|
Terima kasih atas komentar saudara Adrisman. Kita harus maklum selama 30 tahun , jadi satu generasi kita dibawah penguasa repressif. Pada waktu itu kita tidak punya kesempatan berdiskusi, kalau berbeda pendapat maka lansung dituduh macam macam. Kondisi ini mau tidak mau mempengaruhi segala lini kehidupan kita,tidak terkecuali dunia pendidikan. Disekolah mungkin anak anak tidak mendapat kesempatan berdiskusi secara benar. Mudah mudahan masa yang akan datang dunia pendidikan kita lebih baik. Sekali lagi terima kasih dan selamat menikmati pulang kampung. Wassalam : Isna H Adrisman Yunus wrote: Assalamu'alaikum wr.wb. Ibu Isna, Dian, Dika jo sanak RN lainnyo dipalanta. Maaf kalau ambo sato sato pulo masuak dalam diskusi sanak kasadonyo.Setiap kali kita berdiskusi, banyak yang bisa kita dapatkan dalam diskusi tersebut, tidak sedikit ilmu2 atau informasi yang tadinya tidak kita ketahui akhirnya menjadikan kita tahu atau memancing kita jadi ingin tahu. Namun sebagaimana halnya berdiskusi berhadap hadapan didunia nyata maupun didunia cyber ini, tidak tertutup terjadinya pro dan kontra terhadap hal2 yang didiskusikan tersebut. Kita sebaiknya mulai belajar membiasakan bersikap seperti sesama saudara atau sesama saudara muslim yang berdiskusi dan ingin mencari manfaatnya dari hasil suatu diskusi. Diskusi harus diusahakan memfokuskan pada masalah yang sedang didiskusikan dengan tujuan mencari yang terbaik dari solusi yang ada, bukan dengan niat mencari kemenangan apalagi kalau ditambah tambahi dengan menyorot pribadi yang sedang berdiskusi, kemudian diperparah lagi dengan membanding bandingkan pribadi yang satu dengan pribadi yang lain. Ini menurut saya bukanlah diskusi yang sehat. Ingatlah kita adalah sesama orang iman, besar kecilnya kadar keimanan atau pengetahuan kita masing2 tidaklah ada yang tahu, tidak selayaknya kita terlalu cepat mengambil kesimpulan, apalagi kesimpulan yang didukung fakta yang sangat sedikit, cuma dengan menilai apa2 yang ditulis atau dipostingkan saja. Membanding bandingkan seseorang, apalagi orang tua yang satu dengan orang tua yang lain adalah benar2 kurang pantas, pengalaman yang didapat oleh bertambahnya umur dan perjalanan hidup tidak akan bisa digantikan oleh orang2 muda yang belajar walau bagaimana tinggipun, yang ada adalah ilmu yang didapat dengan pengalaman dan belajar dari sekolah/pesantren adalah berbeda. Masing2 punya kelebihan, kita sebaiknya mensinergykan hal ini, bukannya malah menganggap masing2 tidak tahu apa2 atau sebaliknya merasa lebih tahu dari yang lain. Inilah salah satu faktor yang membuat kita susah menjadi bangsa yang maju, susah menjadi bangsa yang bersatu. Mudah mudahan tanggapan saya ini bermanfaat, silahkan kalau sekiranya ingin melanjutkan diskusinya lagi. Wassalam. Adrisman --- dika <[EMAIL PROTECTED]> wrote:Isna Huriati <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Assalamu'alaikum ww. Dian, ambo yakin nanda masih sangaiak mudo. Mungkin katiko Dian lahia nagari awak lah parah ko juo, ambo iyo indak tau doh. Ambopun indak tau Dian lahia dima. Nan jaleh kalau urang Cino Islam bisa basikap jujur dalam manggaleh sasuai jo ajaran Islam, baa mangko awak indak bisa atau awak indak namuah. Jujur dalam badagang indak ado perbedaan pandapek ulama sapanjang pangatahuan ambo, sadangkan jilbab masih ado perbedaan pendapek ulama. Perlu di perjelaskan oleh bunda Isna dimana letak perbedaan masalah jilbab itu oleh ulama ??? Setahu saya yang pernah mempelajari agama,Ulama islam yang benar-benar tahu Islam,tidak ada perbedaan atas kewajiban mamakai Jilbab ini,karena nash nya dalam Al Qur'an cukup jelas ,apa yang memperdebatkan itu kalau bunda isna mengatakannya,di pertanyakan dulu keulamaannya. Masalah kewajiban Jilbab ini juga masalah inti dalam agama,bukan seremonial belaka.Yang mana bunda maksudkan seremonial itu ? Ulama yang sebenar-benar ulama ( Sesungguhnya yang benar-benar takut pada Allah hanyalah Ulama ),mereka ini sangat takut pada Allah,tak kan mungkin ia mempunyai perbedaan dalam hal kewajiban berjilbab itu.saya lihat bunda Isna perlu lagi mempertajam masalah agama dan perbedaan ulama itu bagaimana. Pernyataan bunda isna mengatakan bahwa jilbab masih ada perbedaan ulama di dalamnya seakan-akan kewajiban jilbab yang di perintahkan Allah masih ada keraguan ( ketidak jelasan ) didalamnya,karena masih ada perbedaan ulama,sebagaimana yang bunda katakan.Tolong bunda perhatikan pernyataan-pernyataan bunda,yang saya lihat email-email bunda argument yang diberikan tidak kuat dan seakan-akan hanya berupa pendengaran kata saja,bukan penelitian dengan analisa yang cukup. Maaf,walaupun umur saya masih jauh lebih muda dari bunda,tapi saya yakin tak semua yang berumur tua itu seperti yang diharapkan muda-muda sekarang.Seharusnya yang tua memberikan contoh yang baik pada yang muda-muda.Jangan terlalu banyak mengharap dari yang muda,sementara didikan dan contoh tauladan yang diberikan pada kami yang muda-muda,tak seperti yang kami harapkan.Kami ini juga adalah buah dari hasil tanaman yang tua-tua juga. Mohon maaf ,semoga mail ini meski datangnya dari yang muda,bermanfaat juga buat semuanya,terutama bunda isna sendiri.saya lebih salut dengan beberapa postingan yang sudah berumur seperti Bunda Nismah,pak Lembang Alam,Apak Zul Amry,Apak Mulyadi ,Pak Ismet dan masih banyak lagi yang saya lihat cukup Arif dan bijaksana sekali dalam menanggapi setiap postingan yang ada. Thank's . Jannah. Wassalam Isna H Sukmawat, Dian wrote: Mungkin Bundo Isna pas basuo nan buruaknyo , tapi kalau manuruik ian iyo biaso-biaso ajo, samo ajo di Daerah urang lain, pasti ado nan bantuak itu. Bak kecek Uda Ismet itulah Kehidupan , ado nan rancak ado nan buruak. Bundo Isna jaan dibandiangkan Cino tu jo Sumbar , jo Jakarta nan Ibu Kota Negara masih kalah jauah...... tapi kalau sekedar berangan-angan iyo indak apo-apo do Bundo. Thank's dian -----Original Message----- From: M. Ismet Ismail [mailto:[EMAIL PROTECTED]] Sent: Friday, March 26, 2004 5:01 PM To: Komunitas MINANGKABAU (Urang Awak) Pertama di Internet (sejak 1993) Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Petani Nunggak Rp81 M - dari rantau utk kampuang Assalamu'alaikum WW Antahlah Isna dan Capt jo Z Chan jaan talampau kiro (over acting) manganggap urang yang tingga di Sumbar kiniko buruak sado alahe (seolah-olah awak se yang di rantau ko elok-elok). --------------------------------- Post your free ad now! Yahoo! Canada Personals____________________________________________________Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net ________________________________________________________________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net ____________________________________________________ |
____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net ____________________________________________________
