Ronald P. Putra writes:

assalaamu 'alaykum wR wB

Wa 'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,


Dek Ahmad Ridha (bolehkan dipanggil adek ?)

Tentu boleh, Da. Senang dapat diikatkan tali persaudaraan dalam Islam. Mohon maaf sekali jika saya yang junior ini terasa lancang dalam upaya saya menuntut ilmu. E-mail ini juga cukup panjang (sehingga terlambat dikirim) karena walaupun e-mail Uda relatif singkat namun isinya sungguh terasa berat.


apa-apa yang dek Ahmad sampaikan benar di satu sisi. Tapi ketika dek Ahmad menyampaikan argumen dengan beberapa dalil dan hujjah-hujjah tsb, ketahuilah bahwa di seberang sana, pihak lain juga punya hujjah-hujjah sendiri dengan argumen yang kuat pula. Mana yang benar ? wallahu 'alam.

Maafkan adikmu ini, apakah ada dua kebenaran yang bertolak belakang?


Mungkin kisah yang menarik dalam hal ini adalah masalah pelaksanaan shalat ashar sewaktu berangkat perang ke Bani Quraidhah (mohon koreksinya jika salah). Pada waktu itu sebagian sahabat shalat sebelum tiba di tujuan karena takut kehilangan waktu sedangkan yang lainnya shalat di Bani Quraidhah sesuai perintah Rasulullah. Beliau tidak menyalahkan salah satu di antaranya namun apakah itu berarti ada dua kebenaran yang bertolak belakang? Tentu tidak karena keduanya didiamkan Rasulullah (yang menunjukkan pembenaran) karena beliau tidak akan membiarkan kesalahan. Namun itu adalah contoh kemudahan dan keluasan Islam. Seperti halnya saat bersafar boleh berbuka atau berpuasa, serta perbedaan qira'ah yang memang benar diriwayatkan dari Rasulullah.

Namun apakah mungkin misalnya suatu urusan/hal dinyatakan haram oleh satu pihak namun dinyatakan halal oleh pihak yang lain dan kedua-duanya benar?

Memang sangat sulit untuk mengetahui kebenaran dalam semua hal dan saya sendiri masih sangat kurang. Akan tetapi janganlah sampai kita terkena ancaman Allah.

"Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS. An-Nisaa' 4:115)

Berarti hanya ada satu jalan kebenaran yakni jalan orang-orang mukmin. Siapakah orang-orang mukmin itu? Tentulah Rasulullah dan para sahabatnya.

Rasulullah bersabda:

"Sebaik-baik manusia adalah generasiku (Rasulullah dan sahabat) kemudian orang-orang sesudah mereka (Tabi'in) kemudian orang-orang sesudah mereka (Tabi'ut Tabi'in)." (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad).

Umat Islam ini telah ratusan tahun terbelah karena memperdebatkan hal-
hal yang tidak prinsipil, masing-masing memiliki hujjah sendiri-sendiri dan tidak pernah mau berkompromi, bahkan untuk hal-hal yang sepele sekalipun. Memang demikianlah kenyataannya.

Allah sudah memberitahukan resepnya:


"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisaa' 4:59)

Namun memang Allah telah menetapkan bahwa tidak semua orang akan berada di jalan yang benar.

"Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya." (QS. Hud 11:118-119)

Dalam keadaan yang berselisih itu, apakah kita boleh menentukan sesuatu hanya menurut pendapat kebanyakan orang?

"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)." (QS. Al-An'aam 6:116)

"Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur." (QS. Al-Baqarah 2:243)

"Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Maa-idah 5:49)

Dalam hadits Rasulullah:
"Dari Abu Hurairah ia berkata : "Telah bersabda Rasulullah SAW. Kaum Yahudi telah terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan atau 72 (tujuh puluh dua) golongan dan Kaum Nashrani telah terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan atau 72 (tujuh puluh dua) golongan dan ummatku akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan". (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dll)


Bahkan Islam akan menjadi asing. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

"Artinya : Sesungguhnya Islam dimulai dengan keterasingan dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing (Al-Ghuraba)" (HR. Muslim)

Namun Allah telah memberitahukan do'a yang begitu baik.

"(Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)." (QS. Aali-Imraan 3:8)

Kita tetap diperintahkan untuk mengikuti jalan Allan yang lurus.

"Dan inilah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah jalan itu dan kamu jangan mengikuti jalan-jalan yang lain sehingga kalian berpecah-belah dari jalan Allah. Itulah yang Allah wasiatkan padamu agar kamu bertaqwa." (QS. Al-An'am 6:153)

Manusia juga tidak lepas dari kesalahan itulah kita tidak boleh lupa memohon ampunan-Nya.

"dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat." (QS. Huud 11:3)

Maka ketika dek Ahmad memberikan argumen dgn berbagai dalil dan hujjah, saya yakin seyakin-
yakinnya bahwa tentunya para ustadz di PKS juga memiliki dalil dan hujjah pula, sehingga mereka berijtihad utk mendirikan Partai dan meretas jalan yang mereka lalui sekarang ini. Kalau dikupas, maka nggak akan habis waktu utk membahasnya. Tidak akan efektif saya rasa.

Di atas telah saya kutipkan resep Allah dalam menangani perbedaan pendapat. Ijtihad dapat benar dan dapat juga salah. Ijtihad juga sangat berat dan hanya dapat dilakukan oleh orang yang berhak sehingga jika ia benar mendapatkan dua pahala dan jika ia salah mendapatkan satu pahala.


Patokan salah benarnya apa? Tentunya Al-Qur'an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman salafush shalih.

Para fuqaha pun telah berpesan untuk tetap menaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka tidak pernah mewajibkan murid-muridnya untuk taat kepada mereka dalam segala hal.

Imam Syafi'i berkata, "para ulama telah sepakat bahwa barangsiapa telah nyata baginya sunnah Rasulullah, tidak diperbolehkan baginya untuk meninggalkannya karena ucapan seseorang".

Apakah perbedaan dalam tauhid juga diizinkan?

Bagaimanakah perbedaan dengan syi'ah rafidhah, mu'tazilah, jahmiyyah, murji'ah, Islam Liberal, dan golongan lain di luar ahlussunnah wal jama'ah?

Apakah diperbolehkan menolak meyakini hadits ahad dalam aqidah?

Apakah diperbolehkan menolak hadits shahih karena dirasa tidak masuk akal atau tidak sesuai dengan perasaan?

Apakah diperbolehkan mengubah syari'at berdasarkan mimpi-mimpi atau dari orang yang telah meninggal?

Apakah diperbolehkan meyakini wihdatul wujud?

Apakah diperbolehkan mengharap terkabulnya do'a melalui orang-orang yang telah meninggal?

Apakah diperbolehkan memperindah kuburan dan menjadikannya tempat ibadah?

Apakah diperbolehkan meyakini bahwa iman cukup dengan tauhid rububiyah saja?

Apakah diperbolehkan meyakini tauhid tidak sebagaimana yang dipahami salafush shalih?

Ada begitu banyak yang membedakan ahlussunnah wal jamaah dengan jalan-jalan yang lain.

Bukankah banyak umat Islam yang mempraktikkan hal-hal seperti itu baik tahu maupun tidak tahu?

Untuk membantu adikmu dalam menuntut ilmu, mohon dijelaskan hujjah dan teladan salafush shalih bahwa tauhid asma' wash shifat tidak penting saat ini dan bahwa pemerintahan harus ditegakkan di saat masyarakat banyak yang masih belum memahami tauhid dengan baik?

Juga mohon ditunjukkan jika ada dalil/hujjah/pemahaman adikmu ini yang salah agar tidak tersesat dalam menuntut ilmu.

(utk diketahui, dewan pendiri memerlukan persetujuan lebih dari 6000 suara para dai/ustadz serta aktivis pergerakan seluruh Indonesia utk memutuskan pendirian partai politik).

Mohon maaf, Uda. Namun tentu kita sepakat bahwa jumlah yang besar atau bahkan mayoritas tidaklah menentukan kebenaran. Yang jelas adalah bahwa umat Islam tidak akan bersepakat dalam kebatilan namun jika ada satu orang Islam saja tidak setuju tentu tidaklah dikatakan sepakat.


Para sahabat utamapun pernah berselisih pendapat, masing-masing mereka pun punya hujjah sendiri-sendiri tapi tidak pernah menafikan langkah yang diambil oleh masing-masing pihak.

Namun mereka kembali kepada sunnah Rasulullah jika pendapat mereka menyalahi karena merekalah teladan dalam mencintai Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wassalam. Mereka mengikuti manhaj Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam dan tiada manhaj lain yang lebih baik.


Ibnu Abbas berkata ketika para sahabat melawan hadits dengan pendapat Abu Bakar dan Umar, "Hampir kalian ditimpa batu dari langit." Aku menuturkan, "Telah bersabda Rasulullah tetapi kalian malah mengatakan, kata Abu Bakar dan Umar".

Apa yang dibutuhkan sekarang dengan kondisi umat masih terpecah-pecah dalam manhaj, adalah mencari kesamaan dalam bingkai ukhuwah utk membangkitkan kembali Islam yang agung itu. Dalam kaca mata saya, yang dibutuhkan saat ini adalah solusi, bukan ber-argue masalah yang tidak terlalu prinsipil.

Apakah masalah tauhid kurang prinsipil?


Justru dengan memperjuangkan tauhid merupakan bentuk cinta kepada saudara-saudara seiman.

Inilah alasan saya menanyakan pihak yang akan selamat, apakah muslim beraqidah lurus namun berpemimpin zhalim ataukah muslim yang berpemimpin adil namun diliputi kesyirikan?

Bukankah sedih sekali melihat umat Islam yang masih belum lurus aqidahnya? Itulah alasan saya menanyakan perjuangan PKS bagi pemurnian aqidah umat. Di saat mereka berbondong-bondong ke TPS dengan tujuan membantu perjuangan Islam, bagaimanakah program PKS untuk memberikan pendidikan aqidah?

Memang dengan memperjuangkan tauhid akan banyak cercaan, makian, hinaan, dan cobaan.

Memang dengan memperjuangkan tauhid tidak akan menjadikan seluruh rakyat Indonesia bebas dari ujian.

Namun hanya dengan memperjuangkan tauhidlah insya Allah kita selamat dunia ahkirat. Ingatlah perjuangan Rasulullah yang demikian berat namun berbuah begitu besar. Semoga Allah menempatkan kita bersama beliau di akhirat nanti.

Rasulullah bersabda:

"Senantiasa ada segolongan dari umatku yang memperjuangkan kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka sehingga datang keputusan Allah." (HR. Muslim)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan tersebut.

Dek Ahmad, mungkin ada baiknya dek Ahmad memberikan solusi atau alternatif apa yang mesti di lalui oleh partai Islam (khususnya PKS) dalam kondisi riel yang ada di Indonesia ini. Indonesia yang majemuk, yang beragam suku bangsa dan agama dan permasalahannya. Itu akan sangat efektif saya kira utk dijadikan bahan masukan utk program partai ke depan.


Sesungguhnya telah diberikan solusi oleh Allah dan Rasul-Nya dalam tahapan-tahapan dakwah yakni mengikuti teladan dakwah Rasulullah yakni mengutamakan tauhid. Bagaimana umat Islam Indonesia akan baik jika kesyirikan masih marak di mana-mana dan ibadah masih dipenuhi praktik-praktik bid'ah?


Dalah terjemah Ar-Rahiqul Maktum (Sirah Nabawiyah, Syaikh Al-Mubarakfury, Pustaka Al-Kautsar, 2003) disebutkan dakwah Rasulullah dapat dibagi menjadi periode-periode (antarperiode memiliki perbedaan besar satu sama lain):
1. Periode Makkah, selama 13 tahun
2. Periode Madinah. selama 10 tahun


Periode Makkah dibagi lagi menjadi 3 tahapan:
1. dakwah secara sembunyi-sembunyi, selama 3 tahun
2. dakwah secara terang-terangan di tengah penduduk Makkah, dari tahun keempat Nubuwwah - akhir tahun kesepuluh
3. dakwah di luar Makkah dan penyebarannya, dari tahun kesepuluh nubuwwah hingga hijrah


Periode Madinah dibagi menjadi dua tahapan:
1. aktivitas dalam bidang dakwah atau korespondensi dengan beberapa raja atau amir
2. aktivitas militer


Begitu juga dengan konkritnya bermuamalah dengan ahli bid'ah. Tentunya harus dibedakan ahli bid'ah dengan orang yang salah karena ketidaktahuan. Begitu juga antara kesalahan seorang mujtahid dengan kesalahan fatwa orang tak berilmu.

Teladan dari salafush shalih misalnya cara salaf mensikapi bid'ah Qadariyah.

Dalam "Shahih Muslim" disebutkan ketika Yahya bin Ma'mar dan Abdur Rahman Al-Humairi sedang berdebat, orang-orang berkata: "Seandainya kita menemui salah seorang sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam, kita akan mengabarkan kepadanya apa yang mereka katakan tentang takdir". Lalu Abdullah bin Umar kami datangkan ke masjid dan kami merubungnya. Kami berkata, "Wahai, Abu Abdir Rahman, beberapa orang membaca Al-Qur'an dan mempelajari ilmu yang dengannya mereka meyakini ketiadaan takdir dan bahwa semua kejadian adalah baru (tidak didahului takdir)." Ibnu Umar berkata, "Jika kamu bertemu mereka kabarkan kepada mereka bahwa Ibnu Umar berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku. Demi Zat yang Ibnu Umar bersumpah dengannya, seandainya mereka bersedekah dengan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan diterima selama mereka tidak meyakini takdir."

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu telah memerangi Khawarij. Umar bin Al-Khathab mencambuk Shabigh yang menanyakan ayat-ayat yang samar (mutasyabihat). Kemudian beliau membuang Shabigh ke Kufah dan memperingatkan manusia darinya.

Adakah solusi yang lebih baik?

ma'afkan saya kalau ikut serta, marilah kita satukan langkah utk hal-hal
yang disepakati, dan kita hindarkan apa-apa yang membuat kita berselisih olehnya.

Apakah kita akan bersatu dengan orang-orang Syi'ah atau dengan orang-orang Mu'tazilah?


Apakah kita akan bersatu dengan orang-orang yang mencela para sahabat?

Apakah kita akan bersatu dengan orang-orang yang menganggap bahwa Islam bukanlah suatu agama dan bahwa orang-orang di luar Islam akan selamat?

Apakah kita akan bersatu dengan para ahli bid'ah yang sama-sama 'sepakat' menyatakan diri dari Islam?

Di manakah batas kesepakatan tersebut? Di sini saya bertanya hal-hal di atas tidaklah bermaksud mengatakan bahwa PKS melakukan hal-hal tersebut namun hanya untuk memastikan sikap dakwah PKS.

Apakah kita harus menghindari pembahasan tauhid asma' wash shifat karena khawatir akan 'memecah-belah'?

Apakah perbedaan manhaj akan mencapai satu jalan yang lurus?

Muncullah suatu pertanyaan, jikalau kita bersatu dalam hal-hal yang kita sepakati kemudian tercapailah kekuasaan di tangan kita, syari'at Islam pemahaman siapakah yang akan kita terapkan?

Tidak cukupkah pengalaman pahit di Afghanistan yang luluh lantak oleh perang saudara setelah 'bersatu' mengusir Uni Soviet?

Janganlah sampai persatuan yang ingin kita capai itu menjadi seperti persatuan musuh-musuh Islam yang disebutkan oleh Allah

"Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti." (QS. Al-Hasyr 59:14).

Ya Allah, wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, kokohkanlah hatiku di atas agama-Mu. Semoga Allah mencegah masuknya niat buruk dalam hati ini dalam saling menasihati dan menjadikan kita orang-orang yang sabar.

Mohon maaf atas segala kesalahan adikmu ini. Seluruh kebaikan datangnya kecuali dari Allah sedangkan kesalahan datang dari saya dan syaithan yang terkutuk.

Wa Allahu a'lam bish shawab.

Ahmad Ridha

____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke