Titik seleraku mendengar kata rendang di sebut-sebut. Semasa kecil ketika anduang saya masih punya sawah berpetak-petak yang namanya rendang ini hadir paling 2 atau 3 kali dalam setahun. Dan yang paling sering kalau musim panen yang diiringi oleh musim kawin tiba. Anak sekecil aku pasti sudah menunggu di dapur kalau ada keluarga yang merayakan pesta pernikahannya. Amak pun dengan senang hati mengajak ikut “mambao tekoang kato rang kampuang” untuk menikmati gulai jariang jo gulai cubadak syukur-syukur kalau nasib lai elok dapek randang paru tuh. Nikmat rasanya bersama teman2 sehabis berlari kian kemari pakai baju baru jo tarompa baru malagak kawan nan indak babaju sambil makan gulai jariang. Aah sedaap..

 

Bertambah titik seleraku kalau mengingat yang membuat rendang itu adolah almarhumah uwo indun yang seringkali kalau aku mendekat dia pasti ngebungkusin dua potong rendang dengan daun karisik ketika alek uni ita tu. Aku sambil pura2 ke pinggir sawah di tengah-tengah kebon parancih pelan2 mengudap satu per satu sambil meniup-niup supaya lidah tidak luka bakar karena panasnya daging rendang tadi. Aah sedaap…. Biasanya setelah beberapa lama mengidar kian kemari si uwo pasti sudah tau kalau aku akan balik.

 

Benar saja selang satu jam aku sudah balik lagi mendekat Uwo indun bersama satu orang teman dengan maksud yang sudah ditebak. Belum beberapa jauh uwo indun sudah marah-marah sambil bilang udah cukup. “Sarupo bulando mintak tanah ang ko mah, alah di bungkuihan ciek iko ang baok pulo kawan ang. Alah tu indak adoh lai” uwo indun berujar sambil mengaduk rendang. Tapi dengan penuh daya rayuan biasanya aku dan teman berhasil memperoleh rendang dari uwo indun yang senang memberi anak2 seperti kami. Bahkan di lain waktu uwo indun kalau ketemu kami biasanya juga ngasih kue talam, lapek pisang yang sengaja di beli diwarung One imah. Biasanya kami hanya berterima kasih sambil berlari2an menikmati pemberian si orang tuo yang baik itu.

 

Kini seandainya Uwo Indun tau rendangnya yang enak yang sering dibungkus daun karisik dan digemari oleh anak2 kecil itu sudah dipatenkan oleh orang Malaysia sana barangkali Uwo Indun akan menuntut atau mungkin juga Uwo Indun bangga bahwa karyanya bisa di nikmati oleh orang se dunia dan sedih karena warisannya tidak jatuh kepada yang berhak. Entahlah…Yang jelas warisan cucu uwo indun alah dicilok urang subarang.

 

Perlukah kita menangisi, maratok i kahilangan warisan ninik moyang kito???  Saya rasa tidak. Banyak hal-hal positif yang masih dapat kita lakukan. Warisan ninik moyang kito masih banyak, jangan lah sampai dicilok untuk yang keduo kalinya. Kalau bisa mari pulo kita maatur strategi handak mancilok warisan urang lain.

 

 

Rahyussalim

____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke