Dicari: Sastrawan Minang
Oleh: Badroni
Beberapa waktu lalu saya menyaksikan tayangan ulang
sinetron "Sengsara Membawa Nikmat" di TVRI. Ada
kenikmatan tersendiri menyaksikan tokoh si Midun, anak
muda Bukittinggi yang hidup teraniaya dalam sinetron
yang diangkat dari novel karya Tulis Sutan Sati ini.
Banyak nilai terkandung dalamnya seperti; keluhuran
budi, nilai agama, adat istiadat dan seba-gainya.
Nilai-nilai ini yang tidak lagi kita dapati dalam
cerita-cerita sinet-ron picisan yang memperkosa akal
sehat di televisi-televisi swasta.
Menyaksikan sinetron ini pikiran saya menerawang
ter-ingat kepada novel-novel sastra klasik karya
penulis dari Minang lainnya. Saya teringat karya-karya
klasik terbitan Balai Pustaka yang masih dijajakan
oleh pedagang kaki lima di Kwitang seperti Siti
Nurbaya karya Marah Rusli, Salah Asuhan karya Abdul
Moeis, Hulubalang Raja dan Salah Pilih karya Nur St.
Iskandar serta Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk karya
Buya Hamka. Karya-karya ter-sebut mengingatkan saya
akan jaman keemasan sastrawan Minang. Belakangan ini
saya tidak melihat lagi adanya karya monumental dari
sastrawan Minang setelah cerpen Robohnya Surau Kami
karya AA. Navis yang sempat memancing polemik sampai
ke negeri jiran sana.
Sastrawan Minang memegang peranan penting dalam
periode sastra ketika itu. Para sastrawan daerah lain
banyak yang terpengaruh dan mengikuti gaya penulisan
sas-trawan Minang. Sastrawan Minang boleh dikatakan
menentukan arah sastra ketika itu.
Namun bagaimana kondisinya sekarang? Siapa sastrawan
Minang yang anda kenal saat ini? Untuk menyebutkan
lima nama saja kita akan kesulitan. Mungkin anda ingat
Taufik Ismail. Dari tulisan beliau kita bisa
mempertajam nurani. Tapi beliau lebih sebagai
budayawan yang banyak menulis prosa dan belum menulis
novel. Selain itu ada Gus Tf., sastrawan muda jebolan
insinyur pertanian yang saat ini cukup produktif
menulis. Di kala-ngan sastrawan nasional namanya sudah
mulai diperhitungkan. Tapi karya-karyanya agak sulit
dicerna karena terlalu kontemporer. Kurang nuansa
Minang dan ruh keagamaan seperti yang banyak kita baca
di novel karya sastrawan lama di atas.
Ironisnya, saya selama ini lebih akrab dengan karya
'orang lain'. Terpaksa saya kunyah Para Priyayi-nya
Umar Kayam, gerundelan ala Malioboro-nya Emha Ainun
Nadjib dan sastra santri-nya Ahmad Tohari.
Sampai-sampai saya bertanya kepa-da kawan yang orang
Jawa untuk mengartikan istilah-istilah Jawa di
buku-buku tersebut. Ketika mem-baca Para Priyayi, saya
memba-yangkan tanah di kota Wanagalih yang kering dan
pecah karena musim kemarau. Atau memba-yangkan
nikmatnya makan klepon, tiwul, gatot, ketan bubuk dan
getuk yang begitu "nyuus" saat digigit dalam buku
Sugih Tanpa Banda-nya Umar Kayam. Bagi saya itu semua
adalah pengkayaan pemahaman budaya, namun sekaligus
sebuah keterasingan budaya. Lama kela-maan saya mulai
menikmati ketera-singan itu.
Kenapa hal ini sampai terjadi. Kemana para pendekar
sastra Mi-nang yang begitu terkenal akan kepandaiannya
merangkai kata-kata? Agaknya tidak mudah ditemukan
jawabnya. Dari pengamatan saya kelangkaan ini karena
adanya ang-gapan menjadi sastrawan adalah pekerjaan
pemimpi dan tidak dapat mempertebal dompet. Banyak
orang Minang belaka-ngan ini yang terjebak dalam cara
pandang pragmatis. Pokoknyo nan capek jadi pitih.
Berangkat dari susahnya parasaian hidup di perantauan,
para orang tua mengarahkan anak-anaknya untuk sekolah
yang bila lulus bisa segera be-kerja dan hidup
sejahtera, tidak susah seperti orang tua-nya. Maka
dipilihlah bidang-bidang studi nan capek jadi pitih
itu. Saya sendiri termasuk di anta-ranya. Menurut
mereka sekolah dibidang sosial huma-niora seperti
sastra, seni, buda-ya, politik, bahkan agama akan
mempersulit cari kerja nanti. Sebagai alasan
pragmatis, pen-dapat tersebut dapat dimaklu-mi.
Celakanya adalah bila tidak ada lagi yang tertarik
dengan bidang-bidang sosial humaniora. Alhasil, kita
akan tetap merindukan jago-jago politik seperti Bung
Hatta, Sjahrir dan Haji Agus Salim. Kita akan tetap
merindukan ulama sekaliber Hamka dan Muhammad Natsir.
Kita akan lupa bahwa kita pernah menikmati goresan
pena Chairil Anwar dan Abdul Moeis. Kita akan
kehilangan jejak kesejarawanan Muhammad Yamin dan
Taufik Abdullah. Merekalah yang telah membawa nama
harum tidak hanya masyarakat Minang tapi juga nama
bangsa dan agama.
Penyebab lain adalah kurangnya minat baca di kalangan
masyarakat kita. Tapi bukannya minat terhadap cerita
itu sendiri tidak ada. Buktinya masyarakat begitu
antusias bila ada orang menceritakan Tambo yang entah
sampai saat ini belum bisa dibuktikan kebenarannya.
Begitu juga dengan sambutan hangat mas-yarakat saat
ditayangkannya sinet-ron Siti Nurbaya, Sengsara
Mem-bawa Nikmat dan Salah Asuhan. Artinya masyarakat
punya minat terhadap dongeng atau cerita. Hanya saja
malas membaca. Masyarakat kita lebih menyukai melihat
atau mendengar. Jadi, bagaimana mung-kin ditumbuhkan
kebiasaan menulis di kalangan masyarakat Minang
sedangkan minat baca saja masih kurang.
Kesalahan lain dapat juga ditimpakan pada kurikulum
pendi-dikan yang hanya menitikberatkan kepada nilai
yang diperoleh daripada apresiasi terhadap ilmu itu
sendiri. Proses pendidikan yang kita dapat-kan selama
ini juga membuat kita terjebak pada pengkotak-kotakkan
ilmu. Kita tidak mempedulikan cabang ilmu lain. Cara
berpikir seperti ini perlu diubah. Dalam sejarah Islam
sendiri tercatat banyak ilmuwan yang menggeluti
beberapa bidang keilmuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd
dan Ibnu Khaldun. Menjadi seorang spesialis itu bagus,
tapi menjadi spesialis yang juga mampu mengapresiasi
bidang ilmu lain juga penting. Anwar Ibrahim dalam
buku Renaisans Asia yang terkenal itu menulis;
"Universitas harus melahirkan lulusan-lulusan yang
tidak hanya unggul di bidang spesialisasi pilihannya
sendiri, seper-ti teknik, hukum, kedokteran, dan
ekonomi, tetapi juga harus menguasai dialektika dan
filsafat, di samping mempunyai minat dalam kesenian,
kesusastraan, dan musik. Para mahasiswa harus
bercita-cita menjadi manusia yang berpengeta-huan
multidimensional - mutaffan-nin, demikian disebut pada
masa kejayaan Islam".
Peran sastra dalam kehidupan bermasyarakat dan
bernegara juga penting. Seorang pakar politik pernah
mengatakan bahwa salah satu prasyarat bagi perubahan
sosial adalah adanya novel sastra. Hadir-nya karya
sastra di dalam masya-rakat dapat mendorong perubahan
sosial. Tidak sedikit contoh di dunia ini yang
membenarkan pendapat itu. Novel karya Vaclav Havel
telah berhasil membawanya menjadi pre-siden
Cekoslowakia. Novel Jose Rizal telah menggugah
perlawanan rakyat terhadap kolonialisme di Philipina.
Novel-novel karya Pra-moedya Ananta Toer begitu
ditakuti oleh pemerintah Orde Baru karena muatan
ideologi komunis-nya. Di era reformasi sekarang ini
masalah sastra mungkin akan lebih diperha-tikan lagi.
Tidak mengherankan, karena presiden kita yang kelima
ini (yang kedua adalah Syafruddin Pra-wiranegara)
adalah pecandu berat karya sastra.
Melalui tulisan ini saya ingin menggugah warga Magek
terutama generasi mudanya untuk lebih meng-apresiasi
sastra. Bila sudah dapat mengapresiasi dan
menikmatinya mungkin akan timbul keinginan un-tuk
menulis. Membekali diri dengan membaca karya penulis
Minang da-pat mengurangi keterasingan budaya bila
ingin beranjak membaca karya-karya penulis lainnya.
Novel karya sastrawan Minang tidaklah kalah mutunya
dengan karya-karya klasik Charles Dickens, Jane
Austen atau Leo Tolstoy sekali pun. Novel-novel
sastra tersebut merupakan salah satu harta pusako
selain yang kita kenal selama ini. Atau, apakah kita
masih punya pusako setelah Rumah Ga-dang tidak lagi
berpenghuni, surau-surau telah roboh dan ditinggalkan
dan sawah-ladang telah tergadaikan?
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Kick off your party with Yahoo! Invites.
http://invites.yahoo.com/
LAPAU RantauNet di http://lapau.rantaunet.web.id
Isi Database ke anggotaan RantauNet:
http://www.egroups.com/database/rantaunet?method=addRecord&tbl=1
=================================================
WEB-EMAIL GRATIS ... @rantaunet.web.id ---> http://mail.rantaunet.web.id
=================================================
Subscribe - Mendaftar RantauNet Mailing List, kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages: subscribe rantau-net email_anda
Unsubscribe - Berhenti menerima RantauNet Mailing List, kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi emai / Messages: unsubscribe rantau-net email_anda
=================================================
WebPage RantauNet http://www.rantaunet.web.id dan Mailing List RantauNet
adalah servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================