Dari Kompas, Saptu 17 Maret 2001

>Sabtu, 24 Maret 2001

      Wisata Sumatera Barat 
      Tidak Hanya Bukittinggi... 

ADA kesan selama ini, pariwisata  Sumatera Barat (Sumbar) hanya Bukittinggi.
Untuk mengukuhkan itu, Bukittinggi sejak satu dasawarsa terakhir dicanangkan
menjadi "Kota Wisata". Sebutan Bukittinggi Kota Wisata, kini  sudah melekat 
betul di kalangan masyarakat Sumbar, termasuk di kalangan para pelancong.
Bahkan, masyarakat Sumbar sendiri kalau ingin berlibur pasti memilih ke
Bukittinggi.

Kenapa Bukittinggi? Alasan yang sering muncul, bukan karena di situ ada Istana
Bung Hatta, atau Ngarai Sianok. Melainkan ada trademark, yang selama ini menjadi
keunikan kota yang sudah mendunia, yaitu Jam Gadang. 

Faktor lain, karena sejumlah obyek wisata di daerah itu berada dalam radius
lebih kurang satu kilometer.
Selain Jam Gadang, ada Ngarai Sianok, Lubang Jepang, Kebun Binatang,
Benteng de Cock, Rumah/Perpustakaan Bung Hatta, Istana Bung Hatta, Museum
Minangkabau, Museum TNI, dan Pasar Atas. Dari sini Gunung Singgalang dan 
Gunung Merapi pun menjadi pemandangan yang menarik. 

Artinya, antarobyek wisata jaraknya berdekatan sehingga bisa ditempuh dengan
jalan kaki atau bersepeda di bawah udara yang sejuk. Jadi, agak  ekonomis
dibanding berwisata ke daerah lain. 
Meski agak ekonomis, bukan berarti para pelancong puas. Kekecewaan pun
sering dialami  para pelancong. Misalnya, tidak dibukanya pintu untuk bisa 
menaiki menara Jam Gadang. Tidak adanya cerita tertulis tentang obyek wisata 
yang bisa dijadikan referensi, kecuali informasi sekilas. Misalnya, sudah berapa
kali atap menara Jam Gadang itu  dirombak, tahun berapa, apa fungsi 
menara Jam Gadang itu dulu, dan sebagainya.

Begitu juga informasi tentang Kota Bukittinggi sendiri, peta wisatanya, dan
sebagainya, hingga sekarang tak ada bukunya.                                 
Padahal, pelancong dan calon pelancong banyak mencari buku itu  ke toko-toko
buku. Seyogianya, kalau tidak ada buku yang representatif, buku sederhana pun
cukup.

Lalu, soal pertunjukkan kesenian tradisi di Gedung Medan Nan Balindung, sekitar
50 meter dari Jam Gadang, atau samping Kantor Dinas Pariwisata Bukittinggi. Para
pelancong sering kecewa, karena grup kesenian batal pentas hanya gara-gara
penonton kurang dari 10 orang. Alasannya, hasil yang 
didapatkan dari tiket lebih kecil dibanding biaya produksi, yang mencapai Rp
250.000 untuk sekitar 5-7 macam kesenian tradisi, yang ditampilkan malam itu.

"Seharusnya, karena pertunjukkan kesenian tradisi ini menjadi 'roh'-nya
Bukittinggi dan juga 'roh wisata' di Sumatera Barat di waktu  malam, grup
kesenian yang tampil disubsidi atau dibantu uang pembinaan. Kenyataan yang
terjadi sebaliknya, grup yang tampil dipunggut biaya sewa tempat dan pajak.
Sementara, gedung  pertunjukan, bila hujan ketirisan," kata Adek,
seniman tradisional Bukittinggi. 

                                                         ***

BAGAIMANA dengan Padang sebagai ibu kota Provinsi Sumbar?
Padang selama ini hanya dijadikan tempat persinggahan, bukan tempat tujuan
wisata. Sebenarnya Kota Padang punya obyek-obyek wisata yang menarik, tetapi
karena citranya sudah jelek, para calon pelancong jadi enggan berwisata.

Sebutlah, misalnya, yang terkenal Pantai Padang. Sudah pantainya  kotor, di sini
pun berjamuran "warung kelambu" (sebutan untuk warung yang dirancang 
pedagangnya untuk perbuatan maksiat).
Berbagai kalangan selalu menyoroti hal ini, tetapi Pemda Padang  dan Dinas
Pariwisatanya tak mampu membenahi.
Katanya pariwisata bebas maksiat, tetapi nyatanya di lokasi Pantai Padang
ini sengaja dipasang lampu remang-remang.
Penjaja seks berkeliaran mencari mangsa. Lalu, ingin ke Pantai Airmanis, tempat
batu legenda Malin Kundang, atau ke Pantai Bungus dan Karang Tirta?
Pelancong kesulitan  dengan transportasi angkutan umum dari pusat
Kota Padang ke lokasi. Ada taksi, tetapi harus tawar-menawar
dulu karena sopir taksi umumnya tak mau pakai argo.

"Untuk pariwisata, Padang tak ada yang bisa diandalkan. Pasalnya, di waktu malam
Kota Padang bagaikan kota mati.
Hiburan kesenian malam hari hampir tak ada, meskipun ada Taman Budaya.
Sedangkan turis yang datang ke Sumbar, umumnya di samping ingin  menikmati
keindaham alam, juga ingin melihat atraksi/kesenian tradisi," kata budayawan
Prof Dr Mursal Esten.

Daerah lain pada dasarnya juga punya potensi dan obyek wisata.
Kabupaten Solok memiliki 88 obyek wisata, dengan rincian 52 obyek  wisata alam,
22 obyek wisata budaya, dan 14 obyek wisata sejarah.
Kabupaten 50 Kota memiliki 73 obyek wisata, dengan rincian 27 obyek wisata alam,
30 obyek wisata buatan, dan 16 obyek wisata minat khusus. Boleh dikatakan, tiap
daerah punya obyek wisata yang memiliki spesifikasi dan keunikan tersendiri.

Yang membedakannya dengan Bukittinggi hanyalah kurangnya  promosi. Selain itu,
obyek wisata yang ada tidak dikelola secara serius, kecuali sebatas potensi
saja.

Di Kabupaten Solok, misalnya, terdapat obyek wisata kawasan  empat danau, yakni
Danau Diatas, Danau Dibawah, Danau Talang, dan Danau Singkarak. Selain itu, juga
punya kawasan kebun teh,  yang daerahnya mirip seperti kawasan Puncak.
Bahkan, bila di daerah lain tak ada wisata agro maka di Solok ada wisata agro.
Solok adalah sentra sayur-mayur dan buah-buahan jenis markisa, serta penghasil
beras terkenal: beras Solok.

Begitu juga di Kabupaten Tanah Datar, terdapat Istano Pagaruyuang, Batu Batikam,
Batu Angkek-angkek, Istana Alam, Kuburan Panjang, dan sejumlah obyek wisata
menarik lainnya. Di Kabupaten 50 Kota terkenal dengan obyek wisata Lembah Harau,
Pusako Rumah Godang, Batang Tabit, Talempong Batu, dan obyek wisata Menhir.

Lalu di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Di  daerah yang berada sekitar 120 mil
laut arah barat dari Padang ini, terkenal dengan kekayaan alam, flora dan
faunanya, serta penduduknya yang  memiliki tradisi dan kebudayaan yang spesifik.
Mentawai yang  memiliki ombak setinggi 4-5 meter ini pun kini menjadi tujuan
peselencar kelas dunia. Tahun ini sekitar 1.000 peselancar akan menikmati ombak
Mentawai.

Jadi, secara potensi Sumatera Barat yang mempunyai lima danau, enam gunung
berapi, dan garis pantai sepanjang lebih kurang 275  kilometer, memang sangat
kaya dengan obyek-obyek wisata  spesifik. Persoalannya tinggal bagaimana
pemerintah daerah setempat menyediakan akses transportasi yang
lancar ke lokasi,  dan membenahi prasarana serta sarana penunjang lainnya. 

Satu hal yang mungkin jadi kendala untuk memajukan pariwisata di  Sumbar adalah
soal banyaknya anjing berkeliaran di lokasi-lokasi  obyek wisata dan
tempat-tempat lainnya.
Sumatera Barat memiliki  populasi anjing tertinggi di Indonesia, mencapai
sedikitnya 600.000  ekor. Sebanyak 40 persen di antaranya hidup bebas atau
dikategorikan anjing liar. Akibat banyaknya anjing berkeliaran tersebut,
penyakit rabies di Sumbar tertinggi angkanya di Indonesia. 

                                                         ***

BILA selama ini yang jadi sasaran pasar wisata adalah pelancong  asing, kenapa
sekarang tidak diarahkan ke perantau Minang sendiri?
Barangkali sudah saatnya daerah memikirkan paket-paket wisata  untuk perantau,
yang umumnya lahir dan dibesarkan di perantauan dan jarang pulang ke kampung
halamannya.

Menurut Dr H Maramis A Hisham MPH MBA, salah seorang  perantau Minang di
Jakarta, perantau Minang di Indonesia jumlahnya  mencapai sekitar delapan juta
jiwa. Bila diupayakan 10 persen saja  dari jumlah itu bisa pulang kampung tiap
tahun, dengan lama tinggal  rata-rata lima hari dan tiap hari
membelanjakan Rp 200.000, maka  masyarakat Sumbar akan kecipratan pendapatan
tidak kurang dari Rp 800 milyar setahun.

Untuk pasar mancanegara cukup difokuskan pada perantau Minang  di Malaysia,
khususnya Negeri Sembilan.
Menurut data, dari 850.930 jiwa penduduk Negeri Sembilan (1997) terdapat
391.500 jiwa etnis  Melayu, yang sebagian besar keturunan Minangkabau. Dengan
pendapatan per kapita mencapai 3.500 dollar AS, mereka ini sangat  potensial
untuk berwisata ke Ranah Minang.

"Bila diupayakan 10 persen dari keturunan Minang di Negeri Sembilan ini tiap
tahun berwisata ke Ranah Minang, dengan lama  tinggal rata-rata lima hari dan
tiap hari berbelanja 25 dollar AS saja,  maka masyarakat Minang di Sumbar akan
mendapat tambahan  penghasilan sebesar Rp 500 milyar setahun.
Jadi, dengan wisata mudik saja, kalau hal ini digarap serius,
masyarakat Sumbar bisa  meraup penghasilan sebesar lebih kurang Rp 1,3
trilyun per tahun," kata Dr H Maramis.

Barangkali hal ini merupakan "pekerjaan rumah" yang harus dipandang serius oleh
pemerintah daerah, instansi terkait, dan pelaku wisata di daerah yang dikenal
Ranah  Minangkabau ini. (BE Julianery/nal)


www://www.kompas.com/kompas-cetak/0103/24/dikbud/perao9.htm

RantauNet http://www.rantaunet.com
=================================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
- mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
- berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]
Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
=================================================
WebPage RantauNet dan Mailing List RantauNet adalah
servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================

Kirim email ke