Ass. WW.,

Tradisi anak bangsa dalam merayakan 'Idulfitri
tentu berbeda. Dibawah ini saya sampaikan tradisi
"urang-awak". Kalau saudara dapat juga menceritakan
tradisi dareah lain, tentu akan lebih memperkecil 
kemiskinan kita terhadap budaya bangsa.

Wass

DmU

____________________________________________________________________
Get free email and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1


Hari Raya Ketupat

Assalaamu'alaikum WW.,

Masyarakat Minang di kampung halaman atau dibagian 
lain tanah-air, menjadikan bulan puasa dan 'idulfitri suatu bulan khusus. 
Bukan hanya untuk beribadah sebagaimana lazimnya, juga merupakan 
bulan penghormatan (secara lebih khusus) yang muda kepada yang tua, 
anak kepada orangtua dan menantu kepada mertua.

Pada bulan puasa, anak/mantu/adik,  paling kurang sekali dalam 
bulan puasa mengantar "pabukoan" (makanan untuk berbuka puasa) 
untuk orangtua/mertua, kakak ipar, mamak (saudara lelaki dari ibu) 
dan tetua lainnya. Sementara pihak yang diantar makanan biasanya 
membalas dengan memberi hadiah tertentu kepada keluarga yang 
mengantar sesuai dengan kemampuannya.

Selanjutnya pada hari raya 'Idulfitri yang biasanya juga disebut 
Hari Raya Ketupat, pihak yang lebih muda disebut diatas mengantar 
penganan lebaran seperti ketupat, lemang, tape ketan dan makanan 
tradisional lainnya kepada yang lebih tua, sembari
bersilaturami meminta maaf.

Hari pertama lebaran biasanya habis digunakan untuk saling 
berkunjung kepada keluarga terdekat. Dan hari kedua kepada 
keluarga dan kerabat lainnya. Kunjungan silaturahmi itu biasanya 
berlanjut mencicipi hidangan yang senantiasa tersedia,
ataupun hanya sekedar bermaafan. Sementara anak-anak dengan 
baju terbarunya, berbahagia dengan hadiah uang lebaran dari kerabat 
yang dikunjungi.

Mungkin bagi saudara-saudara masyarakat Minang yang lahir 
dan besar di rantau sudah tidak mengalami lagi suasana adat dan 
tradisi yang demikian itu. Namun sebagian masih mempraktekkan 
tradisi itu, walapun perkawinan campuran dengan suku lainnya terjadi. 
Seperti Uni Emmy, isteri Dubes Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, misalnya. 
Kalau di Jakarta beliau senantiasa mengantar "pabukoan" kepada 
sang mertua yang berasal dari suku lain itu.

Kalau kita tidak familiar lagi dengan tradisi diatas, paling kurang 
kita tahu bahwa di ranah Minang atau dibagian lain tanah air, 
tradisi ini masih hidup.

Selamat Berhari Raya Ketupat 

Wassalamu'alaikum WW.,

Dutamardin Umar
Virginia-USA

(Karena penulis juga besar di rantau, mungkin tulisan
diatas kurang pas. Tolong dikoreksi)



Kirim email ke