Waalaikum salam, Apakah disana sudah jalur antrian yang dikawal petugas? Apakah sudah ada jalur masuk dan jkelauar yang jelas serta ada batas yang kuat dan tidak akan roboh oleh desakan beberapa orang dewasa? Apakah disana sudah ada petunjuk audio visual menggunakan jalur tersebut.
Kesiapan yang saya maksud ialah kesiapan para petugas keamaanan dan petugas kesehatan berikut perlengapan dan peralatan mereka untuk setiap saat mengevakuasi, memberikan pertolongan pertama dan mengirim kerumah sakit jemaah yang mengalami kecelakaan berdasarkan trend kecelakaan yang terjadi pada kegiatan pelemparan jamarat.
Bahwa pihak keamanan Pemerintah KSA gagal memprediksi kecelakaan yang memakan korban sedemikian banyak pada musim Haji 1424 H yang lalu kita semua tahu. Tetapi kegagalan untuk memprediksi hal-hal yang luar biasa, bisa terjadi pada siapa saja, termasuk petugas keamanan AS yang terkenal sangat profesional dan memiliki peralatan yang sangat canggih dalam memprediksi terjadinya serangan teroris pada peristiwa 11 September 2001.
Menebar kiat-kiat untuk mencegah terjadinya kecelakaan tersebut setelah peristiwa terjadi---cakak abih silektakana---tentu mudah. Tan Bagindo Nagari, masih bisa menambah puluhan kiat lain. Tetapi pengawalan jalur antrian oleh petugas, adanya jalur masuk dan keluar yang jelas. adanya batas yang kuat dan tidak akan roboh oleh desakan serta petunjuk audio visual menggunakan jalur tersebut hanya akan bermanfaat kalau para jemaah yang melempar jamarat tidak akan banyak bermanfaat selama para pelempar jamarat masih terkosentrasi pada waktu-waktu yang dianggap afdal. Dan ini berawal bagaimana para jemaah, kafilah, kloter, maktab dan muasasah mengatur diri mereka.
Setahu saya semuanya belum ada, karena itu accountability KSA jangan ditutupi terus dengan hal2 bak seperti pipa air zamzam, yang benilai sekunder dibanding nyawa manusia. Soal yang berkaitan dengan projek mereka kelihatanya sangat gesit, lihat saja pembangunan mesjid Nabawi, nggak peduli mereka siapa kontraktornya.
Peristiwa Mina 1424 H adalah tragedi kemanusiaan yang besar, yang sebenarnya bisa dicegah atau diperkecil kemungkinan terjadi. Jadi kalau peristiwa ini dikaji ulang tujuan utamanya hendaklah bagaimana supaya semua pihak, termasuk Pemerintah KSA mencegah peristiwa semacam ini terjadi di waktu yang akan datang. Dan saya jelas tidak dalam posisi untuk membenarkan semua tindakan Pemerintah KSA. Apa yang saya kemukakan dalam posting terdahulu hanyalah sikap saya yang selalu berusaha melatih diri saya untuk tidak melihat seuatu secara hitam putih, sikap yang tidak didasarakan prejudice bahwa apa saja yang dilakukan pejabat-pehabat KSA pasti salah, apapun yang berbau Wahabi pasti buruk. Dan seperti itu pulalah saya bersikap kepada pihak-pihak lain, termasuk kelompok non-muslim.
Saya terkesan KSA memang kurang menghargai hak azasi manusia, contohnya hak visa personal untuk haji justru tidak ada. Saya rasa sudah waktunya pengelolan Mekkah dan Madinah oleh international working group
Sebelum saya melaksanakan ibadah Haji tahun lalu saya termasuk orang yang berfikir perlunya internasionalisasi kora suci Mekah dan Medinah atau semacamnya. Tetapi setelah mendengar, mempejari, melihat dan merasakan apa yang sudah, sedang dan yang akan dilakukan oleh Pemerintah KSA, resources dan kemauan politis Pemerintah KSA untuk meningkatkan pelayanan bagi jemaah haji, internasionalisasi kora suci Mekah dan Medinah, paling tidak dalam sepuluh atau dua puluh ke depan bagi saya tidak lebih hanya sebuah utopia.
Dan menurut hemat saya, yang prioritas dikakukan waktu ini ialah mereformasi penyelenggaraan ibadah haji di Republik tercinta ini yang saat ini banyak ditangani petugas-petugas yang tidak profesional dan para pancilok.
Dan ini jelas jauh lebih sukar ketimbang mencerca-cerca Pemerintah KSA.
Wassalam, Bandaro Kayo
Salam
----- Original Message ----- From: Darwin Bahar <mailto:[EMAIL PROTECTED]> To: Komunitas MINANGKABAU (Urang Awak) Pertama di Internet (sejak 1993) <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Sent: Sunday, March 14, 2004 3:39 AM Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Kisah Perjalanan Haji ( Kubah bergeserdan payungmenguncup)
Assalamualaikum Wr. Wb.
Adalah tidaklah adil melimpahkan pertanggungan jawab peristiwa Mina kepada Pemerintah KSA semata. Apalagi kita tahu, disiplin para jemaah dan para pembimbing mereka tidak sedikit yang masih rendah.
Sepanjang yang saya ketahui, Pemerintah KSA selalu berusaha menyempurnakan pelayanan kepada para jemaah haji setiap tahunnya, baik dari segi penyiapan prasarana maupun penyempurnaan organisasi pelaksanaan ibadah, termasuk kesiapan petugas untuk mengantisipasi kejadian-kejadian yang tidak diinginkan di Mina
Keberhasilan Pemerintah KSA dalam menerapkan penggunaan Bus “shuttle” dalam rute Arafah-Muzdhalifah-Mina (yang tahun lalu mengalami kegagalan yang menyebabkan banyak jemaah haji dari Asia Tenggara, termasuk sebahian besar kafilah kami, terpaksa berjalan kaki dari Muzdhalifah ke Mina di bawah terik matahari), seperti yang dilaporkan H. Zul Amry, sama sekali bukanlah prestasi kecil.
Sahabat dan rekan sekantor saya, seorang insinyur teknologi lingkungan yang dalam tahun 1998 melakukan umrah dan haji berselang 3 bulan menceritakan kepada saya, bahwa waktu dia umrah dia melihat pipa-pipa berdiameter besar yang akan menyalurkan air Zam-zam dari Masjidil Haram, masih bergeletakkan di jalan. Namun sewaktu dia melaksanakan ibadah haji, pipa-pipa tersebut sudah tertanam rapi, dan sejak itu para jemaah haji di Mina bisa memperoleh air zam-zam dari dispenser yang bertebaran di pinggir-pinggir jalan.
Hal lain yang perlu dicatat ialah bahwa pada dasar pelaksanaan manasik haji tidak dilakukan oleh Pemerintah KSA, tetapi oleh pihak swasta (maktab-maktab). Dan kita semua tahu bahwa pengurus-pengurus maktab tersebut bukan malaikat, tetapi manusia biasa seperti kita..
Walaupun demikian tentunya tidak ada yang tidak sepakat bahwa pelaksanaan ibadah haji memerlukan banyak penyempurnaan setiap tahun, termasuk pemanfaatan teknologi tinggi, misalnya melakukan penginderaan pergerakan jemaah via satelit.
Tetapi kita tahu, mengendalikan pergerakan manusia dan peribadatan 2,5 juta manusia (= penduduk kota Bandung) adalah pekerjaan yang sangat-sangat jauh dari sederhana. Secanggih apappun teknologi pendukung yang digunakan, yang mungkin diharapkan hanya memperkecil korban, tidak meniadkan sama sekali.
Kita juga tahu pembatasan jumlah jemaah adalah kebijakan yang tidak diambil Pemerintah KSA dengan sukacita, dan kebijakan ini akan semakin dilematis dengan semakin bertambahnya pemeluk Agama Islam di negara-negara industri maju. Karena itu reformasi fiqih klasik mengenai manasik haji agaknya sesuatu yang niscaya. Sayangnya gagasan-gagasan alternative seperti yang dilontarakan oleh Masdar Mas’udi dkk, pagi-pagi sudah “dibantai” habis-habisan.
Satu hal lagi yang bagi saya sangat memprihatinkan, ialah semakin menajamnya “kasta” di kalangan jamaah, antara yang mampu membayar untuk menginap di hotel-hotel mewah di sekitar dua masjid utama, dengan mayoritas jemaah kelas “Sudra” yang terpaksa harus rela menginap di bangunan-bangunan dengan fasilitas seadanya dan berjarak sampai dengan 7 km dari Masjidil Haram, suatu hal yang sangat jauh dengan semangat Islam, seperti yang dicontohkan oleh junjungan kita Al-Mustafa Rasulullah sepanjang hehidupan beliau.
Wallahualam wissawab
Wassalam, Darwin Bahar gelar St Bandaro Kayo (60+)
zul amri wrote:
Assalamualaikum wr.wb: Mak SBN Yth : Kalau urusan masalah pertanggungan jawab KSA atas kejadian / peristiwa Mina itu bukan urusan saya , saya lebih senang menulis yang ringan ringan saja , mungkin selama ini belum ada yang mengungkap seperti sholat sunnah di masjid Quba pahalanya sama dengan umroh dll . Urusan protes sama KSA biarlah itu diselesaikan G to G yang lebih berkonpeten dan indak bisa salasai di awak . Salam : zul amry piliang
basrihasan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________
