http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0402/18/utama/865068.htm


Mereka Menunggu Uluran Tangan�



RIO Rianto, bocah berusia sekitar tiga tahun itu, tergolek lunglai tanpa bantal di tikar yang dibentang di tepi jalan. Tangan kirinya patah, tetapi hanya mendapat pengobatan (diurut) dukun patah tulang. Tak jauh dari Rio, Rina, kakaknya, masih sembab matanya karena kesakitan menahan pedih di bagian kepala.


SYIAH (45), nenek Rio dan Rina, juga masih termenung sepulang mengantar ibunya, Upiak Hilang (70), ke pemakaman keluarga yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah. "Saya masih syukur bisa diselamatkan, namun ibu saya, Upiak Hilang, tewas ditimpa loteng beton beranda rumah yang jatuh saat terjadi gempa, Senin (16/2) malam. Cucu-cucu juga menjadi korban. Mereka luka dan patah lengan," ujar Syiah dengan mata berkaca-kaca.

Ia pun menangis tersedu ketika mengatakan bahwa kini tak ada lagi tempatnya berlindung dari hujan dan panas mentari. "Rumah saya roboh total, tak bisa lagi dipakai. Semua barang dan harta benda hancur, rusak ditimpa rumah. Biaya pengobatan anak pun tak punya. Malang betul nasib awak," katanya.

Menurut Syiah, warga Nagari Gunung Rajo, pada malam kejadian ia tengah menumbuk beras di beranda rumah, sedangkan neneknya mengayak tepung. Gempa yang cukup kuat getarannya membuat loteng beton di beranda ambruk bersama rumah. Keluarga Syiah dan keluarga lainnya tertimpa. Teriakan minta tolong dan tangis kesakitan malam itu memecah kesunyian.

TAK lama kemudian datang pertolongan. "Pas di tempat saya, loteng beton tidak menyentuh lantai, masih ada rongga. Tapi, saya lihat ibu saya tak lagi bernyawa. Saya pun tak bisa bergerak, kecuali bernapas. Pertolongan datang, saya diselamatkan. Untuk mengeluarkan ibu dari reruntuhan, loteng beton terpaksa dihancurkan dulu, tetapi ia sudah menghadap Yang Kuasa, berpulang ke Rahmatullah," kata Syiah.

Sepulang dari penguburan, sekitar pukul 13.20 cuaca panas mendadak berubah mendung dan tak lama kemudian terjadi hujan lebat. Syiah dan keluarga pun kocar-kacir mencari tempat berlindung. Kali ini langit seperti menangis melihat penderitaan masyarakat korban gempa.

BERAGAM cerita dari warga Nagari Gunung Rajo dan Batipuah Baruah Utara tentang bagaimana menyelamatkan diri dari reruntuhan rumah. Dramatis dan tragis. Ada yang hanya bisa meloloskan diri dari jendela setelah bersusah payah menuju ke tempat itu. Ada juga yang tertolong karena dinding rumah yang runtuh tertahan kursi.

"Di rumah, saat kejadian ada tujuh orang. Rumah runtuh sehingga pintu tak bisa lagi dibuka. Ternyata masih ada satu-satunya tempat menyelamatkan diri, yakni jendela," kata Armunis Datuk Rajo Mulia (36).

Anak-anaknya, Arif, Habib, Zikri, dan Atri, tampak masih trauma. Ia duduk-duduk di bawah meja, di luar rumah, melihat neneknya menjemur padi. Sesekali ia menatap rumahnya yang roboh.

"Pak, nanti kita tidur di mana?" tanya Zikri (10). Bapaknya, Armunis, yang baru pulang menyabit rumput, tampak menahan perasaan. Ia tak menjawab, kecuali berharap ada tenda bantuan tempat mengungsi sementara.

Masyarakat korban gempa ternyata tak hanya butuh tenda, selimut, dan bahan makanan. Mereka juga butuh perhatian pemerintah, misalnya membangun dapur umum atau tempat mengungsi sementara.

Kompas yang berada di lokasi belum menemukan dapur umum atau tempat pengungsian sementara. Pemerintah Kabupaten Tanah Datar masih sibuk mendata rumah yang rusak, padahal sepatutnya yang lebih diprioritaskan adalah memikirkan tempat penampungan korban gempa dan dapur umum.

Warga dan tokoh masyarakat Batipuah Baruah sempat mengungkapkan kejengkelannya karena pejabat hanya sibuk mendata kemudian berlalu. Sementara warga sejak malam kejadian hanya minum air, belum makan. "Seharusnya ini yang diutamakan pemerintah," kata Syamsoear SB, pensiunan pegawai pengadilan negeri, warga Batipuah Baruah.

Terlepas dari perhatian yang agak kurang itu, warga Batipuah menumpangkan harapan kepada ninik-mamak, Taufik Kiemas Datuak Basa Batuah, suami Presiden Megawati Soekarnoputri.

"Semoga kabar duka ini sampai ke Datuak Basa Batuah di Jakarta, bahwa anak kemenakannya di Batipuah sangat berharap bantuan yang semestinya diterima oleh korban yang belum bisa berbuat apa-apa. Kecuali trauma dan kesedihan yang tiada tara karena rumah kami luluh lantak, harta benda hancur," kata Syamsoear.

GEMPA malam itu memang membuat masyarakat pada umumnya trauma. Dan sepertinya mengulang kembali trauma gempa dahsyat Padang Panjang tahun 1926.

Menurut data, gempa dahsyat Padang Panjang terjadi 28 Juni 1926. Gempa berkekuatan 6,75 pada skala Richter itu merenggut korban tidak sedikit. Rumah yang ada hampir seluruhnya rata dengan tanah.

Pusat gempa di titik 00,7 derajat Lintang Selatan (LS) dan 100,6 derajat Bujur Timur (BT).

Gempa pada Senin malam, episentrumnya hampir sama, yakni 00,55 derajat LS dan 103,3 derajat BT. Pusat gempa tektonik itu, menurut Erwin, operator BMG Padang Panjang, masih sama, yakni anak cabang patahan semangko yang membujur sepanjang Pulau Sumatera.

"Bila gempa dahsyat tahun 1926 dirasakan sampai Singapura, getaran gempa Senin malam itu dirasakan sampai Bangkinang, Riau," katanya.

"Sayangnya, gempa tak bisa diramal atau diprediksi. BMG hanya mencatat peristiwa saat kejadian. Maunya masyarakat minta kami memberitahu kalau ada tanda-tanda gempa, agar mereka waspada. Apa boleh buat, semua terpulang ke Yang Maha Kuasa dan mari berdoa agar kita tetap dalam lindungan Allah SWT, terhindar dari malapetaka," kata Erwin di ruang kerjanya yang bocor dan juga butuh perhatian pemerintah. (Yurnaldi)





Z Chaniago - Palai Rinuak -http://photos.yahoo.com/bada_masiak/

======================================================================
Alam Takambang Jadi Guru
======================================================================

_________________________________________________________________
Get fast, reliable access with MSN 9 Dial-up. Click here for Special Offer! http://click.atdmt.com/AVE/go/onm00200361ave/direct/01/


____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke