Bahaya Merasa Cukup
Penghalang pertama dan terbesar bagi manusia untuk
�menemui Tuhannya� adalah pikiran/perasaan�merasa
cukup�,�tidak butuh� atau istaghna dalam istilah
al-Qur�an(QS 96:7).
Sering kali sedemikian tebalnya pikiran/perasaan tidak
peduli akan Tuhan ini sehingga Al-Qur�an harus
berulang-ulang mengingatkan manusia dengan berbagai
cara untuk menunjukkan betapa bodoh dan berbahayanya
sikap ini bagi perjalanana nasibnya.
Dampak paling membahayakan dari sikap istaghna ini
adalah membuat seseorang �kehilangan jati dirinya
sendiri�.
Janganlah engkau seperti orang yang melupakan Allah
sehingga Dia menyebabkan mereka lupa kepada diri
sendiri mereka inilah orang-orang yang sesat(59).
Melupakan Allah SWT menyebabkan manusia mengalami
fragmentasi eksistensi,� sekularisasi� kehidupan.
Kondisinya selalu goyah,tidak pernah stabil.Kalau
tidak sombong ia akan putus asa,kalau tidak merasa
menjadi ukuran segala sesuatu ia akan merasa tidak
memiliki kemampuan apa-apa,dan seterusnya.
Ini adalah kondisi setan yang dalam Al-Qur�an disebut
dengan istilah kufur atau kehilangan energi moral
secara total.
Sebaliknya,mengingat Allah akan menjamin keutuhan
pribadi dimana seluruh detail kehidupan dan aktivitas
manusia mengalami integrasi dan sintesa sebagaimana
yang semestinya.
Secara ekstrim Rasulullah pernah
mengatakan:Perumpamaan orang yang mengingat
Tuhannya dan yang tidak adalah seumpama orang yang
hidup dan orang mati(HR.Bukari dan Muslim).
Sementara Muhammad Iqbal dengan Indah menggambarkan
dalam salah satu sajaknya perbedaan diantara bertuhan
dengan tidak bertuhan:
Tanda seorang kafir adalah ia hilang di dalam
cakrawala. Tanda seorang mukmin adalah cakrawala
hilang didalam dirinya.
Allah adalah cahaya yang menerangi setiap sesuatu
sehingga menemukan kehidupan dan tingkah laku yang
wajar:
Allah adalah cahaya langit dan bumi. Cahaya itu
bagaikan sebuah ceruk dimana terdapat sebuah pelita
yang ditaruh di dalam sebuah bejana.
Bejana tersebut sedemikian beningnya bagaikan sebuah
bintang yang gemerlapan.
Pelita itu dinyalakan dengan minyak zaitun yang berkah
,yang tidak tumbuh baik di Timur maupun di Barat dan
yang memancarkan cahaya walaupun tidak
tersentuh api. (Allah adalah)cahaya diatas cahaya.Dan
dengan cahaya-Nya dia menerangi orang-orang yang
dikehendaki���(24:35)
Sebaliknya kekuatan-kekuatan yang anti-Tuhan menurut
Al-Qura�an adalah seperti kegelapan yang
berlapis-lapis di tengah amukan samudera dengan
ombak-ombak yang saling gulung-gemulung sedang ombak
itu sendiri ditutupi oleh awan(yang kelam)kegelapan
yang berlapis-lapis.Jika seseorang tidak dikehendaki
oleh Allah untuk memperoleh cahaya-Nya niscaya ia
tidak akan
mendapatkan cahaya(24:40)
Lebih jauh sikap istaghna memebuat seseorang
kehilangan energi untuk bersyukurdan bersabar. Syukur
adalah kemampuan untuk berterimakasih dan meningkatkan
daya kebaikan tidak menafikkan dan membuang begitu
saja sapa saja karunia yang selam ini telah diterima.
Sedang sabar adalah kemampuan untuk berlaku tabah
karena berpegangan teguh pada tujuan akhir dan merasa
masih ada tempat untuk bergantung. Bagi orang yang
merasa bangga dan cukup dengan dirinya sendiri kedua
sikap ini tentu menjadi sesuatu yang mustahil.
Ketika mendapat karunia ia akan menjadi sombong karena
merasa bahwa semua itu adalah hasil dari usahanya
sendiri,sedang ia akan putus asa karena kehilangan
arah dan tidak ada tempat untuk bergantung.
Syukur dan sabar sesungguhnya buah dari dzikrullah
atau ingat Allah.Keduanya merupakan dua dinding yang
akan menjaga manusia agar tidak keluar jalur,
agar selalu tetap di jalan yang lurus(sirathal
Mustaqim). Syukur akan menjadikan seseorang semakin
sederhana, qanaah, zuhud ,lembut dan fleksibel
dalam menghadapi hidup ini. Sedang kesabaran akan
membuat seseorang semakin kuat menghadapi hidup ini,
berpegang teguh pada tujuan, dan tugas.
Dalam satu episode kehidupan Muhammad SAW dalam
menempuh jalan untuk menemui Tuhannya kita pernah
melihatnya hampir putus asa/kehilangan kesabaran di
dalam menghadapi ujian yang menghadang. Alqur�an
kemudian memintanya untuk mengingat-ngingat dan
menyadari bahwa betapa nikmat yang telah diberikan
Allah kepadanya selama ini sudha terlalu
banyak.(Q.108:1 dan Q.93:6-8). Jika ia telah menyadari
demikian,adakah alasan baginya untuk berkecil hati
kepada Allah dan berhenti di tengah jalan? Itukah yang
dinamakan ber-Islam, berserah diri dan tunduk kepada
maunya Allah?
Bertahun-tahun kemudian setelah Muhammad SAW matang
pengalaman dan sukses dalam mencapai misinya,seorang
sahabat bertanya, �Ya Rasulullah,terangkan kepadaku
tentang Islam yang aku tidak akan bertanya lagi kepada
orang lain",. Lalu Rasulullah SAW menjawab,
�katakanlah: Aku beriman kepada Allah,
kemudian istiqomah-lah.�(HR.Muslim)
Nampaknya bagi Rasulullah jalan �menemui Allah�
berarti percaya penuh pada Tuhan, mengikuti jalan yang
menuju ke arah-Nya dan tidak keluar jalur, serta
mengatasi berbagai berbagai macam ujian dan rintangan
di jalan. Itulah yang disebut ber-Islam.
Satu-satunya jalan lurus adalah yang menuju kepada
Allah. Sedang yang selain itu adalah jaln-jalan yang
menyimpang (16:7).
Diambil dari Hidayatullah
___________________oOo_________________________________
Ayat Of The Day:
" Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan
mereka
malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka
tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang
diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati
karena takut kepada-Nya."
(Al-Quran, Surat AlAnbiyaa 21:28)
__________________oOo_________________________________
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________