarakat
>Amerika dan Barat umumnya bahwa Islam itu adalah agama
>damai dan ra&#293;matan lil ��lam�n, rahmat bagi
>sekalian alam. 
>
>   UHF sendiri punya gagasan dan rencana besar yang
>akan dimulainya di bekas kompaun atau persil Ramada
>Inn itu. Peserta Konferensi diajak berkeliling melihat
>kawasan Ramada Inn yang memang luas itu, karena di
>sana tidak hanya ada bangunan-bangunan yang terkait
>erat dengan kamar-kamar tamu, front-desk, ruang
>resepsi, perkantoran, dapur perhotelan lengkap, dan
>segala macam itu, tetapi juga ada sekolah manajemen
>perhotelannya, dan di belakangnya di samping kolam
>renang juga ada hamparan-hamparan luas untuk olah raga
>football, basket ball, golf, dsb. Dalam
>ruangan-ruangan itu juga bertumpuk alat-alat komputer
>dan elektronik canggih lain-lainnya.
>
>   Pengurus UHF merencanakan akan membangun Islamic
>Center yang lengkap dengan mesjid dan persekolahannya,
>dari TK sampai ke PT. Karena itulah mereka mengundang
>pemuka-pemuka Islam dari berbagai penjuru Amerika
>untuk memulai langkah besar itu dengan sebuah
>Innaugural Conference. Kegiatan fundraising tentu saja
>adalah bagian tak terpisahkan dari Innaugural
>Conference itu, yang dengan cara menarik mereka
>berhasil mengumpul dana dalam jumlah ratusan ribu
>dollar dari pengunjung dan peserta. Waktu acara
>pengumpulan dana diadakan, Brother Malik yang orator
>itu sempat juga nyeletuk sambil berkelakar dari
>mimbar, yang dia mengambil alih dalam kampanye
>fundraising itu, yang memperbandingkan gaya orang Arab
>dengan orang Yahudi. Orang Arab dalam beramal
>cenderung memberikan wang recehan dari kelipit-kelipit
>saku atau dompetnya, sementara orang Yahudi Amerika
>dalam membantu perjuangan orang Yahudi di Israel dan
>di mana-mana, dalam jumlah miliunan dollar setiap kali
>kucur.
>
>   Demikianlah hotel Howard Johnson di Kissimmee dekat
>kompaun UHF kami tinggalkan dengan penuh kesan
>spiritual. Dengan taksi 25 dollar, siang sehabis
>penutupan Konferensi, Minggu tgl 21/12, kami pindah ke
>Magic Castle, masih di  jalur jalan panjang yang sama,
>tetapi lebih dekat ke Disney World dan Universal
>Studios. Selang beberapa jam kemudian, Eka, Lisa dan
>kedua anak lelaki mereka: Faiz dan Angga, sesuai
>dengan jadwal dan rencana semula, dengan nyetir
>sendiri jalan darat dari Detroit ke Orlando, sampai di
>hotel yang sama. Eka (Dr Bhinneka Muharram Kristanto)
>dan Lisa (Dr Lisa Kristanto), yang setelah menamatkan
>studi doktornya di U of Michigan di Ann Arbor,
>sekarang bekerja di GM di Detroit.  Mereka sekeluarga
>sangat ramah dan suka membantu, dan yang dalam
>pemilihan pengurus pengajian Michigan kemarin ini
>terpilih jadi Ketua Pengajian menggantikan Rifki
>Ismal, kiriman Bank Indonesia untuk mengambil master
>dalam bidang ekonomi yang baru tamat, dan harus segera
>pulang ke tanah air bersama isteri yang sedang hamil
>enam bulan dan yang sama-sama dari Padang. Rifki
>inilah yang banyak membantu kami sejak dari mula
>kedatangan sampai saat mereka bilang sayonara kepada
>kami semua. Kami antarkan mereka berdua ke airport
>Detroit untuk terbang kembali ke Indonesia.   Bersama
>dengan Eka sekeluarga kami dibawa keesokan harinya ke
>Universal Studios, dan keesokannya lagi ke Kennedy
>Space Center. Kami tak ikut ke Disney World dll karena
>cukup mahal juga (50 sekian dollar per orang) di
>samping kami sudah pernah melihat yang di Los Angeles
>dan Tokyo. Bagi orang tua yang sudah dekat ke pintu
>kubur seperti kami sekarang ini hiburan rohani
>kayaknya seperti lebih menarik dari hiburan duniawi.
>
> 
>*
>
>   Ke Atlanta, Georgia.
>
>   Dengan diantar oleh Eka sekeluarga ke airport,
>dalam satu setengah jam naik pesawat Delta Air kami
>sudah sampai di Atlanta. Di International Airport
>Atlanta kami sudah ditunggu oleh Panitia Muktamar. Ada
>tiga orang dari Panitia yang menjemput, yang kebetulan
>semuanya dari Malaysia. Mereka memang kebagian di
>bagian penjemputan dan transportasi, kendati mereka
>sendiri masing-masingnya datang dari berbagai
>universitas yang berbeda dan saling berjauhan. Dan
>merekapun bahkan baru datang ke Atlanta di pagi yang
>sama. Kecanggihan IT telah membikin semua jaringan
>komunikasi dan koordinasi menjadi mudah dan efisien,
>karena yang namanya Panitia Muktamar itupun berserakan
>di hampir semua penjuru Amerika bagian Utara, termasuk
>Kanada. Melalui hubungan maya berimel-imelan mereka
>siapkan semua yang diperlukan. Memang, termasuk
>kamipun dibantu oleh Eka membelikan tiket pesawat dan
>memesan hotel dengan email; dan itupun dengan bidding,
>artinya dengan tawar-menawar untuk mendapatkan harga
>yang terendah. Harga tiket pesawat untuk tujuan yang
>sama bisa berbeda-beda menurut waktu dan jam yang
>berbeda. Biasanya makin dekat jarak pemesanan makin
>mahal harganya, dan begitu sebaliknya. Juga berbeda
>harga yang untuk pagi dengan siang dan malamnya,
>sebagaimana berbeda yang untuk wik-en dengan yang hari
>kerja biasa.  
>
>   Ternyata di Atlanta inipun juga terjadi pergeseran
>tempat yang mendadak secara tiba-tiba seperti yang
>kami alami di Orlando. Semula direncanakan di Holiday
>Inn, di suburb Decatur, Atlanta. Waktu
>dikonfirmasikan, ternyata mereka mengatakan bahwa
>pemakaian ruang resepsi bayarannya tersendiri;
>sementara panitia semula beranggapan  bahwa itu sudah
>termasuk. Karena bedanya banyak sekali, mereka
>mendadak harus cari tempat lain, yang kebetulan
>mendapatkan Peachtree City Resort Hotel yang
>fasilitasnya lebih lengkap dan kualitasnya lebih
>bagus, di samping harganyapun lebih murah, dengan
>fasilitas ruangan resepsi dan sidang-sidang semua
>gratis jika mencharter kamar di atas sejumlah sekian.
>Untung saja Holiday Inn sendiri yang bilang, kalau
>tidak setuju tidak apa tidak jadi dan kamu silahkan
>mencari yang lain. Di Peachtree Resort Hotel ini
>kamar-kamarnya semua kamar berbintang empat dan
>fasilitasnya sangat lengkap.  Semua merasa berterima
>kasih kepada Allah karena di saat-saat terakhir pindah
>ke hotel yang lebih baik, lebih nyaman dan lebih
>bagus, di samping juga lebih murah.
>
>   Empat hari Muktamar berlangsung, yakni dari tgl 24
>Desember, Rabu, sampai tgl 28-nya, Minggu, pada waktu
>semua sekolah dari TK sampai universitas di seluruh
>negeri libur. Muktamar atau Konvensi ini sendiri telah
>berumur panjang ke belakang. Dalam catatan Panitia,
>Muktamar ini adalah yang ke 27 kalinya yang dilakukan
>setiap tahun sejak tahun 1976 oleh MISG dan yang
>kelima kalinya bergabung dengan IMSA. Sebelumnyapun,
>Konvensi tahunan yang diadakan oleh MISG sejak 1988
>dan 1989 juga telah ikut dihadiri oleh sejumlah ikhwan
>dan akhwat dari Indonesia. Dengan jumlah pengikut dari
>Indonesia yang makin banyak setiap tahunnya maka sejak
>lima tahun yang lalu itu diputuskanlah untuk melakukan
>konvensi gabungan secara bersama. Konvensi tahunan ini
>mengambil tema yang berbeda dari konvensi ke konvensi,
>dengan tempat lokasi yang juga berbeda. Tahun 2002 yl
>diadakan di Holiday Inn Select di Columbia, Missouri. 
>
>   Di Muktamar atau Konvensi pertama tahun 1976 di
>Peoria, Illinois, itulah MISG didirikan, sementara
>IMSA berdiri tgl 29 Des 1998 di Jefferson City,
>Missouri, di tengah-tengah konvensi tahunan MISG di
>sana. Sejak itu sampai saat ini, dan mudah-mudahan
>berlanjut seterusnya, konvensi tahunan selalu bersifat
>gabungan antara dua suku Melayu serumpun itu. Bisa
>dibayangkan, walau sikit-sikit dialek dan aksennya
>berbeda [Malaysia: berbeza], dan lagu-lagaknya, karena
>latar belakang perkembangan sejarahnya, kadang-kadang
>juga berbeza, namun di konvensi seperti itu terasa
>sekali bahwa [Mal: bahawa] kedua suku bangsa itu
>sebenarnya adalah satu. Tali yang mengikatnya bukan
>hanya suku dan budaya, tapi terutama adalah juga
>agama. 
>
>   Kelompok Indonesia sendiri di Amerika Utara
>(termasuk Kanada), sejak berdirinya IMSA th 1998 itu,
>cenderung bersibak dua: yang Islam ke IMSA dan yang
>non-Islam tetap di Permias. Yang Islam sebagian besar
>kiriman pemerintah yang mengambil program studi
>graduate, S2 dan S3, sementara yang non-Islam sebagian
>terbesar kiriman orang tua, dan mengambil program
>studi sejak undergrad, S1. Sebagai gambaran, di
>University of Michigan tempat saya bergabung sekarang
>ini, konon ada ratusan mahasiswa Indonesia, di mana
>semua, kecuali yang tingkat graduate yang jumlahnya
>hanya lima orang, adalah non-muslim warga keturunan
>Cina. Gambaran yang sama boleh dikata sifatnya
>menyeluruh untuk seluruh Amerika dan Kanada.  Ada
>ribuan mahasiswa Indonesia tetapi hanya ada sejumlah
>yang sangat kecil saja yang pribumi dan Islam,
>sementara yang selebihnya keturunan Cina dan
>non-Islam. Dari pengamatan saya, antara kedua kelompok
>ini hamir tidak ada komunikasi dan jarang bersua. Tiap
>kali Permias mengadakan kegiatan apa-apa, yang
>menonjol adalah warga keturunan itu, yang di antara
>sesama mereka tetap masih mempergunakan Bahasa
>Indonesia dengan dialek Jakarta sebagai bahasa
>komunikasi hari-hari mereka ke dalam. Di luar Permias,
>siapapun akan sukar membedakan mana mereka yang
>Chinese yang dari Indonesia, mana yang dari Malaysia,
>Singapura, Thailand, Filipina, dan dari tanah leluhur
>Cina, Taiwan dan Hong Kong sendiri. Orang tentu saja
>bisa menerka, semua ini berpangkal dari ketimpangan
>ekonomi dan sosial-budaya yang telah berakar dalam
>masyarakat Indonesia dan Asia Tenggara lainnya selama
>ini, selain juga proses migrasi Nan Yang yang sudah
>panjang ke belakang. 
