Assalamu'alaikum wr.wb.

Mak Basrihasan saya ingin menanggapi komentar mamak sedikit tentang sistim
kekhalifahan yang ambrol 300 tahun yang lalu tersebut....., kalau saja kita
mau melihat keberhasilan sistim kekhalifahan yang 700 thn lamanya, maka
kejayaan sistim demokrasi yang 300 tahun ini masih bisa dikatakan belum apa
apa...., bahkan mungkin saja nanti akan ambrol sebelum mampu menyamai
lamanya kejayaan sistim kekhalifahan. Buktinya lihat saja sistim komunis di
Uni Sovyet akhirnya ambrol juga dengan perestroika dan glasnost.

Terus terang saya dalam hal sistim negara ini saya in favor pada sistim
kekhalifahan..., yaitu sistim kekhalifahan yang dijalankan oleh para sahabat
nabi..., dan bukannya sistim kekhalifahan yang sekarang ini ada dan berjalan
seperti di saudi, atau negara2 tim teng lainnya.

Ummat islam harus menyadari bahwa begitu dia menerima islam dalam dadanya,
maka semua tindakannya mulai dari bangun sampai kembali tidur lagi haruslah
berdasarkan syari'ah islam...., mulai dari mengangkat gelas pakai dua
tangan, celana diatas mata kaki semuanya itu adalah ibadah, semua itu adalah
syaria'ah islam, jadi bukan cuma potong tangan dan hukum rajam saja yang
disebut syari'ah islam, semua aspek kehidupan umat islam adalah ibadah dan
inilah yang disebut syaria'ah islam. Untuk itu agar umat islam bisa
menjalankan semua ibadah ini, diperlukan tempat atau negara yang bisa
memberi sarana agar semua aktivitas umat islam itu halal dan sesuai dengan
syari'ah islam, negara yang paling tepat untuk itu adalah negara khilafah
yang dipimpin oleh seorang khalifah.

Memilih khalifah seperti halnya memilih imam sembahyang, haruslah ada
kriterianya seperti dipilih karena usianya, kemahirannya membaca alqur;an
dan pemahaman tentang islam yang lebih dari jamaah yang lain...., begitu
juga pemilihan khalifah yang sifatnya lebih besar dari imam sembahyang,
tentu lebih banyak lagi kriterianya.

Namun yang paling penting khalifah ini haruslah dipilih oleh umat dan bukan
diwariskan.
Salah satu sahabat nabi Umar bin khatab pernah berkata bahwa islam itu
aslinya berbentuk jamaah, dan tiap2 jamaah harus ada imamnya, maka yang
paling tepat imam untuk umat islam adalah seorang khalifah...

Demokrasi sendiri pada prakteknya berbeda penerapannya dari satu negara
kenegara yang lain kalau dibandingkan dengan konsep awal lahirnya demokrasi
itu sendiri, dalam banyak hal demokrasi memang telah berhasil mengangkat dan
membela hak2 konstitusi maupun hak azasi rakyat dinegara tersebut...., namun
jangan lupa amrik sebagai pentolannya negara demokrasi nyatanya juga sangat
ambivalent penerapannya..., terutama dalam politik luar negrinya....

Saran saya coba fikir lagi oleh mak sbn...., manakah yang paling pantas bagi
umat islam.....negara khilafah atau negara demokrasi.......
bagi umat islam diindonesia lebih mudah menerima dan melaksanakan bentuk
negara pertama, karena dalam sehari harinya islam sudah menjadi way of life
mereka, sudah menjadi bagian dari diri mereka...., sedang demokrasi
diindonesia nyatanya seorang gusdur yang islam saja terbukti pemerintahannya
yang cuma seumur jagung, namun tercatat menumpuk korupsi dimana mana....,
dan saya yakin dalam negara khilafah, orang akan berfikir seribu kali untuk
cuma sekedar mencuri jemuran tetangga.
jangan juga lupa negara amrik bisa seperti sekarang ini setelah melalui
tahun2 yang panjang dan berdarah darah dengan perang sipilnya...., penerapan
sistim demokrasi tidaklah mudah....apalgi dindonesia..., cuma melahirkan
kesempatan untuk orang bisa teriak2 meneriakkan ketidak puasannya, namun
tetap saja bila presiden atau mentri bersalah, rakyat tak bisa apa
apa....Lantas mana sih kedaulatan rakyat itu....?

wassalam
Adrisman



----- Original Message ----- 
From: "basrihasan" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Komunitas MINANGKABAU (Urang Awak) Pertama di Internet (sejak 1993)"
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, March 04, 2004 6:52 AM
Subject: RE: [3] [EMAIL PROTECTED] 14.200 Warga Kulit Putih ... FUNDAMENTALIS
(?),...


> Wassalamu'alaikum wr. wb.
>
> Sutan Sinaro, soal lulua malulua ko, justru manjadi
> panyakik dasar ummat Islam kiniko, soal iman memang
> harus dilulua, tapi soal way of life, jangan dilupakan
> context waktu dan tempatnya. Kalau angku manyamoratokan
> sajo urang jaman nabi jo wakatu kini, sama saja mengingkari
> sunatullah alam yang paling dasar yaitu semua alam itu
> berubah, yang diyakini tidak berubah ialah Sang Perubah
> (Allah SWT) itu sendiri.
> Sutan Sinaro takut sama demokrasi, mungkin Sutan lahir di
> Jeddah atau Kairo, karena sejak tidak pernah mau mempelajari
> apa itu demokrasi.Menurut saya demokrasi itu berasal dari
> peradaban Islam yg bersentuhan dengan Katolik Eropa dahulu.
> Kalau ummat Islam sekarang (palestina, KSA, dll takut dgn
> demokrasi adalah akibat sekelompok mereka akan kehilangan
> kekuasaan yang telah turun temurun bila demokrasi berjalan.
> Perkembangan faham pemikiran Islam memang belum beranjak dari
> sistek kalifah, pada hal sistem itu sudah ambrol sejak 300
> tahun yang lalu. Sayangnya setiap pemikir baru dalam hal
> ini sering langsung disingkirkan seperti Arkoun dll.
> Salam,
>
> SBN

____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke