http://www.kompas.com/kompas-cetak/0011/27/UTAMA/disu01.htm

 >Senin, 27 November 2000

Di Sumbar, 74 Orang Tewas Tertimbun
* 11 Tewas di Tapanuli Selatan, Banjir Aceh Mulai Surut

Padang, Kompas
Bencana longsor atau galodo di Sumatera Barat (Sumbar) semakin dahsyat. 
Setelah menelan 18 korban tewas di Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sabtu 
(25/11), musibah serupa terjadi lagi, Minggu, di tiga lokasi dengan menelan 
sedikitnya 74 korban tewas.

Keterangan yang dihimpun Kompas menyebutkan, bencana longsor di Sumbar 
terjadi di tiga lokasi. Pertama terjadi di Bukit Caliak, Desa Calau, 
Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisirselatan. Di daerah yang terletak sekitar 
90 kilometer selatan Padang itu sebanyak 24 orang tertimbun, enam di 
antaranya ditemukan telah jadi mayat.

"Dari 24 orang yang tertimbun, enam ditemukan mayatnya di Batang (Sungai 
Bayang). Sisanya terkubur timbunan tanah atau dihanyutkan aliran Batang 
Bayang yang berarus deras," kata Darizal Basir, Bupati Pesisirselatan, yang 
bersama Gubernur Sumbar Zainal Bakar, langsung meninjau lokasi.

Sedang longsor kedua terjadi di Malalo, Kabupaten Tanahdatar, sekitar 30 
kilometer tenggara Padangpanjang. Di sini, sebanyak 31 orang tertimbun, 
empat ditemukan jadi mayat dan dua luka-luka. Akibat Bukit Malalo longsor, 
jalan yang menghubungkan dua dusun, yaitu Dusun Seberang Hilir dan Dusun 
Seberang Mudik, Desa Duakoto, mengalami rusak berat. Walhasil, sekitar 800 
orang Dusun Sebelah Atas belum dapat dievakuasi dan diungsikan.

Longsor ketiga, yang informasinya diterima Gubernur Zainal Bakar, Minggu 
(26/11) pukul 18.00, terjadi di Talu, Kabupaten Pasaman. "Sebanyak 21 orang 
dilaporkan Bupati Pasaman tertimbun, empat di antaranya ditemukan; tiga 
mayat dan satu orang selamat. Sisanya, 17 orang, masih tertimbun".

Terperangkap

Dari lokasi bencana di Kabupaten Pesisirselatan, yakni di Kecamatan 
Batangkapas, sekitar 8.000 warga pada empat desa dilaporkan terkepung air 
bah setinggi dua hingga tiga meter. Mereka mengharapkan bantuan pangan, 
karena stok sudah menipis. Mereka terperangkap banjir dan tak bisa ke 
mana-mana. Air Batang (Sungai) Tarusan masih belum menyusut, sedang 
transportasi untuk evakuasi tidak ada.

"Sebanyak 200 warga di antaranya nyaris kelaparan. Mereka sangat butuh bahan 
pangan," kata kepala desa setempat melaporkan ke Bupati Darizal Basir dan 
Gubernur Sumbar. Secara spontan, Gubernur Zainal langsung menyerahkan 
bantuan uang tunai Rp 1 juta dan beras satu ton.

Menurut Bupati Darizal Basir, bencana banjir dan tanah longsor di daerahnya 
adalah yang terparah di Sumatera Barat. Sebanyak 45 orang tewas tertimbun 
dan dihanyutkan banjir. Sebanyak 5.585 rumah masih digenangi air, bahkan di 
daerah hulu, air menaik hingga mencapai 5 meter. Sebanyak 158 rumah rusak 
ringan dan 51 rumah hancur. Sebanyak 13.756 hektar sawah siap tanam dan 
4.151 hektar sawah siap panen ludes dihantam banjir.

"Data sampai Minggu, jumlah kerugian mencapai Rp 97 milyar. Lebih besar 
dibanding kerugian akibat banjir bulan November 1999 yang hanya Rp 45 
milyar," jelasnya.

Ditambahkan, warga yang kini mengungsi, selain butuh bahan pangan, juga 
butuh obat-obatan. Bila tidak segera diantisipasi, wabah penyakit pun akan 
mengancam keselamatan jiwa para pengungsi.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0011/27/utama/anak01.htm


Anak Itu Direnggut "Galodo" dari Pangkuan Ayahnya...

RINAI hujan masih turun, Sabtu (25/11) pagi itu. Jerit tangis dan teriakan 
minta tolong membahana, menyusul bunyi gemuruh dan hantaman dahsyat dari 
Bukit Sangguling. Ratusan warga Dusun Taratak, Desa Talawi, Kecamatan XI 
Koto Tarusan, Kabupaten Pesisirselatan, Sumatera Barat, seketika geger.
Galodo..., galodo. Tolong..., tolong..., banyak orang tertimbun...," suara 
itu bergema dan sahut-sahutan. Maka, ratusan warga segera berlari menuju 
sumber suara tadi. Inna lillahi wa inna Ilaihi rajiun.

Ternyata, galodo (istilah longsoran tanah yang disertai material bebatuan 
besar) telah menghantam dan mengubur sejumlah rumah beserta penghuninya 
serta sawah penduduk yang berada di lereng bukit itu.

"Hanya sekejap mata. Tahu-tahu rumah-rumah beserta penghuninya dan sawah 
penduduk sudah terkubur. Musibah yang tak pernah terduga sebelumnya," kata 
Zulkifli, seorang saksi mata.

Menurut Sekretaris Desa Talawi Irfan Effendi, karena hujan lebat seharian 
pada hari Jumat, sebagian warga sudah khawatir, jangan-jangan terjadi 
bencana galodo. "Malam itu warga sudah diingatkan agar waspada dan 
mengosongkan rumah, pergi mengungsi. Sebagian ada yang mengungsi dan 
sebagian masih bertahan sampai Sabtu pagi," katanya. "Dan tiba-tiba, bencana 
yang dikhawatirkan itu pun betul-betul terjadi."


***
PADA saat warga mengevakuasi Marnis alias Upik (35), yang tewas tertimbun 
dan diseret galodo di bagian pertengahan bukit, sekitar 100 meter dari 
pinggir jalan raya Padang-Painan-Bengkulu, tampak seorang lelaki berusaha 
menyelamatkan diri, bangkit dari timbunan tanah.

"Tuhan menyelamatkan saya, tetapi anak yang berada di pangkuan saya 
direnggut...," ujar lelaki itu, dengan mata berlinang. Setelah ia berada 
pada posisi yang aman dan diam sejenak, ia kemudian mencoba mengais-ngais 
tanah longsoran.

"Anakku..., anakku..., istriku..., mana...," tiba-tiba lelaki itu histeris. 
Warga belum sempat menuju lokasi lelaki itu untuk evakuasi, karena daerahnya 
mendaki, melewati pematang sawah, dan sangat licin.

Setelah dua jam mencari dan tak menemukan dua anak dan istrinya, lelaki itu 
pun tampak lelah. Ia akhirnya pasrah. "Saya kehilangan dua anak, Indah Sari 
(4) dan Sely (7), serta ibunya Martini. Satu di antaranya, Indah Sari, 
hilang dalam genggaman saya, setelah diterjang galodo," kata lelaki itu, 
yang terakhir diketahui bernama Ardison Chandra. Matanya berkaca-kaca, dan 
ia nyaris histeris. "Anakku dalam pelukannya telah direnggut...." Ardison 
menangis, agak tertahan, di samping temannya yang berusaha menenangkannya.

Menurut Ardison, pagi-pagi sebelum meninggalkan rumah untuk mencari sesuap 
makan, ia sempatkan sejenak menggendong anak bungsunya, Indah Sari, yang 
waktu itu masih tertidur pulas.

"Hari masih pagi dan hujan masih turun, tetapi tidak lebat. Saya 
menimang-nimang anak yang masih terlelap. Dalam sekejap rumah kami dihantam 
sesuatu. Semua lenyap, termasuk anak yang di pangkuan saya. Ia terlepas saat 
saya berusaha menyelamatkan diri, bertahan dan mencari pegangan," ungkap 
Ardison.

Tidak hanya Ardison yang kehilangan anak dan anggota keluarga lainnya. 
Menurut data, ada 10 kepala keluarga yang rumahnya diluluhlantakkan galodo.

"Dari 31 orang yang tertimbun, 13 berhasil diselamatkan meski luka-luka. 
Seorang berhasil dievakuasi, sedang 17 korban masih tertimbun," kata Irfan 
Effendi.

_____________________________________________________________________________________
Get more from the Web.  FREE MSN Explorer download : http://explorer.msn.com


Mailing List RantauNet http://lapau.rantaunet.web.id
Database keanggotaan RantauNet:
http://www.egroups.com/database/rantaunet?method=addRecord&tbl=1
=================================================
Mendaftar atau berhenti menerima dari RantauNet Mailing List, kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
- mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
- berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]

[email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
=================================================
WEB-EMAIL GRATIS ... @rantaunet.web.id ---> http://mail.rantaunet.web.id
-------------------------------------------------------------------------------------------------
WebPage RantauNet http://www.rantaunet.web.id dan Mailing List RantauNet
adalah servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================

Kirim email ke