|
Assalamu'alaikum w w. Ambo bukan ulama. Ambo makmum. Pendapat itu berasal dari ulama ahli tafsir bapak Dr. Quraish Shihab, ulama lulusan Universitas Al Azhar,. Karya beliau terakir kalau tidak salah adalah Tafsir Al-Mishbah. Ambo ingin mangutip kata pengantar beliau dalam tafsir tersebut sebagai berikut : " Tafsir Al-Qur'an adalah penjelasan tentang maksud firman-firman Allah sesuai kemampuan manusia . Kemampuan itu bertingkat- tingkat, sehingga apa yang dicerna atau diperoleh oleh seorang penafsir dari al Qur'an bertingkat- tingkat pula. Kecenderungan manusia juga berbeda -beda , sehingga apa yang dihidangkan dari pesan -pesan Ilahi dapat berbeda antara yang satu dengan yang lain. Jika Fulan memiliki kecendrungan hukum , tafsirnya banyak berbicara mengenai hukum. Kalau kecenderungan si Anu adalah filsafat, maka tafsir yang dihidangkannya bernuansa filosofis. Kalau studi yang diminatinya bahasa , maka tafsirnya banyak berbicara tentang aspek aspek kebahasaan. Demikian seterusnya. Keberadaan seseorang pada lingkungan budaya atau kondisi sosial , dan perkembangan ilmu ( nan iko tambahan dari ambo : buya Hamka manafsirkan dzarrah jo atom, tapi kini kan lah DNA dsb ) , juga mempunyai pengaruh yang tidak kecil dalam menangkap pesan-pesan al-Qur'an. Keagungan firman Allah dapat menampung segala kemampuan, tingkat, kecenderungan dan kondisi yang berbeda-beda itu . Karena itu, bila seorang penafsir membaca al-Qur'an maka maknanya dapat menjadi jelas di hadapannya, tetapi bila ia membacanya sekali lagi ia dapat menemukan lagi makna-makna lain yang berbeda dengan makna sebelumnya. Demikian seterusnya, hingga boleh jadi ia dapat menemukan kata atau kalimat yang mempunyai makna berbeda-beda yang semuanya benar atau mungkin benar. "Ayat-ayat al-Quran bagaikan intan , setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut lainnya, dan tidak mustahil jika kita mempersilahkan orang lain memandangnya , maka ia akan melihat banyak dibandingkan apa yang kita lihat", (iko dari ambo: mungkin itu sababnya urang Barat dari ugamo lain manuka ugamonyo jo Islam ) demikian lebih kurang tulis Abdullah Darraz dalam bukunya an-Naba'al-'Azhim. Saya kutip kata pengantar diatas karena saya senang merasakan indahnya Al-Quran itu, yang tidak indah memang kelakuan manusia, seperti yang disanggahkan malaikat kepada Allah swt dalam al- Baqarah ayat 30. Mohon maaf kepada sanak yang yang tidak berkenan atau yang sudah membaca kata pengantar ini. Sebagaimana pak Quraish selalu menutup jawaban beliau atas suatu pertanyaan dengan Wa Allah A'lam, maka ambo akan mengakiri jawaban ambo ka nanda jo Wa Allah A'lam, semoga nanda puas. Wassalam :Isna H dika wrote:
|
____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net ____________________________________________________
