Didepan peserta dialog publik ini, saya mengkritik pers yang hanya melipat tangan, menunggu, dalam perkembangan politik di tanah air, termasuk soal daftar hitam politisi busuk. padahal, media kan punya berbagai alat untuk melakukan investigasi, dllnya. Dari berita yang dimuat di harian-harian medan ini, terlihat betapa akurasinya sangat parah, mulai dari pembicara (yang dimuat berdasarkan proposal-undangan, bukan yang hadir), sampai pengutipan yang mengedepankan ucapan gubernur yang membuka acara ini.
 
Dialognya sendiri berlangsung panas. Ada yang menuduh gerakan kita sebagai provokator, dan saya balikkan dengan marah "Kalau kami provokator, sekarang kami ada di penjara!" Ada juga yang menghempang dengan argumen, jangan suka membuka aib orang. Saya katakan, "Yang dibuka bukan aib orang, tetapi track record calon pejabat publik."
 
Koordinasi gerakan kita di Medan juga belum maksimal, karena teman-teman lsm dan mahasiswa yang hadir mengeluhkan kurangnya informasi, sehingga mereka kebingungan. mungkin perlu ada iklan besar-besaran di media massa, termasuk soal sekretariat.
 
Secara khusus, Hendry Yosodiningrat mengatakan mengkritik gerakan kita soal kriteria poligami (dia mengaku ke saya punya tiga istri). Dia berjanji di hadapan 250-an peserta yang memenuhi ruangan (sampai berdiri) bahwa dia akan membangun kekuatan sendiri dan dia mampu melakukannya, apabila kriteria itu tidak dicabut. Saya langsung menjawab kritikan itu dengan mengatakan kriteria poligami belum final, karena masih masukan dari Pokja, belum diputuskan oleh Pleno GNTPPB.
 
sekian sekilas uneg-uneg. sayang, saya lupa merekam keseluruhan pembicaraan.
 
salam,
 
ijp
NB: Hari Rabu saya juga kembali ke Medan, untuk voters education bersama kaukus perempuan Aceh. Sore ini ke Yogya, sampai Rabu pagi, untuk seminar di UGM. orang yang mau berkuasa, kita yang sibuk, duh.....
----------------------------
 
 
 
09 Feb 04 04:13 WIB
Sebagian Besar Caleg Terindikasi Polbus

MEDAN (Waspada): Dari ribuan Caleg (calon anggota legislatif) yang telah diumumkan menjadi kontestan Pemilu 2004, banyak yang belum memiliki kriteria ideal. Sebagian besar dari Caleg tersebut terindikasi melakukan penyimpangan, bahkan tergolong dalam politisi busuk (Polbus).

Hal itu terungkap dalam dialog publik Caleg Ideal Pilihan Rakyat di aula PT Indosat Jalan Perintis Kemerdekaan Medan Sabtu (7/2).

Acara dilaksanakan bersama Forum Independen Pemantau Pemilu (FIPPSU), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumut, dan Gerakan Anti Narkotika (Granat) Sumut, dibuka Gubsu HT.Rizal Nurdin menghadirkan sejumlah pembicara.

Masing-masing pembicara memaparkan kriteria dari Caleg ideal yang pantas dipilih rakyat. Sebaliknya forum ini juga merekomendasikan kepada rakyat untuk tidak memilih politikus bermasalah.

Dalam hal ini Gubsu mengharapkan agar isu Polbus tidak terjebak pada figur orang per orang. Karena bisa mengaburkan esensi yang diharapkan yakni tentang pemahaman masyarakat akan Pemilu. ''Isu politikus busuk ini bisa dimanfaatkan oleh kepentingan politik tertentu,'' ucap Gubsu.

Selain itu, katanya, tinjauan tentang Polbus hendaknya atas kriteria yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebaliknya bukan karena sikap antipati atau ingin mendiskreditkan suatu golongan.

Pada bagian lain Gubsu menekankan pentingnya sosialosasi Pemilu. Dikatakan dari sekira 7,6 juta pemilih tetap di Sumut, 61 persen di antaranya berpendidikan SMA ke bawah.

Sementara itu empat pembicara mengutarakan kriteria Caleg yang ideal dan pantas dipilih rakyat. Mereka adalah KH. Fuad Said, Prof Dr M.Syahrin Harahap, MA, Hasim Purba, SH, M.Hum, dan Indra J. Piliang.

H. Fuad Said mengutarakan kriteria pemimpin yang pantas dipilih dari tinjauan hukum Islam. Dia menguraikan 10 kriteria pemimpin termasuk anggota legislatif yakni harus beragama Islam. ''Orang Islam dilarang memilih orang kafir menjadi pemimpin mereka,'' tegasnya.

Kemudian mukallaf atau orang yang sudah dewasa (baligh), berakal, sempurna panca indera dan sampai dakwah padanya. Selanjutnya orang yang merdeka (bukan budak atau hamba), bukan musuh Allah SWT, berakhlak baik, mengetahui hukum Islam, berani atau bermental kuat, cerdas, mampu, dan harus seorang laki-laki. ''Dari syarat berdasarkan agama ini maka tidak mudah memilih Caleg ideal menurut ajaran Islam,'' ujarnya.

Dia menyatakan dalam menghadapi Pemilu 2004, umat Islam harus berpedoman pada Keputusan Muktamar Alim Ulama dan Muballigh Islam se- Indonesia di Medan pada 11-15 April 1953. Inti dari muktamar itu adalah umat Islam yang punya hak pilih wajib menjalankan hak pilihnya dengan memberikan suaranya dalam Pemilu.

Selain itu juga wajib hanya memilih calon-calon yang memiliki cita-cita terlaksananya ajaran Islam dan hukum Islam dalam negara. ''Kaum muslimin yang mukallaf wajib berusaha dan memberikan segala macam bantuan pengorbanan untuk tercapainya kemenangan Islam dalam Pemilu,'' ucapnya mengutip butir hasil muktamar yang ketiga.

Sedangkan Prof. Syahrin menyebutkan sembilan kriteria yakni memiliki integritas, 'daya baca' yang tinggi, konsisten sebagai wakil rakyat dan senantiasa menghindarkan diri dari etika ambiguitas (menyatakan untuk kepentingan orang banyak, tapi sebenarnya hanya untuk pribadi).

Kriteria keempat adalah mengatakan yang benar kepada kekuasaan, berkeyakinan bahwa menjadi wakil rakyat adalah jihad, mengukuhkan keteladanan sebagai sosok yang mewakili sejumlah rakyat, memiliki kepekaan terhadap amanat penderitaan rakyat, tidak memaksa orang lain memilihnya, dan kesembilan memiliki kemampuan mewaspadai dan mengatasi hambatan dalam musyawarah.

Sementara Hasim Purba menyebut 11 kriteria yaitu bukan pelaku atau bagian dari praktek KKN, bukan pelangggar HAM, bukan pelaku illegal logging dan perusak lingkungan hidup, bukan pelaku pelecehan seksual, traficking, tidak terkait judi, tidak terkait narkoba, tidak terkait prostitusi, bukan pengusaha hitam, bukan pemalsu/pengguna ijazah/gelar palsu, dan bukan anggota legislatif yang tidak memihak rakyat atau mementingkan diri sendiri.

Pembicara keempat yang menyebutkan kriteria Polbus yakni Indra J. Piliang. Dia menguraikan lima kriteria yaitu pelaku pelanggaran HAM, perusak lingkungan, terlibat narkoba, terlibat kejahatan seksual, dan terlibat kejahatan korupsi. ''Sekarang ini terjadi pertarungan antara gerakan anti politisi busuk dengan politisi busuk itu sendiri. Kalau politisi busuk yang menang, maka bangsa ini akan dikuasai oleh drakula yang akan mengisap negara ini,'' katanya.(m45) (sn)

 
Gubsu Buka Dialog 'Caleg Ideal Pilihan Rakyat' :
Jangan Pilih Penjudi, Pemakai Narkoba, Apalagi Penjilat 

MEDAN ( Berita ) : Gubernur Sumatera Utara HT Rizal Nurdin mengimbau kepada masyarakat dalam memilih Calon Legislatif  (Caleg) pada Pemilihan Umum (Pemilu) mendatang haruslah selektif. Apalagi untuk mendaftar menjadi Caleg pada kondisi saat ini cukup bebas, siapapun dia bisa saja  untuk mendaftarkan diri.

'Jadi kembali kepada masyarakat harus benarbenar mengerti dan jangan sampai dimanfaatkan. Terlebih jangan sampai menjatuhkan pilihan kepada oknum penjudi, Narkoba dan penjilat, terlebih lagi orangorang  yang tidak bertanggungjawab,' tegas Gubsu kepada wartawan.

Rizal Nurdin menyatakan itu seusai membuka secara resmi dialog publik 'Caleg Ideal Pilihan Rakyat' yang diselenggarakan oleh Granat Sumut, Sabtu (07/02) pagi di Gedung Indosat Medan.

Gubsu juga mengimbau untuk tetap  berhatihati adanya politik  busuk yang akan mewarnai kelancaran Pemilu 2004. Meski disatu sisi dia mendukung, namun hendaknya politik hharus tetap benarbenar memenuhi kriteria yang jelas dan bukan untuk mendiskreditkan.

Terutama dalam berpolitik jangan dijadikan sebagai alat maupun sikap balas dendam, sebab jika  terus terjadi dendam politik dipastikan bangsa ini tidak akan berubah. Hal itu dikarenakan pada akhirnya akan terjadi balasbalasan secara terusmenerus.

Dalam pidato pembukaannya Gubsu juga menyinggung masih banyaknya kalangan masyarakat yang belum benarbenar paham mengenai tata cara pemiilihan umum yang akan berlangsung tinggal beberapa bulan lagi.

'Saya yakin masih banyak yang belum paham  tentang  cara pemilihan calon, bahkan di kalangan pejabatpun masih banyak yang tidak mengerti,' ungkap Rizal Nurdin seraya berharap peran KPU untuk lebih proaktif dalam mensosialisasikannya di masyarakat.

Seputar pelaksanaan Pemilu juga dipastikan akan muncul konflikkonflik harizontal di masyarakat.

Rizal Nurdin mengharapkan agar rakyat jangan pesimis dalam menghadapi Pemilu, karena Pemilu merupakan salah satu program nasional yang memang harus terlaksana. 

Meski demikian adanya pihakpihak yang mengkhawatirkan jalannya Pemilu menurut Gubsu juga jangan sampai disepelekan, melainkan sudah seharusnya diberi pengertian mengenai manfaat Pemilu tersebut.

Dialog menghadirkan pembicara diantaranya Ketua KPU Suummut Irham Buana Nasution SH M.Hum dengan makalah 'Peran KPU Sumut dalam Menseleksi Caleg' dan Hasim Purba SH M.Hum (FIPPSU) dengan makalah berjudul 'Mendorong Masyarakat Untuk Memilih Parpol dan Caleg yang Sesuai Harapan Rakyat.

Juga Dra Hj Erma Tarigan SH (PWI Sumut) dengan makalah berjudul Peran Pers dalam Sosialisasi Parpol dan Caleg' serta Ketua DPP Granat Pusat Henry Yosodiningrat SH M.Hum dengan makalah 'Mencari Caleg yang Bebas Pengguna dan Pengedar Narkoba'.

Ketua MUI Sumut HA Fuad Said juga tampil dengan makalah yang berjudul 'Perlunya Mengedepankan Aspek Akhlak dalam Memilih Caleg pada Pemilu 2004'. Dia antaralain memaparkan 10 syarat orang yang boleh diangkat menjjadi pemimpin, termasuk anggota legislatif menurut hukum Islam.

Syaratnya; 1Islam,  2mukallaf (orang yang dewasa/baligh) berakal, sempurna panca indradan sampai dakwah kepadanya, 3merdeka,  4bukan musuh Allah, 5berakhlak baik,  6mengetahui hukum Islam,  7berani,  8cerdas, 9mampu dan 10 Pria alias lakilaki. (irm)

 

 

Isu "Politisi Busuk" Jangan Atas Dasar "Balas Dendam"

Medan(SIB)

Gubsu HT Rizal Nurdin mengharapkan peran aktif jajaran pers dan media massa untuk turut mensukseskan Pemilu 2004.Media massa merupakan kelompok strategis setelah pemuka agama,para tokoh adat dan kelompok pemuda dalam memberhasilkan tiga pilar pembangunan Sumut yakni terpeliharanya iklim kondusif,kokohnya harmonisasi dan terwujudnya good governance.

Harapan itu disampaikannya dalam acara Dialog publik "Caleg Ideal Pilihan rakyat",Sabtu(7/2) di gedung Indosat Medan,yang dihadiri ratusan peserta dari berbagai lapisan masyarakat, di antaranya beberapa Caleg, praktisi, LSM dan mahasiswa.

Menurut Gubsu,media massa di satu sisi bisa menciptakan masyarakat hidup damai dan harmonis. Namun di sisi lain akibat pemberitaan media massa suasana kedidupan kemasyarakatan bisa menimbulkan disharmonisasi bahkan bisa memunculkan huru-hara.

Karena peran media massa yang begitu strategis, diharapkan tidak hanya berperan dalam mensosialisasikan tahapan dan tata cara memilih dalam menggunakan hak pilih,tetapi memberikan daya kritis kepada masyarakat tentang program para kontestan peserta Pemilu yang benar benar peduli terhadap kepentingan masyarakat serta terjaganya keutuhan NKRI.

Tentang adanya pihak yang mengkhawatirkan pelaksanaan Pemilu 2004,Gubsu mengingatkan agar jangan disepelekan, melainkan harus dijadikan sebagai peringatan yang bagus sehingga semua pihak berhati hati dan bekerja keras.

Sedangkan mengenai isu gerakan "politikus busuk",menurut Gubsu hendaklah benar benar atas kriteria yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan,bukan karena antipati atau ingin mendiskreditkan suatu golongan,apalagi dengan menghitam-kelamkan figur figur yang pernah berkiprah dalam sejarah perjalanan pemerintahan di negeri ini,atas dasar sikap balas dendam politik.

"Sebab kalau ini yang terjadi,kita tidak akan pernah selesai melakukan sesuatu yang terbaik bagi bangsa.Harus dipahami setiap rangkaian sejarah ada nilai positif dan ada pula kekurangan yang dilakukan.Dari kekukarangan itu ambil hikmahnya untuk melakukan perubahan perubahan secara gradual demi kelangsungan masa depan", ujar Gubsu.

Sementara itu Prof Dr Syahrin Harahap di sela-sela acara dialog mengatakan,Caleg yang ideal adalah orang-orang yang memenuhi kriteria yang ditetapkan dalam ajaran agama secara universal,bukan lokal atau penganut agama tertentu.

Mencermati Caleg untuk DPRDSU yang sudah diumumkan baru-baru ini, , Syahrin Harahap optimis akan membawa Sumut ke arah yang baik.Tapi ia tidak membantah tentang kemungkinan di antara sejumlah Caleg tersebut terdapat "politisi busuk" dalam batasan kelemahan yang luas.

Hadir dalam acara itu antara lain Ketua PWI Sumut diwakili Drs Amson Purba,mewakili Granat H Henry Yosodiningrat,Dekan FH-UMA Syafaruddin SH MHum,Ketua BMI Medan Drs Boyke Turangan dan tokoh pemuda Satra yang juga Caleg untuk DPRDSU dari PDIP.(A-4/y)

____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke