____________________________________________________________________ Get free email and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1
Ass. WW., Kita orang Indonesia di Washington, DC sedang merancang buat "warung kopi" atau lapau tempat ngumpul maota, sambil bergoyang lidah. Di kota Padang, kota orang "adat bersendi agama" telah ada "warung kelambu". Walaupun "menepuk air di dulang", bacalah berita dibawah ini. Berita Kompas: BAGAIMANA dengan Padang sebagai ibu kota Provinsi Sumbar? Padang selama ini hanya dijadikan tempat persinggahan, bukan tempat tujuan wisata. Sebenarnya Kota Padang punya obyek-obyek wisata yang menarik, tetapi karena citranya sudah jelek, para calon pelancong jadi enggan berwisata. Sebutlah, misalnya, yang terkenal Pantai Padang. Sudah pantainya kotor, di sini pun berjamuran "warung kelambu" (sebutan untuk warung yang dirancang pedagangnya untuk perbuatan maksiat). Berbagai kalangan selalu menyoroti hal ini, tetapi Pemda Padang dan Dinas Pariwisatanya tak mampu membenahi. Katanya pariwisata bebas maksiat, tetapi nyatanya di lokasi Pantai Padang ini sengaja dipasang lampu remang-remang. Komentar Ajo Duta: Oh my God, Onde mande. Sudah begitu permisif sekali urang awak yang terkenal dengan motto Adat Bersendi Agama itu. Minangkabau yang menurut TB Silalahi/AZ Maulani telah menganut Islam secara tuntas, membiarkan saja praktek maksiat itu. Bagaimana daerah lain? Apakah akan malu aku jadi orang Minang.? Matilah awak! Malu jadi orang Indonesia, malu jadi orang Islam, malu menjadi urang Minang. Mau jadi orang Amerika tak diterima. Mungkin Negeri Akhirat lebih baik, insya Allah. Wass kini. Ma tu alim ulama, candiak pandai. Kok dipandiakan sajo "warung kelambu" tu. Wass.

