Assalamualaikum,wr.wb
Yth, Uda Lembang Alam
Partamo ambo sampaikan Selamat Hari Rayo Idul Fitri ,Minal aidin Wal
Faidzin.
Manginyam Katupek lebaran Uda Ambo jadi taingek jo kampuang wakatu ketek
dulu,kebetulan rayo ko ambo indak pulang kampuang,  kalau anak Uda marasokan
di Balikpapan labiah meriah, ambo di Balikpapan  marasokan indak ado nan
labiah meriah salain di kampuang doh.
Namun ado nan mambuek  hati ambo tasintuah di malam hari rayo di desa ambo
Koto tangah Tilatang Kamang di tahun 80 an , surau -surau sepi jo suaro
takbiran kalaupun lai suaro takbiran mungkin dari kaset, ambo liek anak-anak
sapangkek ambo banyak bagarombolan di tapi jalan raya/simpang. Ambo sempat
bapikia apokoh lamo-lamo nantinyo urang kampuang ambo makin jauah dari
musajik, musajik banyak gadang-gadang dan taruih di parancak (dapek bantuan
dari rantau)  tapi jamaahnyo hanyo babarapo urang tuo-tuo sajo.
Mungkin paralu awak pikiakan kalau ka mangirim bantuan untuk musajik di
kampung indak lai untuak mamparancak musajik sajo tapi mungkin mambuek
musajik manjadi tampaik nan manyanagkan bagi anak-anak sampai anak mudo,
mungkin bisa mangambangkan perputakaan mesjid dengan mangirimkam buku-buku
bacaan dsb.
Sakitu dulu , ambo mohon maaf kalau ada kato-kato ambo nan indak pado
tampaiknyo,

Wassalam dan maaf

I r w a n
BALIKPAPAN

----- Original Message -----
From: "Muhammad Dafiq Saib" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, January 09, 2001 8:21 AM
Subject: [RantauNet] Nan tatingga dari Ramadhan nan lah lapeh


> Assalamu'alaikum wr.wb.,
>
> Iyo lamo ambo indak ka lapau, indak pulo ka surau.
> Alhamdulillah, kini baru talakik maengong baliak.
> Mudah-mudahan awak kasadono tatap dalam bimbingan
> Allah SWT. Amiin.
>
> Iko ado saketek nan ambo tulih persis bana saari ari
> rayo, tapi dek bendi di rumah agak baulah, katiko itu
> indak takirin. Mudah-mudahan bamanpaaik.
>
> Wassalamu'alaikum wr.wb.,
>
> Lembang Alam
>
>
>
> KETUPAT LEBARAN
>
> Hari baru jam sembilan lebih seperempat malam. Aku
> baru kembali dari mesjid. Takbir masih  terdengar
> bergemuruh. Allahu Akbar - Allahu Akbar - Allahu
> Akbar. Laa ilaha illa 'Llahu waLlahu Akbar. Allahu
> Akbar walilLahil hamd. Selesai sudah Ramadhan tahun
> ini, setelah tigapuluh hari penuh berpuasa. Bahana
> takbir bersahut-sahutan di udara malam nan  syahdu.
>
> Di rumah kudapati anak-anak dan ibu mereka sedang
> bergotong royong di meja makan menyiapkan hidangan
> hari raya besok. Mereka bekerja sambil berseloroh,
> mengobrol macam-macam dari barat ke timur, mengulangi
> kenangan lama saat mereka masih kanak-kanak, diselingi
> tawa terkekeh-kekeh.
> "Malam takbiran seperti ini selalu mengingatkanku pada
> Balikpapan" kata si Sulung. "Hari raya disana selalu
> lebih ramai. Sehabis salat Ied tamu kita, terutama
> teman-teman sekantor ayah  segera berdatangan." "Iya,
> aku ingat kita bergantian membakar sate dan rumah kita
> seperti warung sate Padang." si Tengah menambahkan.
> "Malam takbiran begini biasanya kita menusuk sate
> beramai-ramai, sementara si mBok sibuk merebus
> ketupat. Kenapa buk, disini kita tidak membuat sate
> Padang?" si Bungsu menimpali. "Di sini
> tetangga-tetangga datang berhari raya hanya sampai di
> pintu rumah untuk bersalaman, setelah itu pergi, beda
> dengan di Balikpapan yang lebih akrab. Kalau disini
> masing-masing orang ingin segera berkumpul dengan
> keluarga besarnya." jawab ibu mereka. "Lha, apa
> hubungannya dengan tidak bikin sate Padang?" si Tengah
> yang kritis menyela. "Hubungannya, yang makan hanya
> kita-kita saja, karena tamu kita jarang yang mau ikut
> duduk untuk makan bersama karena disini begitu
> tradisinya. Kalau cuma untuk kita, ya kita pergi saja
> ke warung sate Padang" si Sulung membuat interpretasi.
> "Ah, bukan juga begitu, kalau kalian mau nanti
> kapan-kapan kita bikin" jawab ibu. "Sekarang biarlah
> kita siapkan ketupat dan opor ayam ini saja."
>
> "Ngomong-ngomong tentang Balikpapan aku ingat waktu
> pertama kali ikut salat taraweh, aku maunya salat
> dekat ayah, dan aku ditertawakan karena anak cewek
> harusnya salat di belakang bersama ibu-ibu, he he he."
> kenang si Sulung yang asik mengupas bawang. "Kalau aku
> yang nggak bisa lupa waktu aku menumpahkan kolak
> pisang di sajadah tante Ani waktu salat taraweh di
> rumahnya. Tante Ani  yang latah itu tereak-tereak
> mengatakan aku ngompol sehingga semua orang melotot ke
> arahku." kata si Tengah. "Ya, dan kamu langsung nangis
> waktu itu, he he he" si Sulung menambahkan.
>
> Suara takbir bersahut-sahutan masih terus terdengar
> dari pengeras suara di mesjid-mesjid di sekitar
> kompleks perumahan ini. Allahu Akbar waliLlahil hamd.
> Biasanya cerita nostalgia itu berlanjut kemana-mana.
> Masing-masing mengungkit memori kanak-kanak mereka
> tentang kejadian sekitar sepuluh tahun atau lebih yang
> lalu. Kadang-kadang aku ikut membumbui obrolan mereka.
> Kadang-kadang aku ikut mengingatkan kejadian yang
> mereka alami. Kadang-kadang aku juga menceritakan
> kenanganku waktu kecil selama puasa Ramadhan. Ceritaku
> tentu saja lain dengan pengalaman anak-anak yang lebih
> berwarna-warni, karena waktu aku kecil kami menjalani
> bulan puasa ditengah kesederhanaan  suasana kampung.
>
> Allahu Akbar kabiiran, wa subhanaLlahi bukratan wa
> ashiila. Entah kenapa, tiba-tiba saja air mataku
> berlinang kali ini dan aku jadi terisak-isak. Tentu
> saja semua jadi gempar. "Kenapa ayah? Kok ayah jadi
> cengeng begini?" tanya si Bungsu hati-hati. Yang lain
> semua diam membisu. Mereka bahkan menghentikan
> pekerjaan mereka, menatap padaku dengan tatapan penuh
> tanda tanya. Aku mencoba meredam emosi. Allahu Akbar
> walilLahil hamd.
> "Berapa tahun sejak kamu ikut salat taraweh yang
> pertama kali yang kamu sebutkan tadi?" tanyaku pada si
> Sulung. Dia berfikir sebentar. "Enam belas tahun ayah.
> Waktu itu aku masih di TK nol kecil" jawabnya. "Betul.
> Dan kamu masih ingat kejadian-kejadian lain waktu
> itu?" tanyaku pula. "Ingat, banyak sekali kejadian
> yang aku masih hafal luar kepala. Waktu aku pertama
> kali ikut bus jemputan ke sekolah, waktu itu aku
> sangat senang karena merasa sudah besar, tidak usah
> diantar ibu ke sekolah. Waktu aku pergi ke ulang tahun
> temanku Santi dan aku naksir sekali kado yang aku
> bawakan untuknya. Waktu kita ketinggalan pesawat
> sekembali dari liburan di kampung. Semua masih segar
> dalam ingatanku." tambahnya pula.
> "Ayahpun masih ingat waktu pertama kali ayah puasa
> saat ayah berumur enam tahun. Hari pertama puasa tiap
> sebentar ayah menanyakan waktu pada nenekmu. Lama
> betul rasanya menunggu beduk magrib dipukul orang di
> mesjid. Hari-hari berikutnya kami sudah lebih tahan.
> Ayah dan teman-teman ayah bermain sepanjang hari. Main
> bola, main layang-layang, bermain-main di sawah, naik
> di punggung kerbau. Sore-sore biasanya kami
> mengendap-endap mandi di kolam mesjid, takut ketahuan
> tuanku mesjid yang selalu marah karena kami mandi
> memperkeruh air kolam tempat wudu itu" aku bercerita
> panjang. "Cerita ini sudah pernah ayah ceritakan.
> Suatu kali tuanku mesjid merendam baju ayah ke dalam
> kolam sehingga ayah terpaksa pulang tanpa baju, iya
> kan? Maaf ayah, kenang-kenangan itukah yang menjadikan
> ayah sedih sampai menangis?" tanya si Bungsu lagi.
> "Benar" jawabku "ayah terharu mengingat  semua itu."
> "Aneh benar, bagian mananyakah yang mengharukan?"
> tanya si Tengah.
> "Baik, coba kalian dengar. Kenangan kakakmu berumur
> enam belas tahun. Kenangan ayah berumur lebih lama
> lagi, empat puluh tiga tahun. Semuanya juga masih
> segar dalam ingatan ayah, ketika Ramadhan demi
> Ramadhan ayah lalui dalam kehidupan ayah. Padahal
> waktu 43 tahun adalah jangka waktu yang lama dalam
> hidup seorang manusia. Kenapa ayah sedih? Pernahkah
> kita menanyakan kepada diri kita berapa kali Ramadhan
> lagi yang akan kita lalui? Hanya Allah yang tahu. Yang
> pasti setiap kali kita menyelesaikan satu bulan
> Ramadhan jatah kita makin berkurang. Berbeda dengan
> ketupat yang setiap tahun kita santap di hari raya,
> yang menjadikan kita dapat mengukir keindahan kenangan
> idul Fitri itu, tubuh kita selalu berubah sesuai
> dengan kodrat manusiawi, dan Allah menjadikan
> perubahan itu sebagai peringatan buat kita. "Demi
> masa" firman Allah. Kamu tidak mungkin menyangkal
> bahwa kenangan kamu tadi adalah kenangan dari masa
> kanak-kanakmu. Waktu itu kamu seorang gadis cilik yang
> ceria. Dan sekarang kamu adalah seorang dewasa.
> Sementara ayah telah menyaksikan pula dalam perjalanan
> hidup ayah macam-macam hal, mulai dari sebelum kalian
> lahir, masa-masa kalian masih bayi, masa kalian tumbuh
> sampai sekarang. Suatu saat ini akan berakhir. Jatah
> kita menjalani Ramadhan akan habis, dan mungkin itu
> dalam waktu yang tidak akan terlalu lama. Buat ayah
> mungkin tidak akan sampai 43 tahun lagi, wallahu
> a'lam. Pernahkah kita memikirkan itu? Pernahkah kita
> menanyakan seberapa jauh makna Ramadhan yang baru saja
> kita lalui? Pernahkah kita membayangkan untuk kedepan
> arti ibadah yang kita lakukan? Pernahkah kita
> menanyakan 'Akankah Allah berkenan dengan ibadah puasa
> kita?' Pernahkah kita menanya diri kita bahwa yang
> kita lakukan bukan hanya sekedar mengakhiri latihan
> mengendalikan diri sebulan penuh lalu setelah itu kita
> kembali tidak terkendali? Seandainya demikian bukankah
> kita akan termasuk kelompok yang di cap Allah
> 'Sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi' karena
> boleh jadi puasa kita kosong belaka artinya. Karena
> puasa itu tidak membuahkan ketaqwaan yang dapat kita
> pelihara sampai lama sesudah berakhirnya Ramadhan.
> Betapa ayah penuh harap kiranya kita termasuk orang
> yang berhasil dengan puasa kita. Yang tidak sekedar
> untuk kita rayakan dengan ketupat lebaran. Betapa ayah
> berharap kita akan termasuk orang yang dikecualikan
> oleh Allah, 'kecuali orang-orang yang beriman dan
> beramal shaleh'. Dan ayah ingatkan kalian untuk lebih
> memahami artinya puasa yang baru saja selesai kita
> laksanakan. Ibadah yang kita ikrarkan semata-mata
> hanya karena Allah. Mudah-mudahan kalian mengerti
> bahwa ayah menangis bukan karena cengeng." Semua diam
> membisu. Gema takbir terus berkumandang. Allahu Akbar
> - Allahu Akbar - Allahu Akbar, walilLahil hamd.
>
>
> Jatibening, 1 Syawal 1421H
>
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Yahoo! Photos - Share your holiday photos online!
> http://photos.yahoo.com/
>
> RantauNet http://www.rantaunet.com
> =================================================
> Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
> http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
>
> ATAU Kirimkan email
> Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
> Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
> - mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
> - berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]
> Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
> =================================================
> WebPage RantauNet dan Mailing List RantauNet adalah
> servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
> =================================================


RantauNet http://www.rantaunet.com
=================================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
- mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
- berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]
Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
=================================================
WebPage RantauNet dan Mailing List RantauNet adalah
servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================

Kirim email ke