Assalamu'alaikum wr.wb.
 
Bagi yang sudah baca silahkan delete. Bagi yang belum silahkan disimak, sebagai bahan diskusi "Syariat Islam". Ternyata tidak mudah untuk menerapkannya. Jadi bagaimana?
 
dn
 
 
                                   Prof. Dr. Azyumardi Azra MA: 
                                   "Belum Ada Negara Sebagai Acuan
                                   Pelaksanaan Syariat Islam"
 
                                   Pemerintah Indonesia. Lewat Presiden Abdurrahman Wahid,
                                   secara definitif mendeklarasikan pemberlakuan syariat Islam
                                   di Daerah Istimewa Aceh, terhitung sejak tanggal 19
                                   Desember lalu. Namun langkah pemerintah ini dianggap
                                   sebagian kalangan masyarakat belum bakal meredakan
                                   aksi-aksi dan gejolak yang terjadi di Serambi Mekkah itu,
                                   yakni tuntutan referendum dan merdeka.
 
                                   Bagi masyarakat Aceh sendiri, pelaksanaan syariat Isalam
                                   sendiri sudah dilakukan sejak puluhan bahkan ratusan tahun
                                   lalu. Sementara, secara legal formal Indonesia,
                                   pemberlakukan syariat Islam di Aceh sesungguhnya sudah
                                   terjadi pada zamam Presiden BJ Habibie, yakni dengan
                 keluarnya Undang-undang nomor 44 tahun 1999 tentang pemberlakukan syariat Islam
                 di Aceh.
 
                 Soal lain yang tak kalah penting, persiapan bagi pelaksanaan pemberlakukan syariat
                 Islam itu sendiri. Menurut Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr.
                 Azyumardi Azra MA, banyak hal harus diperhatikan dan disiapkan sebelum syariah
                 diberlakukan. Repotnya, hal ini betul-betul merupakan sebuah proses belajar otodidak
                 sepenuhnya. Sebab, hingga kini, belum ada satu negara pun di dunia yang bisa
                 dipakai acuan dalam pelaksanaan syariat Islam.
 
                 Untuk membahas lebih jauh persoalan pemberlakukan syariat Islam di Aceh,
                 wartawan TEMPO Interaktif Oman Sukmana mewawancarai Prof. Dr. Azyumardi
                 Azra MA, di kantor tokoh pemikir Islam itu yang terletak di kawasan Ciputat, Jakarta
                 Selatan. Berikut petikannya.
 
 
 
                 Pemerintah, secara definitif, sejak tanggal 19 Desember lalu memberlakukan
                 syariat Islam di Aceh, bagaimana tanggapan Anda?
 
                      Pemberlakuan syariat Islam di Aceh, seperti kita ketahui, pada awalnya
                      ditujukan untuk mencegah agar Aceh tidak memisahkan diri dari Negera
                      Kesatuan Republik Indonesia. Jadi, dari sudut itu, kita bisa melihat
                      bahwa proses-proses pemberlakuan syariat Islam di Aceh itu bukankah
                      suatu proses yang genuine dan alamiah, tapi lebih merupakan suatu
                      move dan kebijakan politik dalam rangka mencegah Aceh dari upaya
                      pemisahannya.
 
                 Apa Anda yakin move ini akan berhasil?
 
                      Terus terang, saya agak pesimis dan skeptis bahwa langkah itu akan
                      berhasil. Saya melihat persoalan di Aceh itu lebih dari sekedar
                      memberikan ‘kado’ dengan jalan memberlakukan penerapan hukum
                      Islam. Mungkin pemberlakuan syariat Islam di Aceh itu bisa sedikit
                      menghibur hati rakyat Aceh, karena memang sejak zaman DI/TII yang
                      dipimpin Daud Beureh ada tuntutan agar di Aceh diberlakukan syariat
                      Islam. Jadi, dari sudut itu, mungkin hal itu bisa menghibur. Tapi, itu tidak
                      akan menyelesaikan masalah.
 
                 Mengapa?
 
                      Karena masalah-masalah Aceh itu terletak pada persoalan-persoalan
                      yang lebih bersifat politik dan ekonomi. Misalnya, rakyat Aceh menuntut
                      agar para pelanggar HAM di Aceh, baik pada masa DOM maupun GAM,
                      harus ditindak. Selain itu, orang-orang yang menjadi korban pelanggaran
                      HAM itu juga harus direhabilitasi dan diberi kompensasi.
 
                      Lalu, persoalan ekonomi seperti masalah kepincangan pembagian
                      keuangan pusat dan daerah, hal-hal ini harus diselesaikan dulu. Kalau
                      hal-hal seperti ini tidak lebih dahulu diselesaikan, saya khawatir
                      penerapan syariat Islam di Aceh bukan hanya kontraproduktif, tapi
                      sekaligus bisa menimbulkan dampak negatif terhadap citra syariat Islam
                      itu sendiri. Karena kondisi politik dan ekonomi yang tidak mendukung
                      bagi pemberlakuan syariat itu, maka kemungkinan syariat itu tidak bisa
                      diimplementasikan.
 
                 Dapat dikatakan langkah pemerintah saat ini tidak tepat?
 
                      Secara prioritas saya melihatnya memang tidak tepat. Apalagi,
                      sebenarnya, syariat Islam itu sendiri, secara implisit, telah dilaksanakan
                      oleh rakyat Aceh sejak zaman pemerintahan Habibie, bersamaan
                      dengan dikeluarkannya undang-undang (UU) nomor 44 tahun 1999
                      tentang pemberlakuan syariat Islam di Aceh.
 
                      Seharusnya pemerintahan saat ini lebih memprioritas pada
                      masalah-masalah politik dan ekonomi seperti yang telah saya sebutkan.
                      Tanpa hal itu, lagi-lagi, syariat Islam bisa menjadi kontraproduktif.
 
                 Tadi disebutkan, secara implisit syariat Islam telah diberlakukan sejak setahun
                 lalu, apakah selama ini gejala kontraproduktif itu terlihat?
 
                      Ya, sejak diberlakukannya UU nomor 44/1999 tentang syariat Islam itu,
                      penerapan syariat Islam di Aceh berlaku secara sporadis dan bahkan
                      akibat penerapan itu di beberapa tempat, di provinsi Aceh, terjadi ekses.
                      Akibat tidak diikuti dengan kesiapan yang memadai, syariat Islam,
                      penerapannya hanya dilihat secara sepotong-sepotong. Misalnya, hanya
                      dalam soal berpakaian. Jadi wanita, entah dia muslim atau bukan, wajib
                      memakai jilbab. Kalau mereka tidak mengenakan jilbab, mereka akan
                      menerima sanksi-sanksi, misalnya, konon ada yang kepalanya di
                      gunduli dan sebagainya.
 
                 Apakah itu berarti, sebenarnya Aceh belum siap menerapkan syariat Islam?
 
                      Ya, saya rasa belum. Jangankan di Aceh yang daerahnya masih penuh
                      konflik yang tak terselesaikan. Di daerah yang aman sekali pun, seperti,
                      misalnya Sumatra Barat atau Jawa tengah, konsep itu tidak bisa
                      dilakukan. Karena sebenarnya penerapan syariat Islam itu bukan
                      masalah yang sederhana. Selain faktor kesiapan sosiologis, politis dan
                      ekonomis yang tadi telah disebutkan, kita juga harus memahami dengan
                      apa yang dimaksud dengan syariat itu sendiri.
 
                 Maksudnya?
 
                      Di kalangan ulama, pengertian tentang syariat itu sendiri masih
                      mengandung perbedaan dan banyak penafsiran. Seharusnya, konsep
                      syariat yang tepat itu kan, secara umum, selain berangkat dari Al Quran
                      dan Hadist, faktor aspek kemanusiaan dan dinamika masyarakat harus
                      tetap diperhatikan. Kalau sebuah hukum tidak memperhatikan dinamika
                      masyarakat, maka hukum itu akan diabaikan oleh masyarakat.
 
                      Kita mengambil contoh tentang perbedaan itu, misalnya, Departemen
                      Agama ketika mencoba melihat masalah-masalah keluarga dilihat dari
                      persfektif hukum Islam, tidak bisa memberikan suatu perspektif yang
                      pasti. Departemen Agama hanya bisa memberikan perspektif dari
                      berbagai penafsiran yang ada, yang disebut dengan kompilasi hukum
                      Islam. Itu baru dalam hal hukum keluarga. Padahal hukum Islam itu
                      bukan hanya berkaitan dengan hukum keluarga saja. Bukan hanya soal
                      nikah, talak rujuk saja, tapi juga berkenaan dengan soal lainnya, seperti
                      soal hukum pidana dan perdata.
 
                      Selama ini orang banyak yang memikirkan dan menafsirkan hukum
                      Islam itu secara parsial. Pola pikir dan penafsirannya hanya
                      sepotong-sepotong, misalnya dalam soal potong tangan bagi orang yang
                      mencuri atau hukuman rajam bagi orang yang berzina. Meskipun kedua
                      hal itu sendiri masih dalam perdebatan serius di kalangan pemikir Islam,
                      tapi bayangan sebagian besar masyarakat terhadap hukum Islam, akibat
                      pandangannya yang parsial, menjadi cenderung negatif.
 
                      Padahal, para ahli fiqih ada yang mengatakan bahwa potong tangan itu
                      adalah suatu hukuman yang maksimal. Yang bisa dilakukan jika ada
                      alasan-alasan yang kuat.
 
                      Oleh karena itu, pernah ada sebuah contoh, ketika Khalifah Umar Ibnu
                      Khattab, di zamannya menemukan seorang pencuri. Pencuri itu, karena
                      dianggap masih bisa diperbaiki dan kesalahannya tidak terlalu besar,
                      hanya diganjar dengan hukuman yang ringan. Pencuri itu tidak dipotong
                      tangannya, bahkan kemudian akhirnya dibebaskan. Hal-hal semacam
                      ini, yang hingga saat ini masih banyak penafsiran-penafsiran, harus lebih
                      dahulu diselesaikan. Itu baru satu contoh kecil, belum lagi soal syariat
                      lainnya.
 
                 Misalnya?
 
                      Misalnya, harus juga diselesaikan konflik hukum yang terjadi antara
                      hukum syariat dengan hukum adat. Kita tahu bahwa tidak semua adat
                      Aceh itu cocok dengan syariat Islam. Bahkan Snouck Hurgronje
                      (Sosiolog Belanda, red) pernah menemukan adanya perbedaan itu.
                      Snouck Hurgronje, untuk memecah belah masyarakat Aceh dari
                      fanatisme Islamnya, berhasil melihat Aceh secara dramatis, yakni
                      dengan mendikotomisasikan antara adat Aceh pada pada satu pihak
                      dan hukum Islam pada pihak lain.
 
                      Mungkin Snouck Hurgronje terlalu berlebihan dalam melihat perbedaan
                      itu, tapi paling tidak perbedaan itu memang ada. Belum lagi antara
                      hukum Islam dan hukum nasional, hukum positif lainnya. Jadi, dengan
                      melihat hal itu, terus terang saya skeptis dengan penerapan syariat
                      Islam di Aceh. Bahkan, bukan tidak mungkin nantinya syariat Islam itu
                      akan menjadi kambing hitam dari berbagai permasalahan yang muncul
                      di Aceh.
 
                 Dalam Islam sendiri, apakah tidak ada kelenturan-kelenturan yang
                 memungkinkan perbedaan-perbedaan tadi berjalan seiring dan bersamaan?
 
                      Jelas ada, Islam memiliki beberapa kaidah hukum yang memungkinkan
                      terjadinya kelenturan-kelenturan itu terjadi. Misalnya, sebagai contoh,
                      dikenal kaidah hukum yang mengatakan mencegah hal-hal yang
                      merusak diutamakan dari membawa hal-hal baik (Dar’u al mafasid
                      muqaddam ‘ala jalb al masalih).
 
                      Dalam kaidah hukum ini dikatakan, jika mengganti adat setempat dapat
                      menimbulkan kerusakan-kerusakan berat dalam kehidupan masyarakat,
                      maka adat setempat dapat diutamakan penggunaannya, tanpa
                      mengorbankan nilai nominal dan ketentuan normatif yang ditentukan
                      Islam. Atau, di kenal juga kaidah hukum al hajah tanzilu manzilah al
                      darurah (kebolehan menentukan keputusan dalam keadaan darurat) atau
                      al hukm yaduru ma’a ‘illatihi wujudan wa ‘adaman (kebolehan
                      merumuskan sebuah hukum baru berdasarkan hukum yang ada selama
                      tidak bertentangan dengan Al Quran dan Hadist).
 
                      Kebolehan atau kelenturan seperti itulah yang dalam Islam kemudian
                      dikenal sebagai ikhtilafi ummati rahmah (perbedaan di kalangan umat
                      sebagai rahmat). Konsep ini mengajarkan agar umat Islam bersikap
                      toleran terhadap adanya perbedaan. Kerangka itu adalah kerangka
                      normatif dan ideal. Tapi kan sering terjadi, di dalam realitasnya kan
                      kerangka ideal itu tidak terwujud, apalagi jika kemudian
                      perbedaan-perbedaan pandangan itu disertai adanya motif-motif politik
                      yang bisa menjadikan petaka. Kalau sudah sampai seperti ini kan
                      artinya perbedaan telah menjadi suatu laknat.
 
                 Ada contohnya?
 
                      Misalnya, dalam soal adat (al urfu), jika adat itu tidak bertentangan
                      dengan Al Quran dan Hadist memang bisa di pakai, tapi ada adat lokal
                      yang tidak sesuai. Itu yang tidak bisa dipakai. Karena apa? Karena hal
                      itu akan memicu satu persoalan, baik pada tingkat konsep mau pun
                      pada praktek hukumnya.
 
                      Contohnya, di Sumatra Barat, tentang pembagian harta. Dalam Islam
                      kan disebut sebagai hukum fara’id, pembagian harta dari seorang ayah
                      kepada anaknya dan seterusnya, bersifat paternalistik. Tapi di Sumatra
                      Barat kan yang terjadi adalah budaya maternalistik, pembagian itu
                      berdasarkan garis keturunan ibu. Nah, hal-hal kecil semacam ini kan
                      harus diselesaikan, dan, sejak dulu, persoalan itu tidak pernah bisa
                      diselesaikan. Artinya, ada persoalan konsep dan sosiologi, karena
                      realitasnya memang sudah begitu. Mengubah suatu realitas itu, kita
                      tahu, bukan hal yang mudah apa lagi jika sudah mendarah daging.
                      Karena harus ada kompromi, baik pada tingkat konsep dan kemudian
                      mengubahnya pada tingkat sosial.
 
                      Konsep Dar’u al mafasid muqaddam ‘ala jalb al masalih (mencegah
                      hal-hal yang merusak diutamakan dari membawa hal-hal baik) itu sendiri
                      baru bisa dijalankan di Aceh apabila kita sudah yakin bahwa
                      pemberlakuan syariat Islam di sana dapat memungkinkan tercegahnya
                      sesuatu yang buruk ketimbang melakukan sesuatu yang baik. Tapi,
                      sejauh ini, kepastian itu sendiri kan tidak ada, karena situasinya yang
                      tidak menentu disebabkan kondisi-kondisi politik dan ekonomi yang
                      belum juga selesai.
 
                 Dengan masalah-masalah itu, apakah akan menyebabkan keinginan
                 pemerintah, melalui pemberlakuan syariat Islam, unutk menghidupkan
                 kembali peran ulama yang selama ini disingkirkan juga tidak akan berhasil?
 
                      Kalau memang itu yang diinginkan, seharusnya pemerintah lebih dahulu
                      menghidupkan lembaga-lembaga keulamaannya, termasuk di antaranya
                      lembaga pendidikan. Kalau di Aceh itu, yang diberdayakan adalah
                      meunasah, rangkang dan dayah. Itu yang harusnya diberdayakan, bukan
                      dengan syariat Islam itu tadi.
 
                 Secara spesifik, adakah perbedaan penerapan Islam di Aceh dengan yang
                 selama ini diterapkan oleh negara-negara lain?
 
                      Penerapan syariat Islam, sejauh ini, di negara-negara Islam yang
                      menganut syariat Islam, itu juga berbeda-beda. Misalnya Arab Saudi,
                      penerapan syariatnya itu didasarkan pada Al Quran dan Hadist. Mereka
                      menggunakan penafsiran ulama Hambali atau yang lebih dikenal dengan
                      mazhab Hambali. Tapi kan kita tahu, bahwa Al Quran itu pada
                      umumnya, hanya memuat kerangka-kerangka yang umum saja,
                      sehingga masih diperlukan penafsiran ulama.
 
                      Kemudian, misalnya Pakistan, pada zaman kepemimpinan Zia Ul Haq,
                      juga pernah menerapkan hukum Islam. Tapi tetap menggunakan
                      penafsiran-penafsiran ulama. Saya tidak tahu Aceh ini akan menerapkan
                      syariat Islam yang seperti apa. Apakah memang akan hanya
                      mengandalkan ketentuan Al Quran dan Hadist, atau akan tetap
                      menghargai penafsiran-penafsiran ulamanya. Itu yang hingga saat ini
                      belum jelas. Apakah akan memakai syariat Islam berdasarkan mazhab
                      Hambali, Hanafi, Maliki atau Syafi’i, atau malah mungkin gabungan dari
                      semua mazhab itu.
 
                 Dengan kondisi yang belum memungkinkan ini, mungkinkah pemaksaan
                 pemberlakuan syariat Islam di Aceh itu akan menyebabkan terjadinya
                 perpecahan atau bentrokan?
 
                      Ya, sangat mungkin. Kejadian seperti itu pernah dialami kaum muslimin
                      sebelumnya. Ketika pada abad pertama Hijriah kaum muslimin harus
                      bertempur dengan sesamanya dan pecah berkeping-keping akibat
                      adanya kelompok yang ingin memaksakan "Tatanan Tuhan", mengikuti
                      ketentuan ideal tentang bentuk pemerintahan seperti yang tergambar
                      dalam Al Quran dan Hadist. Contoh lain juga pernah terjadi di Pakistan.
                      Ketika itu kelompok Jamaati Islami ingin menerapkan syariat islam, tapi
                      beberapa pemikir Islam lainnya tidak setuju. Akibatnya, yang terjadi
                      bukan hanya konflik argumentasi, tapi juga mengakibatkan terjadinya
                      konflik fisik.
 
                 Pemberlakuan syariat Islam juga menimbulkan kekhawatiran di sebagian
                 kalangan bahwa kelak masyarakat Aceh tidak akan lagi mengakui hukum
                 positif Indonesia, seperti UUD 1945 dan Pancasila?
 
                      Ini juga sebagai suatu perbedaan yang harus dihargai. Sebenarnya,
                      pengakuan hukum positif itu tidak masalah, selama hukum itu tidak
                      bertentangan dengan Al Quran dan Hadist. Makanya, di Timur Tengah
                      itu selalu ada yang disebut istilah syariah wal qannun. Qannun itu artinya
                      undang-undang. Jadi, di samping syariah yang merupakan produk
                      hukum langit, juga ada Al Qannun yang merupakan hukum nasionalnya.
                      Jadi, saya rasa, kekhawatiran itu terlalu berlebihan.
 
                 Kalau Anda lihat, sejauh ini, apa titik terlemah dari pemberlakuan syariat
                 Islam di Aceh?
 
                      Selain konsepnya yang belum jelas, yang juga belum tampak adalah
                      masalah penegakan hukumnya (law enforcement). Selain belum ada
                      ketentuan hukum yang jelas, sejauh ini, belum ada kepastian siapa
                      yang akan menjadi penegak hukumnya. Berdasarkan informasi yang
                      saya dapat dari berbagai media, kabarnya yang akan menjadi penegak
                      hukum pelaksanaan syariat Islam itu polisi dengan dibantu aparat
                      pemerintah daerah.
 
                      Tapi, masalahnya, apakah masyarakat Aceh percaya kepada polisi atau
                      aparat yang selama ini dianggap menyengsarakan mereka? Di tambah
                      lagi, apakah pihak kepolisian itu juga mau menjadi penegak hukum
                      tersebut, karena konsekuensi bagi polisi itu sendiri sangat berat.
                      Karena, jika mereka melanggar, jelas mereka juga akan terkena
                      peraturan yang berlaku.
 
                 Apakah ada solusi untuk mengatasi titik lemah ini?
 
                      Solusi? Agaknya dalam hal pemberlakuan syariat Islam ini kita memang
                      harus banyak belajar dari ketidak berhasilan penerapan syariah di
                      tempat-tempat yang lain. Sejauh ini kan belum ada satu negara pun
                      yang dapat dijadikan acuan untuk melaksanakan syariat Islam. Paling
                      tidak, saya belum melihat ada satu kisah sukses dari negara-negara
                      yang saat ini yang menerapkan syariat Islam.
 
                      Kalau yang benar dan ideal, seharusnya syariat itu yang konsisten. Arab
                      Saudi, misalnya, yang katanya menerapkan syariat islam, nyatanya
                      belum bisa menciptakan rasa tenang dan keadilan bagi semua
                      masyarakatnya. Seharusnya kan pemberlakuan syariat Islam itu tidak
                      hanya kepada orang yang mencuri lalu dipotong tangannya. Sementara,
                      pada sisi lain, ada orang yang memperkosa dan memperlakukan para
                      tenaga kerja wanita secara biadab dibiarkan saja.
 
                      Pada kenyataannya, pemberlakuan syariat Islam itu bukanlah sesuatu
                      yang mudah. Kalau kita hanya bicara dari suatu semangat emosi
                      keagamaan semata-mata, seperti yang saat ini dilakukan di Aceh, yang
                      sarat dengan nuansa romantisme keagamaan, pelaksanaan itu tentunya
                      tidak akan dapat diterapkan secara benar. ****

Kirim email ke