>
>   Tetapi hal yang sedikit berbeda kita temukan dengan
>kawan-kawan Melayu dari Malaysia. Mereka dikirim oleh
>pemerintah dalam jumlah ratusan, kalau tidak ribuan,
>setiap tahunnya ke berbagai negara maju, termasuk
>Inggeris, Australia, Jerman, Perancis, di samping AS
>sendiri dan Kanada, dan memulainya dari tingkat
>undergrad. Dan ribuan sudah yang pulang dan mengambil
>tempat-tempat penting di pemerintahan dan swasta. 
>Mereka itulah yang turut membangun Malaysia Baru dan
>mengangkatkannya ke taraf seperti yang kita lihat
>sekarang ini. Pemerintah Malaysia sendiri tidak
>segan-segan mengeluarkan biaya pendidikan sampai lebih
>dari seperempat dari seluruh biaya pembangunan negara.
>Untuk dibandingkan, Indonesia sampai saat ini masih
>menganggarkan biaya pendidikan jauh di bawah 10 %,
>walau secara tertulis melalui DPR telah komit untuk
>mengeluarkannya sebanyak 20 %. Dalam bidang pendidikan
>saja Indonesia kelihatan sudah sangat kedodoran
>dibanding dengan negara-negara tetangga lainnya.
>
>   Muktamar sendiri selama lima hari itu berjalan
>siang malam, yang setelah upacara pembukaan di malam
>hari pertama, dimulai dengan shalat qiyamul lail
>sebelum masuk waktu subuh keesokan harinya. Subuhnya
>di musim dingin di bulan Desember ini dimulai jam
>06.00 pagi dan terbit matahari jam 07.00 lebih.
>Selesai shalat shubuh berjamaah, langsung tadzkirah;
>kemudian breakfast, eh makan pagi, dan mulai jam
>delapan setengah sampai bersambung terus sampai pukul
>10.00 malam. Berhentinya cuma untuk shalat dan makan
>bersama. Makanannya dimasakkan oleh seorang ibu
>keturunan campuran Cina dan Melayu dari Malaysia. Ibu
>yang berbadan subur ini buka restoran di luar di
>Atlanta dengan masakan Tiong Hoa muslim. Dan
>masakannya enaak tenan.
>
>   Demikianlah secara silih berganti acara demi acara
>digelar yang tema pokoknya adalah: �Sebuah Langkah
>Kecil dalam Perjalanan Panjang.� (Bandingkan: di
>Orlando di UHF dibilang: Sebuah Langkah Besar). Ada
>belasan pembicara dengan belasan topik yang semua
>terkait kepada tema pokok itu. Ada pembicaraan yang
>sifatnya ceramah, ada yang panel diskusi, ada yang
>khas untuk wanita, untuk anak-anak, dari Kinder Garten
>ke High School, dan ada yang sifatnya akademik di
>samping yang populer. Malam terakhir ditutup dengan
>pertunjukan kesenian secara spontan dan dadakan,
>dengan peersiapan hanya sekedar satu-dua jam
>sebelumnya. Tapi, mind you, justeru karena dadakan itu
>pula semua berjalan lucu dan berkesan. 
>
>   Sendirinya ada pembicara tamu dari luar anggota
>yang sengaja didatangkan, di samping yang dari anggota
>sendiri. Ada yang dari pihak Malaysia dan ada yang
>dari pihak Indonesia. Semula tokoh PKS Nur Mahmudi
>yang bekas Menteri Kehutanan di zaman Habibie akan
>datang. Tetapi rencananya berubah di saat-saat
>terakhir entah karena apa sehingga rencana lawatannya
>ke DC (Washington, DC) mendahului Muktamar ini untuk
>sebuah seminar yang diadakan oleh cabang PKS di
>Amerika Serikat, dengan dia sebagai keynote speaker,
>batal. Masa untuk berkampanye untuk Pemilu 2004
>mungkin masih terlalu dini, dan PKS tentu tidak mau
>disorakin untuk mendahului kampanye pemilu itu.
>
>   Semua pembicara tanpa kecuali mengesankan, dengan
>gaya yang berbeda dari yang satu ke yang lainnya.
>Tampak sekali penguasaan bahan di samping cara yang
>menarik dalam penyampaiannya. Bahasa yang dipakai
>cenderung gado-gado, Inggeris dan Indonesia atau
>Inggeris dan Malaysia. Tapi juga ada yang Inggeris
>semata, atau Indonesia semata dan Malaysia semata.
>Tergantung orangnya. Kecenderungannya, seperti
>diperkirakan, kawan Malaysia lebih merasa at home
>dengan berbahasa Inggeris daripada dengan Bahasa
>Melayu sendiri. Kita yang Indonesia sebaliknya. Orang
>Indonesia yang dari sononya sudah kedodoran bahasa
>Inggerisnya, manakala cakap Inggeris kualitas
>penyampaian cenderung menurun dan tergagap-gagap. 
>
>   Saya sendiri yang turut juga sebagai salah seorang
>pembicara menyampaikannya dalam Bahasa Indonesia.
>Topik yang saya ikut membawakannya yang berupa diskusi
>panel adalah: �Krikil-krikil dalam Perjalanan.� Yang
>dimaksudkan adalah faktor SWOT yang menghalangi orang
>melaksanakan tugas dakwah dan tugas mengamalkan ajaran
>agamanya. Saya bersebelahan dalam panel dengan Ustadz
>Syamsi Ali, Imam Mesjid Indonesia �Al Hikmah� di
>Queens, New York, dan Dr Osman Bakar dari Malaysia
>yang sekarang sebagai Malaysia Chair of Islam in
>Southeast Asia di Georgetown University di Washington,
>DC.
>
>   Kedua tokoh tamu ini adalah bintang lapangan di
>samping seorang ustaz dari Malaysia: Ustaz Abdul Haris
>bin Bain lulusan Azhar dan isterinya Ustazah Rosmawati
>Abdul Wahab yang guru dan ahli podium dari Kelantan.
>Ustadz Imam Syamsi Ali yang masih muda (36 th) adalah
>ulama intelek yang berasal dari Makasar dan pernah
>kuliah di International Islamic University di
>Islamabad, Pakistan.  Dengan bahasa dan cara
>membawakan masalahnya yang jernih dan sistematis tak
>ada orang yang akan tersinggung karenanya; sebaliknya
>malah sangat mengesankan. Apalagi kalau dia kebetulan
>yang jadi imam, bacaan ayat dalam shalatnya begitu
>bagus dan merdu; membikin orang menjadi khusyuk
>semuanya.  
>
>   Dari pihak anggota sendiri yang tampil sebagai
>pembicara tidak sedikit yang kajiannya mendalam yang
>juga memukau; apalagi kalau itu memang sudah
>bidangnya. Ada Cik Adnan Omar dari Malaysia yang ahli
>tentang masalah bunuh diri dan kajiannya memang
>tentang itu. Dengan bahasa Inggerisnya yang kuat dan
>retorikanya yang mengesankan orang-orang pada terpana
>mendengarkan dia berceramah. Dia juga suka mengisi
>tadzkirah sesudah subuh. Ada lagi Cik Dr Zaini  yang
>ahli kuman (mikrobilogi) dari Malaysia yang membahas
>secara mendalam masalah tasawuf yang dikaitkan dengan
>sains seperti kecenderungan si Mukhtar yang di Orlando
>itu. Penampilan dari Anis Baswedan yang sarjana ilmu
>politik yang cucunya Pak AR Baswedan yang saya kenal
>baik sewaktu masih di Yogya di tahun 1950-an dulu,
>adalah bintang muda punya harapan cerah ke masa depan
>di samping sederet bintang-bintang muda lainnya,
>termasuk Dr Arief Budiman yang ahli genetika tanaman
>dari LIPI, Ahmiyul Rauf,  Yassierli Icel (Presiden
>IMSA), Dodi Heryadi, Elan Satriawan yang calon doktor
>dalam ilmu ekonomi pembangunan dari Michigan State,
>dosen ekonomi UGM Yogya, dan sejumlah nama
>lain-lainnya yang tidak mungkin saya menyebutkan satu
>per satu.  
>
>   Karena Muktamar sekaligus adalah juga memilih
>Presiden IMSA yang baru, maka terpilihlah secara
>aklamasi kawan akrab kami dekatan rumah di Family
>Housing di Ann Arbor, yang oleh isteri saya selalu
>memanggilnya dengan panggilan kesayangan: Nak Endro.
>Nak Endro yang calon doktor di bidang teknik sivil ini
>disenangi oleh semua orang dan tergolong yang shaleh
>dan zuhud walau berangkat dari latarbelakang keluarga
>abangan, katanya. Anaknya Salma yang cantik yang belum
>satu tahun, perempuan, dan isteri: Cahya yang muslimah
>berjilbab, ahli farmasi, telah menjadi bahagian dari
>kehidupan kami hari-hari selama di Ann Arbor ini.
>
>   Seperti di Orlando juga, kamipun menyempatkan diri
>melihat-lihat kota Atlanta yang dikatakan sebagai
>pusat kegiatan dari The New South. Di Atlanta inilah
>pusatnya Coca Cola dan pusat jaringan CNN.  Kamipun
>sempat melihat Stone Mountain Park di luar kota;
>sebuah bukit batu granit yang massif yang menjadi
>obyek turisme. Dengan kereta kabel orang naik ke
>atasnya. Sambil naik kita lalu bisa menyaksikan
>pahatan raksasa dari tiga jenderal konfederat Selatan
>sedang menunggang kuda. Pahatannya diselesaikan dalam
>waktu sepuluh tahun. Di atas bukit batu raksasa itulah
>kami � saya, Anis Baswedan dan Elan � shalat zuhur dan
>ashar jama� qashar berjamaah; sebuah peristiwa yang
>rasanya akan sukar dilupakan. 
>
>   Di Atlanta itupun kami sempat bershalat Jum�at
>beramai-ramai di sebuah mesjid yang tadinya adalah
>sebuah klub pemuda minum-minum dan berdansa. Seorang
>dokter wanita asal Pakistan lalu membeli bangunan itu
>dan menjadikannya jadi mesjid. Khalil Abdur Rashid,
>anak muda African American, 28 tahun, fasih berbahasa
>Arab, dan mendalami ilmu agama Islam di Yaman, yakni
>di sekolah yang banyak didatangi oleh anak-anak
>keturunan Arab dari Indonesia, adalah khatib waktu
>itu. Dengan pakaian jubah ala Arab dan badan yang
>tinggi semampai serta terlihat berwibawa, Khalil
>mengucapkan khutbahnya dengan lancar tanpa teks. Allah
>mentakdirkan, kami bersalaman dan bercakap-cakap
>sesudah Jum�at dengan Khalil, dan Khalil pula dengan
>isterinya yang datang ke hotel membawa kami berkunjung
>ke rumahnya; ngobrol panjang lebar, untuk kemudian
>mengantarkan kami sorenya ke airport. Khalil dengan
>isteri dan suami kakaknya yang juga taat dan fasih
>berbahasa Arab insya Allah akan membaktikan dirinya
>musim panas yad mengajar Bahasa Inggeris dan Bahasa
>Arab di Madrasah Sumatera Thawalib Parabek. Insya
>Allah. Di Parabek sekarang sedang terjadi perubahan
>besar-besaran di mana Bahasa Arab dan Inggeris
>diajarkan secara aktif. Setelah tiga sampai enam
>bulan, apalagi setahun, anak-anak Parabek sekarang
>sudah bisa berbahasa Arab dan Inggeris secara aktif.
>Mencengangkan!
>
>   Satu hal yang menarik sebelum kami mengakhiri
>cerita oleh-oleh perlawatan ruhani ke Selatan ini
>ialah: karena kami ini orang Padang, kami menemukan
>begitu banyak orang asal Padang dalam Muktamar,
>termasuk bahkan ada yang dari Malaysia sendiri.
>Katanya dari Pekanbaru, dari Palembang, dari Jakarta,
>dari KL, dari sana, dari sini, tetapi selalu
>diujungnya dikatakan: tetapi saya ini orang Padang,
>atau orang tua kami berasal dari Padang. Maksudnya
>tentu saja: Sumatera Barat. Memang sebuah fenomena
>menarik: asal sudah ada kaitannya dengan agama, entah
>itu di Muhammadiyah, di HMI, Wanita Islam, di manapun,
>berkerumunlah orang asal Padang di dalamnya. Satu
>fenomena yang menunjukkan bahwa agama bagi orang
>Padang atau Minang adalah bagaikan lampu yang
>menerangi di tengah malam buta dari perjalanan
>kehidupan  ini.  
>
>   Hal yang sama secara spiral bahkan terjadi pada
>kawasan wahana yang makin luas dan makin luas. Yang
>mempertemukan orang Indonesia yang satu dengan yang
>lainnya, bahkan dengan orang Malaysia sekalipun, tak
>perduli dari manapun asal dan sukubangsa serta bahasa
>dan budayanya, mereka semua bisa bersatu dalam Islam.
>Islam menjadi daya pikat dan faktor pemersatu yang
>kuat yang tidak hanya bersifat lokal dan regional tapi
>juga internasional dan global. Ummat Islam
>dipersatukan oleh ajaran persaudaraan yang hakiki.
>Innamal mukmin�na ikhwah. Fa ashli&#293;� baina
>akhawaikum. Bahwa orang-orang Mukmin itu bersaudara;
>maka berbaik-baikanlah kamu di antara sesama
>saudaramu. Persaudaraan dalam Islam bersifat inklusif:
>tanpa pandang bulu, rona, suku, bangsa, bahasa,
>budaya, apapun. 
>
>   Itulah suasana yang kami baca dan rasakan di
>Muktamar. Dan itu pula yang kami baca secara lebih
>luas lagi, dan sekarang mendunia, dari yang kami
>saksikan dan alami sendiri di Innaugural Conference
>UHF di Orlando itu, yaitu: Persahabatan sedunia yang
>dipersatukan oleh Islam. Persaudaraan itu bukan hanya
>antara sesama Islam tetapi dengan sesama ummat manusia
>dan makhluk lainnya sekalipun. 
>
>   Tepat sekalilah tema yang mereka pampangkan di
>Konferensi Orlando itu: Islam for Humanity � Islam
>bagi Kemanusiaan � dan Islam yang ra&#293;matan lil
>��lam�n. 
>
>   Sebuah perlawatan ruhani yang sangat mengesankan
>kami. 
>
>   All�hu Akbar! 
>
>   *
>   
> 
>  
>
>
>__________________________________
>Do you Yahoo!?
>Yahoo! Hotjobs: Enter the "Signing Bonus" Sweepstakes
>http://hotjobs.sweepstakes.yahoo.com/signingbonus
>____________________________________________________
>Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
>http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
>____________________________________________________
>



____________________________________________________________
Get advanced SPAM filtering on Webmail or POP Mail ... Get Lycos Mail!
http://login.mail.lycos.com/r/referral?aid=27005
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke