Ambo setuju yo da Ad dan Dian, memang tak seperti itu semua wanita
minang, dan saya pribadi memang menaruh penghargaan yg tinggi pada
wanita minang masa lalu ,seperti yg ambo rasokan pada ibunda tercinta
dari palembayan nan terpencil ,inyiak ambo, atau mancaliek mak tuo yo
etek dari canduang. Sebuah karakter yg gigih, setia, penuh pengabdian.

Tapi memang dirasakan karakter positif tsb , susah kita lihat pada
wanita minang masa kini, maaf , entah kenapa karakter positif tsb
berkurang banyak pada wanita minang masa kini, malah karakter negatif
nya yg bertambah ( sikap dominan , ingin serba ngatur, dll )

Maaf ambo , hanyo bisa menilai wanita minang dari karakter orang
dekat tsb, ambo sendiri indak tahu banyak ttg bagaimana rasanya punya
istri orang minang ?

( ba'a da Ad , ka batambuah ciek lai, gadih minang ? , mungkin si
teteh indak ka berang bagai doh , kan mojang priangan elok laku,
he..he..he  )

Kembali ke cerita tsb ada 2 point utamanya ttg karakter wanita minang
dan sikap lelaki minang.

Karakter wanita minang digambarkan kurang bisa melayani /menghargai
suami ( bila dibanding wanita sunda misalnya )

Karakter lelaki minang , digambarkan seperti ingin enak nya sendiri
saja . harusnya bila tahu istrinya kurang bisa menghargai dg baik, ia
sbg suami bertanggungjawab untuk memperbaiki akhlak istrinya, bukan
lari dari permasalahan ( iko namonyo , indak namuah bausaho kareh,
tapi mancari lamaknyo sajo )

Sbg suami menurut ambo inyo salah pulo, karena istri tak cukup hanya
diberi nafkah lahir ( uang/materi ) tapi perlu juga � nafkah
batin � , dalam kisah tsb, nafkah batin nya terlupakan , termasuk
juga  meninggalkan keluarga tanpa kabar. , saya kira ia salah juga
sbg suami

Hal tsb menggambarkan pula sebagian karakter lelaki minang yg
cenderung � tak bertanggungjawab � , lari dari permasalahan dll.
Karakter negatif tsb sempat  pulo jadi bahan perbincangan ibu2 di
bandung , agar hati2 bila anak gadisnya didekati pemuda minang , ambo
pernah alami sendiri.

Ttg karakter wanita minang  yg kurang mengabdi atau cenderung
dominan, bisa jadi berasal dari pola keluarga yg matrialkat, dimana
keluarga tinggal di komunitas keluarga istri / ibu. Suami datang ke
sana bagaikan � pendatang �  . Urusan dalam keluarga saja banyak
melibatkan pihak lain spt mamak nyo , bak kecek pepatah anak dipangku
kemenakan dibimbing.

Hal itu semua membuat istri merasa powerfull dan anak2 terayomi dg
baik di keluarga ibu nya, tapi pada sisi lain membuat membuat
suami/ayah spt diringankan beban nya , tapi juga membuat ia merasa
spt terengut sebagian partisipasi dan peran nya sbg kepala keluarga.

Pada saat ini mungkin pola kekerabatan komunitas istri/ibu tsb (
matriarkat ) tak sekuat dulu lagi, tapi walau bagaimana pun , memberi
bekas pada karakter orang minang.

Secara psikologis alam bawah sadar kita yg ada di limbik  , otak
belakang, menyimpan juga memori pengalaman jiwa, generasi di atas
kita ( orang tua, nenek, inyiak dll )

Jadi pengalaman jiwa matriarkat dan kuatnya komunitas keluarga istri,
tetap meninggalkan bekas pada masing2 kita, sampai saat ini .

Itu mungkin sekedar tambahan dari ambo

Wassalam

Hendra M
Banduang, ranah priangan nan gemah ripah tentrem rahayu

--- In [EMAIL PROTECTED], "Adrisman" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> setuju ian...;-)
> kita memang tidak bisa mengeneralisir bahwa wanita minang seperti
itu semua, yang pasti ibu da ad yang orang minang tulen juga tidak
seperti cerita dibawah ini....
>
> tapi kita bisa melihat rata2 wanita2 dari daerah kita, atau dari
pulau sumatra kali umumnya lebih macho...(baca. galak2).
> sehingga laki2nya nggak betah tinggal dirumah, dan pergi merantau
ketanah seberang, akhirnya ketemu si neng geulis atau mba' ayu....:)
>
> well, emang laki2 sih kalau udah lihat jidat licin, alasan bisa
dicari..., contohnya si apak ini.
>   ----- Original Message -----
>   From: Sukmawat, Dian
>   To: Komunitas MINANGKABAU (Urang Awak) Pertama di Internet (sejak
1993)
>   Sent: Thursday, May 27, 2004 7:54 PM
>   Subject: RE: [EMAIL PROTECTED] Kisah Seorang Anak Menjemput Bapak
>
>
>   Tapi tidak semua wanita Minang seperti itu, ian masih ingat
bagaimana Ibunya ian begitu perhatian sama Bapak, pulang kerja
semuanya sudah tersedia diatas meja makan, mereka tidak pernah
bertengkar didepan anak-anaknya, sampai Ibunya ian meninggal Bapak
tidak pernah punya niat untuk Menikah lagi sampai sekarang, karena
bagi Bapak Ibu adalah Wanita yang terbaik.
>
>
>


____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke