Assalaamu�alaykum wa Rahmatullaahi wa Barakatuhu
 
Menarik juga ternyata mengamati school of thought para anggota milis Rantau-Net ini, terutama mengenai cara pendekatannya dalam ilmu-ilmu agama. Selama di sini saya melihat ada dua + alpha schools of thought, yaitu yang mengedepankan sekali pentingnya dalil naqli dan yang kukuh dengan cara berpikir menggunakan dalil aqli. Sanak Ahmad Ridha dan juga Ronal Candra (boleh nggak Ronal?) saya kira termasuk orang-orang yang di golongan pertama, sedangkan Sanak Ismet, SBN dan Heri Tanjuang saya kira berada di golongan kedua. Sedangkan yang + alpha-nya adalah yang berusaha menyeimbangkan bobot kedua dalil tersebut, saya sendiri kalau boleh ingin masuk yang + alpha ini.
 
Tetapi yang menarik, walaupun ada dua schools of thought ini, saya melihat ada persamaan di antara keduanya, yaitu melakukan pereferan terhadap teks, yang pertama kepada teks-teks Al-Qur'an dan hadits dan juga tulisan ulamanya, sedangkan yang kedua kepada teks tulisan orang-orang yang mereka anggap ilmiah, seperti yang kita lihat dalam tulisan yang di-forward sanak Ismet, pengarangnya menuliskan berbagai macam referensi dalam bahasa aslinya, mungkin agar terlihat dia juga membaca tulisan-tulisan berbahasa Arab dan karenanya ingin agar tulisannya diterima.
 
Sayangnya saya melihat dari kedua schools of thought tersebut adanya kecenderungan berlebih-lebihan, yaitu menegasikan pihak yang berbeda dengannya, baik yang mungkin bedanya sedikit, apalagi yang bedanya banyak. Saya jadi merenung, apakah kita tidak bisa menyeimbangkan antara keduanya? Kita tahu dalam Al-Qur'an Allaah SWT menyebutkan bahwa umat Islam adalah ummatan wasathan (ummat yang pertengahan), dan banyak tafsir tentang ayat ini, yang salah satunya adalah ummat yang tidak berlebih-lebihan dalam segala hal. Saya jadi ragu, tetapi bukan ragu terhadap ayat itu, melainkan ragu apakah kita, manusia, bisa menjadi ummatan wasathan seperti yang disebutkan ayat itu. Adakah yang tahu bagaimana sebaiknya agar kita bisa menjadi ummatan wasathan itu?
 
Perbedaan memang perlu diketahui, tetapi saya kira akan lebih penting lagi kalau kita bisa mengusahakan agar perbedaan yang ada itu tidak menjadi semakin membesar, di situlah saya kira kunci kita berdiskusi, untuk memperbanyak persamaan, dan mengurangi perbedaan.
Wassalaamu'alaykum wa Rahmatullahi wa Barakatuhu
Muhammad Arfian
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
090-6149-4886
"Isy Kariman Aw Mut Syahidan"
----- Original Message -----
Sent: Tuesday, April 20, 2004 7:37 PM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Liberalisme Islam vis a vis Konservatisme Islam
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke