Untaian Mutiara dari Qurban Ibrahim
AS.
A.N.M. Salman ( [EMAIL PROTECTED] )
Pada saat Idul Adha selain kita dianjurkan untuk mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid juga disunahkan untuk melaksanakan ibadah qurban. Suatu ibadah yang dilakukan untuk mengikuti keindahan dan keikhlasan amal dari kekasih Allah Ibrahim AS.
Nabi Ibrahim telah berhasil membuktikan betapa
dalam rasa cinta diantara hamba dengan Tuhannya. Rasa cinta yang membara,
membakar semua gejolak kecuali gejolak untuk berjumpa dan merasakan belaian
ridha Sang Maha Pecinta.
Apapun diberikan, apapun dipersembahkan demi
menggapai cinta-Nya. Jangankan harta, nyawapun telah lulus dari ujian. Gejolak
kemarahan Namrut dan bara api dunia yang panas tidak dapat membakar atau
melepuhkan kulit hamba yang dibalut dengan cinta-Nya. Api dunia terdinginkan
oleh desahan asmara antara hamba dengan Sang Khaliq.
Kemudian, Nabi Ibrahim membuktikan bahwa kadar
cintanya kepada Allah SWT melebihi kadar cinta kepada yang lain termasuk
kadar cinta dari seorang bapak terhadap anaknya. Seorang bapak yang telah
memasuki usia senja dan baru merasakan nikmatnya dikaruniai seorang belahan
jiwa, diuji kadar cintanya, diperintahkan untuk mengorbankan anak satu-satunya
demi bukti cintanya kepada Allah SWT. Suatu ujian yang amat berat, ujian
dari Cinta. Tetapi, Nabi Ibrahim menjawab ujian ini dengan sikap tidak ada yang
tidak mungkin, tidak ada yang tidak dapat diberikan demi Dia, Tuhan tempat
berlabuhnya cinta yang hakiki. Demikian indah sikap dan tindakan yang dilakukan
oleh Nabi Ibrahim sehingga rangkaian peristiwa monumental ini diabadikan dan
diceritakan oleh Allah dalam Al-Quran Surat Ash-Shaffat [37]:100-112.
Suatu cerita yang memuat untaian mutiara. Mutiara yang amat indah jika dapat
dimiliki oleh kita, umat manusia.
Pertama, jadikanlah Allah tempat berharap
dan yakinlah bahwa Allah pasti tidak akan pernah mengecewakan hamba-hamba yang
meminta kepada-Nya. Sebagaimana dapat kita ambil contoh dari tindakan Nabi
Ibrahim. Walaupun usia diri dan istri telah senja, tetapi Nabi Ibrahim tidak
kenal putus asa dan tetap berdoa kepada Allah menyampaikan harapan agar
dikaruniai anak yang shaleh, anak yang dapat meneruskan penyebaran risalah
Illahi di muka bumi. Nabi Ibrahim hanya berharap kepada Allah dan yakin bahwa
pasti Allah akan memenuhi keinginan yang baik dari hamba-Nya.
Oleh karena itu, jika kita mempunyai harapan dan
keinginan yang dapat kiranya digunakan untuk lebih mendekat kepada-Nya maka
sampaikanlah dengan sepenuh jiwa kepada Allah SWT. Apapun harapan yang baik maka
bisikkanlah dengan mesra langsung kepada-Nya. Dialah tempat berharap yang
terbaik dan yakinlah pasti Allah akan memberikan yang terbaik. Dia Maha
Mengetahui, Dia Maha Kaya dan Maha Bijaksana terhadap hamba-hamba-Nya.
Kedua, kerjakanlah perintah Allah dengan
ketaatan total tanpa keraguan, sempurnakan ikhtiar dan indahkan amal serta
senantiasalah berlindung kepada Allah dari kejahatan makhluk termasuk dari tipu
daya syetan. Begitu diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya maka
Nabi Ibrahim dengan ketaatan total bertekad untuk melaksanakannya. Betapapun
beratnya perintah ini, tapi karena yang memerintahkan adalah Allah maka Nabi
Ibrahim mempunyai sikap untuk segera melaksanakan, tidak ada keinginan untuk
bernegosiasi menawar-nawar perintah tersebut. Nabi Ibrahim yakin bahwa apapun
perintah dari Allah maka pasti itu adalah perintah terbaik dan harus
dilaksanakan. Nabi Ibrahim berusaha untuk melaksanakan perintah tersebut
dengan sebaik-baiknya. Tatkala syetan menggoda maka segeralah Nabi Ibrahim
berikhtiar melawannya dengan lemparan sambil berlindung kepada Allah.
Alangkah indah jika kita dapat meniru sikap Nabi
Ibrahim. Dari hari ke hari kita berusaha untuk meningkatkan kualitas dari amal.
Setiap saat berlalu merupakan saat-saat perbaikan diri, saat-saat perjuangan
untuk berusaha mempersembahkan amal terbaik kepada Allah SWT. Tiada hari yang
berlalu tanpa adanya usaha peningkatan kualitas diri di hadapan Tuhan. Kita
rindu saat-saat akhir dari kehidupan di dunia ini merupakan saat terbaik diri di
hadapan-Nya.
Dalam melakoni drama kehidupan yang penuh dengan
godaan, tantangan dan rintangan sangatlah tepat jika kita dapat berlindung
kepada Sang Sutradara kehidupan yakni Tuhan Yang Maha Gagah. Tidak ada yang
mampu menandingi kehebatan-Nya sehingga sudah tepatlah kiranya jika kita sebagai
hamba yang lemah ini selalu berlindung kepada-Nya. Hadapi setiap rintangan yang
menghadang, godaan bujuk rayu syetan yang menyesatkan serta dari kejahatan
apapun dengan memohon perlindungan-Nya.
Ketiga, tumbuhkembangkan budaya dialog
yang sejuk, logis dan penuh kasih sayang. Sungguh cantik pelajaran yang
diberikan Nabi Ibrahim. Sebagai seorang Bapak, Nabi Ibrahim tidak begitu saja
memaksakan keinginan kepada anaknya, meskipun dia sadar keinginannya tersebut
adalah perintah dari Allah. �Wahai ananda, sesungguhnya ayah melihat dalam mimpi
bahwa ayah menyembelihmu, maka pikirkanlah dan apa pendapatmu?� Nabi Ibrahim
adalah seorang ayah yang memanggil anaknya dengan mesra, seorang ayah yang
menggugah anaknya untuk menggunakan akal pikirannya dan seorang ayah yang
menyuburkan budaya dialog. Berdialog dalam suasana kesejukan penuh kasih sayang,
berdialog dengan menggunakan logika, saling mendengarkan untuk mendapatkan
solusi terbaik.
Andaikan budaya dialog dengan kasih sayang ini
dapat diterapkan pada setiap rumah tangga maka tentunya akan memacu tumbuhnya
rumahtangga-rumahtangga yang harmonis. Orang tua yang mampu menyampaikan
pendapat logisnya dengan kasih sayang tentunya akan dihormati oleh anak-anaknya.
Begitu juga, anak-anak yang berusaha terbuka namun tetap santun menyampaikan
hasil pemikirannya maka akan didengarkan dengan penuh sayang oleh orang tuanya.
Berbahagialah rumah tangga yang demikian.
Andaikan budaya dialog dengan kasih sayang ini
tumbuh subur di tengah masyarakat maka pasti akan mengurangi kekerasan di tengah
dunia. Kita mengetahui bahwa cukup banyak pertengkaran, perkelahian atau
perselisihan yang terjadi di tengah masyarakat hanya karena diawali oleh
kurangnya komunikasi yang baik antara kedua pihak. Belajarlah untuk mampu
berdialog dengan kasih sayang.
Andaikan budaya dialog dengan kasih sayang ini
dapat ditumbuhsuburkan oleh para pemimpin di tengah negeri ini maka alangkah
sejuknya, kedamaian di bumi dan di hati akan segera bersemi. Pemimpin yang
selalu belajar, menggunakan akal untuk mendapatkan solusi terbaik dari masalah
yang ada dan mendistribusikan kasih sayang kepada rakyatnya tentunya akan selalu
menjadi pemimpin di hati rakyat. Pemimpin yang demikian akan dihormati,
kata-kata dan ajakkannya akan didengarkan dan dilaksanakan. Sebagai akibatnya
negeri yang damai tidak hanya akan menjadi sekedar mimpi tetapi akan terwujud
dalam alam nyata.
Keempat, sikapilah keadaan sesulit
apapun dengan berdoa dan bersabar. Tatkala Ismail AS diberitahu oleh ayahnya
akan perintah penyembelihan dirinya maka jawaban yang muncul adalah �Wahai ayah,
kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah dan doakan semoga Allah menjadikan
ananda menjadi orang yang sabar�. Seorang anak yang dididik dengan ajaran
tauhid maka dalam keadaan apapun yang teringat baginya adalah Allah dan hanya
Allah. Allah pasti akan menolong hamba-Nya. Hanya Allah yang akan mampu
membukakan pintu solusi terbaik dari setiap masalah yang dihadapi. Selain itu,
sikap bijak yang perlu dijaga adalah sabar. Allah amat menyayangi
hamba-hamba-Nya yang sabar menerima ketentuan-Nya, sabar dalam menjauhi
larangan-Nya dan sabar untuk menjaga keistiqamahan beramal kepada-Nya.
Kelima, tawaqal sebagai pengakuan
kelemahan hamba di hadapan Tuhan. Saat doa telah dipanjatkan, saat pisau telah
siap untuk ditorehkan maka dengan sepenuh jiwa Nabi Ibrahim menyerahkan hasil
akhir dari pengorbanannya ini kepada Allah. Nabi Ibrahim yakin bahwa pasti Allah
akan menyempurnakan amalnya dan akan memberikan ganjaran yang terbaik. Jadi,
jika kita telah berdoa dan diiringi dengan ikhtiar optimal maka serahkanlah
semua urusan, semua usaha dan semua amal kita kepada-Nya. Kita adalah hamba yang
lemah dan serba terbatas maka sangatlah tepat dan bijak jika dibalik doa dan
ikhtiar yang dilakukan kita bertawaqal menanti keputusan Tuhan, Zat Yang Maha
Sempurna. Ketawaqalan yang benar ini disukai oleh Allah dan pasti Allah akan
membalas dengan balasan yang terbaik.
Keenam, ujian diberikan Allah kepada hamba
untuk menguji kadar cintanya kepada Sang Khaliq. Tentunya sangat logis jika
semakin tinggi kadar cinta dari seseorang hamba kepada Tuhannya maka semakin
berat ujian yang akan ditemui. Tetapi, Allah telah berjanji tidak akan
memberikan suatu beban atau ujian buat hamba-Nya diluar dari batas kemampuannya.
Karena itu, jika di dalam kehidupan kita menemui semakin banyak atau semakin
berat ujian dari Tuhan maka seharusnya kita semakin senang dan semakin
bersyukur. Mengapa demikian? Karena ini berarti bahwa Allah masih sayang kepada
kita. Kita masih diberi kesempatan untuk mohon ampun akan dosa-dosa yang telah
dilakukan atau kita masih diberi peluang untuk meningkatkan kualitas iman dan
cinta kepada-Nya. Oleh karena itu, jadikanlah saat-saat ujian datang adalah
saat-saat introspeksi diri, memohon ampun terhadap dosa yang telah dilakukan dan
saat-saat untuk lebih mendekat kepada Sang Kekasih. Sampaikan kepada Dia bahwa
hanya Dialah yang akan mampu memberi kekuatan kepada kita sehingga dapat
melewati ujian ini dengan baik dan tetap jagalah hati sehingga tidak sampai
terlintas buruk sangka kepada Allah.
Ketujuh, sembelihlah sifat negatif
kebinatangan dan kuburkanlah kesombongan dan kedengkian iblis yang masih melekat
pada diri. Tidak jarang kita adalah mahkluk yang berbentuk manusia tetapi sifat
dan sikap kita telah serupa dengan sifat dan sikap negatif sebagian binatang
yakni tamak, pemarah, pendendam dan pengumbar syahwat. Selain itu, tidak jarang
kita mengutuk iblis tetapi di hati kita masih bercokol sifat iblis yakni sombong
dan dengki. Dengan melakukan qurban maka bertekadlah untuk menyembelih
sifat dan sikap negatif kebinatangan yang masih ada pada diri dan kuburkanlah
sifat sombong dan dengki yang masih menyelinap di hati.
Kedelapan, perbuatan baik yang dilakukan
hamba-hamba yang beriman akan diabadikan balasannya oleh Allah. Sesungguhnya
tidak ada satupun yang luput dari pandangan dan penilaian Allah dan Allah telah
berjanji untuk melimpahkan kesejahteraan abadi bagi orang-orang yang berbuat
baik. Oleh karena itu, marilah kita jadikan tidak ada detik dari sisa kehidupan
yang sia-sia, tidak ada detik yang berlalu tanpa diisi dengan amal kebaikan.
Pantulkan dan sebarkan selalu dari diri cahaya kebaikan bagi umat manusia dan
alam sekitar. Raihlah kebahagiaan dari Tuhan dengan menyuguhkan kebahagiaan
kepada yang lain. Percantiklah wajah dengan senyum empati dan simpati kepada
sesama manusia. Ringankan tangan dalam membantu kesulitan saudara. Lakukanlah
dan perbanyaklah investasi yang abadi yakni sedekah ikhlas demi cinta Illahi.
Kesembilan, syukur mengundang tambahan
nikmat dan kesejahteraan dari Allah. Alangkah banyak nikmat dan karunia Allah
yang telah dilimpahkan kepada kita. Andaikan semua air di lautan dijadikan tinta
maka tidak akan mencukupi untuk menuliskan rangkaian nikmat tersebut. Karena
itu, tidak ada sikap yang paling bijak selain mempersembahkan rasa syukur yang
terdalam dari lubuk hati yang terdalam kepada Tuhan. Sikap demikian memang
pantas kita lakukan apalagi Allah telah berjanji akan menambah nikmat bagi
seorang hamba yang bersyukur. Jadi, marilah kita jemput tambahan nikmat dengan
memperbanyak rasa syukur.
Semoga untaian mutiara dari ibadah qurban yang
dilakukan Nabi Ibrahim ini dapat kita miliki. Alangkah indahnya hidup dengan
memberikan sepenuh cinta kepada Tuhan. Alangkah indahnya jika hati kita dipenuhi
dengan cinta-Nya. Wahai Tuhan jangan biarkan masih ada secuil tempat di hati ini
yang kosong dari getaran cinta-Mu. Terimalah qurban hamba-Mu dengan ridha-Mu,
amin.
____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net ____________________________________________________
