|
Usaha Kubu Mega dan kubu Wiranto untuk merebut suara para nahdyin untuk memenangkan Plipres semakin “seru” manakala Hasyim Muzadi dikabarkan cenderung untuk menerima tawaran Mega, sementara kubu Wiranto mulai mendekati adik Gus Dur Salahudin Wahid (Gus Sol) yang berlatar pendidikan umum itu (Gus Sol adalah seorang insinyur). Kalau Gus Dur berhasil mengatasi hambatan pemerikasaan kesehatan dan terus maju ke putaran pertama, peta kekuatan para kandidat yang mengandalkan suara para nahdyin, semakin “complicated” dan semakin asik. Tentu lebih asik jiga Gus Dur terhambat dan tentunya tidak mudah untuk menduga, siapa cawapres dari NU yang akan direstui Gus Dur---yang memang “sepak terjangnya” sangat sulit diduga itu---di antara Hasyim Muzadi (HM) dan Gus Sol? Siapapun yang direstui Gus Dur, nampaknya suara warga para nahdyin akan terpecah. Dan di sini Wiranto akan lebih diuntungkan, karena masih banyak para Kiyai---yang suaranya akan didengar oleh warga NU---yang masih “dendam” kepada Mega yang berperan besar dalam menurunkan dan kemudian menggantikan “junjungannya” sebagai Presiden, serta sikap Fraksi PDI yang tidak mendukung UU Sisdiknas (harap tidak lupa bahwa Fraksi KB termasuk pendukung UU Sisdiknas walaupun Gus Dur menentangnya) Suara PPP yang tentunya kecewa kerna HH ditinggalkan Mega hampir dipastikan sebagian besar akan pergi ke lawan-lawan Mega. Kesimpulannya, peluang Mega semakin kecil. Sangat mungkin posisi Mega, bak kata pepatah: mengharapkan mendung di langit (dukungan warga nahdyin yang suaranya terpecah atau tidak mungkin diraup semua), air di tempayan (sebagian besar suara pendukung PPP yang sudah pasti) ditumpahkan. Gus Dur walaupun jadi maju, sepertinya sulit maju ke putaran kedua. Pak Amien idem ditto. So, yang akan berpeluang keputaran kedua adalah duet Wiranto-Gus Sol dan “kuda” hitam SBY-JK. Lalu ke mana suara para para nahdyin pada putaran kedua. Kayaknya tidak semua akan ke Wiranto-Gus Sol karena tidak sedikit pula yang akan kesengsem kepada penampilan SBY yang kalem dan santun itu. Suara pendukung Mega? Kayaknya akan lebih sedikit ke SBY-JK. Suara pendukung PPP? Kayaknya juga akan lebih sedikit ke SBY-JK, terutama kalau Wiranto berhasil menggunakan “kartu” Islam. Tetapi apakah SBY-JK
akan pasti “keok”? Belum tentu juga.
Suara pendukung pak Amien, khususnya yang dari Muhammadyah sebagian
besar akan
lari ke SBY-JK, karena selain persamaan visi, JK---mungkin banyak yang
belum
tahu---adalah seorang tokoh Muhammdyah. Mayoritas suara pendukung PKS
idem
ditto. Sementara suara pendukung Golkar di IBT dan sebagian Lalu kira-kira siapa yang akan keluar sebagai pemenang? Ketika saya mencoba menggosok-gosok bola kristal saya, tulisan yang muncul adalah: “Tau ah lap”! Namun secara pribadi saya
menjagokan, tepatnya mengharapkan duet SBY-JK
akan keluar sebagai pemenang. Selain relatif bersih, kompak dan lebih
siap, termasuk
kesiapan dana (bukankah JK pengusaha sukses) duet ini mempunyai
kesamaan dan
kejelasan misi dan visi. Seperti diketahui, dalam UU Perencanaan
Nasional yang baru,
misi dan visi presiden terpilih
merupakan “GBHN” (karena MPR tidak lagi akan menetapkan produk hukum
ini), dari
mana rencana lima tahun Pemerintah dan
RUU APBN yang disusun kabinet. Sementara pada capres-capres lain ini
belum kelihatan atau belum punya sama sekali. Soal SBY, berlatar belakang
militer? Who cares? yang penting Bahwa prediksi-prediksi tersebut biisa meleset,
tentunya soal lain. Namanya juga prediksi. Begitchu Wassalam, DarwinAnalis politik amatiran. |
____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net ____________________________________________________
