C. Teologis Transformatif

Menarik untuk dikutip apa yang dikatakan tentang teologi transformatif ini;
yakni kalangan yang menghendaki realita dibaca dengan kacamata Islam sambil
itu dicari praktisnya. Esensialnya, ada hubungan dalektis antara ideal Islam
dengan realita. Tujuannya sangat kuat untuk merubah fakta sesuai dengan
cita-cita Islam.

Teologi transformatif, mencoba memahami ortodoksi dengan holistik.
Realialita, fenomena dan fakta harus diselesaikan atau dibawa pada kancah
ide-ide Islam. Dalam konteks yang sama, Kuntowijoyo menerangkan ide-ide
agama yang terdapat dalam Al-quran seharusnya dijabarkan kedalam realita,
sehingga ortodoksi tersebut mampu menjadi transformasi sosial. Namun,
ketidak mampuan menjabarkan ortodoksi tersebut, telah membuat Islam terpeti
emaskan dalam hingar bingar realita sosial, sehingga Islam hadir kehadapan
kita bagaikan "monumen batu" yang sudah selesai dipahat, hanya sebagai fakta
sejarah yang sangat monumental.

Setting ini, harus dipahami dan dihayati oleh umat Islam, sehingga umat
Islam tidak terkapung dalam kepicikan dan kesempitan dalam memahami Islam
itu sendiri. Literasi Islam harus dijabarkan kedalam realita, tidak
dikungkung dalam "rumah kaca" pemahaman yang sempit itu. Ketika, umat Islam
mengapung literasi dalam pemahaman yang sempit itu, Islam akan terlihat
dalam fiqah-firqah yang ekslusif, yang kemudian rentan diterjemahkan oleh
dunia luar sebagai kelompok fundamentalisme.

Dalam teologi transformasi, umat Islam dikehendaki mendialogkan teologis
kedalam realita. Kinerja untuk ini, sangat membutuhkan rasionalisasi
pemahaman terhadap ajaran Islam. Bagi Nurcholis Madjid rasionalisasi erat
kaitannya dengan modernisasi. Oleh sebab itu modernisasi itu keharusan bagi
umat Islam, karena modern sangat erat dengan ilmu pengetahuan. Penekanan
ilmu pengetahuan ini, sudah sangat mendesak untuk direkontruksi oleh umat
Islam, sehingga umat Islam tidak ketinggalan.

Malahan untuk kearah itu Kuntowijoyo mengajukan Al-quran sebagai paradigma,
dengan maksud mode of thought, moe of inquiry yang diharapkan bisa
menghasilkan mode of knowing. Dimana Al-quran sebagai kontruksi dari
pengetahuan. Berdasarkan paradigma ini, dapat disimpulkan, keterbelakangan
dan ketertinggalan umat Islam dari segi peradaban disebabkan oleh kesalahan
umat Islam dalam meletakan Al-quran sebagai sumber padadigma yang luas.

Berdasarkan cara pandang ini, maka terpilah dua pemikiran ke Islaman, yakni;
mereka yang berlatar belakang tradisi ilmu keislaman konvensional dan mereka
yang terlatih dalam tradisi Barat (modernis). Keduanya sangat berbeda
mengupas teologi. Bagi kalangan keislaman konvensional, teologi sebagai ilmu
kalam dengan artian suatu disiplin ilmu yang mempelajari ilmu ketuhanan,
bersifat abstrak, normatif, dan skolastik. Sedangkan bagi aliran ke dua
mereka adalah cendikiawan muslim yang mempelajari ilmu keislaman melalui
studi-studi formal. Lebih melihat teologi sebagai penafsiran terhadap
realita dalam perspektif ketuhanan, lebih berupa refleksi empiris.

Berdasarkan konstelasi paradigma ini, pemikiran teologi transformatif umat
Islam terpecah menjadi dua pula. Pertama pemikiran yang tidak menerima
kenyataan luar, modernisasi selalu diidentikan dengan barat, sehingga
menahan diri mainstrem modern tersebut. Kedua, intelektual yang dapat
menerima modernisasi sebagai suatu realita yang harus dicerahkan dengan
teologi transformatif, yang dibangun melalui pengokohan paradigma Al-quran.

Fazlur Rahaman, berkaitan dengan modernisasi membagi lagi dua cendikiawin
yakni; cendikiawan yang menerima modernisasi dengan segenap
pranata-pranatanya. Kelompok lain, menolak mentah-mentah. Dua kelompok ini,
sama-sama terperangkap dalam pemahaman Al-quran yang sepotong-potong dan
tidak secara holistik. Untuk menengahi dua pemikiran intelektual yang
kontradiktif tersebut, kata Fazlur Rahaman dapat ditempuh dengan memahami
Al-quran. Pertama, mengkaji dan memahami setting situasi atau problem
historis, baik yang spesifik maupun yang makro. Kedua, menjeneralisasi
jawaban-jawaban yanga ditemukan, sehingga menjadi paradigma yang sering
dinyatakan.

Di sinilah letaknya, keterujian intelektualitas Islam dalam menjabarkan
Islam sebagai agama peradaban. Namun, keterujian itu belum banyak
dibuktikan, sehingga umat Islam masih saja berada dalam warna yang redup
dari kemajuan. Perbenturan-perbenturan pun tidak dapat dielakan, karena
antara yang satu dengan yang lainnya saling menganggap pemikirannya yang
benar. Fenomena ini nampaknya telah melelahkan umat Islam dalam menata masa
depannya.

Aliran-Aliran teologis yang dipahami oleh banyak umat Islam, sangat rentan
dengan konflik pembenaran. Inilah agaknya penyebab terkendalanya teologis
transformatif terlambat diadaptif. Umat Islam masih terseret dalam
pertentangan kalaim-kalaim aliran pembenaran. Hal ini, sangat "melelahkan"
umat Islam itu sendiri dalam menatap masa depannya. Perbedaan aliran dan
organisasi misalnya, menyebabkan mereka terpecah dalam membangun peradaban.
Sementara perubahan begitu cepat menawarkan beragam realita dan fenomena.

Khusus di nusantara, keterlambatan berartikulasinya teologis transformatif
ini disamping dipengaruhi oleh faktor di atas juga sangat dipengaruhi oleh
orientasi dominan hukum yang dibangun oleh umat Islam. Hukum yang dibangun
belum seimbang antara pemberdayaan akal fikiran dengan bathiniah, lebih
banyak mengambil kapling dalam rutinitas ibadah mahdah, sementara ibadah
secara luas terkesampingkan, sehingga umat Islam tinggal dalam ekonomi,
politik, pendidikan dan budaya. Ketika ini pula, terjadi pemisahan yang agak
menyedihkan antara ibadah dengan realita kehidupan. Ibadah dipahami shalat,
puasa, zakat dan naik haji. Sementara menata ekonomi, politik, budaya,
pendidikan dan seterusnya agak dipisahkan dari arti ibadah yang lebih luas.
Oleh sebab itu, fiqih ibadah di nusantara lebih populer ketimbang fiqih
syisyah, fiqih ekonomi dan seterusnya.

Pada hal, semuanya itu ditata dalam rangka ibadah pada Tuhan. Di sinilah
artifisial yang sesungguhnya dari transformasi paradigma Al-quran. Di mana
Al-quran berdialok dengan fenomena dan tidak kurung dalam keliterasiannya.
Kandungan yang tersirat dalam Al-quran harus menjadi nilai budaya bagi
umatnya dan tidak terpisah dari setiap dimensi kehidupannya;



____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke