----- Original Message -----
Namun soal iko akan mambao ka implikasi kaduo nan labiah empirik. Awak
harus
kreatif mancari alternatif sumber daya untuk PAD (pendapatan asli
daerah)
karano dengan sandirinyo subsidi pamarentah pusat akan dikurangi
sacaro
substansial. Salamo ko 75-85% dari APBD Sumbar adolah subsidi pusat
nan
diambiak dari minyak urang Riau jo Aceh tu. Lai ka bisa awak iduik jo
nan
15% tu lai (tantu indak diambiak sadonyo nan 85% tu doh, karano akan
masih
ado proyek-proyek pusat di daerah tapi indak rutin). Jadi, maa nyo
harato
nan ka di kontrol tu??>>>
Dunsana Parmato Alam,
Kalau selama ini yang paling vokal menuntut otomi seluas-luasnya
adalah Aceh, Riau, dan Irian Jaya - karena provinsi ini perut
buminya penuh harta karun - sampai mereka berani minta bagian sampai
80%, minimal 60%-- sebagian orang merasa maklum. Sebab mereka memang
kaya tapi rakyat dan daerahnya miskin. Jika berpegang pada asas keadilan dan
hati nurani, prinsip seharusnya adalah: orang yang bisa menghasilkan lebih
banyak - kekayaannya berlebih - mestinya mendapatkan bagian yang
lebih banyak. Sedangkan kenyataan prinsip keadilan menjadi permainan politis.
Mereka yang diatas kertas kaya malah menerima sedikit. Ini persis
seperti sabuik inyiak ambo dulu--bak ayam mati kelaparan di ateh
lumbuang.
Tapi haruskah Sumbar jadi rendah diri? Saya rasa tidak perlu. Kalau di
bandingkan dengan tiga provinsi diatas Sumbar memang tak ada apa-apanya dalam
kontes migas ini. Tapi bukankah pendapat daerah tidak hanya
berasal dari migas? Bagaimana dengan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah,
yang bernama, PBB, IHH, pajak hotel, juga pajak BBM? Saya tak tahu
persis berapa pendapatan asli daerah Sumbar pertahun dan dari
angka-angka 60:40, 70:30, 80:20, angka mana yang di tunjuk pemda Sumbar.
Yang jelas jika rakyat Sumbar minta otonomi, saya rasa, tak perlulah seorang
Laode Ida ikutan pula merasa kuatir. Di Sumbar kan juga lumbuang pitih,PDAM,
dan BUMD. Dari sini kan bisa dikumpulkan semua aset dan potensi aset Sumbar.
Tapi PR pemda Sumbar memang banyak sekaleeeee...... Dari total usulan biaya
tahun anggaran 1998/1999 PU seperti di bawah saja sudah mengecilkan
hati. Mungkin inilah saatnya untuk lebih realitistis. Bukankah begitu
lepas dari jajahan Jepang dulu Indonesia juga tak punya apa-apa selain
penduduknya yang kebanyakan buta huruf?
Wassalam,
Evi
---------------------------------------------
- Bidang Pengairan
- Peningkatan volume reklamasi rawa di Kabupaten Pesisir Selatan
dan Kepulauan Mentawai dalam rangka mengantisipasi kebutuhan lahan
perkebunan yang se- makin terbatas.
- Peningkatan pengelolaan air baku dan pencanangan budaya
hemat air khusus- nya didaerah perkotaan dalam menunjang Sektor
Perindustrian dan Pariwisata.
- Lebih mengintensifkan pelaksanaan pengendalian banjir Kota Padang
tahap II dalam rangka mewujudkan fungsi Kota dan meningkatkan
kesejahteraan masyarakat.
- Mempercepat berfungsinya D.I. Panti Rao, Batang Tongar dan
Batang Batahan dalam rangka mempertahankan swasembada beras
untuk mewujud- kan swasembada pangan Nasional, khususnya lagi
Propinsi Sumatera Barat.
- Meningkatkan penanggulangan sungai� kritis, khusus nya sungai�
yang ber- indikasi membahayakan permukiman penduduk
- Menunjang pelaksanaan proses tender Bandung Batang Hari yang
pe- laksanaannya dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pengairan sehingga
pelaksanaannya dapat dilaksanakan pada tahun selanjutnya.
- Studi pengamanan pantai Pasir Jambak- Ketaping di Kabupaten Padang
Pariaman dan Pantai Sasak di Kabupaten Pesaman.
- Bidang Bina Marga
- Mempercepat pelaksanaan perbaikan geometri khususnya untuk
jalur� strategis Padang-Solok, Muara Kalaban-Kiliran Jao, dan
Padang-Bukittinggi-Pekanbaru serta Bukittinggi-Medan dalam rangka
meningkatkan kemampuan pelayanan jalan terhadap angkutan berat (peti
kemas dan bus� dengan ukuran besar).
- Mengatasi bagian� yang bersifat block spot antara lain di
Lembah Anai/Silaing Karing.
- Melaksanakan Feasibility Study dan Study ANDAL untuk ruas jalan
Kayu Tanam-Jao sebagai ruas jalan alternatif di daerah lembah
Anai.
- Mempercepat terealisasinya jalan lingkar Danau Maninjau dalam
rangka me- nunjang pembangunan Pariwisata.
- Mempercepat terealisasinya pembangunan jalan� baru dan jalan
alternatif untuk membuka daerah� yang terisolir serta
mengurangi/membagi arus lalu lintas dalam rangka peningkatan
ekonomi masyarakat.
Bidang Cipta Karya
- Meningkatkan pembinaan dan pengaturan terhadap pelaksanaan
pekerjaan yang telah dilimpahkan ke Dati II dalam rangka menunjang
pelaksanaan otonomi daerah.
- Melaksanakan Study Pemanfaatan Sumber� air khususnya air buangan
PLTA Singkarak dalam rangka mengantisipasi kebutuhan air bersih untuk
Bandara Ketaping, Kawasan Industri Padang dan Pariaman
serta meningkatnya kebutuhan air rumah tangga.
- Peningkatan peranan pembinaan terhadap penyusunan RDTR, RTBL dan
PJM Dati II sehingga mampu mengakomodasikan kebutuhan dalam
rangka mewujudkan sasaran fungsi Kawasan dan Kota, khususnya kawasan�
strategis.
Total usulan biaya tahun anggaran 1998/1999 untuk
ketiga bidang tersebut diatas adalah sebesar Rp 249.534.108.000 yang
terdiri dari dana APBN Rp 196.323.278.000 dan BLN Rp
53.210.830.000 dengan perincian perbidang adalah sebagai berikut
:
- Bidang Pengairan dana APBN Rp 74,027.226.000,
BLN Rp 33.200.000.000
.
- Bidang Bina Marga dan APBN Rp 100.076.715.000,
BLN Rp 20.010.830.000
.
- Bidang Cipta Karya dana APBN Rp 22.219.337.000,
BLN Rp
Nihil
.
Perincian
perprogram/perproyek dapat dilihat pada DUP tahun anggaran 1998 /1999 (tabel
7.1 terlampir), dengan catatan DUP tersebut masih akan dipertajam sehubungan
dengan pelaksanaan Rakorbang Dati I Propinsi Sumatera Barat.