....hmmmm dari artikel tersebut saya tertarik dengan paragraf terakhir.
Untuk saat ini 
saya bersyukur, Indonesia belum mampu  menjangkau biotekhnologi semacam itu,
karena manusia yg mau diklon itu kebanyakan masih yg spt paragraph paling
akhir
jadi kalau satu saja sudah cukup merusak citra hukum dinegri apalagi kalau
di 
gandakan.

-----Original Message-----
From: ce cille [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Sunday, February 15, 2004 9:37 PM
To: Komunitas MINANGKABAU (Urang Awak) Pertama di Internet (sejak 1993)
Subject: [EMAIL PROTECTED] kasihan deh.....


Membaca artikel kompas Sabtu kemaren...jadi teringat deh dengan sanggahan2
di RN beberapa waktu lalu tentang perkebangan science saat
ini....aah.....kasihan deh......boleh percaya atau tidak dengan isi celoteh
Mr. Simanungkalit ini....
 
KOMPAS, 14 Feb 2004

KORSEL Berhasil KLONING Embrio Manusia





         
 <http://www.kompas.com/kirim_berita/index.cfm?nnum=42402> Kirim Teman |
<http://www.kompas.com/kirim_berita/index.cfm?nnum=42402> Print Artikel 
        

MUDAH sekali menemukan mobil buatan Korea Selatan di sepanjang jalan-jalan
Jakarta. Kendaraan dinas polisi Indonesia juga buatan negeri itu.

Namun, kaum cerdik pandai di sana tak hanya piawai dalam urusan permobilan.
Teknologi garda depan yang bersinggungan dengan keberadaan hidup manusia,
bidang ilmu yang di negeri maju semacam Amerika Serikat (AS) dan Eropa Barat
masuk kategori barang mewah, pun disentuhnya. Harian The New York Times dan
The Washington Post terbitan 12 Februari melaporkan, tim ilmuwan Korea
Selatan (Korsel) berhasil menciptakan dua hal: embrio manusia dengan cara
kloning dan sel induk embrio.

Embrio-embrio yang sudah terbentuk itu semata-mata berasal dari sel seorang
perempuan. Tak satu pun sumbangan dari pihak tuan-tuan. Sang pemula
kehidupan itu kini bersemi di laboratorium. Siap disemai di rahim!

Tujuan mereka, menurut Dr Woo Suk Hwang dan Dr Shin Yong Moon yang memimpin
pekerjaan ilmiah ini, bukan melapangkan jalan di padang belantara bagi
kloning itu sendiri, tapi mempercanggih pemahaman mengenai asal-usul suatu
penyakit dan penyembuhannya.

Bisa jadi begitu tujuan semula. Namun, keberhasilan ini jelas membuka
peluang besar menggandakan kembaran sejati anak manusia dengan kloning.
Karena alasan itu, karya tim ilmuwan Korsel yang bermarkas di Universitas
Nasional Seoul dan disiarkan jurnal berwibawa Science terbitan Jumat kemarin
ini langsung mencuarkan kembali perbalahan implikasi etis kloning manusia.

"Naif sekali mengatakan prestasi ini bukan langkah yang mendekatkan
manusia-manusia yang tak bertanggung jawab mengupayakan kloning untuk tujuan
reproduksi," kata Dr Gerald Schatten, peneliti kloning binatang Fakultas
Kedokteran Universitas Pittsburgh yang menentang kloning manusia tapi gemar
meneliti sektor ini.

Kertas kerja Hwang dan Moon memuat uraian rinci bagaimana menciptakan embrio
manusia dengan kloning. Pakar- pakar di bidang ini, tapi tidak terlibat
langsung dalam penelitian Hwang dan kawan-kawan, berpendapat, uraian itu
cukup meyakinkan. "Kini tersedia semacam buku resep dan metodologi di ruang
publik," kata Dr Robert Lanza, salah satu direktur perusahaan Advanced Cell
Technology di Worcester, Massachusetts, yang pernah mencoba tapi tak
berhasil.

"Wow, hebat," kata Dr Richard Rawlins, ahli embriologi Universitas Rush di
Chicago, AS.

Kalangan yang bakal bersorak-sorai menyambut pekerjaan Hwang, Moon, dan
kawan- kawan ini-paling tidak saat ini-adalah penderita parkinson dan
diabetes.

Pemulihan kesehatan penderita parkinson dan diabetes bisa melalui
penggantian sel-sel yang rusak oleh kedua penyakit itu dengan sel-sel
sejenis. Keberhasilan penggantian bergantung pada sejauh mana sistem
kekebalan yang bersangkutan menerima sel-sel migran dari luar tubuh. Untuk
menghindari penolakan, lebih baik mendapatkan sel-sel pengganti dari tubuh
yang bersangkutan. Masalahnya, bagaimana mendapatkan sel dari tubuh sendiri
serupa dengan yang rusak.

Di sini teknologi kedokteran memberi jawaban. Fotokopi saja tubuh tuan dan
puan supaya mendapat replikasi lengkap seluruh organ tubuh tuan dan puan.
Pereteli sel-sel yang sudah rusak dari tubuh tuan dan puan, ganti dengan
sel-sel sejenis dari hasil fotokopian itu.

Sel-sel lain yang tak diperlukan buang atau simpan saja. Nah, membuang
sebagian dari makhluk yang sudah jadi itu kan membunuh? Menyimpan makhluk
dengan sel-sel yang tak lengkap kan menyiksa makhluk yang bersangkutan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang menggalaukan hati manusia yang
manusiawi. Itulah implikasi etis teknologi ini!

Teknik membuat fotokopi lengkap fisik dan jiwa (mungkin juga roh) seorang
manusia dinamakan kloning. Hasilnya adalah klon. Rangkaian proses kloning
hingga mendapatkan sel-sel induk yang akan dipakai untuk mengganti sel-sel
rusak itulah yang dihasilkan Hwang, Moon, dan kawan-kawan.

BUKU resep dan metodologi membuat embrio dengan kloning hingga menghasilkan
sel-sel induk, seperti yang ditamsilkan Robert Lanza, sudah di depan mata.
Namun, menurut perkiraan para pakar di bidang teknologi reproduksi
pascamodern ini, masih tahunan lagi yang harus ditempuh untuk melanjutkan
riset ini hingga ke proses terapinya.

Presiden Dewan Bioetika AS, Dr Leon R Kass, tak mau tahu dengan taksiran
waktu para pakar teknologi reproduksi itu. Baginya, inilah momentum
berbahaya bagi eksistensi hidup manusia yang deret selanjutnya tak dapat
dibendung.

"Zaman Kloning Manusia sudah tiba. Hari ini kloning untuk riset, besok
kloning untuk menciptakan bayi manusia," kata Kass dalam surat
elektroniknya. "Satu-satunya cara mencegah kloning manusia di Amerika adalah
meminta Kongres membuat undang-undang yang melarang atau moratorium kloning
manusia."

Apa kata Hwang? Pendapat kalangan etikawan melawan kloning dan pembuatan sel
induk, bagi Hwang, sangat berlebihan. "Kami sadar pekerjaan ini mengundang
kontroversi. Tetapi sebagai ilmuwan, kami pikir tugas kami di situ."

Hwang adalah pakar kloning binatang. Moon dokter yang di akhir tahun 1980-an
mengikuti pelatihan di klinik kesuburan AS termasyhur, Institut Jones untuk
Kedokteran Reproduksi, Fakultas Kedokteran Virginia Timur di Norfolk.

Sel telur dalam penelitian tim Korsel diperoleh dari 16 perempuan yang
menyumbangkan 264 telur untuk riset monumental yang dibiayai pemerintah.

Kertas kerja Hwang dan Moon memaparkan pekerjaan mereka secara rinci, mulai
dari bagaimana cara menumbuhkan embrio sampai larutan apa yang terbaik untuk
memelihara sang pemula kehidupan itu.

Prestasi akademis Hwang dan Moon dalam ilmu reproduksi pascamodern ini
menambah daftar panjang upaya Korsel menjadi bangsa beradab yang tertata dan
modern. Hampir semua sektor yang berkaitan dengan maslahat khalayak
dipulihkan. Korupsi diperangi, olimpiade pun sudah digelar.

Indonesia? Jangan berkata Indonesia itu akbar! Ehem. (SALOMO SIMANUNGKALIT)



  _____  

Do you Yahoo!?
Yahoo! Finance: Get
<http://us.rd.yahoo.com/evt=22055/*http://taxes.yahoo.com/filing.html> your
refund fast by filing online

____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke