Assalamu'alaikum wr.wb.,

Iyo lamo ambo indak ka lapau, indak pulo ka surau.
Alhamdulillah, kini baru talakik maengong baliak.
Mudah-mudahan awak kasadono tatap dalam bimbingan
Allah SWT. Amiin.

Iko ado saketek nan ambo tulih persis bana saari ari
rayo, tapi dek bendi di rumah agak baulah, katiko itu
indak takirin. Mudah-mudahan bamanpaaik.

Wassalamu'alaikum wr.wb.,

Lembang Alam



KETUPAT LEBARAN

Hari baru jam sembilan lebih seperempat malam. Aku
baru kembali dari mesjid. Takbir masih  terdengar
bergemuruh. Allahu Akbar � Allahu Akbar � Allahu
Akbar. Laa ilaha illa �Llahu waLlahu Akbar. Allahu
Akbar walilLahil hamd. Selesai sudah Ramadhan tahun
ini, setelah tigapuluh hari penuh berpuasa. Bahana
takbir bersahut-sahutan di udara malam nan  syahdu. 

Di rumah kudapati anak-anak dan ibu mereka sedang
bergotong royong di meja makan menyiapkan hidangan
hari raya besok. Mereka bekerja sambil berseloroh,
mengobrol macam-macam dari barat ke timur, mengulangi
kenangan lama saat mereka masih kanak-kanak, diselingi
tawa terkekeh-kekeh.
�Malam takbiran seperti ini selalu mengingatkanku pada
Balikpapan� kata si Sulung. �Hari raya disana selalu
lebih ramai. Sehabis salat Ied tamu kita, terutama
teman-teman sekantor ayah  segera berdatangan.� �Iya,
aku ingat kita bergantian membakar sate dan rumah kita
seperti warung sate Padang.� si Tengah menambahkan. 
�Malam takbiran begini biasanya kita menusuk sate
beramai-ramai, sementara si mBok sibuk merebus
ketupat. Kenapa buk, disini kita tidak membuat sate
Padang?� si Bungsu menimpali. �Di sini
tetangga-tetangga datang berhari raya hanya sampai di
pintu rumah untuk bersalaman, setelah itu pergi, beda
dengan di Balikpapan yang lebih akrab. Kalau disini
masing-masing orang ingin segera berkumpul dengan
keluarga besarnya.� jawab ibu mereka. �Lha, apa
hubungannya dengan tidak bikin sate Padang?� si Tengah
yang kritis menyela. �Hubungannya, yang makan hanya
kita-kita saja, karena tamu kita jarang yang mau ikut
duduk untuk makan bersama karena disini begitu
tradisinya. Kalau cuma untuk kita, ya kita pergi saja
ke warung sate Padang� si Sulung membuat interpretasi.
�Ah, bukan juga begitu, kalau kalian mau nanti
kapan-kapan kita bikin� jawab ibu. �Sekarang biarlah
kita siapkan ketupat dan opor ayam ini saja.�

�Ngomong-ngomong tentang Balikpapan aku ingat waktu
pertama kali ikut salat taraweh, aku maunya salat
dekat ayah, dan aku ditertawakan karena anak cewek
harusnya salat di belakang bersama ibu-ibu, he he he.�
kenang si Sulung yang asik mengupas bawang. �Kalau aku
yang nggak bisa lupa waktu aku menumpahkan kolak
pisang di sajadah tante Ani waktu salat taraweh di
rumahnya. Tante Ani  yang latah itu tereak-tereak
mengatakan aku ngompol sehingga semua orang melotot ke
arahku.� kata si Tengah. �Ya, dan kamu langsung nangis
waktu itu, he he he� si Sulung menambahkan.

Suara takbir bersahut-sahutan masih terus terdengar
dari pengeras suara di mesjid-mesjid di sekitar
kompleks perumahan ini. Allahu Akbar waliLlahil hamd.
Biasanya cerita nostalgia itu berlanjut kemana-mana.
Masing-masing mengungkit memori kanak-kanak mereka
tentang kejadian sekitar sepuluh tahun atau lebih yang
lalu. Kadang-kadang aku ikut membumbui obrolan mereka.
Kadang-kadang aku ikut mengingatkan kejadian yang
mereka alami. Kadang-kadang aku juga menceritakan
kenanganku waktu kecil selama puasa Ramadhan. Ceritaku
tentu saja lain dengan pengalaman anak-anak yang lebih
berwarna-warni, karena waktu aku kecil kami menjalani
bulan puasa ditengah kesederhanaan  suasana kampung. 

Allahu Akbar kabiiran, wa subhanaLlahi bukratan wa
ashiila. Entah kenapa, tiba-tiba saja air mataku
berlinang kali ini dan aku jadi terisak-isak. Tentu
saja semua jadi gempar. �Kenapa ayah? Kok ayah jadi
cengeng begini?� tanya si Bungsu hati-hati. Yang lain
semua diam membisu. Mereka bahkan menghentikan
pekerjaan mereka, menatap padaku dengan tatapan penuh
tanda tanya. Aku mencoba meredam emosi. Allahu Akbar
walilLahil hamd.
�Berapa tahun sejak kamu ikut salat taraweh yang
pertama kali yang kamu sebutkan tadi?� tanyaku pada si
Sulung. Dia berfikir sebentar. �Enam belas tahun ayah.
Waktu itu aku masih di TK nol kecil� jawabnya. �Betul.
Dan kamu masih ingat kejadian-kejadian lain waktu
itu?� tanyaku pula. �Ingat, banyak sekali kejadian
yang aku masih hafal luar kepala. Waktu aku pertama
kali ikut bus jemputan ke sekolah, waktu itu aku
sangat senang karena merasa sudah besar, tidak usah
diantar ibu ke sekolah. Waktu aku pergi ke ulang tahun
temanku Santi dan aku naksir sekali kado yang aku
bawakan untuknya. Waktu kita ketinggalan pesawat
sekembali dari liburan di kampung. Semua masih segar
dalam ingatanku.� tambahnya pula.
�Ayahpun masih ingat waktu pertama kali ayah puasa
saat ayah berumur enam tahun. Hari pertama puasa tiap
sebentar ayah menanyakan waktu pada nenekmu. Lama
betul rasanya menunggu beduk magrib dipukul orang di
mesjid. Hari-hari berikutnya kami sudah lebih tahan.
Ayah dan teman-teman ayah bermain sepanjang hari. Main
bola, main layang-layang, bermain-main di sawah, naik
di punggung kerbau. Sore-sore biasanya kami
mengendap-endap mandi di kolam mesjid, takut ketahuan
tuanku mesjid yang selalu marah karena kami mandi
memperkeruh air kolam tempat wudu itu� aku bercerita
panjang. �Cerita ini sudah pernah ayah ceritakan.
Suatu kali tuanku mesjid merendam baju ayah ke dalam
kolam sehingga ayah terpaksa pulang tanpa baju, iya
kan? Maaf ayah, kenang-kenangan itukah yang menjadikan
ayah sedih sampai menangis?� tanya si Bungsu lagi.
�Benar� jawabku �ayah terharu mengingat  semua itu.�
�Aneh benar, bagian mananyakah yang mengharukan?�
tanya si Tengah. 
�Baik, coba kalian dengar. Kenangan kakakmu berumur
enam belas tahun. Kenangan ayah berumur lebih lama
lagi, empat puluh tiga tahun. Semuanya juga masih
segar dalam ingatan ayah, ketika Ramadhan demi
Ramadhan ayah lalui dalam kehidupan ayah. Padahal
waktu 43 tahun adalah jangka waktu yang lama dalam
hidup seorang manusia. Kenapa ayah sedih? Pernahkah
kita menanyakan kepada diri kita berapa kali Ramadhan
lagi yang akan kita lalui? Hanya Allah yang tahu. Yang
pasti setiap kali kita menyelesaikan satu bulan
Ramadhan jatah kita makin berkurang. Berbeda dengan
ketupat yang setiap tahun kita santap di hari raya,
yang menjadikan kita dapat mengukir keindahan kenangan
idul Fitri itu, tubuh kita selalu berubah sesuai
dengan kodrat manusiawi, dan Allah menjadikan
perubahan itu sebagai peringatan buat kita. �Demi
masa� firman Allah. Kamu tidak mungkin menyangkal
bahwa kenangan kamu tadi adalah kenangan dari masa
kanak-kanakmu. Waktu itu kamu seorang gadis cilik yang
ceria. Dan sekarang kamu adalah seorang dewasa.
Sementara ayah telah menyaksikan pula dalam perjalanan
hidup ayah macam-macam hal, mulai dari sebelum kalian
lahir, masa-masa kalian masih bayi, masa kalian tumbuh
sampai sekarang. Suatu saat ini akan berakhir. Jatah
kita menjalani Ramadhan akan habis, dan mungkin itu
dalam waktu yang tidak akan terlalu lama. Buat ayah
mungkin tidak akan sampai 43 tahun lagi, wallahu
a�lam. Pernahkah kita memikirkan itu? Pernahkah kita
menanyakan seberapa jauh makna Ramadhan yang baru saja
kita lalui? Pernahkah kita membayangkan untuk kedepan
arti ibadah yang kita lakukan? Pernahkah kita
menanyakan �Akankah Allah berkenan dengan ibadah puasa
kita?� Pernahkah kita menanya diri kita bahwa yang
kita lakukan bukan hanya sekedar mengakhiri latihan
mengendalikan diri sebulan penuh lalu setelah itu kita
kembali tidak terkendali? Seandainya demikian bukankah
kita akan termasuk kelompok yang di cap Allah
�Sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi� karena
boleh jadi puasa kita kosong belaka artinya. Karena
puasa itu tidak membuahkan ketaqwaan yang dapat kita
pelihara sampai lama sesudah berakhirnya Ramadhan.
Betapa ayah penuh harap kiranya kita termasuk orang
yang berhasil dengan puasa kita. Yang tidak sekedar
untuk kita rayakan dengan ketupat lebaran. Betapa ayah
berharap kita akan termasuk orang yang dikecualikan
oleh Allah, �kecuali orang-orang yang beriman dan
beramal shaleh�. Dan ayah ingatkan kalian untuk lebih
memahami artinya puasa yang baru saja selesai kita
laksanakan. Ibadah yang kita ikrarkan semata-mata
hanya karena Allah. Mudah-mudahan kalian mengerti
bahwa ayah menangis bukan karena cengeng.� Semua diam
membisu. Gema takbir terus berkumandang. Allahu Akbar
� Allahu Akbar � Allahu Akbar, walilLahil hamd.


Jatibening, 1 Syawal 1421H


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Photos - Share your holiday photos online!
http://photos.yahoo.com/

RantauNet http://www.rantaunet.com
=================================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
- mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
- berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]
Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
=================================================
WebPage RantauNet dan Mailing List RantauNet adalah
servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================

Kirim email ke