Saya sedikit ingin unjuk komentar juga atas tulisan
sdr syaifuidn yang panjang dan cukup bagus dan barang
tentu cukup sulit juga menulis dan memikirkannya.
yang ingin saya komentari hanyalah masalah KEBENARAN.
Kebenaran hakiki dan kebenaran relatif. sungguh rumit
dan njlimet untuk memikirkannya. Sebuah sisi pandang
saya ingin mengajukan usul bahwa analisa logis dan
analisa abstrak jika di campur aduk pemakaian nya pada
satu kontek yang sama akan menimbulkan polemik dan
kontradiksi2. ketika kita definisikan ada kebenaran
relatif dan hakiki, maka terpaksa keduanya harus
definitif dengan mencari acuan yang berbeda serta
analogi yang berbeda pula. sehingga kebenaran dari
tulisan ttg kebenaran ini jadi subjectif, relatif dan
tidak menyatakan apa2. tapi tak lebih dari pada
mengulas realita logic dari apa yang telah ada dengan
sisi pandang biasa dan telah berulang2 disampaikan
orang2 yang mau berfikir.
Kebenaran yang sebenar2 nya adalah kebenaran yang
tidak memerlukan bukti, argumentasi dan tak perlu
didiskusi.
Salam warrahmatullah
Luthfi
--- Syaifuddin Ma'rifatullah <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
> Bismillaah, Ar-Rahmaan, Ar-Rahiim
>
> Subuh ini saya mendapat kesempatan untuk
> mendengarkan ceramah subuh yang di
> dalamnya membahas tentang "kebenaran". Ustadz kami
> di subuh itu mengatakan :
>
> "... kebenaran yang hakiki atau al-haq itu adalah
> milik Allah. Sedangkan
> manusia pasti tidak akan mampu mencapai kebenaran
> yang hakiki itu. Manusia
> hanya akan mampu untuk mendekati kebenaran.
> Kebenaran adalah kesempurnaan
> dan itu hanya dimiliki oleh Allah".
>
> Mungkin karena pas dengan suasana bulan Ramadhan,
> bagi saya tema ini adalah
> menarik. Maka, ketika ceramah itu berakhir dan semua
> jema'ah mulai bergerak
> pulang ke rumah masing-masing, saya jawil ustadz itu
> dan menanyakan
> beberapa hal tentang "Wajib" dan "Rukun", yang akan
> saya hubungkan dengan
> pertanyaan tentang "kebenaran" pada kesempatan itu
> juga. Beberapa orang
> jema'ah lainnya ikut bergabung dengan pembicaraan
> kami.
>
> 1. Tentang "Wajib".
>
> Pada ceramah subuh itu, Ustad kami ini
> menginformasikan bahwa Imam
> Al-Ghazali mengatakan bahwa "khusyuk itu adalah
> wajib di dalam shalat",
> sedangkan sebagian ulama lainnya mengatakan "khusyuk
> hanyalah sekedar
> sunnat di dalam shalat". Maka saya bertanya
> kepadanya : "sebenarnya, apa
> sih yang disebut wajib itu Ustadz ?". Dia menjawab
> bahwa yang wajib di
> dalam shalat itu adalah 'apabila tidak dilaksanakan
> maka shalatnya menjadi
> hampa' tak ada artinya tetapi tidak sampai
> membatalkan shalat itu sendiri,
> shalat tetap syah.
>
> Maka saya mengomentarinya, "kalau boleh saya
> analogikan dengan komputer,
> maka yang wajib pada komputer itu misalnya adalah
> mencolokkan kabel power
> ke sumber listrik. Jadi ketika komputer itu tidak
> dialiri listrik maka
> komputer itu seperti hampa tak ada artinya". Ustadz
> itu pun mengiyakannya.
> Menurut saya, yang dimaksud "wajib" ini adalah suatu
> "kebutuhan dasar".
> Benarkah komputer itu bisa berfungsi bila kabel
> powernya disambungkan ke
> sumber listrik ? Benar !
>
> Insya Allah, tema ini dapat kita diskusikan lebih
> lanjut agar kita bisa
> memperoleh manfaat yang lebih luas lagi, dengan
> mencari analogi lainnya.
> Silahkan !
>
> 2. Tentang "Rukun".
>
> Saya juga menanyakan tentang apa yang dimaksud
> dengan "rukun", apakah itu
> aplikasinya pada rukun shalat atau rukun haji dan
> rukun-rukun lainnya.
> Ustadz yang menyandang gelar S2 itu menjelaskan
> bahwa "... rukun itu adalah
> apabila tidak dilaksanakan menjadi tidak syah
> ibadahnya". Misalnya salah
> satu rukun shalat adalah "berniat shalat". Bila kita
> shalat tanpa niat
> shalat, maka shalatnya itu batal menurut fiqih".
>
> Saya pun mencoba memahaminya dengan kembali
> mengambil analogi tentang
> komputer. Maka, yang rukun di sini adalah "adanya
> kabel power dari sumber
> listrik ke komputer". Artinya apabila "kabel
> power"(listrik)-nya (rukun)
> tidak ada, maka "kabel listrik itu pun tidak dapat
> dicolokkan" (wajib) ke
> komputernya. Maka Ustadz kami pagi itu pun, sekali
> lagi mengiyakannya.
> Benarkah komputer itu bisa berfungsi bila ada kabel
> power (listrik) yang
> dapat disambung dari komputer ke sumber listrik ?
> Benar !
>
> Begitulah saya mencoba memahami perbedaan antara
> "wajib" dan "rukun" itu.
> Insya Allah, tema ini pun bagus juga untuk kita
> bahas bersama dengan
> mengetengahkan contoh-contoh yang lebih nyata
> lainnya dalam kehidupan
> sehari-hari kita. Apa saja yang termasuk rukun dalam
> kehidupan kita ini,
> ada yang berkenan untuk mengupasnya ?
>
> 3. Tentang "Kebenaran".
>
> Dengan menggunakan kesepakatan "kebenaran" sementara
> melalui pembahasan
> soal "Wajib" dan "Rukun" di atas, saya mencoba
> mengkonfirmasi sekali lagi :
>
> (a). Benarkah komputer itu bisa berfungsi bila kabel
> powernya disambungkan
> ke sumber listrik ? Benar !
> (b). Benarkah komputer itu bisa berfungsi bila ada
> kabel power (listrik)
> yang dapat disambung dari komputer ke sumber listrik
> ? Benar !
>
> Contoh ini memang terlalu nyata untuk dijadikan
> contoh mengenai
> "kebenaran". Padahal kebenaran itu setidaknya ada
> dua macam : Kebenaran
> relatif dan kebenaran hakiki. Kebenaran yang
> sebenar-benar kebenaran atau
> Al-Haq itu adalah milik Allah dan hanya Allah-lah
> yang tahu. Namun
> kebenaran hakiki bukanlah suatu hal yang mustahil
> dapat kita capai. Sebab
> di dalam kebenaran hakiki ini sebenarnya kita
> mengenal juga adanya
> kebenaran universal, di mana kebenaran itu dapat
> diterima secara umum
> dengan menggunakan patokan ilmu tertentu pada semua
> kita.
>
> Sedangkan kebenaran relatif adalah kebenaran menurut
> situasi dan kondisi
> masing-masing orang yang memahaminya. Inilah yang
> kemudian kita kenal juga
> dengan kebenaran subjektif itu. Itulah milik kita.
> Itulah fakta atau
> kenyataan yang ada pada kita. Di situlah kita berada
> saat ini.
>
> Yang jelas, meskipun kita hanya memiliki kebenaran
> relatif, kita ini
> sebenarnya selalu memperbaiki atau meningkat dari
> satu kebenaran relatif ke
> kebenaran relatif berikutnya dan selalu menuju
> kepada kebenaran yang
> hakiki. Benarkah ? Marilah kita hati-hati memahami
> hal ini. Karena jika
> tidak, kita akan terjebak kepada fanatisme buta,
> yang mengakibatkan kita
> memandang kebenaran itu hanya pada kita dan orang
> lain menjadi salah.
>
> Sebelum melangkah jauh, dengan melihat dua contoh
> nyata pada komputer di
> atas dan juga dari adanya kebenaran relatif dan
> kebenaran hakiki yang kita
> sepakati di atas, saya menangkap bahwa "kebenaran
> itu bekerja sesuai dengan
> kebutuhannya masing-masing". Sedangkan "kebutuhan
> itu sendiri haruslah
> dihubungkan dengan bekerjanya suatu fungsi pada
> suatu keadaan tertentu".
> Untuk berfungsinya komputer di atas secara normal
> haruslah terlebih dulu
> dipenuhinya segala yang bersifat "wajib" dan juga
> segala yang bersifat "rukun".
>
> Misalnya begini : seseorang pekerja angkat barang di
> pelabuhan membutuhkan
> makan nasi sebagai sumber karbohidrat sebanyak 3
> piring nasi (rukun) untuk
> sarapan pagi (wajib). Sedangkan seorang pekerja
> klerikal di kantor hanya
> membutuhkan 1 potong roti (rukun) untuk sarapan pagi
> (wajib) mereka. Kedua
> jenis pekerja ini adalah benar menurut kebutuhan dan
> keadaannya
> masing-masing, meski pun kadar-banyaknya dalam
> mengkonsumsikan makanan ini
> berbeda-beda.
>
> Dengan sejumlah porsi yang mereka makan tersebut,
> mereka sudah dapat
> menjalankan fungsinya masing-masing. Kedua mereka
> tidak perlu memprotes dan
> saling menyalahkan, karena mereka berjalan di
> jalurnya masing-masing.
> Mereka berdua adalah benar dan memiliki kebenarannya
> masing-masing. Makanan
> yang mereka konsumsi telah memenuhi kebutuhan mereka
> masing-masing. Itulah
> kebenaran mereka !
>
> Ketika "kebenaran sebagai pekerja klerikal di
> kantor"
=== message truncated ===
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Photos - Share your holiday photos online!
http://photos.yahoo.com/
RantauNet http://www.rantaunet.com
=================================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
ATAU Kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
- mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
- berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]
Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
=================================================
WebPage RantauNet dan Mailing List RantauNet adalah
servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================